
Malam harinya, Nanda datang tepat waktu sesuai dengan jam biasa mereka janjian untuk pergi. Dinda sedari tadi siang menahan laparnya demi bisa wisata kulineran malam ini bersama Nanda. Toh perutnya tak terlalu lapar, karena tadi pagi sempat makan 2 mangkuk soto plus nasi setengah porsi.
"Gimana? Nyonya Wirawan udah siap?" tanya Nanda sambil berdiri di depan mobilnya melihat kedatangan Dinda yang berjalan sambil merapikan beberapa helai rambutnya.
"Udah" sahut Dinda dengan bergelayut manja. Ia sengaja melakukan itu, karena saat ia keluar dari rumah, ia melihat Ariel sedang duduk di bangku depan rumahnya, tepat di bawah pohon mangga bersama istrinya yang tak kalah cantik dari Dinda. Jujur saja, Dinda memuji kecantikan istri Ariel.
"Ya udah, kalo gitu ayo berangkat" ujar Nanda lalu masuk kemobil, kemudian disusul Dinda.
Sepanjang perjalanan, Dinda terus saja menggelayut di lengan Nanda. Ia merindukan kekasih hatinya yang akhir-akhir ini sibuk terus sampai jarang mengabarinya.
"Kamu mau kita makan apa malam ini?" tanya Nanda yang justru mengarahkan wajah Dinda ke ketiaknya.
"Aku suka, wangi" ujar Dinda yang justru nyaman mengendus-endus aroma tubuh Nanda yang menguar di perkuat oleh wangi parfum.
"Hahah, udah-udah sumpah geli sayang" ucap Nanda memohon untuk Dinda berhenti menggodanya.
"Yank, janji kamu yang waktu itu belom di penuhin" ujar Dinda yang kini duduk dengan baik tidak lagi menggelantung di lengan Nanda.
"Makan sate?" tanya Nanda dengan tersenyum manis karena dugaannya pasti benar.
"Iya" jawab Dinda lesu.
"Ya udah, ayo. Kita gas malam ini" ujar Nanda lalu mereka berputar arah menuju jalan ke rumah sakit tempat Lita dulu sempat di rawat.
Sepanjang jalan Dinda bercerita tentang soto yang tadi pagi ia makan, ia merekomendasikan soto depan pasar itu pada Nanda karena Dinda sudah tahu kalau dalam beberapa bulan lagi, Nanda akan di pindahkan ke kantor polisi yang berdekatan dengan pasar itu. Dan kalau Nanda tidak sempat sarapan dirumah, soto itu bisa jadi tujuan utama yang wajib Nanda coba. Karena biasanya, apapun makanan yang Dinda suka, Nanda pun juga akan menyukainya. Lidah Dinda tak perlu di ragukan lagi.
Saat mereka sudah hampir sampai di rumah sakit, mereka pun melihat seorang pedagang sate yang sedang mendorong gerobaknya di tepi jalan, ternyata itu mamang yang mereka cari-cari semingguan ini.
Dinda langsung senyum-senyum karena kehendaknya yang terkabul. Nanda menoel pipinya karena gemas dengan senyum Dinda yang sangat aneh dimatanya.
"Ayo turun, ga turun ga di beliin" ancam Nanda cuma bercanda. Tapi Dinda tetap ikut turun karena ia benar-benar senang malam ini.
__ADS_1
Nanda menghampiri pedagang sate itu yang tetap berjalan kedepan karena ia tak tahu kalau mobil yang berhenti di belakangnya adalah calon pembelinya.
"Mang, beli" sapa Nanda saat ia sudah dekat dengan gerobak satenya.
Sang pedagang pun menghentikan laju gerobaknya. Ia melihat kebelakang, "Iya, masnya mau beli berapa tusuk?" tanya si mamang yang langsung menurunkan kursi plastik dari atas gerobak untuk di berikan ke Nanda. "Duduk dulu mas, mbak" tawarnya sambil meletakkan kursi plastik itu di trotoar.
"Makasih mang. Sayang mau beli berapa tusuk?" tanya Nanda meminta pendapat Dinda.
"Yang banyak, aku ga makan dari siang demi ngasih ruang di perut aku buat makan malam kita ini. Gimana kalo 50 tusuk, terus pakek lontong terus kita makannya sama Sherly juga" ujar Dinda yang memang sudah lama ia tak berjumpa remaja cantik itu.
Mamang menunggu mereka bernegosiasi sambil megatur api untuk membakar sate.
"Iya. Mang pesen 50 tusuk ya, satenya campur aja yang sapi sama ayamnya, terus pakek lontong. Lontongnya 3 porsi" ujar Nanda setelah berbincang dengan Dinda.
"Ga papa 'kan Yank kalo satenya campur aja sapi sama ayam?"
"Iya ga papa, yang penting satenya mamang" ujar Dinda senang.
