
Dua hari berlalu
Dinda menjalani harinya seperti biasa, mulai dari melaksanakan kewajibannya sebagai istri sampai menjalani kehidupannya sebagai wanita karir di perusahaannya. Saat ia baru saja sampai di kantor tadi pagi, Dinda merasa aneh akan tatapan beberapa karyawan yang berpapasan dengannya. Karena Dinda merasa tak ada kesalahan pada pakaian kerjanya dan fisiknya juga tak ada yang berubah, maka ia pun berjalan santai dan tak menghiraukan tatapan orang-orang tersebut.
-
Kantor Polisi
Nanda yang kini dalam fase bertukar ponsel dengan istrinya, ia pun sedikit terganggu dengan getaran yang berulang-ulang di atas meja. Ia melihat ada nama Ayu di layar panggilan itu. Tapi karena Nanda tak begitu akrab dengan Ayu pun membiarkan saja sampai panggilan itu mati dengan sendirinya. Dan Nanda pun fokus dengan pekerjaannya.
Namun, tak lama ponsel Dinda kembali bergetar. Lagi lagi Ayu menghubunginya. Nanda yang merasa ada hal penting yang ingin Ayu sampaikan pun akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Halo Yu" sapa Nanda dengan suara baritonnya. Ia sengaja menyapa Ayu lebih dulu agar Ayu bisa langsung tahu bahwa yang mengangkat panggilan adalah Nanda.
"Eh, ini Nanda ya?" tanya Ayu akhirnya.
"Iya, ada apa Yu?" tanya Nanda ingin tahu alasan Ayu menghubungi istrinya.
"Emm, anu... Lo jangan marahin Dinda ya, tapi ini... aduh"
"Ini apa? Gak kok, gue gak akan marahin istri gue kalo emang dia gak salah" ucap Nanda menegaskan agar Ayu tak keberatan berkata jujur padanya.
"Dinda viral Nan. Gue liat di akun gosip kepalanya dijambak gitu. Gue ga kenal siapa yang jambak. Dan gue yakin kok kalo Dinda ga ngapa-ngapain tuh cewek" ujar Ayu menjelaskan pada Nanda.
"Makasih ya Yu, sebenarnya juga Dinda udah cerita kalo kepalanya ada yang jambak. Cuman gak nyangka aja kalo ternyata bakal begini" ujar Nanda dengan lemah.
"Iya Nan, kalo gitu gue tutup dulu yah. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam". Telepon pun terputus. Nanda langsung membuka kanal berita melalui ponsel Dinda yang sekiranya ikut menyebarkan ke-viralan istrinya.
__ADS_1
Hingga akhirnya Nanda pun melihat di dalam video tersebut, bahwa Dinda memang sama sekali tidak membalas perbuatan Feza, Dinda juga sempat berteriak kesakitan bahkan saat beberapa orang berseragam karyawan restoran menolongnya ia tetap menjerit-jerit kesakitan.
"Pantas saja rambut bini gue banyak yang rontok. Kurang ajar si Feza. Apa salah Dinda ke dia?" gumam Nanda yang kini tak lagi melanjutkan pekerjaannya tapi malah memikirkan bagaimana ia harus memberi pelajaran pada Feza.
Tak lama kemudian, ponsel Dinda kembali berdering. Tapi kini Nanda bukan enggan untuk mengangkatnya melainkan ada rasa takut untuk menjawab panggilan itu.
Karena yang menelepon adalah mama Dinda. Nanda takut kalau mertuanya itu akan menanyakan perihal video viral Dinda yang dijambak. Sedangkan saat ini kalau Nanda angkat, Nanda pun tak memiliki jawaban atas alasan mengapa sampai Dinda dijambak dan apapunlah terkait video itu. Karena Nanda juga baru tahu.
Terus-menerus panggilan itu mengganggu Nanda. Akhirnya karena tak kuat, Nanda pun mengangkat panggilan mertuanya.
"Assalamu'alaikum Ma" sapa Nanda pada mama mertuanya.
"Wa'alaikumsalam nak. Mama mau tanya Dindanya ada?" tanya Mama.
"Ponsel kita ketuker Ma, mama coba telpon ke nomor aku aja" ujar Nanda cukup lega karena mama ternyata tak menanyakan tentang video viral itu.
