
Mohon dukungannya ya...šš
...***...
Setelah dua malam menginap dirumah orangtua Rama, kini saatnya Rama dan Feza hendak berpamitan untuk kembali ke apartemen. Sore itu hari tampak gelap sebab akan turun hujan, namun tidak menyurutkan niat Feza dan Rama untuk segera pulang.
Mama, Papa, dan Puput serta para Art mengantarkan Feza dan Rama sampai ke mobil. "Pa, ma... Besok-besok Mas sama Feza bakal lebih sering lagi main kesini. Emmm... Mama, papa, sama Puput jangan khawatir lagi. Karna Arse sekarang udah mau ngomong kok" ucap Rama. Mama yang paling terkejut sekaligus bahagia mendengar kabar baik itu. Mama sampai menutup mulutnya dengan tangan karena menahan isak tangis bahagianya mendengar perkataan Rama.
"Iya ma, meskipun masih rada pelit kata-kata tapi alhamdulillah ya" ujar Feza ikut senang dan mengusap punggung mama mertuanya.
Setelah berpamitan, Rama dan Feza pun masuk ke mobil. Tapi sebelum mereka sempat menutup pintu, terlihat Arse berlarian dari dalam rumah.
"Arse!" panggil Feza dari dalam mobil.
Semua yang ada di samping mobil langsung berbalik badan menatap Arse. Mama menghampiri Arse yang datang dengan membawa beberapa lukisan miliknya.
Arse berjalan menuju pintu mobil Feza. Feza menunduk lalu menggerakkan dagunya seolah bertanya ada apa?
Arse menyerahkan lukisan ditangannya kepada Feza. Lalu sekilas mencium pipi Feza kemudian berlari masuk ke dalam rumah.
Meski apa yang terjadi dihadapan mereka cukup singkat namun semua orang yang ada disana makin terkejut dengan perubahan drastis Arse. Apalagi sampai mencium kakak iparnya. Rama mendengus kesal karena adiknya telah mencuri ciuman di pipi istrinya.
"Ma, kita pulang dulu ya" ucap Feza lalu menutup pintu mobil. Mobil Rama berlalu dari halaman rumah megah milik orang tuanya.
"Huft, sepi lagi deh" ujar Puput kembali ke keadaan semula tanpa Feza dan Rama dirumah itu.
"Kan ada Arse" bujuk mama.
*
__ADS_1
Waktu demi waktu berlalu, musim hujan telah tiba dan mengguyur kota dengan tingkat kepadatan yang luar biasa. Para pengemudi kendaraan roda dua berlalu-lalang lengkap dengan jas hujannya.
Dinda tengah berdiri sendiri di depan stasiun kereta. Ia menunggu kedatangan kedua orangtua Yono. Mereka diminta oleh Nanda untuk ke Jakarta demi memberikan support untuk Yono yang akan menghadapi sidang putusan tepatnya lusa nanti.
"Ibuuu" pekik Dinda kesenangan melihat bapak dan ibu yang baru saja keluar dari pintu depan stasiun.
"Mashaallah, perut kamu udah makin besar aja Din. Kapan perkiraan lahirannya?" tanya Ibu setelah selesai berpelukan.
"Pak" Dinda pun menyalami bapak terlebih dahulu. "Kata dokter, lahirannya kurang lebih 3 mingguan lagi bu" ungkap Dinda.
"Terus kamu disini sendirian? Mana suamimu ndok?" tanya Ibu dengan khawatir.
"Tenang bu, Nanda udah nunggu dimobil" Mereka pun berjalan menuju mobil yang dikendarai Nanda.
Setelah bertemu Nanda, Nanda pun menyalami kedua orangtua Yono. Raut wajah bapak nampak berubah saat bertemu Nanda.
"Ada apa, pak?" tanya Nanda yang menangkap guratan kekhawatiran diwajah bapak.
"Lho, kok bukan ke hotel?" tanya bapak.
"Bapak sama ibu tinggal disini saja. Bareng sama kita. Bapak gak perlu sungkan, toh kami disini tinggal cuma berdua pak, bu. Ayo kita turun" ucap Nanda dengan disambut senyum lebar Dinda tanda Dinda juga setuju dengan usul suaminya. Mereka pun segera turun dari mobil. Nanda dengan sigap menurunkan semua barang bawaan ibu dan bapak.
