(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Introgasi


__ADS_3

Selamat membaca, jangan lupa tekan like dan komen yaa๐Ÿ‘


...*...


...**...


...***...


Setelah semua barang bukti diangkut menuju kantor polisi untuk disita, Nanda juga kini ikut bersama rekannya yang lain menuju tempat penjualan bunga terlarang itu. Mereka datang dengan pakaian santai tanpa ingin menunjukkan identitas mereka yang sebenarnya.


Saat sampai di lokasi, sama seperti Dinda waktu itu. Mobil mereka harus di parkirkan dipinggir jalan karena lorong menuju tempat jual bunga terlalu sempit.


Mereka pun berjalan beriringan. Saat sudah sampai di depan pagar kawat itu, terlihat di sepanjang halamannya berbagai jenis tanaman biasa yang di pamerkan. Semua tanaman itu normal, layak untuk diperjual belikan.


Seorang pemuda berusia kisaran 19 tahun datang menghampiri mereka. "Selamat pagi, mas-mas ini mau cari siapa?" tanyanya.


"Gak cari siapa-siapa Mas. Tapi kesini mau cari bunga" jawab Rizal.


"Wah, jarang-jarang ada laki mau cari bunga" kagum si pemuda itu.


"Buat menggaet calon mertua" ungkap Pak Agus memberi alasan agar terdengar masuk akal.


"Bapak?" tanya pemuda itu. Karena di usia paruh baya seperti Pak Agus masa belum punya mertua.


"Bukan saya, tapi keempat teman saya ini" jawab Pak Agus.


"Oh gitu. Mari-mari masuk mau cari bunga apa atau yang bagaimana biar saya bisa bantu pilihin" ucapnya melayani sebaik mungkin.


"Yang mahal-mahal ajalah mas. Kan buat ngambil hati mertua, biar cepet luluh" jawab Nanda.


"Kalo gitu kita keliling aja ya mas, nanti mana tau ada yang menarik" ucapnya dengan raut wajah yang dipaksakan tenang. Padahal hatinya mulai was-was, bentuk tubuh para pria yang ia layani saat ini betul-betul cirikhas tubuh polisi.


Badan tinggi tegap, otot yang keras, dan wajah tegas sudah membuat dirinya hampir kencing dicelana. Tapi tidak mau ketahuan, ia berusaha santai dan tetap memandu untuk berkeliling kebun bunga.


"Mas, kalo boleh tau itu tempat apa ya?" tanya Sebastian menunjuk pada bangunan kecil yang cukup menarik perhatian.


"Itu tempat penyimpanan pupuk Pak" jawab pemuda itu.


"Boleh kita liat kesana?" tanya Rizal.


"Jangan mas, kalo ketahuan sama bos nanti saya bisa di pecat" cegahnya.


"Tenang aja, kalo kamu di pecat datang ke kantor saya, biar saya kasih pekerjaan baru" sambut Nanda dengan tersenyum miring.


"Terimakasih mas, tapi saya sudah betah kerja disini. Gak mau kerja yang lain lagi" tolaknya dengan sopan.

__ADS_1


"Zal, cek!" titah Nanda menyuruh Rizal untuk masuk ke dalam bangunan yang disebut tempat penyimpanan pupuk tadi.


Rizal, Awan, dan Sebastian pun pergi menuju bangunan tersebut. Lalu tampaklah bersusun-susun pot yang berisi tanaman ganja persis seperti yang Dinda beli. Sedangkan Nanda dan Pak Agus tetap bersama sang pemuda itu memberikan surat perintah penggeledahan sekaligus meminta pemuda itu untuk ikut bersama mereka ke kantor polisi.


"Ndan, barang bukti yang lain sudah ketemu" ucap Awan.


"Angkut semuanya dan cek tempat lain barangkali masih ada yang disembunyikan" titah Nanda lagi.


Sampai sore hari Nanda dan yang lain masih berada disana. Guna menyisir sampai bersih tidak ada satupun barang bukti lain yang tertinggal. Tempat penjualan bunga itu juga telah dipasangi garis polisi agar tidak ada pihak luar yang masuk. Nanda juga tidak hanya bersama rekan yang tadi, melainkan rekan kepolisian di kantor juga ikut datang dan sekaligus membawa anjing pelacak.


Lokasi penjualan bunga ini terletak di sekitar kawasan padat penduduk, oleh karena itu diluar garis polisi sudah banyak para warga yang penasaran dan berdiri di pinggir pagar kawat. Guna menyaksikan apa yang sedang terjadi sehingga mengapa banyak sekali mobil polisi terparkir di pinggir jalan dan memeriksa kebun bunga milik Yono (si pemuda itu).


Tidak hanya para warga, tapi juga wartawan pun yang entah siapa menghubunginya sehingga cepat sekali berita ini sampai ke telinganya. Belum apa-apa, tapi siapa pun polisi yang keluar dari garis polisi langsung di wawancara.


Hal inilah sebenarnya yang membuat polisi sedikit geram. Pekerjaan yang ada saja belum selesai tapi sudah dimintai keterangan.


Sampai malam hari pun masih ada mobil polisi yang terparkir di pinggir jalan. Hanya saja, Nanda sudah kembali kerumah. Ia tak ikut patroli malam-malam disekitaran Tempat Kejadian Perkara (TKP).


"Ini kopinya" ucap Dinda sambil meletakkan kopi untuk sang suami yang tampak sangat penat.


"Makasih sayang" sahut Nanda sambil tersenyum.


