(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Beli Ganja Dapat Kebun Bunga


__ADS_3

Sebelum makan jangan lupa baca doa


Sebelum lupa, tekan tombol likenya๐Ÿ‘๐Ÿ‘


...*...


...**...


...***...


Pak Agus sampai berderai air mata mendengar cerita dari Yono. Pemuda itu terus bercerita tentang semua kepahitan hidupnya yang harus melanggar hukum demi menghidupi dirinya sendiri di kota ini. Walau pedih rasanya, Yono tetap lancar dan sesekali tersenyum ke arah Pak Agus meski dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bapak yang hanya mendengar saja bisa nangis begitu, apalagi saya pak. Rasanya hidup ini cuma sekali, terlalu sia-sia kalo gak mencoba semuanya. Jadi anak baik pernah, jadi anak gak baik juga pernah. Sekarang saya kena batunya. Saya kapok pak. Saya siap kalau harus mendekam lama di penjara. Disana mungkin akan jauh lebih baik" tutur Yono dengan mengulum senyum.


Setelah hari itu, Pak Agus menceritakannya lagi pada Nanda. Hal itu karena Pak Agus merasa kasihan dengan pemuda itu. Ia memang nakal, tapi hatinya mengatakan bahwa anak itu masih bisa diselamatkan. Hatinya baik, tidak sebenar-benarnya ingin berbuat jahat. Apalagi hasil tes urin Yono menunjukkan bahwa pemuda itu negatif penggunaan psikotropika dan obat terlarang lainnya.


"Saya juga setuju pak, Yono memang baik. Bahkan sangat santun. Tapi setiap perbuatan harus ada pertanggungjawabannya. Semoga saja hukuman yang akan Yono terima tidak terlalu berat. Dan satu lagi, tolong cari keluarganya. Karena saya ingin bertemu empat mata" ucap Nanda dengan penuh wibawa.


*


Hampir satu bulan berlalu, nasib Yono masih belum jelas. Bahkan berkas kasusnya baru diserahkan kepada kejaksaan.


"Selamat siang pak. Saya ingin memberitahu kalau keluarga Yono datang hari ini" ucap Rizal pada Nanda.


"Kalau sudah sampai, segera antar mereka kesini (ruangan Nanda)" sambut Nanda.


"Siap pak" Rizal pun menutup pintu.


Nanda memang sudah cukup lama menantikan kehadiran pihak keluarga Yono. Karena simpati melihat pemuda itu serba sendiri. Selama jadi tahanan pun tak ada satu pun pihak yang mencari atau menjenguknya. Padahal menurut keterangan pemuda itu, ayah kandungnya sudah mengetahui keberadaannya dari rekan bisnisnya.


Satu jam kemudian, saat Nanda hendak membuka pintu ingin keluar dari ruangannya mencari angin segar. Ia berpapasan dengan Rizal yang mengantarkan kedua orang tua Yono.


"Mari masuk pak, bu" sambut Nanda dengan ramah.

__ADS_1


Kesan pertama saat berjumpa dengan kedua orangtua Yono adalah ternyata orangtuanya tidak setua yang Nanda pikir. Tampak pasangan paruh baya itu belum memiliki banyak kerutan diwajah dan uban dirambutnya.


"Senang bertemu bapak dan ibu. Tapi sebelumnya ini ibu sama bapak mau minum apa biar saya pesankan" sapa Nanda ramah.


"Teh hangat saja pak" sahut bapak Yono.


Nanda pun lalu memesankan 2 gelas teh hangat dan segelas kopi untuk dirinya.


"Bapak dan ibu sudah tahu kabar Yono?" tanya Nanda.


"Sudah, sewaktu kepolisian menelepon mereka sudah memberi tahu. Tapi kami tidak bisa segera berangkat kesini karena sedang ada masalah disana" jawab bapak Yono.


"Yono sempat cerita semua rasa sedihnya pak, bu. Bukan maksud kami ingin ikut campur, tapi jujur saja kami sekantor ini memang memperlakukan Yono lebih spesial dari yang lain. Bertentangan memang, kan harusnya polisi tidak pandang bulu dan bekerja dengan adil. Tapi rasa kemanusiaan kami tidak bisa dipungkiri. Yono juga selalu memberi keterangan yang akurat. Tidak pernah berubah-ubah. Anak itu sangat baik. Saya yakin, kehadiran bapak dan ibu kesini pasti sangat berpengaruh bagi psikisnya" ungkap Nanda tanpa berlama-lama.


