
Dinda menyetir dengan santai hingga kantor Ariel, ia menepikan mobilnya untuk melihat-lihat lebih jelas keberadaan Ariel. Tak lama ia melihat Ariel keluar dari pagar kantornya dan menuju ke arah mobil Dinda. Tanpa basa-basi mereka langsung bergegas pulang dengan posisi Dinda dan mobilnya berada di depan, sedangkan Ariel dengan sepeda motornya di belakang mengikuti Dinda.
Beberapa kali Dinda memandang spionnya untuk melihat Ariel yang dibelakang apakah masih ada atau hilang entah kemana.
Dinda menyetir dengan senyum yang tak pernah pudar, sebab hatinya sedang kembali berbunga-bunga setelah hampir layu kemarin.
Karena jarak rumah mereka dari kantor Ariel cukup dekat, alhasil mereka cepat sekali sampainya. Padahal Dinda dan Ariel sama-sama ingin lebih lama lagi berkendara sebab hal kecil seperti ini saja sudah sangat membahagiakan bagi mereka yang sedang berbaikan. Meski hubungannya tak jelas.
Dinda berbelok ke arah kanan, sebab memang rumahnya ada di sisi kanan jalan. Ariel sempat mengklakson Dinda dan berbelok ke sisi kiri, karena disitulah letak rumahnya.
Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Dinda masuk kerumah, menyapa orangtuanya sebentar, lalu menuju ke kamar. Saat di kamar, Dinda menyalakan lagu di handphonenya dengan tema jatuh cinta dan memutar dengan volume yang besar.
Ia begitu bahagia, semenjak tadi Ariel meneleponnya dan efeknya membuat hubungan mereka mencair dan kembali dekat seperti sebelumnya.
Karena waktu sudah hampir maghrib, Dinda pun segera mandi dan melaksanakan ibadahnya. Setelah ibadahnya selesai, Dinda buru-buru ke bawah untuk makan malam bersama orangtuanya sekalian minta izin untuk mengajak Ariel kerumahnya dengan tujuan membantu Dinda mengerjakan tugas.
"Ma, pa, nanti Ariel main kesini boleh?" tanya Dinda meminta izin orangtuanya.
"Ariel? main kesini? tumben. Biasanya cuma sampe depan" ucap sang mama yang tau jika Ariel tak pernah di ajak masuk oleh sang anak. Ariel selalu cuma sampe pagar kalo ada urusan sama Dinda.
"Kali ini beda ma, Ariel mau bantuin Dinda bikin tugas" jawab Dinda.
"Ya udah gakpapa. Dimana mau bikin tugasnya?" tanya Papa yang mulai posesif.
"Diruang tamu aja Pa, gak kemana-mana kok" ucap Dinda.
"Papa izinin. Tapi, emang Ariel ngerti tentang tugas kamu?" tanya papa lagi.
"Ini bukan tentang ngerti ga ngerti pa, ini tentang tulis-menulis. Aku minta tolong Ariel bantuin nulis tugasnya pa"
"Kalo gitu buruan makannya, nanti Arielnya keburu datang" sela mama yang dari tadi menjadi pendengar yang baik.
Setelah selesai makan, Dinda kembali ke kamarnya untuk mengambil segala keperluan mengerjakan tugasnya dan membawanya ke ruang tamu dimana ia akan menjamu seorang tamu spesial nantinya. Jam saat itu menunjukkan pukul 18:55 itu artinya masih ada 7 menit lagi sebelum kedatangan Ariel kalo tidak telat. Setelah melatakkan "peralatan tempurnya" diruang tamu, Dinda menuju dapur untuk menyiapkan cemilan serta minuman untuknya dan Ariel agar tidak bosan dan bisa sambil makan-makan juga, pikirnya.
Setelah cemilannya siap tersaji didalam piring, bel pun berbunyi. Dengan sigap Dinda segera menghentikan Bibi yang hendak membukakan pintu untuk si tamu, biar ia saja yang mebukakannya.
"Assalamu'alaikum" salam Ariel saat Dinda membuka pintu untuknya sambil menyodorkan layar handphone yang menampilkan jam saat itu 19:02
"Wa'alaikumsalam, bagus ga telat" ucap Dinda yang memberikan 2 jempolnya untuk Ariel.