Dinda ikut tersenyum di samping Nanda. "Kamu mau aku pijitin?" tawar Dinda setulus hati.


"Ssssttt, kalo aku hamil emangnya kenapa? Gak bisa pijitin kamu lagi, gitu?" tanya Dinda protes.


"Duduk depan aku sini, biar pundaknya aku pijitin" titah Dinda tak keberatan.


"Yank, biasa aja mijitnya. Jangan terlalu kuat, nanti kamu gak sadar anak aku udah keluar" kata Nanda.


"Iya tau!" jawab Dinda.


Setelah pundak, lanjut ke kaki. "Habis ini punggung ya Yank" pinta Nanda.


"Tadi katanya khawatir, takut aku brojol duluan. Gak boleh kuat-kuat, tapi lama-lama ngelunjak ya" ucap Dinda sarkas.


Nanda pun tertawa, "Kan aku nanya bukan merintah" elak Nanda.


"Mana ada gitu" ucap Dinda. Lalu dengan isengnya menarik bulu kaki Nanda sejumput.


"Awww" Nanda meringis. "Jangan dicabut lah Yank" rengeknya sambil ngecek kondisi tempat yang menjadi korban keganasan Dinda.


"Itu diminum kopinya, habis itu kamu istirahat. Jangan begadang terus yank" omel Dinda sebelum masuk ke kamar meninggalkan Nanda.


*

__ADS_1


Pagi harinya, Yono sudah sampai di ruang introgasi. Ia duduk tepat di hadapan Awan yang mengetik dengan lincah apapun yang Yono sampaikan.


"Nama sekaligus bin" instruksi dari Awan.


"Bhaskara Yuwono Bin Jailani Yuwono" jawab Yono.


"Bas ka ra Yu wo no bin Ja i la ni Yu wo no" ulang Awan sambil ngetik di komputernya. "A li as Yo no" sambungnya.


"Pakek BH ya pak" ucap Yono.


"BH?" Awan tidak mengerti maksud Yono tapi mukanya dengan otomatis melirik ke bagian dadanya sendiri.


"Maksud saya nama saya pakek BH, Bhaskara" terang Yono.


"Oh iya iya" Awan pun mengerti dan segera memperbaiki ketikannya.


"Tempat tanggal lahir?"


"Pati, 12 Juni 2003"


Setelah mengisi identitas Yono, Awan pun mulai mengintrogasi. Mulai dari pertanyaan sejak kapan mulai menjual atau menjadi petani ganja sampai akhirnya Yono diwajibkan untuk melakukan tes urin.


"Yono, yang tahu kamu jual bibit ganja siapa saja?" tanya Pak Agus saat mereka sedang duduk di depan ruangan Awan setelah sesi introgasi selesai.


"Mbak Ami sama satu lagi mantan saya Pak" jawab Yono sambil mencemaskan bagaimana nasibnya kedepan.


"Kamu kok bisa sampe begini tuh awalnya gimana?" tanya Pak Agus. Dengan sedikit keberatan mengharuskan Yono untuk kembali bercerita awal mulanya padahal tadi sama Awan juga sudah cerita.


"Saya anak pertama dari dua bersaudara Pak, ibu saya kerja di klinik sedangkan ayah saya seorang pengusaha kelapa sawit. Sesibuk-sibuknya mereka, pasti selalu memastikan anak-anaknya tidak merasa kekurangan perhatian. Tapi disini, yang menjadi masalah adalah adik saya. Dia laki-laki, jarak kami hanya terpaut 3 tahun. Dia lahir dengan kondisi cacat, cuma punya tangan 1. Tapi tingkat kenakalannya sangat parah pak. Ibu saya beberapa kali harus pulang cepat karena saya telepon dan saya bilang kalau adik saya mengamuk.


Dia memang selalu kasar kepada siapapun, apalagi kepada saya. Ibu selalu bilang, adik seperti itu karena dia cemburu. Dia merasa berbeda dengan orang lain, dan ibu selalu meminta saya untuk mengalah padanya. Apapun yang saya punya, kalau adik minta harus di kasih. Sampai kami besar, adik semakin dimanja dan ngelunjak. Karena kehabisan kesabaran, saya tidak sengaja pernah meninjunya. Ibu marah, ayah marah, semua orang marah pada saya. Adik meraung-meraung dan minta ibu untuk usir saya. Ibu iya-iya saja, tapi ibu tidak mengusir saya. Ibu hanya ingin adik tenang.


Saya merasa lama-kelamaan tidak dihargai dirumah itu. Siapapun selalu membela adik. Dalam hati saya, dia bukan anak kecil lagi dia hanya cacat yang apa-apa harus dibantu. Saya akhirnya pergi diam-diam dari rumah. Sepulang sekolah saya langsung pergi menuju stasiun. Tidak tahu arah tujuan, yang terpenting bagi saya saat itu adalah meninggalkan rumah dan semua rasa sedih saya di kota itu.


Saat di stasiun pemberhentian terakhir, saya pun turun. Disitulah awal mula hidup saya menjadi hilang arah, luntang lantung, dan rasanya seperti raga tanpa nyawa. Mencuri saya pernah, nyopet juga pernah, begal orang pun pernah, tapi semua yang saya jalani hanya untuk mengelabui diri biar tidak terperangkap dalam kenangan pahit yang setiap malam menghantui pikiran".


...*...


...**...


...***...


Tbc ya guys...


Tugas kalian cukup baca dan like saja, mohon kerja samanya ya biar tak ada kata ngegantung di novel ini๐Ÿ˜๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2