
Haii, spesial banget up hari ini. Karena aku mau ngucapin banyak terimakasih buat kalian yang setia banget nungguin novel ini up. Dan juga sudah mau kasih like dan komen. Ternyata kalian bener-bener baik. Sangat pengertian. Maaf kalau komennya gak dibalas, tapi jujur aku baca kok. Alhamdulillah😚😚 Sekali lagi makasih yaa👍❣
...*...
...**...
...***...
Tak berapa lama, Nanda yang kini sudah melepas jasnya dan hanya menampilkan kemeja yang tampak sedikit basah di bagian kancing nomor 2 dan 3-nya pun ikut bergabung dengan pasangan pengantin baru itu. Baru saja ia mau mendudukkan badannya di samping Dinda, ia justru mendapat ucapan selamat dari kedua mempelai.
"Selamat bro" ucap Rama sambil menyalaminya dan pelukan sebentar lalu memukul punggung Nanda, ciri khas pria pada umumnya kalau sedang memberikan ucapan selamat dengan tingkat keakraban yang sangat dekat.
"Selamat Nan" ucap Feza tanpa beranjak dari tempat duduknya dan memberi kode dengan melirik Dinda.
Nanda pun duduk dengan santai meski dirinya tidak mengerti apa yang terjadi. "Gue kira sampe jam 12 ternyata udah sepi ya" ucap Nanda sambil memperhatikan setiap sudut aula.
"Bisa pingsan gue kalo sampe tengah malem" sambut Rama yang kini tengah menikmati dessert berupa puding coklat 2 cup. Karena dari sekian banyak dessert hanya itu yang tersisa.
"Lo kan dokter, bisa ngobatin diri sendiri" sahut Nanda ngajak gelud.
"Kalo gue dukun, bisa jadi" jawab Rama sambil menyikat rambutnya dengan jari. Rambut yang masih setengah basah akibat berkeringat.
"Din, gue kekamar bentar ya mau bersih-bersih. Gerah banget sumpah. Nanti gue balik lagi, beneran" ucap Feza yang sekaligus memarken dua jari agar Dinda percaya bahwa dirinya beneran akan balik lagi. Dan berharap Dinda mau menunggu.
"Iya sana mandi, gue tetap disini kok" jawab Dinda dengan lemah.
Feza pun pamit juga pada Rama untuk lebih dulu ke kamar. Sedangkan Rama ia tetap disitu karena masih ingin menemani Nanda disana.
"Yank, kita kerumah sakit ya pulang dari sini" ajak Nanda karena ia betul-betul mengkhawatirkan kondisi istrinya.
"Percuma, dokter kandungan mana ada jam segini. Besok baru ada" sambut Rama.
"Ngapain ke dokter kandungan, dokter umumlah" sahut Nanda.
"Bini lo tuh hamil. Nih, testpack yang dia bawa buat ditunjukin ke Feza" Rama menyerahkan plastik bening yang membungkus testpack tersebut ke depan wajah Nanda.
__ADS_1
"Ha? Yank? Beneran ini?" wajah Nanda sudah memerah tanda laki-laki itu hendak akan menangis.
Dinda hanya mengangguk lesu. Bukan dirinya tak bahagia dengan kabar kehamilan ini. Namun, ia benar-benar tidak punya tenaga saat ini. Mual yang hadir sejak tadi saja belum hilang sepenuhnya.
"Yank, makan ya. Perut kamu tuh kosong dari tadi muntah-muntah sampe tinggal cairan doang. Bentar aku ambilin apa yang ada aja" Nanda pun mencarikan sup untuk istrinya.
Setelah itu Nanda kembali lagi dengan segelas air dan semangkuk sup. "Ini, dimakan ya" Nanda meletakkan sup di depan Dinda. Namun Dinda menggeleng tanda dirinya sedang tak berselera. "Pikirin kandungan kamu, jangan cuma mikirin selera atau nggaknya" bujuk Nanda setengah memaksa.
Melihat Dinda hanya mengaduk-aduk saja, akhirnya Nanda inisiatif untuk menyuapinya. "Makanan jangan dimainin, aku suapin ya". Dinda pun tak mampu lagi menolak, akhirnya membuka mulut dan mengunyah perlahan.
"Kalian nanti gak usah pulang deh, gue pesenin kamar aja. Kasihan tu Dinda nanti mabuk darat lagi" tawar Rama sebagai teman penuh pengertian.
"Dari dulu lo ngomong gitu, buktinya gak ada". Mendengar ucapan Nanda, Rama sudah mengerti yang dimaksud Nanda.
"Sorry, gue lupa pesenin kamar kemaren. Sekarang beneran, sumpah".
Dan akhirnya malam itu Dinda dan Nanda menginap di hotel milik keluarga Rama. Setelah Feza selesai bersih-bersih dan memakai skincare malamnya, ia pun kembali ke aula menemui Dinda dan Nanda.
Sesampainya disana, Rama lebih dulu yang memberitahu bahwa Dinda dan Nanda akan menginap di hotel karena tidak memungkinkan untuk pulang mengingat kondisi Dinda yang tengah mual hebat. Bahkan sup yang tadi ia makan sudah keluar lagi.
