(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
23. Diam dan Rasakan


__ADS_3

Like dulu sebelum lupa👅


...*...


...**...


...***...


"Aku kecewa sama kamu" terang Dinda yang kini berdiri dan meninggalkan Ariel sendiri di Kafe itu. Ia tak lagi kuat melihat Ariel melihat sedekat itu. Kecewanya butuh di tenangkan. Sedangkan Ariel, bukan lagi penenangnya saat ini.


Hari yang cerah itu berbanding terbalik dengan Dinda. Betapa petir di siang bolong hari ini membuat hujan deras di sekitar matanya.


Dinda melajukan mobilnya seperti biasa, tidak ngebut seperti di film-film yang mana kalo pemainnya sedih atau kecewa pasti langsung kebut-kebutan terus kecelakaan. Ah, ketebaklah ya.


Waktu menunjukkan pukul 3 sore, Dinda yang kini telah sampai di taman kota. Hendak meluapkan kesedihannya di sini saja.


Dengan merenung, menatap indah pemandangan yang tersaji secara gratis, dan melihat betapa banyak pedagang yang menjajakan dagangannya menggunakan gerobak. Dinda merasa begitu tenang.


Ia merasa ada banyak hal yang bisa ia syukuri dalam hidup ini, tapi kenapa ia hanya berfokus pada yang membuat sedih saja. Hidup ini memang gudangnya ujian, justru di situlah letak menariknya.


Biar jantung kita bisa berpacu. Ketika ada masalah, jiwa di buat berguncang. Akhirnya bisa senam jantung.


Dinda melirik handphonenya yang sedari di perjalanan tadi selalu bergetar. Ternyata Ariel menghubunginya. Namun, telepon itu hanya tinggal "panggilan tak terjawab" yang sengaja Dinda abaikan.


Pikir Dinda, apa ia membuka hati saja untuk orang lain. Sebab, Ariel tak lagi bisa di harapkan. Hingga muncullah niat Dinda untuk membuka blokiran seluruh kontak whatsapp seniornya yang terang-terangan selama ini mendekatinya.


*Buka blokir


Buka blokir


Buka blokir*


Sudah lebih dari 20 kontak yang telah Dinda buka pemblokirannya. Ia begini karena sekedar ingin membalas sikap Ariel.


Kira-kira enak ga di selingkuhi?


"Selingkuh itu bukan perkara lo jadian sama orang lain, atau lo jalan sama orang lain, atau lo tidur sama orang lain.


Simple saja, ketika lo chatingan sama orang lain dan lo ga mau gue tahu, itu selingkuh namanya".


Begitu pesan suara yang Dinda kirim ke Ariel saat hendak meninggalkan tempat duduknya.


Dinda ingin menghilangkan kegundahan di hatinya dengan berkulineran di sekitaran taman. Membeli apa saja yang menurutnya enak dan tampilannya menggugah selera.

__ADS_1


Dengan jajan santai tanpa ia rencanakan ini saja sudah mampu mengobati luka di hatinya. Betapa bahagia itu sederhana. Ga jauh-jauh dan ga harus mewah.


Lain kali, ia akan sering-sering ke sini untuk sekedar me-refresh otak dan cuci mata juga, pikirnya.


Karena terlalu banyak makanan enak yang di jual di sana, akhirnya Dinda pun membeli semua untuk di bawa pulang buat mama papanya dan juga para pekerja di rumahnya.


Karena tangan Dinda penuh di kiri dan kanan menenteng kresek yang berisikan makanan belanjaannya. Dinda pun tak dapat mengangkat handphonenya yang terasa bergetar di dalam tasnya. Namun, ia sudah mengira kalau itu pasti panggilan telepon dari Ariel.


Biarkan sajalah.


Setelah sampai rumah Dinda meletakkan semua makanan yang tadi ia beli di meja makan dan meminta Bi Hanum untuk menyiapkannya serta ke semua makanan itu buat di makan sama-sama termasuk buat Bi Hanum dan yang lain yang kerja di rumah Dinda.


Karena letih seharian ini menangis dan berjalan-jalan di taman. Dinda segera menuju kamarnya untuk mandi, sholat, dan rebahan.


👇👇👇


Saat sedang asyik rebahan, Dinda barulah kepikiran dengan handphonenya yang sedari tadi belum ia keluarkan dari tasnya. Lalu, ia mengecek pertama kali adalah aplikasi whatsapp yang sudah menerima 12 pesan dan pengirimnya dari orang yang sama, yaitu Ariel.