"Sini masuk" sambungnya.
"Boleh nih?" tanya Ariel malu-malu.
"Ya bolehlah, emang kenapa?" tanya Dinda heran.
"Ga biasa aja kerumah cewek" sahut Ariel yang sudah duduk berhadapan dan menatap Dinda.
"Ish, biasanya yang ngomong gini tuh justru sebaliknya" ucap Dinda mencebik.
"Haha, gue mah beda. Cowok polos tampan rupawan" balas Ariel sambil menyombongkan diri.
__ADS_1
"Iya deh, yang paling tampan se-RT sini" ucap Dinda yang memuji sekaligus agak merendahkan sedikit, haha
"Ya udah, mana nih tugasnya biar gue tulisin. Mumpung udah pemanasan tadi" ucap Ariel buru-buru pegang buku yang telah disediakan Dinda di dekatnya.
"Cuih, gaya lu. Awas aja ngeluh ntar!" ucap Dinda berdecih.
Bibi pun mengantarkan nampan yang berisi cemilan serta minuman yang tadi sudah di buat sendiri oleh Dinda namun lupa ia bawa keruang tamu.
"Non, ini makanan sama minuman buat temennya" ucap Bibi sambil meletakkan minuman serta cemilan di meja.
"Makasih ya, Bi" ucap Ariel sambil tersenyum ke arah Bibi.
"Sama-sama, Mas. Silahkan dinikmati ya. Bibi kedalam dulu" ucap Bibi yang pamit untuk kembali ke dapur.
"Iya, Bi" ucap Dinda dan Ariel bersamaan.
"Eh, enak ni makanannya. Tau gini gue gak makan dulu dirumah" ucap Ariel yang kini terfokus dengan makanannya.
"Kerjain dulu baru boleh makan" tegur Dinda yang menyodorkan buku dan pena kedepan muka Ariel.
Dengan malas, Ariel pun mengerjakan tugas Dinda dengan teliti. Meski Ariel menulis dengan menunduk-nunduk ia tetap fokus dan tak mengeluh sedikit pun. Dinda bertugas mendikte saja, dan ia kini telah berpindah duduk tepat disamping Ariel sambil melihat yang Ariel tulis.
Dinda pun takjub dengan tulisan Ariel sebab tulisannya seperti tulisan cewek, yaitu rapi, tidak banyak coretan, dan ukurannya pun pas. Tidak terlalu besar pun tidak terlalu kecil. Bisa dengan mudah di baca.
"Kagum kan lu sama tulisan tangan gua?" ucap Ariel yang tau Dinda planga-plongo melihatnya menulis.
"Iya, tulisan lu bahkan lebih rapi dari gua" ucap Dinda jujur mengakui tulisan tangan Ariel.
"Btw, udah belom nih? Tangan gue cape, bisa bisa kapalan nih ntar" ucap Ariel mulai berlagak memasang wajah melasnya yang justru terlihat seperti orang ngantuk.
"Biasa aja muka lu, tetep gue siksa" ucap Dinda yang berkata seolah wajah melas Ariel tak mempan untuk merayunya.
"Ya udah kalo gitu gue istirahat dulu ya, nih makanan sama minumannya kalo ga disentuh kan mubazir" ucap Ariel sok manis.
"Monggo, nanti sebelum pulang ada mbak kasir di deket pagar" ucap Dinda mengusili Ariel sambil ikut makan.
"Hah? Maksudnya ini bayar?" tanya Ariel yang percaya begitu saja.
"Hahaha, polos banget sih. Jadi gemes deh" ucap Dinda yang tertawa karena berhasil mengerjai Ariel.
Karena tawa Dinda itulah akhirnya mengundang kedua orangtua Dinda untuk keruang tamu. Mereka penasaran dengan apa yang terjadi sehingga Dinda puas sekali tertawa.
"Eh, Ariel udah disini. Pantesan kita denger Dinda ketawa-tawa" sapa Mama saat sampai diruang tamu
"Iya tante, bantuin Dinda bikin tugas" ucap Ariel yang langsung berdiri dan menyalami mama papa Dinda.
"Ya udah di lanjut aja ya, biar tante sama om kedalam dulu" ucap papa yang mengajak mama untuk masuk lagi.
