
Kali pertama up 2 episode sehari. Bener-bener ya demi setoran...
Kalian juga jangan kasih kendor, terus kasih like dan votenya yaaa terimakasih:)ā£š
...*****...
Malam itu, anggota keluarga Dinda juga paman dan Bibi Nanda melaksanakan sholat maghrib berjama'ah. Usai sholat mereka makan malam bersama. Nanda bahagia dengan sambutan kepulangannya hari ini. Tentu saja karena adanya kakak kandung sang ibu yang rela datang jauh-jauh demi memastikan Nanda baik-baik saja. Dan syukurlah sebelum mereka kembali ke Bengkulu sudah bertemu langsung dengan Nanda. Jadi mereka bisa kembali ke Bengkulu dengan lega.
Sehabis makan malam Nanda, Dinda, dan Sherly duduk di balkon kamar Sherly. Mereka memandangi kegiatan para wartawan yang lagi makan nasi bungkus di depan pagar.
"Sampe malam begini mereka masih ada?" tanya Nanda heran.
"24/7" ungkap Sherly.
"Serius?" tanya Nanda tak percaya.
Dinda mengangguk.
"Dari kapan mulai kaya gini?" tanya Nanda lagi.
"Dari 2 hari setelah kepergian kamu" jawab Dinda.
"Mereka segitunya pengen wawancara aku? Apa aku harus turun yank?" Nanda meminta pendapat sang istri dan juga adiknya.
"Gak usah bang. Kata bang Aidil, nanti mereka juga capek sendiri" sahut Sherly.
"Aidil? Emangnya Aidil tahu?" Nanda pusing karena tidak tahu ceritanya bagaimana bisa bawa-bawa nama Aidil.
"Udah, kamu tenang aja. Aidil kan sahabatnya Zapata. Jadi, waktu Zapata dikabarkan terlibat sama kasus Romi Maha Jayardi itu dia kelabakan karena gak tahu juga kenapa Zapata bisa dibawa-bawa. Dicari kerumahnya gak ada, sampe akhirnya aku ketemu Ayu, Ayu yang cerita kalo Aidil lagi sibuk nyari-nyari Zapata. Ya aku bilang akhirnya, kalo Zapata pergi ke Desa M****u sama kamu juga. Terus akhirnya Aidil yang beresin satu-satu kasusnya Romi" kata Dinda menceritakan semuanya.
"Zapata, aku, Rama, sama Bibin yang mulai, malah Aidil yang beresin. Enak banget ehe"
Mereka pun akhirnya duduk di kamar Sherly, sekaligus membicarakan kemana Sherly akan melanjutkan studinya. Karena kini Sherly tengah menunggu pengumuman kelulusan.
"Cepet banget waktu berputar, abang sampe gak tau kapan kamu UNnya. Tau-tau tinggal nunggu pengumuman" ucap Nanda sambil duduk di depan Sherly.
"Habisnya, sejak punya istri malah sombong sama aku"
__ADS_1
"Ih, jadi nuduh kakak nih?" ucap Dinda dengan berlipat tangan.
"Gak gitu kak, tapi cara abang kaya lupa gitu sama aku. Dulu sering ajak aku jalan-jalan sekarang mana pernah. Sibuk sendiri" protes Sherly terhadap abangnya.
"Iya-iya, minggu kita jalan-jalan ya. Kamu jangan mikir gitu lagi. Abang gak pernah lupa sama kamu, tapi sekarang tanggung jawab abang bertambah. Abang punya istri dan sebentar lagi mau punya anak. Kamu suatu saat pasti paham kalo abang selalu sayang sama kamu, hanya saja fase kehidupan kita sudah berubah. Jadi... Adik abang yang cantik ini, mau lanjut kuliah dimana? Atau punya rencana lain? Silahkan disampaikan. Kakak sama abang pasti akan dukung apapun keputusan kamu"
Dinda menempelkan dagunya kebahu Sherly. Menunggu adik iparnya itu mengungkapkan keinginannya.
"Aku mau lanjut kuliah di kampus swasta aja. Soalnya kampus itu lumayan deket dari rumah. Selain deket, kampusnya juga bagus gak kaleng-kaleng. Mama sama papa juga udah setuju. Dan aku mau ambil jurusan bisnis. Kata papa biar bisa bantu kak Dinda urus perusahaan. Dan aku setuju" ujar Sherly dengan mengelus-elus perut Dinda.
"Oke, kalo izin papa sama mama udah kamu kantongin. Abang sama kakak ikut aja. Yang terbaik buat kamu pokonya"
"Makasih abang akuuu, kakak akuuu. Dan juga calon ponakankuuu. Emuah emuah emuah" Sherly senang karena sudah menyampaikan apa yang menjadi tujuannya selanjutnya. Ia juga menghadiahi ciuman singkat di pipi Dinda, Nanda, dan juga perut Dinda.