Nanda pun sempat berkonsultasi dengan Rama sebelum keduanya berpisah menuju kamar masing-masing. Saat sudah sampai di kamar, Nanda meminta Dinda untuk segera beristirahat karena Dinda terlihat sangat kelelahan bahkan matanya tampak sayu. Nanda dengan setia mengusap puncak kepala Dinda sambil duduk bersender di sandaran tempat tidur sampai istrinya itu tertidur lelap.
^^
Keesokan harinya
"Huek huek huek"
Nanda terbangun karena tiba-tiba dirinya mendengar sesuatu dari kamar mandi. Nanda tak melihat ke samping tempat tidur, ia malah ngecek ponsel untuk memastikan saat ini pukul berapa. Dan ternyata waktu menunjukkan pukul 4 pagi.
"Huek huek huek"
Nanda terperanjat saat mendengar suara itu lagi. Saat dirinya mencoba melindungi diri dengan merepet ke sisi tidur Dinda, disitulah ia baru menyadari bahwa istrinya tidak ada di tempat tidur.
"Ah sial, kok gue bisa lupa" Nanda pun buru-buru meninggalkan tempat tidur untuk menyusul Dinda ke toilet.
__ADS_1
Benar saja, istrinya tengah mengekuri westafel untuk mengeluarkan isi perutnya. Namun, hanya huek-hueknya saja yang terdengar luar biasa. Nyatanya yang keluar hanya cairan bening dalam jumlah yang sangat sedikit. Akibat perut Dinda sudah kosong sejak semalam. Dan Nanda terus memijit bagian tengkuk leher istrinya. Membantu Dinda agar tak lagi kesulitan seperti tadi.
Dinda berdiri, ia menatap pada Nanda. "Kamu keganggu ya? Maaf ya sayang" ucap Dinda lalu beralih duduk di kloset.
"Kok minta maaf sih? Kan itu ulah anak aku juga" Nanda terus saja memijit tubuh Dinda. Wanita yang dicintainya itu benar-benar kehabisan tenaga sejak semalam.
"Udah sayang, kamu balik aja ke tempat tidur. Aku masih mau muntah, nanti kamu jijik liatnya" Dinda mendorong Nanda dengan tenaga yang tersisa. Sangat pelan bahkan tidak terasa seperti sedang didorong, menurut Nanda.
"Gak lah sayang, sejak semalam aku udah terbiasa. Kamu juga kan istri aku, bukan orang lain"
Sejak hari itu sampai usia kandungan Dinda memasuki bulan ke-3, Dinda terus saja muntah-muntah. Apa yang ia makan akan terus keluar lagi.
Hal itu membuat sang papa memintanya beristirahat dirumah dan tidak usah bekerja. Maka selama Dinda istirahat, papalah yang akan mengambil alih kembali memegang perusahaannya.
Karena dirumah pribadi mereka Dinda sering merasa kesepian, akhirnya mereka pindah kerumah papa mama sampai waktu yang tidak ditentukan. Mengingat kondisi Dinda yang masih terlalu lemah karena tidak bisa makan, Ariel pun setuju. Karena sebagai suami, ia juga harus bekerja dan tak tega membiarkan istrinya kesepian kalau masih egois untuk tetap tinggal di rumah pribadi mereka.
Dirumah orangtuanya, Dinda banyak yang menemani. Ada Sherly, mama, Bi Hanum, dan peliharaan papa serta Sherly sebagai hiburan tambahannya.
Setiap pagi Dinda berjemur, dirinya tidak mau terlihat sangat pucat menyambut suaminya pulang nanti sore. Oleh karena itu, Dinda selalu duduk di depan rumahnya tiap pagi.
Dan tentu saja, dirinya akan berpapasan dengan tetangganya. Seperti saat ini, Ariel yang hendak pergi kerja tiba-tiba melihat kearah Dinda. Terpaksa mata mereka bertemu, tapi Dinda buru-buru memutus kontak mata mereka.
Dinda, aku minta maaf. Bisik Ariel dalam hatinya.
Hanya dalam hati. Karena tak ada lagi keberanian secuil pun yang tertinggal untuk menyampaikannya pada Dinda. Ini salahnya, menciptakan jarak yang begitu jauh. Kalau saja dulu mereka berpisah dengan cara yang baik, mungkin tidak begini kejadiannya.
Sekarang? Mau menghampiri tentu tak mungkin. Ariel punya siapa, Dinda punya siapa.
Dan yang mau dibahas pun, sudah terdengar basi untuk dikatakan. Tapi, Ariel ingin meluruskan semuanya. Hanya saja, semesta tak merestuinya.
Sampai kapan Ariel harus menanggung rasa bersalah ini?
...*...
...**...
__ADS_1
...***...
Eh Guys, mo nanya dong... Kalian punya kisah patah hati yang mirip-mirip kaya Dinda gak? Atau kalian punya cerita yang berbeda. Kalo punya, komen dibawah⤵⤵