(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
77. Kue Enak


__ADS_3

Setelah lama berpikir, Dinda pun akhirnya mempersiapkan satu kejutan untuk Nanda karena ia tak mau terus-terusan merasa bersalah sebab mengetahui kalau niat awal Nanda ambil cuti 2 hari ini karena untuk bisa menghabiskan waktu bersama Dinda. Nanda sadar dengan resiko pekerjaannya yang tak kenal waktu, jadi ia sangat tidak ingin membuat Dinda selalu terus-terusan mengharapkan kehadirannya di saat-saat Nanda sedang banyak kerjaan.


Dinda juga sangat ingin sekali menghabiskan waktu buat jalan, nonton, atau makan berdua sama Nanda. Tapi untuk malam ini Dinda benar-benar tidak bisa. Hari ini sangat menguras otaknya, karena Dinda sengaja melakukan itu agar di keesokan harinya ia bisa bolos, karena deadline untuk hari Selasa sudah ia tuntaskan dan ia titip pada Sari. Sehingga besok pagi Dinda bisa bebas kemana saja bersama Nanda tanpa memikirkan kerjaannya.


"Sayang, malam ini beneran aku ga bisa. Tapi...". Dinda menghentikan ucapannya sejenak sambil menatap Nanda yang fokus menyetir mobil.


"Tapi apa? Kamu jangan kayak sinetron deh" ujar Nanda ketus karena jadi korban PHP Dinda.


"Hahaha... Kamu kok sewot sih. Aku kan mikir dulu sebelum ngomong. Namanya juga calon Advokat. Salah-salah ngomong bisa di tuntut" kata Dinda sambil terus menggoda Nanda. Makin emosi, Nanda makin lucu. Dinda jadi gemes sendiri lihat cowok dengan rahang tegas di sampingnya ini terus-terusan berdecih karena menahan umpatan yang akan keluar dari mulutnya.


"Sayang, aku besok free. Semua kerjaan aku udah kelar semua. Hayuk jalan" ucap Dinda sambil mengangkat dagunya dan menaik-turunkan alisnya menunggu respon Nanda.


"Serius?" tanya Nanda tidak yakin.


"Iya" jawab Dinda lugas.


"Kok aku ga percaya ya sama kamu" ucap Nanda penuh selidik.


"Ya ampun. Aku pacar kamu lho. Masa gitu aja kamu ga percaya" omel Dinda meringis dengan ucapan Nanda barusan.


"Hahaha... emosi. Kamu bikin aku kesel, aku gapapa. Giliran aku mancing dikit, langsung marah-marah. Enak banget jadi kamu". Kini giliran Nanda yang habis-habisan mengolok-olok Dinda sambil memarik rambut panjang Dinda sebagai bentuk meluapkan kekesalannya.


"Jadi gimana? Jadi jalan gak ne?" tanya Dinda cemberut.


"Ya jadi dong. Sia-sia aku cuti kalo mendep doang kaya jomblo merana di rumah. Aku kan ga jomblo lagi, udah taken" ujar Nanda dengan santainya sambil mendorong-dorong bahu Dinda ke jendela.

__ADS_1


"Kamu ih, suka banget nyiksa aku. Aku kira jadi pacar kamu bakal di perlakukan lembut, ga taunya malah di siksa teros" gerutu Dinda yang hanya jadi hiburan tersendiri buat telinga Nanda. Karena Nanda ketawa-tawa melihat Dinda ia dorong-dorong.


"Aku bahagia sayang punya kamu. Ngomel terus tapi seru" ucapnya dengan tersenyum manis.


"Tapi di dorong-dorong enak sih, pegel-pegelnya jadi agak berkurang, Yang" timpal Dinda sambil mencubit-cubit pundak yang tadi Nanda dorong-dorong.


"Mau lagi?" tawar Nanda.


"Boleh" jawab Dinda senang.


"Bentar-bentar, kita cari jurang" ucap Nanda yang langsung tertawa ngakak melihat ekspresi muram Dinda setelah mendengar kata-katanya.


"Bunuh aja Yang, bunuh. Aku Ikhlas, yang penting kamu bahagia" seru Dinda yang geleng-geleng kepala melihat Nanda yang tak berhenti tertawa.


"Gini amat pacaran ama polisi, otaknya kriminal" timpal Dinda menyindir Nanda yang sedang mengatur nafas.