Nanda balas mencium kening adiknya. "Kamu tidur ya, udah malam".
"Ogheey" jawab Sherly.
Nanda dan Dinda pun meninggalkan Sherly dikamarnya dan menuju kamar pribadi mereka. Sampai dikamar, Nanda lagi-lagi menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke kasur.
"Gila yank, empuk banget. Senikmat ini rasanya baring di kasur" ucapnya kesekian kali dengan penuh penghayatan.
"Tidur di lantai papan yang dilapisin kain doang. Terus bantalnya ransel. Sederhana banget pokonya"
"Tapi katanya tadi bahagia" tukas Dinda.
"Iya, bahagia tapi ya itu giliran bangun tidur badan pegel-pegel. Hiburan kami disana cuma liat ba*bi yank, terus 2 malam terakhir kami disana ba*binya gak nongol lagi. Udah punya basecamp baru mungkin"
"Ngeri banget hiburan kamu" timpal Dinda.
"Sumpah yank! Mereka gempal-gempal, montok-montok, semok -seksi montok- pokonya"
"Ini bahas ba*bi atau jendes?" tanya Dinda curiga. Ia memicingkan mata menatap Nanda yang berbaring telentang tapi juga sambil menerawang membayangkan sesuatu yang ia sebut-sebut seksi montok itu.
"Ih kamu cemburu" ucap Nanda sembari bangkit dari pembaringannya. Ia duduk berhadap-hadapan dengan istrinya.
"Ini yang aku suka, kamu cemburu sama aku. Cieeee" Nanda pun memeluk mesra istri yang kini semakin berisi namun tetap paling hot dimatanya.
__ADS_1
"Lagian, kamu baru pulang bukannya capek malah semangat banget kaya gak terjadi apa-apa"
"Aku semangat, karena istri aku sekarang udah ada didepan mata. Waktu di hutan, huh mana ada kaya gini. Tiap hari aku jalan dari pondok ke sungai terus balik ke pondok lagi sambil tertatih-tatih tergopoh-gopoh. Dalam hati aku, mana Dinda ya Allah mana Dinda. Aku lemah tanpa dia ya Allah"
"Gombal. Udah sana tidur gih, istirahat yank. Nanti dipaksa terlihat baik-baik aja, malah demam" titah Dinda karena sudah jadi kebiasaan.
Nanda pun segera mengindahkan ucapan istrinya, dengan segera ia mencuci muka dan bersikat gigi. Lalu merebahkan tubuh disamping istri tercintanya.
Sebelum tidur, tak lupa ia mencium sekilas perut sang istri. Lalu memeluk istrinya erat hingga tertidur lelap.
****
Dirumah Feza, Rama juga sedang melepas kerinduan dengan istrinya. Tiap kali Feza hendak keluar kamar selalu dicegahnya.
"No no" ujarnya dengan telunjuk di depan wajah Feza.
"Aku lapar mas, mau makan" Feza membuat alasan agar dirinya bisa terlepas dari belenggu sang suami yang tidak puas-puas.
"Bukannya kita baru selesai makan satu jam yang lalu?" tanya Rama mendelik.
"Aku kan lagi hamil mas, butuh banyak asupan" ujar Feza.
"Oke" Rama pun membuka pintu. Feza berjalan mendahului, tapi dengan cepat diseret masuk oleh Rama.
"No, tuan putri cukup istirahat dikamar. Biar aku suruh bibi minta bawain makan buat kamu" Rama pun bergegas keluar kamar.
"Gilaaaaa, gak ada suami gue jadi uring-uringan. Giliran ada malah dikekep doang di kamar. Aku kan bosan mas dikamar mulu. Gak ada kamu, aku udah sering mengurung diri di kamar ini. Huft, dasar Rama" rutuk Feza berteriak.
"Aku denger ya" ujar Rama sambil masuk ke kamar dan menutup pintu. Rama menghampiri Feza dengan wajah yang berseri-seri. Tentu saja hal itu membuat Feza harus ekstra hati-hati.
"Mau apa? Jangan macam-macam! Hamil muda gak boleh sering-sering" ucap Feza memperingatkan suaminya.
"Iya tahu. Cuma pengen ndusel-ndusel aja"
Ngomongnya ndusel-ndusel tapi yang terjadi justru tidak sesuai ucapan. Feza pun meminta Rama untuk melakukannya dengan pelan agar tidak terlalu berbahaya terhadap kandungannya.
******
__ADS_1
tbc...
Terimakasih sudah mampir, like terus karya Author yaa...