(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Hari Pertama


__ADS_3

Malam itu setelah makan bersama di ruang tamu, mereka pun sholat isya sendiri-sendiri karena keterbatasan sajadah. Lalu setiap kali Feza minta di temani ke toilet, Rama dan Pak Prima akan saling bergantian menemaninya ke belakang rumah. Karena Feza takut kejadian pahit itu terulang kembali.


Pukul 10 malam keadaan di desa ini sudah seperti tengah malam. Sunyi, sepi, hanya suara jangkrik yang terdengar nyaring di telinga.


Mereka pun sudah mengatur posisi tidur masing-masing. Rama dan Pak Prima tidur di kamar 2 yang berhadapan langsung dengan kamar Feza. Sedangkan Nanda dan Mas Rahmat tidur diruang tengah karena kamar 2 terlalu sempit dan pengap jika dihuni 4 orang.


-


Pagi harinya, sesuai dengan kesepakatan mereka sebelumnya bahwa Feza akan tetap menjalani hari seperti biasa saat dirinya bertugas di puskesmas itu. Feza pagi-pagi sekali sudah rapi dan tak lupa menenteng sneli (jas dokter warna putih) di tangannya lalu bergegas menuju puskesmas yang berada hanya 10 meter dari depan rumah.


Mas Rahmat juga berpamitan untuk kembali ke kota dan akan menjemput mereka hari selasa, yakni 4 hari lagi. Sepeninggalan Mas Rahmat, Rama dan Nanda jadi kesepian sebab yang tadinya mereka suka ngobrol ngalor-ngidul bertiga kini hanya tinggal berdua saja. Sedangkan Pak Prima hanya sibuk mengamati orang-orang desa yang lewat depan rumah mereka.


Sepintas menurut hasil pengamatan Pak Prima, bahwa puskesmas yang sejatinya di sediakan dengan tujuan utama untuk masyarakat bisa mengecek kondisi kesehatan, namun dalam prakteknya di desa ini puskesmas adalah tempat berobat. Sehingga dari pagi hingga siang hari Feza duduk di meja kerjanya hanya melayani 2 orang saja. Mungkin jika warga disana tidak ada yang terluka atau menderita penyakit, maka puskesmas akan sepi tanpa satu pengunjung.


Feza pulang saat jam sudah menunjukkan waktunya makan siang. Ia juga sudah meminta Rama tadi pagi untuk ke warung Bu Heni yang lengkap menjual sembako, ikan, ayam potong, dan sebagainya tidak hanya menjual nasi dan lauk-pauk saja.


Feza pun yang sudah terbiasa memasak sendiri selama sebulan berada disana akhirnya menunjukkan keahliannya di hadapan para laki-laki itu. Mereka yang tak tahu harus membantu apa akhirnya turun tangan memotong-motong sayuran pakai tangan, sebab pisaunya cuma 1 di pakai Feza untuk memotong ikan.


"Za, puskesmasnya emang sepi gitu ya?" tanya Pak Prima sambil berusaha menutupi angin yang akan meredupkan api kompor mereka karena mereka menggunakan kompor minyak.


"Iya pak, kadang ada juga yang udah gak bisa jalan ke puskesmas akhirnya akunya yang di jemput buat meriksa dirumahnya" jawab Feza sembari mencuci ikan.

__ADS_1


"Mereka disini kesibukannya apa aja, Za?" tanya Pak Prima lagi.


"Kerja jadi sopir batu bara Pak. Kan ada PTnya disitu" tunjuk Feza ke arah barat. "Tapi kalo yang tua-tuanya kebanyakan petani sih pak" sambungnya.


"Za, laki-laki yang ... em" Nanda menggaruk belakang kepalanya karena bingung harus menyebut apa, takut Feza belum siap.


"Iya, aku paham maksudnya. Kenapa Nan?" tanya Feza.


"Dia kerja apa? Ciri-cirinya gimana?" Akhirnya Nanda lega mendapat sahutan Feza yang tampak tak masalah dengan arah pertanyaannya.


