
Saat menjelang sore, Dinda yang sudah keluar dari ruang kelasnya karena perkuliahan sudah selesai segera mencari handphone didalam tasnya untuk mengabari Ariel bahwa ia sudah selesai perkuliahan hari ini. Sambil menunggu
chatnya dibalas Ariel, Dinda menuju ke arah taman untuk sekedar melepas penat dan menyaksikan para mahasiswa yang berlalu-lalang agar tidak terlalu bosan menunggu. Sebab teman-temannya yang lain pun sudah pada mau pulang kerumah masing-masing.
Cukup lama menunggu, akhirnya handphone Dinda berdering tanda ada panggilan masuk. Ternyata Ariel, dengan segera Dinda mengangkat panggilan tersebut.
Dinda :"Ya, Halo Riel"
Ariel :"Udah siap dijemput ya? Tunggu sebentar ya gue beres-beres dulu"
Dinda :"Iya, ga usah buru-buru amat Riel. Santai aja, tetep gue tunggu kok"
Ariel :"Haha ga enak gue kalo lo nunggu lama gitu"
Dinda :"Ih gapapa kali, gue juga seneng nih duduk ditaman sambil nungguin lo"
Ariel :"Sama siapa?"
Dinda :"Sendirian"
Ariel :"Ya ampun, nyesek gue dengernya haha"
Dinda :"Sialan lo"
Ariel :"Gue udah mau ke parkiran ni, telponnya gue matiin ya, ntar kalo dah sampe gue telpon lagi"
Dinda :"Iya, tiati dijalan yak"
__ADS_1
Ariel :"Yuhu"
Setelah bercakap-cakap via telepon dengan Ariel, Dinda merasa semakin yakin bahwa memang dia mulai menyukai Ariel namun tidak sebegai teman, melainkan lebih dari itu. Namun Dinda tidak ingin menunjukkannya, sebab Dinda bukanlah orang yang bisa dengan mudah menunjukkan ekspresi sukanya terhadap orang lain, ia lebih suka memendamnya sendiri. Sebab memang hanya Ariel-lah orang yang bisa dengan mudah dekat dengannya.
Dulu pun saat ia kenal Ari anaknya Pak Lukman, mereka bertetanggaan sangat lama namun akrabnya setelah 4 tahun bertetangga. Saat itu tepatnya bulan puasa, Dinda yang berjalan kaki hendak pergi ke Masjid bersama Mamanya untuk melaksanakan sholat Tarawih dan dibelakang mereka ada Ari yang juga berjalan sambil melihat ke layar handphonenya namun karena ia memakai kaos dan sarung, maka sontak saja Mama mengajak Ari untuk jalannya barengan sama mereka.
Mulai saat itulah Ari dan Dinda akrab dan sering janjian Tarawih bareng. Tapi hubungan mereka memang murni hanya teman, sebab Dinda lebih tua 1 tahun dari Ari. Sekarang pun Ari sudah pindah ke Banten dan sudah tak pernah menghubungi Dinda lagi. Sedangkan di sini Dinda terlalu gengsi untuk menghubungi Ari duluan.
Ya begitulah Dinda, meski sudah berteman akrab dengan Ari, namun saat berjauhan seperti ini, ia merasa mereka kembali asing.
5 menit menunggu, Ariel harusnya sudah sampai dikampus Dinda. Meski memang Ariel belum menelepon Dinda namun Dinda berinisiatif untuk pindah saja dari taman itu dan menunggu Ariel di tempat yang sama saat Ariel mengantarnya tadi pagi.
Belum lama Dinda menunggu di sana, Ariel pun sampai.
"Nunggu disini? Katanya di taman" titah Ariel saat baru saja sampai tepat didepan Dinda sambil menyerahkan helm untuk Dinda pakai segera.
"Udah siap berangkat?" tanya Ariel saat merasa Dinda sudah tidak grasuk-grusuk lagi di belakangnya.
"Berangkaaat" Jawab Dinda dengan cerianya sambil menggunakan gaya ciri khas sinetron Ojek Pengkolan yang biasa di siarkan sore-sore dan jadi sinetron kesayangan Mamanya.