"Ya udah, kalo gitu besok ga usah jemput aku. Aku sendiri aja yang kerumah kamu. Terus nanti aku bikinin sesuatu deh buat kamu. Setelah itu baru kita jalan kemana kek. Tapi aku request kita ke timezone yah, seru taukk. Yah yah yah" pinta Dinda pada Nanda.


"Oke sayangku" seru Nanda.


Setelah mengalami macet panjang di perjalanan, akhirnya Dinda sampai di rumahnya saat maghrib sudah hampir habis. Dinda pun meminta Nanda untuk sholat maghrib dirumahnya saja, biar tidak ketinggalan. Dan Nanda pun menyetujui.


Setelah selesai numpang sholatnya, Nanda pun buru-buru pamit karena ia mengkhawatirkan adiknya sebab sang Art jam 5 sore sudah pulang dari rumahnya. Setelah kepulangan Nanda, Dinda pun bergegas ke kamar untuk mandi dan mengistirahatkan tubuhnya.


Jam 8 malam, Dinda menuruni tangga untuk makan malam. Kedua orang tuanya sudah makan sejak jam 7 tadi, karena memang Dinda tidak ikut makan bareng orang tuanya karena mengistirahatkan tubuh.

__ADS_1


Saat sampai di meja makan, Dinda heran dengan kue yang tersedia di meja. Sebab di rumahnya ini, hanya Dinda yang sering bikin kue. Dan kuenya pun berbagai macam jenis, tidak hanya 1 macam.


"Bi, ada acara apa kok banyak banget bikin kuenya?" tanya Dinda pada Bi Hanum.


"Oh itu dari tetangga depan Non. Katanya buat syukuran atas resepsi mas Ariel. Tadi yang anter Bu Maryam". Begitulah sekilas info dari Bu Hanum.


Lantas, setelah tahu bahwa kue-kue itu berasal dari rumah Ariel maka Dinda tak mau menyentuhnya? Kamu salah.


Dinda memilih kue yang menurutnya paling menggugah selera. Ia lalu menghabiskan sampai 3 potong karena jujur saja, kuenya enak. Melihat hal itu, Bi Hanum hanya tersenyum karena Dinda sama sekali tak keberatan untuk menyentuh kue itu. Dan itu artinya anak majikannya itu benar-benar sudah selesai dengan semua masalah antara dirinya dan Ariel. Semua benar-benar sudah berlalu. Dan mungkin berkat Nanda juga.


Setelah selesai mencicipi kue Ariel, Dinda pun makan nasi sambil menonton televisi di ruang tengah. Ia sesekali memikirkan ucapan para tetangga terlebih Bu Maryam yang tadi mengantarkan kue ini kerumahnya. Para tetangganya yang juga tahu kisah kasih antara dirinya dan Ariel. Dinda beberapa kali mendengar bisik-bisik para tetangga yang penasaran kenapa Dinda dan Ariel putus, sedangkan yang mereka tahu Dinda dan Ariel selalu akur bahkan sampai ke kedua orang tua mereka. Tapi Dinda sama sekali tidak ingin menggubris mereka, karena mau di jelaskan bagaimanapun, tetap akan ada pertanyaan baru lagi yang muncul di kepala mereka.


Jodoh itu kan di tangan Tuhan.


Tapi mereka seperti tidak meyakini hal itu. Buktinya semua orang pada penasaran dengan kisah Dinda dan Ariel yang berakhir begitu saja.


Dan ketika Tuhan mau mengambilnya kembali karena memang tak di takdirkan untuk Dinda. Ya Dinda bisa apa?


Cukup selalu berprasangka baik saja pada Tuhan. Agar segera ia dekatkan kita dengan jodoh kita.


Dan kalo di tanya iri ga sama mantan? Jujur saja, iri. Tapi balik lagi, nikah itu kan antara 2 belah pihak. Ga bisa yang guenya mau dianya engga, atau dianya mau guenya engga. Dan saat ini, gue sama Nanda sedang mempersiapkan diri dan sama-sama memperbaiki diri.


Andai kata ternyata nanti yang kami temui adalah ujung yang bercabang, alias kita berpisah ternyata ga sampe nikah.


Jawabannya cuma 1, Tuhanlah sebaik-baiknya perencana. Bahwa semua ini adalah rencana Tuhan, dan hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik bagi umatnya.

__ADS_1


Begitulah perang batin antara otak dan hati Dinda saat teringat semua tetangganya membahas hal yang tak enak tentang dirinya dan Ariel.


__ADS_2