(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Gantung


__ADS_3

jangan pergi tanpa jejak, mohon tekan tombol like dan vote sebanyak-banyaknya yaaa....


******


Ctak ctak ctak


Rama, Zapata, dan Nanda mengamati kakek yang sedang menumbuk dedaunan herbal yang ia sebut ampuh untuk mengobati keadaan Bibin. Daun itu lalu ditempelkan kakek pada punggung dan dada Bibin.


Lalu juga kakek meminta Rama meminumkan air kelapa muda pada Bibin karena persediaan cairan infus miliknya sudah habis. Hampir tujuh jam mereka menekuri Bibin, namun tidak ada tanda apa-apa. Sampai Zapata turun kebawah lalu mengambil sebuah ranting dan menuliskan sesuatu ditanah.


Rama dan Nanda menatap dari jendela apa yang dilakukan Zapata. Ternyata Zapata hanya menulis-nulis dengan cara sembarang hanya untuk menghilangkan rasa sedihnya.


Akhirnya Rama dan Nanda ikut turun. Masing-masing kini memegang ranting guna menghilangkan stres dan kekalutan yang ada dipikiran masing-masing.


"Gue percaya kalo kita nulis sesuatu dari pikiran kita, apapun itu, akan membuat kita merasa jauh lebih baik" ucap Rama. "Kalo gitu gue akan kasih contoh" Rama memberi garis ditanah samping kiri dan kanannya sebagai pembatas media tulisnya. Sehingga tulisannya akan rapi.


"Sebutkan permintaan maaf untuk seseorang yang ingin kamu tuju" ucap Rama melihat kearah Nanda dan Zapata bergantian lalu kemudian ia menulis ditanah.


Papa, mas minta maaf karena separuh usia mas tidak pernah mas habiskan buat papa. Sekarang papa udah gak bisa apa-apa, mas nyesal karena tidak bisa menjadi anak yang membanggakan buat papa sekaligus gak bisa jadi contoh kakak yang baik buat Puput dan Arse. Tapi tolong papa kasih mas kesempatan, mas akan menebus kesalahan yang pernah mas buat dan kita bisa hidup bahagia seperti layaknya keluarga.


"Ini contoh, sekarang giliran kalian. Formatnya masih sama. Sebutkan permintaan maaf untuk siapapun yang mau kalian tuju. Bisa pasangan, teman, keluarga, musuh juga gak papa. Terserah!" kata Rama memberi instruksi.


"Oke" Nanda dan Zapata menjawab serentak dan langsung memberi garis pembatas tulisan mereka.

__ADS_1


Untuk Bapak dan Ibu, sa**ya minta maaf tidak bisa hadir di hari kepergian Yono. Saya minta maaf jikalau selama ini saya tidak becus menjaga Yono. Saya harap suatu saat ada lagi kesempatan untuk kita bertemu dilain hari.


Dan untuk Yono, maafkan abang yang tidak bisa mengantarkanmu pada peristirahatan terakhir. Kamu pergi dengan cara yang masih meninggalkan tanda tanya. Tuhan mungkin memang sudah mentakdirkan seperti ini, tapi berat sekali untuk rela. Yono, bapak dan ibumu menyayangimu. Begitupun abang dan kak Dinda. Sekarang, kak Dinda tidak perlu menghadiahi kamu masakan yang enak-enak biar kamu makan dengan lahap. Kini, kami cukup menghadiahkan kamu Al-Fatihah yang banyak agar kamu merasa bahagia di surga .


Nanda berdiri tegak, ia sudah selesai menulis. Ia melirik pada Zapata, mempersilahkannya untuk segera menulis.


"Oh, gak papa nih panjang-panjang?" tanya Zapata.


"Bebas, kan gue bilang tadi terserah. Makanya gue kasih garis kiri kanan biar kita nulisnya sesuai tempat masing-masing. Gak kemana-mana" sahut Rama.


Zapata pun mengerti dan mulai menulis ditanah.


Bin, bangun! Masa gue harus nulis ditanah buat minta maaf sama lo. Kan kita masih sama-sama. Lo masih dihutan sama gue. Bin, Nanda udah sampein kalo lo sayang banget sama gue. Iya, gue tahu bahkan tanpa Nanda kasih tahu pun gue tahu. Bin, maaf ya gara-gara gue lo jadi kaya gini. Gue siap Bin, kalo seandainya lo sadar dan mau ngamuk-ngamuk ke gue, pukul-pukul gue, minta gendong gue seumur hidup. Apapun itu gue udah siap Bin, gue terima asal lo gak pergi ninggalin gue sendiri.