Ariel pun mulai melajukan kendaraannya dan tidak lupa memutar kaca spion sebelah kirinya kearah wajah Dinda. Dan hal ini membuat Dinda bisa melihat wajah Ariel yang tampan dan salutnya Ariel tetap wangi meski sudah terpapar matahari seharian ini. Benar-benar membuat Dinda jadi senyum-senyum sendiri dan tanpa ia sadari bahwa Ariel pun sedang mencuri-curi kesempatan untuk menatap Dinda.
Bagi orang yang dimabuk cinta seperti Dinda saat ini, pasti kalian juga ingin agar waktu tidak cepat berlalu. Kalo bisa waktu berhenti dulu berdetik, biar yang sedang bahagia bisa punya waktu lebih lama meresapi kebahagiaan yang tidak abadi ini.
Tanpa ada perbincangan sedikitpun antara Dinda dan Ariel. Tanpa sadar motor telah berhenti tepat di depan pagar rumah Dinda. Untung saja Dinda segera sadar dari lamunan panjangnya, sehingga tidak perlu disadarkan oleh Ariel.
Saat sampai, Dinda menawari Ariel untuk mampir dulu. Namun Ariel menolaknya dengan alasan bau badan, ia ingin segera mandi. Setelah berbincang sedikit, mereka pun akhirnya berpisah dan menuju rumah masing-masing.
__ADS_1
Mama yang mengintip dari jendela karena ia mendengar ada suara motor yang berhenti di depan rumah segera mengejutkan Dinda saat Dinda membuka pintu, niatnya ingin menggoda sang anak dan mengorek-ngorek hubungan anaknya dengan anak tetangga baru mereka.
"Astaga Mama, ngapain Mama ngagetin aku" kaget Dinda yang dengan refleks mengelus dadanya.
"Iseng aja" jawab sang mama sambil mencolek dagu sang anak.
Dinda sudah paham betul dengan tindak-tanduk Mamanya yang selalu seperti ini jika sedang kepo dengan teman laki-laki anaknya.
"Wahai Mamaku yang cantik, kalo Mama pengen tau banget hubungan aku sama Ariel, jawabannya TE MAN BI A SA" ledek Dinda dengan balas mencolek dagu sang Mama dan langsung meninggalkan mamanya yang sudah siap membuka mulut sebab masih ingin tahu tentang hubungan anaknya dengan Ariel.
Sesampainya di kamar, Dinda segera meletakkan semua buku dan tas yang ia tenteng pada tempatnya. Dinda langsung rebahan ditempat tidur, niatnya ingin menikmati rebahan santai sejenak sebelum mandi namun justru pikirannya dikuasai oleh Ariel. Aneh sekali, pikirnya. Sebab Dinda selama ini pun pernah juga naksir dengan seseorang tapi tidak sampai kepikiran seperti ini.
Lama kelamaan Dinda pusing juga, ingin menepis bayang-bayang Ariel namun justru tidak berhasil. Dinda pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan ingin segera mandi saja agar pikirannya jadi lebih segar dan tidak memikirkan Ariel lagi.
Setelah selesai mandi, Dinda segera memakai pakaian santai, sekedar menggunakan bedak tipis dan membiarkan rambut panjangnya terurai. Biasanya, sore-sore begini Dinda kadang menyempatkan waktu untuk menyiram tanaman di halaman rumahnya. Meski sudah ada Bibi yang biasa melakukannya namun terkadang Dinda lah yang mengambil alih tugas tersebut jika ia sempat.
Saat baru akan membuka pintu, mata Dinda sudah tertuju ke arah rumah Ariel. Dinda juga ingin memastikan apakah Ariel sedang berada diluar rumah.
Dan benar saja, ternyata Ariel sedang berbincang di teras rumahnya dengan sang Papa, yakni Om Setyo. Namun Dinda hanya bisa melihat dari kejauhan saja, dan pandangannya pun dibatasi oleh pagar rumah yang tinggi serta jarak sekian meter sebab rumah mereka yang berseberangan.
Langsung saja Dinda menyirami tanamannya dan sambil bersenandung kecil yang menunjukkan bahwa ia sedang bahagia, tentu saja bahagia karena habis melihat sang pujaan hati.
(Hati-hati Dinda, jangan terlalu cepat jatuh cinta. Kamu ga tau kan nasib kamu akan author buat jadi apa š)
...-...
Jangan lupa tap jempolnya yaa, habis itu komen sebebas-bebasnya
__ADS_1