"Iya om" ucap Ariel sesopan mungkin
"Nih lanjut lagi" ucap Dinda tanpa rasa bersalah padahal Ariel baru mau ngunyah lagi.
__ADS_1
"Lu ga liat gua mau makan" ucap Ariel dengan muka melasnya seolah seperti minta dikasihani.
"Ya udah, makan noh. Habisin. Biar giliran gue lagi yang nulis ya" ucap Dinda dengan tatapan sok baiknya.
Dinda pun menulis melanjutkan tulisan yang tadi dibuat Ariel. Dengan fokus ia tak lagi mengganggu Ariel yang sedang bersantai dan menikmati makanan dan minuman yang tersaji. Bahkan Dinda tak lagi menggubris saat Ariel mengganggunya dengan sengaja mengecap-ngecap saat mengunyah.
Setelah selesai, Dinda menatap tugas yang ia buat bersama Ariel. Ia membanding-bandingkan tulisannya dan Ariel. Ternyata memang lebih bagus dan rapi tulisan tangan milik Ariel.
"Ternyata tulisan memang mencerminkan kepribadian" ucap Dinda saat menatap tugasnya.
"Kenapa memang?" tanya Ariel penasaran
"Iya, liat deh. Lu kan selalu rapi bahkan pakek baju apa aja lu rapi. Terus lu orangnya bener-bener terorganisir gitu. Sampe tulisan lu pun rapi" ucap Dinda sambil mengingat-ingat saat melihat Ariel di hari pertama Ariel pindah kesini, lalu mengantar kue, pergi ke kantor, temani Ariel cari makan, lalu dimobil Ariel waktu itu Dinda melihat tong sampah dan ada juga headset yang tergantung di spion depan dengan posisi digulung serapi mungkin sehingga kabelnya tidak kusut.
Kemudian kondisi motor Ariel yang selalu tampak kinclong. Pokonya bayangan pertama yang melintas di otak Dinda tentang Ariel yang pastinya adalah rapi.
"Oh ya, berarti lu ga rapi ya?" ucap Ariel ikut mengamati tugas tersebut.
"Iya nih kayanya. Tulisan gue kaya berubah-ubah gitu. Pertamanya rapi, tapi makin ke bawah acak-acakan banget" ucap Dinda menilai tulisannya sendiri.
"Makanya latihan dulu sama aku" kata Ariel dengan muka sombongnya.
"Ogah" tolak Dinda sambil berekspresi seolah-olah ingin muntah.
Setelah berbincang ngalor-ngidul dan karena sudah hampir jam 9 malam, Ariel pun pamit pulang kepada Dinda.
"Gua pulang ya, udah malam nih"
"Oke, makasih ya udah mau menyumbangkan jasanya" ucap Dinda dengan tersenyum manis bahkan sangat manis.
"Aman, buat kamu apasih yang ngga. Btw, besok mau berangkat bareng aku ga?" tanya Ariel sekaligus nawarin tumpangan.
"Emmm boleh deh" ucap Dinda sok mikir padahal mah malu-malu tapi mau.
"Panggilin mama papa kamu gih, aku mau pamitan"
"Sebentar ya" ucap Dinda yang bergegas menuju kamar orangtuanya.
Sesaat kemudian Dinda kembali lagi keruang tamu dengan disusul orangtuanya.
"Tante, Om, saya pamit dulu ya" ucap Ariel sambil menyalami kedua orang tua Dinda.
"Iya Riel, makasih udah bantuin Dinda" ucap Papa mengantar kepergian Ariel sampai teras rumah.
"Riel, kalo kepeleset bediri sendiri ya" goda mama
"Tenang tante, kalo kepeleset Ariel balik kesini lagi ya. Minta diobatin anak tante" balas Ariel yang sepertinya sangat cocok dengan mama Dinda. Yang satu suka menggoda, satu lagi seneng banget digoda.
"Tante lapor Papa kamu kalo gitu" ucap mama sambil tertawa-tawa.
Dinda dan papa hanya geleng-geleng kepala saja. Bahkan papa sepertinya tidak menyangka jika Ariel bisa seberani itu menggubris godaan Istrinya bahkan didepannya sendiri.
__ADS_1
Karena Ariel bentukannya kaya cowok-cowok kalem, cool, pendiam. Oh ternyata, hanya Tuhan-lah yang tahu.