"Oh gitu. Tapi Nan, mama ada yang mau ditanyain ke kamu" ucap Mama dengan nada yang membuat bulu kuduk Nanda meremang karena ia yang mengira bahwa mertuanya tak akan menanyakan video Dinda ternyata kini malah mengisyaratkan akan bertanya tentang itu.
"Itu siapa sih yang jambak Dinda, kamu kenal? Kamu udah lihat kan videonya?" tanya Mama to the point.
"I... Iya ma kenal. Itu namanya Feza, dia anaknya Pak Permana yang jenderal kepolisian itu ma. Papa pasti tahu orangnya" ujar Nanda karena papa mertuanya cukup bergaul dengan beberapa petinggi di kepolisian dan pejabat negara.
"Ada masalah apa ya dia sama Dinda. Mama sampe kaget lho, kok Dinda bisa masuk siaran gosip" ujar Mama yang ternyata dapet infonya dari nonton gosip di TV.
"Dinda kayanya masih belom tahu deh Ma kalo dia sekarang lagi terkenal di mana-mana" ucap Nanda yang kasihan dengan image istrinya yang kemungkinan akan di cap buruk oleh orang-orang.
"Ya ampun, kalo gitu kamu ajalah yang ngomong ke dia. Nanti mama yang ngomong ke Papa buat minta semua stasiun TV buat menghapus semua video-video itu"
"Iya ma, ini aku mau langsung temuin Dinda. Biar dianya gak kepikiran sama video itu" pungkas Nanda.
__ADS_1
"Ya udah, mama tutup kalo gitu ya. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam Ma".
Nanda mengambil kunci mobilnya lalu dengan langkah cepat menuju ke parkiran untuk menemui istri tercintanya.
Namun saat ia baru saja masuk ke dalam mobil, kaca mobilnya tiba-tiba diketuk seseorang yang berseragam sama dengannya namun Nanda tak merasa kenal dengan wajah itu. Ia bernama Herry.
"Pak, ada yang mau bertemu" ujar pria yang seusia dengannya itu, yang tadi mengetuk kaca mobil Nanda.
Nanda pun turun dan mengikuti langkah pria tadi. Yang ternyata langkahnya menuju ke ruangannya sendiri. Aneh, pikir Nanda.
Tok... Tok... Tok
Tanpa perintah dari dalam, tapi Herry membuka pintu ruang kerja milik Nanda. Nanda yang berada tepat di belakang Herry sudah paham dengan keadaan saat ini.
"Silahkan masuk Komandan" ujar Pak Permana dengan maksud menyindir Nanda. Pak Permana duduk di meja kerja Nanda. Yang seolah kini menjadi ruangan pribadinya dan Nandalah yang menjadi tamu.
"Selamat siang Pak" Nanda membungkuk hormat.
Sedangkan Herry diminta keluar dari ruangan itu. Nanda kini sudah tahu bahwa Herry adalah salah satu ajudan atau orang kepercayaan Pak Permana.
"Sini sini, duduk saja" ujar Pak Permana dengan amat baik namun di hati Nanda ia merasa tetap harus waspada dengan Pak Permana.
"Saya sudah melihat kabar yang beredar akhir-akhir ini. Dan saya juga sudah mencari tahu bahwa wanita yang dijambak anak saya adalah istri kamu" ujar Pak Permana dengan sangat berwibawa.
"Iya pak" jawab Nanda.
"Kalau saya boleh tahu, apa alasan anak saya menjambak istri kamu. Sedangkan yang saya tahu, anak saya itu perempuan yang baik, dia anak yang terdidik dan saya tidak pernah main-main terhadap siapapun yang mencari masalah dengan keluarga saya" Pak Permana dengan tegas dan sedikit menekan Nanda dalam tiap kalimatnya. Namun Nanda sama sekali tak takut mendengar kalimat terakhirnya, karena ia yakin Dinda tak bersalah, justru anaknya lah yang lebih dulu mencari masalah.
__ADS_1
"Jujur Pak, saya sendiri juga tidak tahu detailnya seperti apa, karena saya dan istri tidak membahas lebih lanjut tentang kejadian itu. Tapi alangkah baiknya kita pertemukan saja keduanya agar kita bisa mendengar dari sisi kedua belah pihak. Saya berjanji tidak akan membenarkan perbuatan istri saya jika dia memang terbukti bersalah. Dan saya harap bapak pun demikian"