
Saat empat orang itu tengah duduk santai sembari menunggu travel menjemput, Rama mendapat telepon bahwa ternyata sopir sudah menunggu di bawah. Mereka pun saling bahu membahu membawakan barang-barang yang akan menjadi keperluan mereka selama berada di pelosok itu.
Feza bawa 1 koper, Rama bawa 1 koper sekalian juga Nanda menitipkan pakaiannya ke dalam koper milik Rama agar ranselnya jadi lebih ringan. Lalu Nanda membantu Pak Prima membawa tas pakaiannya. Sedangkan Pak Prima, yang paling tua di antara mereka, membawa 2 bantal dan 1 guling untuk alat tidur mereka nanti. Tentu saja bantal dan guling itu milik Rama, si tuan apartemen ini.
Setelah memasukkan semua barang ke dalam bagasi, mereka pun siap melanjutkan perjalanan menuju ke Desa M****u itu. Posisi mereka di dalam mobil, Nanda di samping sopir. Di bangku tengah ada Feza, Rama, dan Pak Prima.
Mobil yang mereka gunakan ini adalah mobil Indova, semua pasti tahu mobil ini cukup luas karena ukurannya yang besar di banding mobil keluarga pada umumnya. Jadi, mereka tidak berhimpit-himpitan.
"Mas, nanti makan siangnya di rumah makan yang dulu kita pernah mampir aja ya, saya lupa namanya" ujar Rama.
"Tapi Mas, nyampe sana 'kan kurang lebih 6 jam lagi. Lah ini kan udah jam 10 siang. Gakpapa makan siangnya nunggu 6 jam lagi?" ujar sang sopir yang masih cukup muda itu.
Nanda pun langsung mencebik. "Udah Mas, kita makan siangnya jam 1an aja. Terserah makannya dimana. Nah kalo Rama, biarin aja. Gak usah di ajak. Kan dia maunya makan siang di restoran yang jauh itu tadi. Lambung dia mah sanggup nunggu sampe 6 jam lagi" ujar Nanda meledek Rama. Sedangkan Pak Prima dan Feza hanya tersenyum mendengar perdebatan mereka berdua sejak di apartemen tadi.
"Sialan lo" timpal Rama.
"Eh, lo yakin mau sampe sana pakek seragam lo itu. Katanya misi rahasia tapi pakek seragam" ucap Rama mengingatkan Nanda.
"Oh iya, nanti deh gue ganti pas di tempat makan" jawab Nanda.
"Di koper gue lagi. Males banget gue ngeluar-luarin koper gue. Mana naro bajunya sembarangan gak di lipet" gerutu Rama.
"Ish pelit amat lo. Nanti gue keluarin sendiri. Ngomel mulu udah kayak emak-emak ketinggalan tukang sayur" sahut Nanda.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, sang sopir tak perlu lagi memutarkan musik di mobil itu. Karena perjalanan mereka selalu diiringi dengan perdebatan antara Nanda dan Rama yang selalu saja tak kehabisan bahan untuk saling ledek.
Feza yang semalam meyakinkan diri akibat bujukan Rama untuk meringkus si pelaku, tapi tadi pagi ia sempat kehilangan rasa berani dan malah berganti dengan rasa takut dan cemas untuk kembali ke desa itu. Kini setelah melihat betapa lucu kelakuan Rama dan Nanda, ia mulai tenang. Mulai sering tersenyum dan terkadang ikut menimpali. Begitu bahagia di kelilingi oleh orang-orang yang begitu peduli meski dalam keadaan yang seburuk-buruknya. Bahkan Pak Prima pun sangat memperlakukannya dengan baik. Orang yang baru ia kenal beberapa hari saja itu bisa menjadi orang tua kedua baginya.
Saat ini, perjalanan mereka sudah keluar dari pusat kota. Mereka mencari tempat untuk makan siang. Karena tidak terlalu paham dengan lokasi dimana mereka berada saat ini, Nanda dan yang lain hanya menggantungkan semuanya pada sang sopir. Terserah mau makan siang dimana. Mereka pun tak masalah makan di sembarang tempat, sekalipun itu hanya warung kecil.
