(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Mood Swing


__ADS_3

Holaaa, selamat sore evribadeee... Minta likesnya dong👀


...*...


...**...


...***...


Setelah kondisi Dinda sudah membaik dan tidak lagi muntah-muntah. Ia dan Nanda pun memutuskan untuk kembali kerumah pribadi mereka. Sudah dua bulan lebih Dinda tidak pernah lagi naik mobil, maka dari itu dirinya saat ini betul-betul menikmati setiap pemandangan yang tersaji di setiap jalan yang ia lewati.


Dinda terus melihat ke arah luar jendela. Ia begitu rindu dengan pemandangan yang dulu sering ia lewati itu. Banyak tulisan-tulisan di pinggir jalan yang dulu tak pernah ia baca kini malah sangat tertarik untuk membacanya.


Semua tak ada yang terlewatkan dari pandangannya. Termasuk lorong sempit yang lebarnya hanya 1 meter dan nampak plang kecil bertuliskan "Jual Bunga" di depannya.


Saat sampai dirumah, Bibi sudah menyambutnya dengan penuh rasa rindu terhadap majikannya itu. Bahkan wangi masakan sudah tercium saat Dinda melangkahkan kaki masuk kedalam rumah.


Di usia kandungan yang sudah menginjak 4 bulan ini Dinda lebih suka rebahan, nyemil, dan gampang keringatan. Kalau untuk urusan makan, alhamdulillah Nanda tidak perlu khawatir lagi. Hanya saja kini ada satu masalah baru.


Dinda yang mudah sekali kepanasan, selalu nyetel AC dikamarnya dengan suhu yang sangat dingin bagi Nanda yakni 18°. Tidak peduli subuh hari, suhu itu tetap segitu dan tidak boleh di ganti.


Hal itu membuat Nanda sampai mencret karena masuk angin meski sudah menggunakan berlapis-lapis selimut. Sedangkan Dinda tidak merasakan efek sama sekali.


"Yank, diminum nih vitaminnya" sodor Nanda pada Dinda saat keduanya sama-sama baru selesai sarapan dan sama-sama mau minum obat.


Kalau Dinda minum susu dan vitamin untuk kehamilan sedangkan Nanda minum obat diare biar mencretnya tidak kambuh saat diperjalanan menuju kantor. Setelah sama-sama minum obat, Nanda pun pamit dan mencium kening sang istri.


"Nanti kalo ada yang mau di titip, telpon aja sayang" ujar Nanda lalu diangguki oleh Dinda.


Saat suaminya sudah pergi kerja, Dinda pun kembali ke kamar untuk rebahan serta tak lupa dalam dekapannya sudah menggendong toples besar berisi keripik pisang yang dibawa dari rumah mamanya. Setelah sampai ke kamar, moodnya berubah lagi. Tiba-tiba saja ingin main kerumah Jovan.


Dinda keluar rumah setelah izin pada Bibi, ia pun menuju kerumah Jovan yang ternyata kosong tak ada penghuni. Biasanya jam segini ibunya Jovan itu masih dirumah.


Karena bingung mau ngapain, Dinda akhirnya duduk di depan rumah Jovan yang banyak tanamannya. Ia duduk merenung sambil memikirkan mau melakukan kegiatan apa hari ini.


Saat ini rasanya ia ingin berkebun, tapi tak mungkin di rumah Jovan. Akhirnya Dinda pulang kerumah, ia teringat dengan lorong kecil yang sempat tertulis jual bunga di depannya.


"Halo sayang, mau nitip apa?" sahut Nanda dari seberang telepon. Karena sudah jadi rutinitas istrinya yang selalu nitip makanan.


"Bukan itu" sanggah Dinda.


"Oke oke, terus mau apa?" tanya Nanda.

__ADS_1


"Mau minta izin, aku pengen beli bunga sekarang juga" ujar Dinda sambil ngelus-ngelus perutnya yang mulai tampak lebih menonjol.


"Beli bunga? Dimana? Jauh gak?" Nanda khawatir membiarkan istrinya pergi sendiri.


"Nggak, gak jauh. Deket minimarket tempat kamu pernah beli pembalut buat aku" kata Dinda menunjukkan lokasi tujuannya.


"Ih, jauh itu yank. Sama aja pulang kerumah papa kalo gitu. Aku suruh mobil patroli jemput kamu sekarang juga" titah Nanda tegas tidak mau ada penolakan.


"Yank, gak mau. Aku mau sendiri aja. Kamu jangan kecewain anak kamu dong. Kebiasaan deh ngatur-ngatur semaunya" tolak Dinda mengomel.


"Yank, demi kebaikan kamu. Nanti kamu kalo tiba-tiba mual lagi gimana hkkk" jawab Nanda.


"Suara apa itu?" tanya Dinda merasa aneh dengan suara barusan.


"Aku mencret" jawab Nanda mengaku.


"Oh, ya udah. Aku boleh pergi kan?" tanya Dinda meminta kepastian.


"Gak, aku bilang gak ya nggak" jawab Nanda bersikeras.


"Yank, kamu tu gak ngerti. Anak kamu tu anak indie. Apa-apa sendiri, mandiri, independen, gak suka diatur-atur" Dinda masih ngotot minta diizinkan pergi sendiri.


