(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
66. Kurang Kerjaan


__ADS_3

Kini, 2 orang yang tak saling mengenal namun terlihat seperti saudara kandung yang sedang kelaparan itu tengah duduk berhadapan di sebuah rumah makan Padang yang sederhana, bukan yang Sederhana tapi mahal itu ya.


Keduanya sedang menunggu makanan mereka di ambilkan sambil sesekali mengotak-atik ponsel masing-masing. Tapi yang jarinya lincah mengetik di layar ponsel tentulah Nanda, bukan Dinda. Sebab Dinda tak punya teman chatingan. Ada sih ada, tapi yang musiman, kalo lagi ada butuhnya aja.


Alhasil, karena tak mau kalah tanding kesibukan dengan ponsel. Akhirnya Dinda lihat-lihat status Whatsapp teman-temannya. Lalu setelah itu melihat-lihat postingan Instagram orang-orang dengan centang biru.


Tak lama, semua hidangan sudah tersaji mulai dari nasi sampai lauk pauk dan lalapannya dengan berbagai macam jenis dan harga. Dinda pun mengakhiri aktifitasnya berselancar di dunia maya, ia akan fokus menikmati makanan saja.


Dinda dan Nanda makan dengan sangat lahap. Mereka tak saling bicara bahkan terkesan saling mengabaikan. Menurut Dinda, seperti ini jauh lebih baik daripada saling bicara tapi tak enak di dengar. Terlebih orang yang di hadapannya ini cenderung suka berbicara dengan ketus.


Padahal kalau dia senyum saja sedikit, tak perlu terlalu lebar karena itu mustahail. Nanda akan kelihatan lebih manis dan enak di pandang. Namun sayang, semua itu hanya khayalan saja.


Selesai mereka menyantap makan sore mereka. yap, makan sore sebab sekarang sudah pukul setengah 5 sore. Dinda dan Nanda tetap pada posisinya karena masing-masing kekenyangan dan begah juga.


Setelah 5 menit berlalu, akhirnya Nanda yang memulai untuk membuka percakapan di antara mereka.


"Nama lo siapa?" tanya Nanda yang mulai sedikit ramah tapi tetap tegas pembawaannya. Dinda udah berasa kaya di introgasi calon mertua.


"Dinda, Mas". Entah kenapa panggilan Mas itu keluar begitu saja dari mulut Dinda.


"Nah, gitu dong. Kan enak di denger" ujar Nanda dengan senyum simpulnya. Duh, manis bener.


"Bilang kek dari tadi kalo lo minta di panggil Mas" ketus Dinda yang menyesali kenapa lawan bicaranya ini ga to the point aja.


"Haha, Lo bebas mau panggil gue apa. Asal jangan Pak. Gue berasa udah punya anak aja di panggil Pak" tutur Nanda yang saat ini sudah mulai luwes dan tak setegas sebelumnya.


"Kalo gitu, panggil kak aja ya. Panggil Mas takut kita di sangka suami istri" ungkap Dinda yang langsung di angguki oleh Nanda. Tanda bahwa pria itu tak keberatan sama sekali.


"Oh iya, makanannya nanti aku aja yang bayar. Sebenarnya, tadi aku cuma becanda aja. Eh ga taunya malah di tanggepin serius" kata Nanda yang membuat Dinda tertawa meringis.


"Ada ya orang bercanda tapi mukanya sangar. Aku bahkan sama sekali ga bisa percaya orang kaya kakak bisa bercanda hahaha". Makin puas Dinda menertawai Nanda.

__ADS_1


"Sial" umpat Nanda sambil melempar tisu bekasnya ke arah Dinda.


Keluar dari rumah makan itu, Dinda dan Nanda berjalan beriringan menuju mobil Dinda. Sambil bercanda mereka sesekali saling melempar tatapan yang penuh arti. Apa artinya? Entahlah, hanya mereka dan Tuhan yang tahu.


Mereka juga sudah saling bertukar nomor Whatsapp dan Dinda juga sudah tahu di kantor polisi mana Nanda bekerja.


Mereka pun masuk ke mobil Dinda untuk kembali ke taman tadi, sebab Nanda memang meninggalkan tugas dan mobilnya di sana. Nanda berusia 3 tahun lebih tua dari Dinda, badannya kekar dengan otot dimana-mana. Dan memiliki lesung pipi di pipi kirinya.