Untuk Septi, Anneth, Ghea, dan yang lainnya maaf kalo kehadiran gue dikehidupan kalian malah hanya membuang-buang waktu kalian aja. Maaf udah macarin satu geng sekaligus. Gue gak nyangka kejadian 5 tahun lalu ternyata bikin kalian masih saling sindir di sosmed sampe sekarang.


Sekalian bilangin sama Tante Jeni, tolonglah ya setiap lebaran jangan mojokin aku terus. Sampe muak aku denger dia nanya kapan kawin di depan tamu yang silih berganti. Sengaja banget mau ngejatuhin aku. Tante Jeni juga kenapa bodoh banget. Mau aja di kibulin sama anak dan menantu sendiri. Itu Si Kenny sebenarnya hamil duluan tapi ngakunya aja prematur. Anaknya lahir pas masih hamil 7 bulan. Huuu, bodoh. Mau-mauan dibodohin anak sendiri. Udah jelas-jelas tuh bayi berat badannya normal plus segar bugar, masih aja kesana kemari nyeritain prematur bangga begitu. Kebetulan aja mulut aku masih bisa ditahan gak kayak mulut Tante Jeni. Tapi Tante, kesabaran aku ada batasnya. Kalo dilebaran tahun depan Tante masih nyinggung-nyinggung aku lagi, bakal aku bongkar tuh kasus cucu prematur yang sebenarnya tidak prematur. Nih Tante, masih lebih baik gak nikah-nikah daripada nikah karena hamil duluan. Tanyain sekalian sama Kenny, jangan-jangan udah sering ng*eue sama banyak cowok dan apesnya malah sampe hamil. Sumpah ya aku gedek banget sama Tante tapi malah nyerang yang lain-lain. Ini gara-gara Tante Jeni. Dari sekian banyak keluarga, cuma Tante doang yang rese' sama aku"


Pletak


Zapata mematahkan ranting yang ia gunakan untuk menulis. Ia benar-benar kesal gak ketulungan gara-gara teringat kekejaman Tante Jeni -adik kandung mamanya. Si Tante Jeni yang selalu membanding-bandingkannya dengan sang anak yang lebih muda dari Zapata tapi sudah menemukan jodohnya.


Raut wajah Zapata merah padam dan ia meminum sebotol air penuh untuk meredakan emosinya. Glek glek glek.

__ADS_1


"Tanggung jawab lo Ma, udah bikin tanduk gue mekar" ujarnya.


"Lagian lo disuruh tulis permintaan maaf malah ngumpat dosa orang" ujar Nanda.


"Gue kesel banget sama perempuan tua itu. Yang kerjaannya sampe sekarang masih suka minta-minta duit ke nyokap gue. Kadang juga sampe ngatur-ngatur perjodohan apalah itu. Nih kalo boleh tukar tambah, mending Bibin yang sadar terus tukeran sama Tante Jeni" ucap Zapata setengah tertawa karena rasa kesalnya yang sampai tak mampu ditolerirnya lagi.


"Sabar sabar" bujuk Nanda.


"Eh, kakek lagi masak gak kita bantuin?" sadar Rama karena sedari tadi sibuk bertiga saja.


"Ah iya, ayo kita bantu"


Mereka pun membantu kakek memasak nasi, merebus daun singkong, dan membuat singkong sambal dengan potongan berbentuk dadu.


"Wah, singkong jadi lauk begini enak juga ya" puji Zapata.


"Enak kan? Kakek dari kecil sudah makan, sekarang sudah bosan" ucap kakek di balas kekehan dari ketiganya.


"Kakek tinggal dihutan sejak kapan kek?" tanya Zapata.


"Baru satu bulan. Itu juga sejak semua anakku menikah dan tidak ada yang mau menampungku, semua sibuk dengan urusan masing-masing akhirnya aku membeli sebidang tanah milik tetanggaku, ya inilah tempatnya. Aku mau tinggal disini saja dan menikmati masa tuaku dengan berkebun. Sesekali aku ke desa untuk membeli kebutuhan yang lain" cerita kakek. Mereka pun menikmati makan malam di dekat tungku dan saling bercerita. Sungguh terasa hangat kekeluargaan meski semua yang duduk disana punya cerita hidup yang berbeda-beda.


"Aaaaaa....."

__ADS_1


*****


Tbc ya guys kalo mood hehe


__ADS_2