"Dia memang anak yang baik meski tumbuh dengan kurangnya kasih sayang dari kami. Dan saat kami berangkat kesini, saya dan istri sepakat untuk memperbaiki diri, pola didik kami ke anak-anak, dan berharap bisa berkumpul sama-sama lagi. Kalau boleh tau, apa kami boleh membesuk anak kami hari ini pak?" tanya bapak Yono.


"Tentu boleh, sehabis jam istirahat bapak bisa bertemu Yono" ucap Nanda ikut bahagia.


Lalu kemudian Nanda kembali melontarkan pertanyaan. "Pak, adiknya Yono tidak ikut?"


"Selama menunggu jam istirahat berakhir, bapak dan ibu duduk saja disini. Nanti saya temani bertemu Yono.


Oh, satu lagi. Tolong jangan marah padanya, dia anak yang baik, bahkan tes urinnya negatif. Dia tidak menggunakan narkoba atau ganja, hanya menanamnya saja karena terdesak butuh uang" ungkap Nanda lagi.


"Saya tahu anak itu tidak benar-benar sableng" ujar bapak Yono dengan tersenyum lembut.


Saat jam istirahat berakhir, sesuai dengan ucapannya tadi. Nanda pun ikut mengantarkan kedua orangtua Yono menuju tempat penahanan.


Suasana mendadak jadi mengharu biru kala Yono bertemu orangtuanya. Nanda menepi, ia memberi ruang untuk Yono bercengkrama dengan dua orang yang sangat ia rindukan itu.


Setelah waktu besuk sudah berakhir, Yono kembali di bawa masuk keruang tahanan. Nanda kembali menghampiri orangtua Yono.


"Pak, ini kunci kos Yono yang pernah dia titipkan ke saya. Barangkali bapak dan ibu butuh tempat menginap, dan nanti bisa saya pesankan taksi online untuk kesana" tawar Nanda. Melihat pasangan paruh baya itu, ia jadi teringat akan mendiang orangtuanya.

__ADS_1


"Terimakasih Pak. Tapi sebenarnya kami sudah pesan hotel di dekat sini. Mungkin kami akan kesana untuk melihat usaha bunga milik Yono saja" ucap bapak Yono.


"Iya pak sama-sama" jawab Nanda.


Suasana tiba-tiba hening. Nanda yang hendak pamit tapi sungkan hanya berdiri saja ikut dua orang itu.


"Pak Nanda" ucap ibu Yono.


"Ah iya bu, ada apa?" sahut Nanda.


"Yono tadi pesan, tolong carikan perempuan yang bernama Dinda... Dinda... Aduh saya lupa nama lengkapnya. Tapi kata Yono dia sudah menipu perempuan itu karena sudah membeli tanaman ganjanya 15juta, jadi niat hati Yono ingin menebus kesalahannya dengan memberikan semua kebun bunga itu untuk perempuan tersebut" ujar ibu Yono.


"Betul itu pak, untunglah istri saya ingat" puji bapak untuk sang istri.


"Dinda Astria?" ulang Nanda memastikan.


"Iya betul" ujar ibu senang.


"Itu istri saya bu" ungkap Nanda yang mengejutkan kedua orang dihadapannya itu.


"Apa?" ucap kedua orangtua Yono berbarengan.


"Bocah gendeng. Jual bibit ganja langsung ke istri polisi? Ternyata sableng anak kita Bu" umpat bapak Yono.


"Hush si bapak mulutnya. Beruntung anak kita begitu, jadi cepet ketauan kan. Coba kalo dibiarkan lama, bisa positif tes urinnya nanti" omel sang ibu membuat Nanda hanya mampu diam mematung dan meringis saat bapak menerima capitan kepiting di pinggangnya. Persis seperti yang istrinya sering lakukan padanya.


"Pak, mohon diterima ya kebun bunganya. Kata Yono, setelah dia bebas nanti akan kembali pulang ke kampung. Kebun bunganya dia percayakan ke istri bapak" bujuk ibu pada Nanda dengan sangat tulus.


...*...


...**...


...***...

__ADS_1


Tbc, akan semangat upnya kalo banyak yang suka dan komen ya guys ya๐Ÿ˜’๐Ÿ˜Š


__ADS_2