"Dia, laki-laki usia sekitar 25 tahun. Sopir batu bara. Udah punya istri dan 1 anak yang masih bayi. Awalnya aku pertama kali lihat dia ya sekilas aku bisa nilai, orangnya baik. Maksud aku gak mencurigakan gitu. Terus aku makin sering lihat dia hilir mudik depan rumah ini. Sebagai pendatang tentu aku berusaha bersikap ramah, karena gak mau cari masalah di kampung orang. Aku gak mau dihukum papa lagi" ujar Feza sendu dan menghentikan kegiatannya menggoreng ikan. Lalu Rama yang kini mengambil alih spatula dari tangannya. Walau berisik dengan suara letupan minyak di penggorengan, namun tetap saja seketika suasana jadi ikut sendu seperti hati Feza. Feza meneteskan air matanya, ia lambat laun menata hatinya sekuat mungkin agar bisa menceritakan ini tanpa beban. Namun nyatanya ia masih lemah, masih tak ingin membahasnya namun sudah terlanjur berada di sini. Ia tak mungkin mundur lagi.


"Apa Nan? Gue gak denger" sahut Rama ikut campur sambil berteriak.


"Udahlah, ceritanya nanti aja abis Rama selesai goreng ikan" balas Nanda kesal.


-


Jam setengah 2 semua makanan sederhana yang mereka sama-sama masak akhirnya sudah tersaji di tengah-tengah rumah. Pintu yang terbuka lebar mengantarkan angin sepoi-sepoi yang meniupkan asap makanan mereka menghambur ke udara. Mereka duduk melingkari makanan yang sudah mereka masak.


Mereka pun makan dengan khidmat. Sangat terasa kekeluargaan di antara mereka. Sebetulnya hari ini adalah hari Jum'at namun mereka bertiga tak ada yang pergi ke masjid karena letaknya yang jauh dan mereka tak memiliki kendaraan. Namun sebagai gantinya mereka melaksanakan sholat dzuhur dirumah.

__ADS_1


"Za, lanjut lagi cerita yang tadi" titah Nanda.


"Cerita apa?" tanya Rama bingung.


"Ah diem lo, ganggu aja" cebik Nanda.


"Malam itu, sekitar jam 11 gue rasanya mau buang air. Terus gue kebelakang, pas udah selesai gue keluar dari WC, tiba-tiba dia bekap gue. Tapi bukan untuk bikin gue pingsan, dia cuman takut gue teriak. Terus gue mencium bau alkohol dari badannya waktu dia ngancam gue dan nyuruh gue masuk lagi ke WC. Cuman gue berontak dan sempat kepeleset juga. Dia langsung ambil kesempatan. Mulut gue di bekap lagi sampe di iket. Terus gue di sudutin ke WC, tangan gue di iket" Feza menceritakan kejadian itu secara detail sampai menangis sesenggukan. Namun Pak Prima tetap diam mendengarkan tanpa menjedanya. Sebab menurut Pak Prima memang cerita itu yang mereka perlukan. Dan saat ini Feza juga sedang lancar bercerita meski air matanya mengalir deras.


Setelah mendengar semua cerita Feza, mereka kembali membahas hal yang ringan-ringan agar suasana kembali kondusif dan Feza lekas tenang. Feza pun tersenyum karena kini beban di hatinya terasa sudah terlepas. Bahkan menghirup udara pun terasa lebih ringan dari sebelumnya.


Sore harinya, Rama dan Nanda berusaha membaur dan mendekatkan diri dengan para warga. Ia berjalan-jalan di sekitaran desa menikmati pemandangan asri sekaligus mencari tersangka yang ciri-cirinya sudah mereka kantongi dari Feza.


Saat berjalan-jalan, Rama dan Nanda melihat sekumpulan pemuda yang sedang bermain futsal di lapangan terbuka. Rama dan Nanda pun menuju kesana untuk melihat mereka bermain sekaligus menjadikannya hiburan bagi mereka.


Satu-persatu dari para pemuda itu kelelahan dan duduk di pinggir lapangan. Lalu ia menawarkan Nanda dan Rama untuk ikut bermain walau hanya lewat ekspresinya yang mengulurkan tangan mempersilahkan Nanda dan Rama masuk lapangan.


Awalnya Rama dan Nanda masih malu-malu dan menolak ajakan mereka. Namun karena ini futsal kampung yang artinya main secara bebas tanpa aturan. Semakin bebas, semakin seru bukan? Akhirnya Rama dan Nanda melepas sendal jepit mereka dan ikut bermain sampai maghrib.


●●●●●


Hellloooowww, kasih supportnya doong buat akuuu. Biar semangat up niiih

__ADS_1


__ADS_2