"Hahaha biarin deh, daripada mamangnya ingat terus nanya mana anak kita, kan berabe. Mau bohong gimana lagi?" ujar Dinda sambil mendekatkan lagi kursinya pada kursi Nanda biar bisa ngomong bisik-bisik.
Tapi ternyata dugaan Dinda salah, setelah menata beberapa tusuk sate di tempat pembakarannya. Mamang berbalik lalu tersenyum pada mereka. Dinda mengira mamang itu akan mengingat mereka, ternyata tidak. Syukurlah...
"Mamang jualan satenya di mana? Soalnya tiap saya mau beli, selalu nyetopin di jalan" tanya Nanda biar tahu kalau-kalau suatu saat Dinda mau makan satenya Mamang kan udah ga perlu cari-carian seperti tadi.
"Oh, saya pindah-pindah Mas. Biasanya di depan kantor SATPOL PP (Satuan Polisi Pamong Praja), depan kantor DAMKAR (Pemadam Kebakaran), pokonya dimana banyak orang ngumpul-ngumpul ya disitu. Ini aja saya mau ke depan kantor DAMKAR, mereka kan pekerjanya cowok ya rata-rata, jadi sering ngumpul rame-rame sekalian begadang, jadi biasanya sambil makan sate saya" ucap Mamang bercerita dan tak lupa membolak-balik sate yang di pesan Nanda serta membungkus lontong.
Sedangkan Nanda dan Dinda mendengar dengan seksama cerita mamang itu.
"Ooh, terus habisnya sampe jam berapa tu mang?" kali ini Dinda yang bertanya.
"Jam 12 biasanya udah habis mbak, tapi saya gak langsung pulang. Saya ikut ngumpul juga sampe jam 2" ujar Mamang yang kini membakar sate yang setengahnya lagi.
__ADS_1
"Istri dirumah gak marah pak kalo tahu bapak gak langsung pulang begitu?" tanya Nanda.
"Nggak Mas, asal pulang bawa duit haha" ujar mamang. Lalu Nanda menyenggol bahu Dinda dengan bahunya. Entah apa maksudnya.
"Ck, aku juga ngumpullah bareng temen-temen aku" ujar Dinda yang tahu maksud dari senggolan Nanda tadi.
"Kan yang penting pulang bawa uang" bujuk Nanda lagi.
"Ini Mas, satenya udah jadi". Pembicaraan Nanda dan Dinda pun terputus. Dinda menerima sate yang sudah siap dari tangan mamang.
Nanda membayar sate yang mereka pesan, sedangkan Dinda sudah berjalan menuju mobil. Nanda pun berjalan cepat untuk segera menyusul Dinda.
Di dalam mobil, aroma sate yang masih panas itu menyeruak memenuhi seisi mobil. Dinda berkali-kali menahan hasratnya untuk segera membuka bungkusnya. Setelah sekian lama mengidamkan sate ini, akhirnya dapet juga.
"Gimana? Udah seneng 'kan?" tanya Nanda karena raut wajah Dinda yang tampak sangat bahagia sudah mendapatkan yang ia mau.
"Iya, aku seneeeeeeng banget. Makasih ya sayang, besok lagi yaa" pintanya dengan penuh harap lalu mencium bahu Nanda yang wanginya selalu membuat Dinda kesemsem kalo lagi berjauhan. Wanginya tuh bikin kangen.
"Iya, kapan-kapan kita jalan dan cobain yang lain lagi. Tapi kalo besok ga bisa, aku ada acara di kantor. Komandan ulang tahun, terus istrinya kan punya usaha bisnis catering gitu, jadi mau makan malam bersama di kantor. Sekalian promosiin bisnis bininya" ujar Nanda yang sudah sangat sering membuat Dinda berharap. Bahkan tak jarang, mereka yang sudah janjian sekalipun harus batal karena ada perintah mendadak dari atasan Nanda. Dinda pun yang sudah terlatih sabar sejak dulu, menerima dengan lapang dada dalam hal apapun. Meski kadang sudah dandan rapi, wangi, eh tau-tau gagal pergi. Tapi aku ga papa, aku kuat Mas. Begitu ucapan kekesalan dalam hati Dinda kalau Nanda membatalkan janji di menit-menit terakhir.
●●●
Haii, 2 hari yang lalu otor ultah ke 25 lhoo...
Ada yang mau kasih doa, wejangan, atau sesajen kah buat otor?
Tapi otor mau riqwes, doain otor sukses jadi orang kaya dan cepet dapet jodoh ya, udah mau lebaran nih... bosen banget di tanyain kapan nikah plus dimintain THR lagi, udah hati nyesek eh dompet pun di kuras habis hahahha, mana keadilan untukku Tuhaaaaannnn
Eh jadi curhat
-
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, komen, dan jadikan novel favorit kalian yaa... Terimakasih:)