
Jangan pelit-pelit like dan komen yaaa, buat yang senasib dengan Rama. Aku gak bermaksud bikin kalian nangis atau sedih. Aku cuma ngarang gais, gak ada unsur membuka luka hati kalian. Jadi maafkan aku yaa😔
...*...
...**...
...***...
Detik-detik dirinya akan segera melepas masa lajang semakin dekat. Rama dan Feza kini memastikan satu-satu semua yang sudah disiapkan telah rampung dan tak kelupaan satu pun.
"Undangan buat keluarga kamu yang ini. Jangan lupa di bawa ya. Nanti ketinggalan mau kapan lagi nyebarinnya. Udah tinggal seminggu lagi nih" celoteh Feza yang kini duduk diruang tengah rumahnya sedang memeriksa undangan untuk dipisah antara undangan keluarganya dengan undangan keluarga Rama.
"Iya-iya, aku minta Mas Aji aja buat angkut ke bagasi". Lalu Rama pun memanggil Mas Aji selaku tukang kebun dirumah Feza untuk membantunya membawa undangan ke mobil.
"Kamu nanti malem bisa temenin aku gak?" tanya Feza.
"Gak bisa, malam ini keluarga dari luar kota pada dateng. Aku diminta kakek buat jemput di bandara, sekitar empat mobil nanti yang jemput" ujar Rama menolak permintaan Feza. Rama tidak mengada-ada, memang benar dirinya nanti malam akan ke bandara menjemput seluruh saudara jauh yang akan menghadiri acara pernikahannya bersama Feza di Jakarta.
"Ya udah, aku pergi sendiri aja" ucap Feza akhirnya. Padahal dirinya akan mengajak Rama untuk makan malam sekaligus ingin membicarakan perihal kejadian dirumah sakit yang waktu itu Feza lihat. Tidak bermaksud akan membatalkan pernikahan, lebih tepatnya Feza hanya ingin menanyakan kejadian sebenarnya pada Rama. Karena saat itu kan Feza hanya melihat sekilas lalu pergi.
Bahkan sampai saat ini wallpaper ponsel Feza masih foto Rama berpelukan dengan Maudy. Ramanya saja yang tidak tahu.
*
Waktu bergulir semakin cepat. Feza kini sudah berada di hotel tempat resepsinya akan segera berlangsung.
Ia turun dari kamarnya di lantai 15 menuju lantai 1 untuk melihat dekorasi pelaminan. Sampai di aula tempat acara resepsinya, ia sangat takjub dengan bentuk pelaminan yang megah dan sangat menyegarkan mata.
__ADS_1
Tidak hanya itu, tapi juga dekorasi di bagian langit-langit aula juga bergelantungan hiasan menyerupai burung merpati putih dan lengkap dengan tatanan lampu LED di sepanjang jalur yang akan dilewatinya nanti saat diboyong masuk menuju pelaminan. Saat ini kondisi lampu itu mati, akan dinyalakan saat resepsi.
Memang untuk akad dan resepsi ini Feza tidak menggunakan warna favoritnya lagi karena ia ingin menggunakan warna putih saja. Entah mengapa baginya warna putih memang paling cocok untuk acara sakral seperti pernikahan.
Walau akad masih 2 hari lagi namun Feza yang paling duluan menginap dihotel. Karena dirinya tidak sabar untuk melihat dekorasi untuk pernikahannya nanti.
Tidak peduli apakah dirinya akan bahagia atau tidak setelah menikah dengan Rama. Yang pasti Feza mengenyampingkan hal itu agar dirinya tidak drop saat hari-H.
*
Hari-H
Aula yang akan menjadi saksi bisu pernikahan Rama dan Feza kini benar-benar rampung dan semakin cantik dari yang terakhir Feza lihat. Rama dan keluarga besarnya kini tengah menanti kehadiran penghulu yang sudah dalam perjalanan menuju hotel.
Rama tidak mampu menutupi kegugupannya. Ia beberapa kali minta air mineral untuk menetralisir debar jantungnya yang memompa lebih cepat dari biasanya.
"Mas kenapa? Gugup?" tanya Mama Rita.
"Gakpapa Tante, cuma gak biasa aja" jawab Rama.
"Kalo udah biasa itu artinya Mas udah keseringan nikah dong" canda Mama Rita pada Rama.
Rama terkekeh pelan mendengar gurauan sang mama tiri. Sudah lama mama sambungnya itu menjadi istri papanya. Hanya saja, Rama seumur hidup tidak pernah merasakan kasih sayang dari Mama Rita. Mama Rita tidak pernah jahat padanya, namun Rama juga tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu dari Mama Rita. Jangankan kasih sayang, ngobrol dengan Rama saja bahkan hanya hitungan jari.
