(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
58. Hari Sabtu Harinya Ariel


__ADS_3

"Allahu akbar... allahu akbar..." terdengar kumandang adzan Subuh di masjid dekat rumah Dinda. Dengan langkah yang masih terseret-seret Dinda segera membersihkan wajahnya dan sebagian tubuhnya untuk melaksanakan sholat subuh yang terasa lebih spesial dari sholat subuh sebelum-sebelumnya.


Setelah menjalankan kewajibannya, Dinda menyempatkan waktu untuk berbicara dari hati ke hati dengan Tuhannya tanpa beranjak dari atas sejadahnya. Ia ingin mengutarakan banyak kejujuran yang hanya kepada Tuhan-lah ia bisa mudah untuk mengutarakannya.


"Bismillahirrohmanirrohiim, Ya Allah... Aku ingin meminta maaf padaMu. Karena selama ini, aku hanya sibuk berkeluh kesah dan meminta Engkau mengabulkan semua keinginanku. Padahal hanya Engkau yang maha tahu mana yang terbaik untukku. Ya Allah... terima kasih atas segala kemurahan hatimu selama ini. Terima kasih atas segala do'aku yang Engkau kabulkan. Terima kasih atas segala ujian untuk mendewasakanku. Terima kasih atas segala do'a yang sedang Kau timbang-timbang untuk segera Engkau kabulkan. Aku ingin berserah padaMu ya Allah. Hidup dan matiku. Ya Allah, aku hanya minta padaMu... Jangan jadikan aku perempuan yang jahat setelah ini. Dan tetap teguhkan hatiku, bahwa di dunia ini masih banyak orang yang baik dan tulus. Yang bisa menerimaku apa-adanya. Jangan Kau kirimkan padaku orang yang bisa menghancurkan duniaku ya Allah. Perihal Ariel, aku tidak membencinya ya Allah, aku hanya tidak bisa bersikap baik seperti dulu. Aku berharap, semoga kehidupan Ariel baik-baik saja kedepannya. Semoga ia bahagia dengan kehidupannya termasuk wanita pilihannya. Aku sadar aku belum dewasa ya Allah... Hiks hiks. Semoga, kelak keturunan Ariel tidak megalami hal yang serupa denganku ya Allah. Aku tahu setiap perbuatan pasti ada balasannya. Tapi aku sudah ikhlas ya Allah, I'm Dinda I'm okay. Beneran ya Allah.


Ya Allah, hari ini Ariel lamaran. Semoga aku juga suatu saat menemukan laki-laki yang baik dan sabar menghadapi aku dengan segala kekuranganku. Aku tahu tujuan Engkau menempatkan aku di posisi seperti sekarang, karena Engkau tahu yang terbaik untukku kan, ya Allah. Dan aku sanggup menjalaninya. Aku akan selalu menanamkan dalam otakku, bahwa Ariel itu orang yang baik, hanya saja dia bukan laki-laki yang baik untukku.


Ya Allah, kok aku bisa ya do'ain Ariel yang baik-baik gini. Padahal dia udah jahat sama aku. Terus gimana perasaan orang tua aku ya Allah. Aku tahu mereka juga sedih, tapi mereka dengan hebatnya menyembunyikan kesedihan itu. Mereka benar-benar memahami perasaanku Ya Allah. Karena mereka sama sekali tidak pernah lagi menyebut nama Ariel di depanku.


Ya Allah, terkadang aku merasa rendah diri dan tidak bersyukur hanya karena Ariel tidak memilihku. Aku merasa aku tidak cantik, aku tidak menarik, aku orang yang membosankan, aku tidak baik, dan masih banyak lagi hal-hal yang aku bandingkan dengan si calon istri Ariel itu. Padahal aku sendiri belum tahu seperti apa sosok calon istrinya. Padahal harusnya aku bersyukur, di lepaskan dari Ariel. Karena itu artinya dia bukan yang terbaik untukku. Engkau pasti sudah siapkan yang terbaik menurut versimu untukku ya Allah. Aku hanya tidak tahu apa yang terjadi selama 5 bulan ini ya Allah. Hanya Engkau yang maha tahu tapi aku tidak. Aku tidak paham teka-tekiMu ya Allah. Aku hanya manusia biasa yang bisa menerima dengan akal sehat kalau sudah ada bukti nyata di depan mataku. Entah Ariel selingkuh atau dia menyampaikan langsung padaku bahwa ia tak menginginkanku.