"Nurut ngapa siiih" kesal Nanda. Hari ini tampaknya Nanda sudah mulai kehilangan kesabaran. Apalagi istrinya makin hari makin ada-ada saja kelakuannya.


"Astagh-"


Mau nyebut tapi baru ingat saat ini dirinya lagi di wc.


"Ya udah iya, tapi pelan-pelan aja. Kalo ada apa-apa cepet kabarin aku. Kalo udah beres mencretnya, nanti aku susul kesana. Kamu sherloc aja tempatnya ya" ujar Nanda mulai melunak mengikuti kemauan istrinya.


"Gak usyah!" tut. Setelah mengantongi izin dari suaminya, Dinda pun melenggang pergi dengan hati yang sangat bahagia. Sesuai titah suaminya, ia benar-benar nyetir dengan sangat pelan. Sampai-sampai banyak kendaraan dibelakangnya menjadi kesal dan mengklaksonnya bertubi-tubi.


Tapi Dinda tidak peduli, karena hatinya benar-benar bahagia hari ini. Niat hati ingin berkebun akan segera terkabul.


Sampai di depan lorong, Dinda pun turun. Ia memarkirkan mobilnya di seberang lorong karena lorong yang sempit tak bisa mobilnya masuk.


"Mas, ini tempat jual bunga masuk kedalamnya jauh gak?" tanya Dinda pada orang yang kebetulan lewat.


"Gak mbak, cuma 20 meter aja. Itu tempatnya yang pagar kawat keliatan kok dari sini" tunjuk orang tersebut.


"Oh, kalo gitu makasih ya mas".

__ADS_1


Dinda pun berjalan sambil memainkan kunci mobilnya. Sampai ditempat yang ia tuju, Dinda dihampiri seorang pemuda usia kisaran 19 tahun.


"Selamat datang mbak, mau cari bunga?" tanyanya.


"Iya" jawab Dinda sambil memperhatikan bunga-bunga di sekelilingnya.


"Mau cari bunga apa? Kami disini punya berbagai macam jenis. Ada mawar, melati, anggrek, kamboja, teratai, bunga lili, tulip, bunga kantil. Hehe saya bercanda mbak. Bunga kantil kita gak jual" ucap pemuda itu dengan begitu cepat tanpa kesrimpet lidah. Sampai Dinda ikut tertawa mendengar gurauan receh pemuda itu.


"Mas, saya mau cari bunga yang bagus. Tapi bingung milih bunga yang mana" ujar Dinda setelah tawanya reda.


Dinda pun lalu di antarkan berkeliling oleh pemuda itu untuk menemukan bunga yang ia cari. Namun, sudah lelah lelaki itu berjalan menemani Dinda tetap saja belum ada satupun bunga yang Dinda mau.


"Mbak, ini saya udah tegak duduk 3 kali tapi kok belum nemu juga? Apa bunga disini emang gak ada yang bagus atau selera mbak yang ketinggian? Saya jadi mikir, apa jangan-jangan mbak ini nyari bunga edelwes ya?" pemuda itu begitu lancar mengutarakan keluhannya pada Dinda. Sedangkan Dinda malah tersenyum simpul, seolah mendapat jawaban dari ucapan pemuda itu.


"Bunga apa tadi? Edelwes? Saya mau deh mas" jawab Dinda dengan senyum terkembang.


"Kenapa gak dari tadi mbak bilangnya. Ini saya udah cape-cape keliling nemenin mbak, gak taunya nyari edelwes"


"Ayo mas, ayo ayo kita liat bunga edelwes" ajak Dinda penuh semangat.


"Mbak, bunga edelwes tumbuhnya di gunung. Gak jual saya" ucapnya.


Seketika wajah Dinda berubah sedih. "Kenapa sih orang-orang tuh gak suka liat aku seneng. Tadi suami larang-larang pergi sendiri, sekarang edelwes minta dijemput ke gunung. Aku tuh salah apa mas sama mereka? Tau dari mana mereka kalo aku hari ini bakal nyari bunga edelwes hiks... hiks"


Melihat tangis Dinda yang sangat pilu, pemuda itu pun pergi dan tak lama kemudian ia kembali lagi dengan sebotol air mineral yang ia bawakan untuk Dinda. "Mbak, jangan nangis atuh. Ini, diminum biar mbaknya tenang".


"Pokonya aku gak mau pulang sebelum dapet bunga edelwes mas hiks" Dinda sudah meneguk air mineral dari mas itu tapi tangisnya tetap berlanjut.


"Aduh mbak, gimana lagi saya harus bujuknya". Si pemuda itu pun ikut frustasi mendapat pengunjung satu ini.


"Hiks hiks"


"Mbak mbak, kalo bukan bunga edelwes mau? Yang ini bunganya spesial. Cantik banget bunganya mbak, tapi agak sedikit mahal memang. Nama bunganya Ajnag, cuma berbunga setahun sekali. Mbak mau?" tanyanya.


"Mau mau, cepet mas saya mau liat" ucap Dinda tidak sabaran.


...*...


...**...


...***...

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir ke novel ini. Semoga kalian suka dan bersedia kasih like sebanyak-banyaknya😍


__ADS_2