
Holaaa, terimakasih sudah membaca novel ini. Jika kalian suka tekan tombol likenya๐๐
...*...
...**...
...***...
Waktu terasa begitu lama bergulir, Zapata hanya mampu curi-curi waktu untuk bersantai saat Ijam lupa dengan dirinya dan kala fokus Ijam teralih dengan bermain bersama pengasuhnya. Zapata kabur ke kamarnya untuk merebahkan diri dan mengecek ponsel.
Matahari sudah hampir hilang dan akan segera berganti dengan bulan. Tapi tanda-tanda Ijam akan dijemput masih nihil. Zapata sudah ingin menyerah mengurusi anak kecil yang sangat aktif itu.
Memang beberapa kali Ijam memanjati pinggiran tangga dirumahnya, tentu saja Zapata takut Ijam akan terjatuh lagi. Setiap kali Ijam naik ke tangga, diturunkannya. Lalu diulangi lagi oleh Ijam sampai Zapata melakukan segala aktifitasnya di tangga sembari menjaga Ijam.
Saat hari sudah betul-betul malam, tiba-tiba pintu depan ada yang mengetuk. Zapata yakin itu Aidil yang akan menjemput DNAnya.
Bibi membukakan pintu lalu mempersilahkannya masuk. "Hm, ni dia orangnya. Nitip anak katanya cuma sebentar tapi hampir nginap" omel Zapata.
"Sorry sorry, gue tadi sibuk bujukin emaknya. Gimana anak gue? Nakal gak? Ada barang yang pecah? Biar gue ganti nih" ujar Aidil.
"Bujuk emaknya? Ngapain bujuk emaknya, bukannya sakit?" tanya Zapata mendelik.
"Hehe, sebenarnya gue sama Ayu bertengkar. Udah 2 hari gue didiemin, karena kita sama-sama gak mau berantem depan anak, makanya Ijam gue ungsikan dulu kesini" ungkap Aidil sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Hm, pantesan. Masa Ayu sakit anaknya di ungsiin kesini beserta pengasuhnya, kan sebenarnya dirumah lo juga sama aja gak mesti di bawa kesini. Ah elah, ribetnya dunia pernikahan" elus Zapata pada dadanya. Seolah dirinya beruntung sampai detik ini belum juga menikah.
"Ya udah mana sini anak gue, emaknya udah merengek dirumah kangen anaknya" titah Aidil.
"Ayo masuk, kayanya lagi tidur" Zapata menuntun Aidil untuk mengikutinya menuju kamar tamu.
Saat pintu dibuka oleh pengasuhnya dari dalam kamar, tampaklah bocah itu yang sedang tertidur memeluk guling. Aidil mendekat, hendak menggendong anaknya untuk dibawa pulang.
"Eh, ini kenapa biru-biru?" tanya Aidil pada pengasuhnya.
"Tadi, Ijam jatuh dari tempat tidur Pak gara-gara kesenengan guling-guling di kasur" ucap pengasuhnya.
__ADS_1
Zapata menghela nafas karena Aidil sama sekali tidak memarahi mbak pengasuh. Lalu Aidil malah dengan ramah berpamitan padanya tak lupa membawa semua perkakas beserta pengasuh Ijam.
"Jangan kapok ya, lain kali gue titip lagi" candanya pada Zapata saat hendak berlalu pergi. Sedangkan Zapata dengan penuh senyum ia menggeleng dan Aidil hanya menanggapi dengan tertawa.
*
Dua hari berlalu, sesuai janji Rama waktu itu. Ia akan membawa istrinya hari ini untuk menginap dirumah kedua orangtuanya.
"Sudah siap?" tanya Rama saat dirinya menjemput Feza di klinik.
"Udah" ucap Feza dengan ceria. Mereka pun pergi setelah berpamitan pada orangtua Feza.
Sesampainya dikediaman orangtua Rama, Feza begitu bahagia dirinya akan masuk kedalam keluarga Rama secara utuh. Dalam hatinya, sudah ada banyak kegiatan yang ingin ia lakukan bersama ibu mertua dan dua adik iparnya itu.
"Massss" pekik Puput saat melihat Rama dan Feza baru saja turun dari mobil. Gadis yang kini sudah dewasa itu kegirangan menyambut Mas dan kakak iparnya.
"Kalian nginap sini? Demi apa? Serius? Ihhh, pasti papa bakalan seneng banget" Puput menggandeng lengan Feza dan Rama untuk masuk bersama-sama.