Semua sudah terjadi memang, dan jawaban mutlaknya adalah dia bukan jodohku. Semoga setelah ini, aku hanya di jatuh cintakan pada orang yang tepat, aamiin.

__ADS_1


Ya Allah, makasih ya udah dengerin semua keluh kesah aku yang beberapa hari ini aku rasain. Aku harus mendekatkan diri padaMu biar semua energi negatif dalam diri ini segera pudar. Dan langkahku kedepannya jauh lebih ringan" ungkap Dinda mengakhiri deep talknya dengan sang Maha Cinta.


Dinda pun membereskan perlengkapan sholatnya sebelum turun ke bawah dan ikut menyiapkan sarapan. Karena hari ini adalah hari weekend alias hari libur.


Dinda pun menyiapkan segala peralatan makannya dengan Bi Hanum. Pagi ini sarapan mereka hanya berdua saja karena kedua orang tua Dinda belum kembali dari Medan.


Seperti biasanya, kalau Dinda libur pasti Dinda akan menyempatkan waktu untuk memandikan Para Zombie yaitu anak-anak dari kucingnya dulu.


Setelah 1 jam bermain dengan para kucingnya, Dinda pun akhirnya mandi juga karena sudah keringatan dan jam juga sudah hampir siang, yaitu jam 10. Setelah selesai mandi, Dinda berniat ingin melihat taman bunganya sekedar ingin ngecek apakah ada yang layu atau bahkan mati, sebab sang mama sekarang lagi tidak ada di rumah jadi memang Dinda yang biasa menggantikannya sebagai pengamat tumbuhan dadakan.


Dinda sudah berada di halaman samping rumahnya, kemudian ia mulai mengamati tumbuhannya satu persatu. Hingga akhirnya suara mesin motor yang dulu sering ia dengar melintas di dekatnya dan mengacaukan mood Dinda seketika.


Ya, pengendara motor itu adalah Ariel. Sedangkan ini kan harusnya jadi hari lamaran Ariel. Tapi kok masih keluyuran aja tuh orang. Emang acaranya jam berapa?, ucap Dinda dalam hati.

__ADS_1


Tetap saja masih ada rasa penasaran terhadap sang mantan. Meski nanti kalau tahu kenyataannya pasti sedih lagi.


Begitulah wanita. Ia sendiri yang penasaran, dan ia juga yang terluka.


Dinda pun akhirnya sibuk menatap ke arah rumah Ariel. Ia yakin sekali pasti di rumah itu sedang melakukan banyak persiapan.


Di lihat dari halaman rumahnya, banyak terparkir mobil-mobil yang tak pernah Dinda lihat sebelumnya. Itu pasti mobil keluarga Ariel yang datang dari entah berantah demi menghadiri acara sakral Ariel hari ini.


Kemudian Dinda menatap dirinya di kaca jendela tepat samping rumahnya. Ia memegang pinggangnya seperti sedang mencari hal apa yang menjadi kekurangannya secara fisik.


"Wajar aja kamu pilih orang lain di banding aku, Riel. Aku ga jago dandan soalnya, ga gaul juga. Sehari-hari kalo di rumah dasteran doang udah kaya emak-emak. Atau bahkan emak-emak aja ga sebegininya" ucap Dinda pada pantulan dirinya di kaca jendela.


Lalu kemudian Dinda langsung masuk ke rumah dan menuju kamarnya. Ia sudah tak berniat lagi mengurusi tanaman milik mamanya, karena rasanya saat ini Dinda ingin sejenak mengasingkan diri di kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2