Ariel:"Sayang, kamu dimana?"


"Aku minta maaf, janji ini terakhir kalinya aku kecewain kamu"


"sayang balas"


"Aku ga ada hubungan apa-apa sama dia"


"Sayang jangan gini dong, aku tahu aku salah"


"Nanti malam aku ke rumah"


"Sekarang aku balik tempat Abib lagi soalnya urusan yang tadi belom kelar"


"Kamu di mana? buruan pulang. Aku liat mobil kamu ga ada"


"Kalo pulang kabarin aku"


"Udah sore, kenapa belum pulang?"


"Kamu marah, iya. Aku gakpapa"


Semua chat itu, hanya Dinda baca.


"Ogah banget balesnya" geram Dinda yang membaca semua pesan dari Ariel yang seolah peduli terhadap Dinda padahal semua kesedihan Dinda hari ini adalah karena perbuatannya.

__ADS_1


Dasar munafik.


Malam itu pukul 7, setelah selesai sarapan Dinda berniat langsung ke kamar ingin beristirahat. Karena saat ini hatinya sedang tak baik-baik saja maka ia sangat enggan untuk sekedar berkumpul dengan mama papanya di ruang tengah. Moodnya benar-benar kacau. Dan serba ingin sendiri saja.


Tapi baru saja ia merebahkan badannya di tempat tidur kesayangannya, Bi Hanum datang mengabari kalau ada Ariel di depan sedang menunggunya.


Dengan langkah gontai yang menujukkan betapa malasnya Dinda menemui Ariel. Ia pun menuju ke bawah dan ke teras depan di mana saat ini sedang duduk manis sang kekasih yang menatapnya dengan raut wajah yang tak bisa di jelaskan. Mungkin raut wajah yang menunjukkan rasa bersalah. Emm tapi entahlah. Bahkan Dinda tak mau berpikir positif tentang Ariel.


Ariel yang duduk pun langsung berdiri saat Dinda sudah keluar menemuinya.


Dengan jantung yang berdebar-debar, Ariel memberanikan diri untuk memeluk Dinda.


Ia sudah berpikir Dinda akan mendorongnya, namun tidak. Tepatnya Dinda tak bergeming saat Ariel memeluknya.


Menolak tidak. Membalasnya pun tidak.


Flashback On (Ariel)


Saat di jalan hendak ke rumah Abib. Ariel menangis di atas motornya. Mengingat betapa jahatnya ia terhadap Dinda yang selalu setia dan tak pernah mengeluh akan sikapnya. Marahnya Dinda memang hal yang di sukai Ariel. Karena wajah Dinda akan lucu jika sedang marah.


Tapi...


Yang tadi tidak begitu. Ada air mata deras dan tatapan kebencian dari mata Dinda. Seolah "salah" yang ini tak mampu di maafkan.


Ariel pun yang berniat kembali ke rumah Abib memutar arah pulang ke rumah. Malu juga kalo balik ke rumah Abib terus mereka pada liat gue habis nangis, pikirnya.


Flashback Off (Ariel)


Saat memeluk Dinda, ada rasa bersalah yang kian besar daripada yang tadi sore ia rasa. Akhirnya Ariel menangis di pelukan Dinda.


Dengan berurai air mata, Ariel kian erat memeluk Dinda. Ia tak tahu apa isi hati Dinda saat ini.


Karena Dinda tetap sama, tak membalas barang sedikit pun pelukan dari Ariel. Tangannya lurus terkepal di samping badan.


Sadar jika Dinda tak kunjung membalas pelukannya. Ariel mengakhiri tangisan dan mengurai pelukannya.


Ia menatap dalam ke sudut mata Dinda.


"Kamu boleh marah sama aku. Tapi jangan pernah minta aku untuk lepasin kamu". Begitu pesan Ariel sebelum ia melangkah pergi pulang ke rumahnya.


...*...


...**...

__ADS_1


...***...


Terimakasih sudah mampir, jangan minggat dari novel ini yaa... memang rada membosankan kisahnya, tapi di bab selanjutnya kalian pasti bakal ngerti kenapa bertele-tele kaya sinetron indosiar huehehe. Aku bangun feelnya disitu gengs.


__ADS_2