"Mas, mama minta maaf ya kalau selama ini mama tidak pernah memperlakukan Mas dengan baik. Membuat Mas dari kecil tidak pernah betah dirumah. Harusnya mama tidak seperti itu, dan sekarang Mas sudah tumbuh jadi lebih besar dan hebat, Mas juga akan menikah hari ini. Semoga Mas bahagia ya" Mama Rita menggenggam tangan Rama. Ia serius dalam ucapannya. Ada butiran bening yang siap jatuh di permukaan matanya. Teringat bagaimana dulu ia tak peduli pada Rama. Sampai akhirnya ia memiliki anak dengan papa Rama, Rama bahkan sangat menyayangi adik tirinya itu. Pun juga panggilan Mas yang disematkan pada Rama, itu adik tirinya yang kasih dan Rama sangat senang waktu pertama kali di panggil mas saat usianya masih 10 tahun. Rama malah jauh lebih dewasa meski usianya masih muda di banding Mama Rita yang lebih tua.
"Mama jangan sedih, jangan menyalahkan diri mama. Mas juga salah ma, mas tahu pasti dulu juga berat buat mama. Masih muda terus nikah sama duda yang punya anak gede. Waktu itu mas gak ngerti posisi mama, bukan mas gak suka mama tapi mas cuma ngerasa gak punya temen ngobrol ma kalo dirumah. Makanya selalu numpang makan dan tidur di rumah Leon, karena ada Leonnya yang bisa aku ajak ngobrol dan main bareng.
__ADS_1
Ma, mas udah maafin mama. Mama juga maafin mas ya. Mas mau, sebelum mas melepas status lajang mas, mama sudah maafin kesalahan mas. Tolong restui pernikahan mas sama Feza. Doakan mas bisa menjadi suami yang baik seperti papa" Rama mengusap air mata mama Rita. Ia lega, akhirnya mama tirinya itu mau berbicara lagi padanya setelah bertahun-tahun saling diam.
"Mama senang di panggil mama, Mas" Mama Rita terisak namun Rama langsung memeluknya. Papa ikut menghampiri dengan kursi rodanya. Ia hanya tersenyum melihat anak istrinya kini sudah berbaikan. Rama pun akhirnya melepas pelukannya dari Mama Rita. Lalu ia berlutut di depan sang papa, meminta restu dan meminta maaf karena telah jahat padanya dengan meninggalkannya ke Amerika.
Padahal waktu itu papa menikah lagi bukan karena papa yang mau, melainkan papa mengira Rama butuh sosok ibu untuk mendidik dan menemaninya dirumah karena sang papa saat itu menjabat sebagai menteri di masa orde baru selalu sibuk menyambangi pelosok negeri demi kemajuan negara tercinta.
Yang ternyata dirumah, istrinya dan anaknya justru saling diam. Tidak seperti hubungan ibu dan anak yang ada dalam pikirannya.
Setiap papa Rama pulang larut malam dari kantornya, ia selalu harus mampir dulu kerumah Leon yang memang bertetanggaan dengannya. Untuk menjemput sang anak yang setiap harinya sehabis pulang sekolah menghabiskan waktu disana.
Sampai akhirnya saat Leon dan Rama lulus SMA, orang tua Leon berkata pada Papa dan Mama Rita jika mereka akan pindah ke Amerika dan Rama memaksa untuk ikut. Mendengar penuturan papa Leon itulah akhirnya papa jadi semakin mengerti bahwa anaknya tak betah dirumah. Melihat ekspresi memohon Rama, papa Rama pun mengizinkan anaknya untuk ikut dengan keluarga Leon ke Amerika. Dan setelah resmi jadi dokter kandungan, Rama kembali ke Indonesia. Itupun karena mendapat kabar dari asisten papanya bahwa sang papa masuk rumah sakit dan hampir menjadi korban pembunuhan berencana dari lawan politiknya.
Rama pun saat itu pulang dengan perasaan tenang. Tak ada kesedihan dalam hatinya meski itu adalah papa kandungnya. Karena menurutnya saat itu, papa tak menyayanginya. Papa hanya peduli pada ibu dan adik tirinya saja. Baru diketahui Rama setelah sampai di indonesia, bahwa adik tirinya sudah dua orang. Dulu saat meninggalkan Indonesia, hanya Puput saja.
"Pa, mas minta maaf ya karena selama ini mas gak pernah ngerti dengan usaha papa untuk buat mas bahagia. Mas juga minta restu, minta doanya biar mas bisa jadi suami yang baik kaya papa" Ini pertama kalinya Rama meneteskan air mata di hadapan sang papa. Ia tak kuasa melihat papanya yang kini hanya bisa duduk di kursi roda setelah percobaan pembunuhan waktu itu. Bahkan papa juga kehilangan fungsi saraf disekitar wajahnya. Membuat ia seperti terkena stroke dan tak bisa bicara.
Air mata papa turun, Rama pun memeluknya. Masih banyak sebenarnya yang ingin ia katakan tapi momennya sedang tidak pas hari ini.
Lalu masuklah penghulu ke dalam aula, membuat beberapa kameramen yang hendak meliput acara sakral Rama dan Feza itu bertebaran menuju posisi masing-masing. Dan Rama pun mengurai pelukannya.
Ia tersenyum hangat pada sang papa, lalu meminta izin mama untuk mendorong kursi roda papa menuju meja akad. Dan mama pun mengangguk dengan sangat ridho.
...*...
...**...
...***...
__ADS_1
Jangan lupa kasih like dan komen ya guys😆