Di perjalan menuju taman...


"Bang, emang lo kebagian tugas apa kok di taman?. Perasaan di taman ga ada polisi laen selaen lu" ujar Dinda yang kepo akut.


"Haha, jagain adek. Adeknya abang lagi nongkrong sama teman-temannya di taman" ucap Nanda yang memang typical orang yang jujur dan apa adanya.


"Wah, emang adeknya masih kecil ya?" tanya Dinda terus-menerus sampai keponya menuai jawaban.


"Dia udah SMA" ucap Nanda.


"Dia keluarga aku satu-satunya, Din. Orang tua kita udah ga ada, mereka meninggal karena kecelakaan 7 tahun yang lalu" ucap Nanda dengan santai.


"Bang, aku minta maaf ya. Ga mau nanya-nanya lagi deh, janji". Hal itu membuat Nanda tertawa.


"Gapapa kok, lagian aku juga udah ikhlas. Adek aku juga ga pernah nangis lagi ketika inget Mama Papa" kata Nanda tetap dengan kesantaiannya.


"Oh iya, ini hari senin dan kamu ga kerja?" kali ini Nanda yang penasaran.


"Semua deadline buat hari ini udah selesai, meeting bareng klien juga udah kelar, ya udah deh, ambil cuti aja hari ini" papar Dinda yang tersenyum riang ketika mendapat 1 hari tanpa harus duduk depan komputer.


"Dasar ya, manusia kurang kerjaan" ledek Nanda yang membuat Dinda memukul lengannya pelan karena Nanda harus tetap konsen menyetir.


"Udah sampe nih" sambung Nanda lagi.

__ADS_1


Mereka kemudian turun dari mobil Dinda. Nanda meminta Dinda untuk segera pulang, sebab hari sudah sore. Dan tak baik jika perempuan berlama-lama di luar rumah. Meski baru mengenal Dinda, tapi Nanda sudah merasa punya adik tambahan yang perlu juga ia jaga.


Dinda pun juga senang berkenalan dengan Nanda, meski awalnya cukup dongkol tapi ternyata Nanda orang yang baik dan ramah dengan cara yang berbeda. "Sampai jumpa di hari rabu Bang!" pekik Dinda saat ia akan melajukan mobilnya meninggalkan taman dan Nanda.


Di perjalanan, Dinda baru ingat bahwa ia belum membeli makanan atau cemilan apapun untuk di bawa pulang. Akhirnya ia mampir di depan pedagang sate madura untuk membeli beberapa bungkus sate buat orang rumah.


Setelah sampai di rumah, Dinda pun menyerahkan kantong kresek yang berisi beberapa bungkus sate kepada Bi Hanum lalu Dinda segera menuju kamar untuk membersihkan diri.


Baru saja Dinda melemparkan dompetnya ke atas tempat tidur, ponselnya berdering. Dan penelponnya adalah Bang Nanda.


Dengan semangat 45 Dinda mengangkat telepon itu lalu menempelkannya ke telinga kanannya.


"Dimana? Udah sampe rumah?" tanya Nanda.


"Udah Bang, ni mau mandi" jawab Dinda.


"Ya udah, mandi sana. Jangan lupa sholat". Nanda mengingatkan Dinda dan itu salah satu perhatian yang membuat hati Dinda membuncah karena bahagia.


"Lagi ga sholat Bang" ucap Dinda.


"Oh gitu, ya udah ganti. Jangan lupa makan" kata Nanda sambil ketawa-tawa.


"Ish, masih kenyang bang" kesal Dinda.


"Ga ada yang bener ya perkataan Abang. Ganti lagi deh, jangan lupa nafas. Kalo ga nafas mati" ledek Nanda yang senang sekali menjahili Dinda.


"Arggg, kesell... Buat abang, jaga KTP aku jangan sampe ilang" tut. Panggilan telepon langsung Dinda matikan lalu ia buru-buru melangkah menuju kamar mandi. Untuk menenangkan dirinya yang jadi korban keusilan Nanda.


●●●


Guwd night guise, mata otor juga udah perih nih, tiupin dongs

__ADS_1


__ADS_2