Hampir setengah jam kemudian, akhirnya mereka menemukan sebuah tempat makan yang cukup besar dengan mengusung konsep restoran keluarga. Nanda dan yang lain pun turun termasuk juga sang sopir yang menjadi tour guide (pemandu perjalanan) mereka.
Tak lupa, Nanda juga menurunkan koper milik Rama. Karena dirinya akan berganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai.
"Awas aja kalo pakaian gue jadi kusut" ujar Rama saat Nanda membuka kopernya di bagasi.
"Tenang aja, gue rapiin ntar". Lalu Rama dan yang lain lebih dulu masuk ke dalam restoran sedangkan Nanda masih memilih pakaian untuk ia kenakan.
Saat Nanda kembali beberapa piring lalapan dan tempe tahu goreng sudah tersaji di meja mereka. Namun nasi dan lauk pauk yang mereka pesan belum datang.
"Lama banget sih, gue udah laper nih" keluh Rama lalu meneguk setengah botol air mineral.
"Untung kita gak ngikutin saran kamu. Bisa-bisa makan siangnya nanti sore" ucap Pak Prima diiringi senyum tipisnya.
"Hahaha" tawa Feza, Nanda, dan sang sopir pun pecah.
"Bener pak. Jangan mau dengerin kata dia. Dia ini lebih sering salah dibanding benernya" ujar Nanda mengompori Pak Prima.
__ADS_1
Saat sedang bercanda untuk memanipulasi rasa lapar, akhirnya pesanan mereka datang juga. 2 ekor ayam bakar, 2 ikan kakap goreng, sambal cocolan per-orang, 2 piring cah kangkung, es teh 5 gelas, dan 3 bakul nasi putih.
Rama dan Nanda tidak sabaran untuk makan. Sedangkan Pak Prima, Mas Rahmat, dan Feza masih nyantai. Karena memang Rama dan Nanda menahan nafsu makan mereka dari tadi pagi karena roti tawar di apartemen Rama tak cukup untuk mereka berempat. Terlebih porsi makan mereka berdua terbilang cukup banyak.
Sepanjang hari ini, Rama yang terlalu menikmati perjalanan dan pemandangan hutan yang berada di kiri kanan jalan yang mereka lewati. Membuat ia lupa bahwa ada yang menunggu kabar tentang dirinya. Bahkan persiapan lamaran pun menjadi tertunda karena kepergian mendadak Rama. Harusnya besok malam mereka melangsungkan acara lamaran itu. Dengan beralasan atas dasar kemanusiaan dan juga solidaritas persahabatan, Rama kukuh tetap ingin pergi dan memohon agar Maudy bersedia untuk sabar sebentar.
Bagi Rama, 1 2 3 atau 4 hari itu sebentar. Tapi bagi seorang wanita tidak bisa tenang kalau belum ada kepastian. Menunggu sebentar, kata Rama. Membuat Maudy berpikir bahwa Rama tak seserius itu pada dirinya. Maudy menangis, merasa di kesampingkan. Mencoba meminta penjelasan atau kabar dari Rama. Namun apa yang ia dapati? Rama bahkan tak ingat untuk mengirim 1 pesan pun padanya.
Tak sempat mengetik pesan, kamu bisa telpon.
Jika kabar saja tak bisa kau beri, bagaimana dengan kepastian yang terus aku tangisi? Maudy berperang dengan batinnya. Antara menunggu atau pergi.
Namun jika harus menunggu lagi, Maudy tak sanggup. Lebih baik berjalan sendiri dibanding berdua tapi terasa hampa.
Maudy➡Rama
Aku kecewa sama sikap kamu. Kamu boleh bantuin temen, tapi jangan lupa sama aku. Di telpon ga diangkat. Chat juga gak di balas. Aku butuh kabar kamu. Sekali aja kamu balas chat aku, biar aku tenang.
Kamu tuh maunya apa? Udah diizinin pergi tapi ngelunjak begini. Jangan sampai aku terbiasa tanpa kamu.
Lamaran kita batalin aja, aku ragu untuk meneruskannya.
Andai pesan Maudy itu terbaca oleh Rama, pemandangan indah saat ini pastilah tidak akan terasa indah lagi. Justru mungkin ingin berbalik tanpa peduli tujuan awalnya pergi.
__ADS_1