
Sepulang dari bekerja, Dinda melajukan mobilnya menuju salah satu warung bakso pinggir jalan yang menjadi langganannya. Dinda ingin mengisi perutnya yang ia biarkan kosong sejak semalam.
Meski sebenarnya ia masih tak berselera makan, tapi ini demi kesehatannya. "Di tinggal mantan jatuh sakit, hueeekk... yang ada di ketawain mantan" umpat Dinda menyemangati diri sendiri agar tak lemah di hadapan semesta.
Ia harus tegar, cukup hatinya saja yang bersedih tapi wajah jangan. Selalu tunjukkan pada semua orang kalau ia baik-baik saja.
Setelah sampai di warung bakso langganannya, Dinda pun memesan seporsi bakso malang beserta es teh manis. Sebenarnya dulu ia pernah kesini beberapa kali bersama Ariel.
Tapi Dinda cuek saja. Karena mau di manapun makannya, selama masih di sekitaran jalan menuju kantor-rumah, semua sudah pernah Dinda dan Ariel datangi.
Jelaslah, namanya juga pacaran setengah dekade. Hanya saja dulu Ariel pernah bilang, "Kita kayanya putusnya 3 tahun jadiannya 2 tahun".
Itu karena hobi Dinda yang suka ngomong putus tiap mereka sedang bertengkar. Ya iyalah, lagian perempuan mana yang sanggup di selingkuhin berkali-kali.
Dan dengan bodohnya, Dinda tetap selalu memberi kesempatan padanya. Sebenarnya begini, kadar cinta untuk Ariel itu masih ada, hanya saja rasa percaya Dinda yang berkurang.
Dan karena kepercayaan Dinda sering di salah gunakan oleh Ariel, membuat Dinda jadi orang yang menyebalkan karena selalu mencurigai Ariel dalam hal apapun. Tapi meski begitu, tetap saja Dinda kecolongan.
Ga ada angin ga ada hujan, Ariel mau lamaran, kan? Ternyata benar kata orang-orang, kalau dia setia mau di bebaskan sebebas-bebasnya ia akan tetap setia.
Dan kalau dia niatnya memang mau selingkuh, walau di kekang bagaimanapun juga tetap selingkuh. Dinda hanya bisa menanamkan pikiran positif dalam kepalanya, bahwa yang terbaik untuknya bukan Ariel.
Dinda memakan baksonya dengan sangat pelan, bakso itu terasa hambar di lidah Dinda. Tapi ia tetap berusaha menambahkan saos, kecap, dan sambal terus-menerus agar rasa bakso itu terasa di dalam mulutnya.
Setelah ia menghabiskan semangkok bakso itu, Dinda segera membayarnya di meja kasir dan berlalu meninggalkan tempat tersebut. Dalam hati Dinda sebenarnya ia masih enggan untuk segera pulang.
Sebab, kalau di rumah pasti ia akan kembali mellow dan ia tidak mau menggalau lagi. Dinda pun memutuskan untuk berkelana menenangkan pikirannya.
__ADS_1
Nanti kalau tubuhnya benar-benar sudah lelah, baru ia akan pulang. Karena pulang untuk tidur.
Tak lupa, Dinda mengirimi pesan ke pada mamanya jika hari ini ia akan pulang malam karena ada urusan sedikit. Semenjak Dinda mulai bekerja di firma hukum, kedua orang tuanya sedikit lebih longgar sekarang.
Mungkin mereka juga sadar, kini Dinda kan sudah dewasa dan sudah bekerja. Jadi pasti Dinda bisa menjaga dirinya sendiri.
Dinda pun menuju ke salah satu mall, ia ingin berbelanja. Karena belanja adalah terapi bagi kaum wanita untuk menghilangkan stres.
Dinda pun masuk ke parkir area, setelah memarkirkan monilnya ia mulai masuk ke dalam Mall dan menelusuri dari lantai dasar sampai lantai paling atas. Mulai dari counter sepatu, counter pakaian, sampai tempat penjualan furniture.
Setelah 2 jam berkeliling, Dinda pun merasa sudah letih. Dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya, Dinda berjalan ke parkiran.