"Ya allah, kalian kenapa baik sekali sama bapak sama ibu. Kita baru dua kali bertemu" ujar Ibu tergugu.
"Tapi ibu sama bapak juga sudah baik sama kita berdua. Ini buktinya" Dinda menunjukkan semat yang ibu beri waktu itu dan sedang ia pakai.
"Ya Allah Dinda, semat sebiji ini -..."
"Walaupun kecil barangnya, tapi besar khasiatnya" ujar Dinda diiringi kekehan kecil karena menyadari ucapannya tadi bagaikan slogan iklan.
__ADS_1
"Ayo masuk pak, bu" ajak Nanda.
Ibu dan bapak Yono pun mengisi kamar Sherly yang sudah dirapikan sebelumnya oleh bibi dan Dinda. Dengan kehadiran ibu dan bapak dirumahnya, membuat Nanda tak perlu khawatir jika harus meninggalkan Dinda sendirian dirumah karena ia harus pergi terkait tuntutan pekerjaannya.
Setelah membiarkan ibu dan bapak beristirahat, Nanda dan Dinda pun ke kamar mereka ikut beristirahat. Namun, tak lama kemudian pintu kamar Nanda ada yang mengetuk.
"Oh bapak. Kenapa pak?" ucap Nanda sesaat setelah membuka pintu.
"Bapak mau bicara sesuatu" tutur bapak.
"Mari pak, kita bicara di depan saja" ajak Nanda.
Sampai diteras depan, bapak pun mencurahkan semua yang ia rasa. Walau baru sebatas perasaan yang tak menentu, namun bapak yakin jika disampaikan pada Nanda ia bisa menjadi sedikit lebih tenang.
"Ada kendala sama kasus Yono? Bapak sudah semingguan ini tidak bisa tidur. Bapak kepikiran Yono. Bapak punya firasat buruk. Apa Yono baik-baik saja?" tanya Bapak dengan kecemasannya yang begitu mendominasi.
"Kasus Yono di permainkan oleh salah satu pejabat untuk menutupi kasus besarnya. Saya tidak mengerti dengan desas desus tuntutan jaksa yang hendak memberi tuntutan 14 tahun penjara. Kesalahan Yono menanam dan menjualnya. Bahkan dijual baru ke satu orang. Yono pun hasil tes urinnya negatif, tapi berubah positif sejak satu bulan lalu. Saat saya datang dan minta untuk dites ulang, katanya tidak bisa. Dan saya juga di ancam jika ikut campur akan di copot dari jabatan dengan tidak hormat" ungkap Nanda.
"Berarti firasat bapak tidak salah" Bapak menjadi sedih, meski air matanya tidak keluar namun wajahnya sudah merah padam.
"Saya tidak takut kehilangan pekerjaan pak, karena saya sudah menceritakan masalah ini pada mertua saya. Dan ia memberikan dukungan untuk saya serta akan menjamin pekerjaan baru untuk saya tapi dengan syarat akan membuka dengan sejelas-jelasnya kasus ini. Kehilangan pekerjaan jauh lebih baik daripada kehilangan rasa kemanusiaan pak" ungkap Nanda.
"Bapak tidak punya uang banyak. Tapi berapapun akan bapak usahakan untuk membayar siapapun yang bisa menolong Yono. Bapak tidak masalah Yono masuk penjara, tapi vonis yang adil yang bapak mau. Bukan vonis yang semena-mena" ketus bapak yang kesal dengan informasi yang ia dengar dari Nanda.
"Bapak tenang dulu, saya akan mendekati beberapa pejabat yang jujur dan mau membantu untuk menegakkan keadilan ini".
Bapak hanya mampu mengangguk pelan. Apa yang selama ini ia khawatirkan ternyata kejadian. Berita yang sering kali ia lihat di tv menunjukkan betapa banyaknya bukti ketidakadilan di negeri ini jika berkaitan dengan kasta dan harta seseorang. Kini, ia sendiri yang merasakan langsung ketidakadilan itu.
***
__ADS_1
"Jika tidak bisa berbuat banyak, minimal tidak berbuat kesalahan" - Bapak Yono