(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
70. Menjauh


__ADS_3

Keesokan harinya, di meja makan sudah terdengar klakson mobil Nanda. Dinda pun yang tak tega membiarkan Nanda menunggu lama pun akhrinya buru-buru pamitan pada kedua orang tuanya.


"Selamat pagi" sapa Nanda dengan ceria saat melihat Dinda baru saja nongol dari balik pintu utama.


"Selamat pagi" balas Dinda dengan tak kalah cerianya. Dan itu terpaksa.


"Ga ada yang ketinggalan lagi, kan?" tanya Nanda sebelum berangkat menuju kantor Dinda.


"Ngga kok" jawab Dinda seadanya.


Di perjalanan, Nanda sebenarnya merasa aneh dengan sikap Dinda yang tak biasa. Menurutnya, Dinda itu selalu ceria. Dan kalaupun ada masalah pasti ia akan terbuka menceritakannya pada Nanda. Namun, Nanda sengaja tak ingin bertanya. Ia mau menunggu sampai Dinda mau bercerita sendiri padanya.


Dan satu lagi, tatapan Dinda sangat sendu. Seperti habis menangis. Sangat beratkah masalah yang kini sedang Dinda hadapi? Tak maukah ia berbagi kesedihan denganku, batin Nanda.


Sepanjang perjalanan Dinda lebih banyak diam. Kalau di tanya jawabannya selalu pelit. Iya he'em iya he'em saja.


"Apa benar ya kata Sherly, kalau cewek itu butuh kepastian. Tapi kan Dinda tahu kalo yang aku deketin saat ini cuma dia. Apa tetep mau nuntut kepastian? Baiklah kalau itu maunya, nanti malam akan aku ajak dia makan malam di tempat romantis" ujar Nanda dalam hatinya.


Sebelum sampai kantor, Nanda langsung menanyakan hal yang sejak tadi ingin ia utarakan.


"Din, nanti malam sibuk, ga?" tanya Nanda hati-hati, ia cemas ajakannya ini akan Dinda tolak. Sebab dari raut wajah Dinda seperti ada yang berubah.


"Ada apa kamu nanya gitu?" jawab Dinda dengan tatapan lurus ke depan.


"Aku mau ajak kamu makan di tempat yang spesial. Cuma kita berdua. Ga bakalan ada Sherly yang gangguin kita kaya biasanya. Kamu mau yah, please...". Nanda begitu memohon agar Dinda tak menolak ajakannya. Sebab mereka memang tak pernah makan malam berdua saja, selalu ada Sherly di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


"Maaf Nan. Aku ga bisa, nanti malam mau nemenin Papa check-up ke dokter" ujar Dinda berbohong. Sebenarnya ia tak enak dan bahkan sangat menginginkan hal ini dari jauh-jauh hari. Tapi karena mimpi semalam, ia merasa bersalah terhadap Nanda sebab ia kini menyadari bahwa di hatinya masih ada Ariel dan ia tak mau mengorbankan perasaan Nanda jika saja Nanda tahu bahwa Nanda hanya di jadikan sebagai pelarian oleh Dinda. Meski Dinda juga tak sepenuhnya meyakini perasaannya yang menjadikan Nanda sebagai pelarian.


Tapi, Dinda sudah benar-benar memantapkan hatinya untuk menjauh dari Nanda. Ia tak mau menyakiti Nanda yang sudah sebaik ini padanya.


Walau pastinya Dinda akan sangat kehilangan, tapi ini adalah langkah terbaik menurutnya. Jangan sampai ada hati yang terluka karena kisah lamanya.


Sampai saat ini memang Nanda tak pernah bertanya tentang masa lalu Dinda dan Dindapun tak pernah berniat menceritakannya karena buat apa? Toh semua hanya masa lalu. Yang kini justru hadir lagi, meski lewat mimpi.


Mobil sudah sampai di depan kantor Dinda. Namun, sebelum tangan Dinda menggapai gagang pintu. Nanda menghentikan pergerakannya.


"Kalo nanti malam kamu ga bisa, masih ada malam lain, kan?". Pertanyaan Nanda membuat Dinda kewalahan menjawabnya. Sebab ia sendiri tak yakin apakah Dinda mampu menjauh dari Nanda, namun ini semua demi kebaikan Nanda. Hati Nanda benar-benar ingin Dinda jaga agar tak tersakiti olehnya.