Sesampainya di mobil, Dinda memasukkan barang belanjaannya di bagasi. Lalu Dinda pun ikut masuk ke dalam mobil.
Dinda tak langsung menyalakan mobilnya.
"Mau seberapa keras aku mencoba terlihat tegar, tetap saja aku gagal. Lihat sekarang? Aku sudah bukan seperti diriku lagi. Ini bukan diriku, seharian melakukan sesuatu yang ga ada artinya. Sadar, Dinda. Dia mungkin saat ini sedang berbahagia di atas penderitaanmu. Dia saat ini sedang makan enak sedangkan... huh". Dinda mencengkeram erat setir mobil dengan bahu yang bergetar.
"Jangan ingat-ingat dia lagi, sudah cukup semua rasa sakit yang selama ini dia kasih. Jangan memaksa untuk mengemis meminta dia untuk kembali. Aku bahkan tidak mengerti, ini aku yang meninggalkan atau aku yang di tinggalkan?" pekik Dinda dengan memukul-mukul kepalanya.
"Tak adakah sepatah kata untukku? Ucapan selamat tinggal sekalipun? Aaaaaarrrrrgggggg... Kamu berhasil membuat aku hancur tak bersisa. Coba pikir, gimana rasanya jadi aku? 5 bulan saja kamu sudah bisa mendapat pengganti aku dan langsung melamarnya. Jahaaaaat. Kamu anggap apa aku ini?". Dinda mengacak-acak rambutnya.
Ia benar-benar ingin sekali memaki Ariel saat ini. Tapi Dinda masih menahan keinginan itu.
Mengingat Ariel adalah kekasih orang. Dinda tak punya nyali sebesar itu untuk menggertak Ariel.
Setelah Dinda merasa mulai tenang, ia pun sedikit merapikan tatanan rambutnya. Ia bertekad dalam hatinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
__ADS_1
Sudah cukup menangisi Ariel hari ini, toh tangisannya tak berdampak apa-apa bagi Ariel. Lamaran tetap di langsungkan, tidurnya mungkin tetap nyenyak, makannya juga enak.
Dinda hanya menyiksa dirinya sendiri kalau selalu berlarut-larut seperti ini. Tapi yang namanya kekesalan memang sebaiknya di keluarkan saja.
Sebab kalau di pendam, bisa berkembang menjadi dendam. Sedangkan mereka hidup bertetangga, kan ga mungkin saling diam-diaman selamanya.
Dinda pun menyalakan mesin mobilnya dan keluar dari parkir area hendak pulang kerumah. Meski jam masih pukul 20:00 malam, tapi Dinda sudah menyerah.
Entah bagaimana ia bisa menjalani hari-harinya ke depan. Menata hati, pasti butuh waktu yang lama.
Ia benar-benar tak memiliki dugaan bahwa ia akan jadi seperti sekarang. Dinda seperti di paksa perang tanpa senjata.
Siap tidak siap, harus siap. Bismillah saja, pikirnya.
Saat sudah hampir sampai di dekat rumahnya, Dinda betul-betul menjaga pandangannya agar tak melirik barang sekilaspun ke arah rumah Ariel. Enggan sekali ia melihat rumah itu.
Meski yang bersalah itu orangnya bukan rumahnya. Tapi tetap saja semua yang bersangkutan dengan Ariel, Dinda benci.
Orang di luaran sana mungkin akan berkomentar bahwa Dinda kekanak-kanakan. Tapi tiap orang punya cara menyembuhkan lukanya masing-masing, kan?
Dan Dinda nyaman dengan cara seperti ini. Ia bisa melakukannya dengan mudah.
Setelah sampai di rumah, Dinda pun segera membuka bagasinya untuk mengeluarkan semua barang belanjaannya tadi. "Aku baru sadar, ternyata aku bisa segila ini" ucap Dinda terhadap dirinya sendiri.
Tentu saja Dinda berkata demikian, karena ia pun juga baru sadar. Ngapain dia beli perkakas lengkap mulai dari obeng, mur, tang dan teman seperjuangannya yang lain.
Beli vas bunga, beli cermin, beli kaos kaki, terus ada juga taplak meja. "Huft, kenapa jadi random begini sih" ucap Dinda merutuki belanjaannya.
__ADS_1