"Maaa, paaa, ada mas sama kakak" teriak Puput ditengah-tengah rumah.
Papa dan mama juga turut bahagia, Rama akhirnya mau menginjakkan kaki lagi dirumah itu. Hanya satu orang yang tidak hadir di ruangan itu, yakni Arse. Adik laki-laki Rama yang pendiam itu.
Setelah berbincang sebentar bersama mama di ruang keluarga, Rama dan Feza akhirnya di antarkan oleh Puput menuju kamar Rama yang terletak dilantai 2. Kamar yang bernuansa serba putih lengkap dengan karpet serta seprei kasur yang mencolok dengan motif bendera Amerika itu menjadi sangat kontras di mata.
"Kak, mau nginap disini berapa lama? Aku seneng deh kalo punya temen gini" ujar Puput sumringah.
"Semalem" jawab Rama sambil berbaring di kasur king sizenya.
"Ih kok cuma sebentar" ujar Puput sedih.
"Nggak, sampe malam minggu kok" hibur Feza.
"Yah, 2 malem doang. Tapi ya udah deh, untung masih inget rumah" tutur Puput tidak bermaksud menyinggung Rama tapi Rama merasa tersentil mendengar ucapan Puput.
"Kamu gak mandi? Udah sore nih" ujar Feza.
__ADS_1
"Kamu aja duluan, aku masih mau rebahan" jawab Rama sambil memiringkan badannya membelakangi Feza dan Puput.
"Huft, ya udah deh kak. Aku kebawah dulu ya, nanti makan malam sama-sama jam 7 tepat. Gak boleh telat lho, udah kebiasan disini serba tepat waktu hehe" Gadis itu pun segera pergi dari kamar masnya.
Tepat jam 7 malam, semua anggota keluarga dirumah itu berkumpul di meja makan yang sangat besar. Feza dan Rama datang paling akhir dan tampak sangat ditunggu-tunggu.
Feza memperhatikan semua yang ada disana dengan lamat-lamat. Ada papa yang makanannya beda sendiri. Papa Rama memang sudah jatuh sakit sejak lama, dan dihadapannya hanya ada semangkuk bubur tapi lengkap dengan berbagai macam jenis sayuran yang sudah di haluskan.
Disampingnya ada mama yang senantiasa selalu tersenyum hangat padanya dan juga Rama. Lalu disamping mama lagi, ada Arse. Bocah kelas 6 SD itu hanya diam dengan tatapan fokus pada makanannya. Feza berulang kali melihatnya yang selalu diam dengan tatapan kosong. Dalam pikiran Feza, mungkin anak itu habis kena marah.
Disamping Arse ada Puput, yang tampak paling berseri-seri wajahnya dibanding yang lain. Perempuan satu itu memang paling dekat dengan Rama, adik yang sangat Rama sayangi. Berbeda dengan Arse, Rama tampak biasa saja padanya.
Lalu dihadapan Papa dan mama, ada Rama dan Feza. Saat semua anggota keluarga sudah berkumpul, mereka pun langsung memulai acara jamuan makan malamnya. Semua makanan yang tersaji, seluruhnya adalah makanan favorit Rama, tampaknya mama sengaja meminta ART untuk memasak semua ini. Sebagai bentuk perayaan Rama yang sudah mau kembali kerumah itu.
"Ma, mau aku ambilin lauk yang mana?" tanya Feza saat dirinya hendak melayani sang suami.
"Apa aja" jawab Rama.
Feza pun mengambilkan lauk yang paling dekat dari jangkauannya. Toh dari sekian banyak lauk yang ada, memang semuanya adalah favorit Rama.
"Kamu panggil Rama apa, Za?" tanya mama sambil menyuapi papa makan bubur.
"Rama, ma" jawab Feza tak enak hati.
"Jangan lagi, dia kan suami kamu. Panggil mas aja ikut si Puput" ujar Mama.
"Udah ma, gak papa. Feza kan udah terbiasa manggilnya gitu" ucap Rama.
Mama hanya mengulum senyum. Tapi di benak Feza, sepertinya saran mama itu benar adanya. Seorang suami adalah pemimpin, layak untuk dihormati. Dan memanggil nama pada suami, dirasa kurang etis. Apalagi ditengah-tengah keluarga Rama yang sangat disiplin dan termasuk keluarga terpandang, Feza memang harus berubah sedikit demi sedikit ke arah yang lebih baik.
...*...
...**...
...***...
__ADS_1
Inget!Jangan lupa tekan likenya yaa...๐