"Iya" ujar Dinda akhirnya. Dan membuat senyum terukir indah di wajah Nanda.


"Aku masuk dulu ya" sambungnya.


Ia lupa bilang kalau nanti sore belum tahu bisa jemput Dinda atau tidak, tapi Dinda sudah berlalu menjauh dari hadapannya. "Nanti saja, bilang lewat chat" ujarnya berbicara sendiri.


1 Minggu Berlalu


Dinda benar-benar menjauh dari Nanda, sekuat tenaga mencoba untuk menolak setiap ajakan Nanda untuk bertemu. Dinda lelah sebenarnya menjalani hari yang seperti mati karena tak ada gurauan kecil Nanda yang setiap hari meluncur ke telinganya.


Ia selalu mengusahakan untuk balas pesan Nanda dengan rentang waktu yang lama, misalnya kalau Nanda chat jam 1 siang maka Dinda balasnya malam.


Di sebuah rumah sederhana

__ADS_1


Nanda sedang duduk di depan TV yang menyala namun pikirannya entah kemana. Ternyata ia sedang memikirkan Dinda. Mengapa Dinda seperti menjauhinya. Dan ia tak menyangka bahwa ternyata satu minggu yang lalu adalah pertemuan terakhirnya dengan Dinda. Ia sadar, bahwa Dinda sengaja menjauh, tapi apa alasannya.


Di dalam hatinya yang paling dalam, ingin rasanya langsung menemui Dinda di rumah atau kantornya. Tapi kesibukan Nanda seperti tak ada liburnya. Sedangkan kalau bertemu Dinda, ia inginnya lama. Tapi apa boleh buat sekarang ini pekerjaannya sedang padat namun untuk memikirkan Dinda selalu ada waktu untuk itu.


Kalau sekarang ke kantor Dinda, belum jam istirahat. Ga enak pastinya dengan karyawan yang lain kalau di jam kerja malah asik ngobrol.


Lama berpikir, akhirnya Nanda menghubungi atasannya dan meminta izin untuk libur. Dan syukurlah, sepertinya semesta sedang berpihak padanya. Dengan mudah Nanda memdapat libur 2 hari tapi bukan di hari ini melainkan 5 hari lagi, yakni di hari Senin dan Selasa. Tentu saja mudah, karena Nanda merupakan polisi yang sangat disiplin dan di percaya oleh atasannya itu.


Nanda pun segera mengambil kunci mobilnya dan bergerak menuju kantor. Ia sudah tak lagi lesu karena sudah mendapatkan waktu yang pas untuk bertemu Dinda. Ia sangat merindukan wanita itu yang dulunya pernah Nanda tahan KTPnya. Dan ia tak menyangka bahwa akan berakhir seperti ini, 2 bulan mengenal Dinda membuatnya yakin untuk menyatakan cinta.


Di kantor Dinda


Ayu datang untuk memberi info penting, ternyata hari Senin Ariel akan resepsi. Di hati Dinda sudah biasa saja. Karena hal ini memang sudah ia perkirakan akan terjadi.


Lalu, alasan menjauhi Nanda itu apa? Akankah ada kesempatan untuk Nanda masuk ke dalam hatinya? Terlebih Ariel memang sudah tak bisa di harap lagi. Dinda mendadak merasa menyesal telah menyiksa dirinya sendiri hanya karena perkara mimpi.


Tapi, Nanda kira-kira merasa kehilangan juga ga ya? Apa-apa jangan-jangan ia baik-baik saja di luar sana. Atau Dinda sudah ada yang menggantikan?


Namun, ia tak berani menghubungi Nanda duluan, gengsi katanya.


Tapi kangen, memang. Gimana ya ini? Nanda belom ada chat lagi hari ini. Dinda di buat pusing sendiri karena ulahnya.


Biasanya Nanda akan chat Dinda jam 1 siang buat ingatin makan dan sholat, tapi Dinda tunggu-tunggu sampai jam pulang kantor masih tidak ada tanda-tanda. Bahkan status terakhir dilihatnya pun jam 10 pagi tadi.


Itupun sewaktu Nanda menghubungin Komandannya buat minta libur.

__ADS_1


Hikss, kasihan kamu Dinda.


__ADS_2