(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Jangan Ada Dusta


__ADS_3

Walau hati Dinda sedang kesal-kesalnya terhadap Nanda, ia tetap berusaha menjadi istri yang baik. Sesuai dengan saran yang Ayu berikan tadi.


Ia pun kini sudah dijalan hendak pulang kerumahnya. Karena jam sudah hampir pukul setengah 3 sore, takut suaminya lebih dulu pulang kerumah.


Sesampainya di teras, Dinda baru menyadari bahwa kunci rumah di bawa Nanda. Sedangkan di dalam tidak ada siapa-siapa karena Bibi sedang pulang kampung sejak 2 hari yang lalu. Dinda pun hanya bisa merutuk tak jelas. Hati kesal lalu sekarang harus menunggu suami pulang untuk bisa masuk kerumah. Sedangkan suaminya sendiri pulangnya suka tak jelas jam berapa.


Dinda duduk di kursi terasnya sambil bersandar dan memejamkam mata dengan menghadap ke atas. Hari ini benar-benar menyedihkan baginya. Suami pelukan sama perempuan yang mampu membuatnya insecure. Dan sekarang dirinya sendiri terlihat mengenaskan terkurung di luar rumah.


Dinda beberapa kali melirik jam tangannya. Kini sudah pukul 15.45 dan suaminya tak kunjung pulang. Ada pikiran negatif yang mempengaruhi Dinda bahwa kini suaminya masih bersama wanita tadi. Namun, Dinda berusaha terus-menerus untuk tidak menggubris dugaan-dugaan yang membuat dirinya sendiri terluka.


Waktu berlalu terasa sangat lama. Lagi dan lagi Dinda harus menunggu seperti deritanya tadi pagi. Bahkan kali ini ia menunggu lebih lama dari tadi pagi.


Suaminya tak kunjung pulang sedangkan ini sudah hampir maghrib. Tadinya Dinda gengsi untuk menanyakan kapan suaminya itu akan pulang, namun karena terdesak maka mau tak mau akhirnya ia pun mengirimi pesan pada Nanda.


Dinda


Kapan pulang?


Terkirim dan tak lama kemudian dibaca oleh Nanda. Namun tampaknya Nanda sedang sibuk sehingga ia tak berniat membalas pesan Dinda.


Dinda yang kesal pun akhirnya berdiri dan dengan refleks menendang salah satu pot bunga yang ada di depan kakinya. Untung saja Dinda masih menggunakan sepatu kerjanya sehingga rasa sakitnya tidak terlalu berarti.


Mobil Nanda masuk, bertepatan dengan kumandang Adzan dari masjid sebelah. Nanda parkir tepat di samping mobil istrinya. Ia turun sambil tersenyum dan menenteng kunci rumah sambil berjalan sombong ke arah Dinda.


"Sakit 'kan kakinya?" tanya Nanda yang memang melihat kelakuan istrinya tadi.


"Gak" ketus Dinda. Lalu ia teringat pada pesan Ayu untuk bermain cantik, ia harus tunjukkan pada Nanda bahwa dirinya jauh lebih baik dibandingkan wanita penggoda manapun. Akhirnya Dinda buru-buru tersenyum. Ia tersenyum manis menyambut kepulangan suaminya.


"Tadi kekantor aku?" tanya Nanda sambil membuka kunci rumah.


"Gak" jawab Dinda sambil menghindar bertatapan dengan suaminya.

__ADS_1


"Aku tahu kamu bohong" ucap Nanda tepat ditelinga Dinda. "Ayo masuk, mau sampe kapan berdiri di situ. Mau ngasih makan nyamuk?" sambungnya.


"Iya iya" Dinda pun masuk menerobos Nanda. Ia malu karena sudah ketahuan berbohong pada suaminya.


Nanda pun kembali mengunci pintu dan menyusul Dinda ke dalam kamar. Keduanya pun mandi bersama namun lagi-lagi bukan hal romantis yang mereka lakukan. Melainkan sibuk membersihkan diri masing-masing. Nanda di bawah shower sedangkan Dinda di dalam bathub.


Setelah selesai, Dinda menyiapkan pakaian suaminya dan dirinya sendiri. Setelah Dinda memakai daster rumahan ia pun menyiapkan alat sholat untuk dirinya dan Nanda.


Mereka sholat berjama'ah seperti biasa. Usai sholat, Dinda mencium punggung tangan suaminya.


Setelah itu mereka pun lalu sama-sama canggung. Dinda yang ingin menghindari beberapa pertanyaan dari suaminya pun akhirnya memiliki alasan untuk keluar dari kamar itu. Alasannya adalah mau menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Nanda pun hanya menggangguk saja saat Dinda berkata demikian.


Didapur, Dinda menyiapkan makan malam berupa Ayam semur dan capcay. Tanpa ia sadari, ternyata gerak-geriknya di dapur di perhatikan oleh suaminya. Nanda pun memeluk istrinya dari belakang, Dinda yang kaget bahkan hampir berteriak.


"Aku berubah gak?" tanya Nanda di samping telinga Dinda. Membuat bulu kuduk Dinda sedikit meremang merasakan sensasi dari hembusan nafas Nanda.


"Kenapa nanya gitu?". Bukannya menjawab Dinda justru balik bertanya.


"Aku dengar, orang yang berselingkuh pasti sifatnya terasa berubah. Dari yang cuek tiba-tiba perhatian, atau sebaliknya" ucap Nanda yang membuat Dinda berbalik lalu mengalungkan kedua lengannya di leher Nanda.


"Karena aku ingin menjelaskan yang kamu lihat tadi pagi" jawab Nanda.


Dinda yang masih harus melanjutkan masaknya pun akhirnya kembali membelakangi suaminya. "Gak perlu dijelasin, aku percaya kamu" ujarnya.


"No, aku gak mau memupuk kesalah-pahaman ditengah-tengah kita" ujar Nanda tegas.


"Iya, tapi aku mau masak dulu" sambut Dinda.


"Oke sayang" Cup. Sebelum meninggalkan dapur, Nanda meninggalkan bekas ciuman di pipi istrinya. Dinda pun tersenyum singkat menatap punggung suami yang sangat ia cintai itu.


Tak lama, keduanya pun sarapan di meja makan. Mereka saling bercerita tentang pekerjaan dikantor selama seharian ini. Dinda yang masih ngotot tidak mau mengakui bahwa dirinya tadi pagi ke kantor suaminya pun mulai mengarang cerita perihal kesibukannya di perusahan.

__ADS_1


Nanda dengan seksama mendengarkan cerita istrinya padahal dalam hatinya ia sedang berkata "sejak kapan kamu mulai pandai bohongin aku, hm?". Sebetulnya Nanda tak memperhatikan apa yang di ceritakan istrinya, melainkan ia sendiri fokus bermonolog dalam hati.


Setelah keduanya selesai sholat isya, kini mereka sedang bersandar di tempat tidur. Nanda menggenggam jemari istrinya.


"Aku mau jelasin yang tadi" ucap Nanda.


Dinda hanya diam, ia mempersiapkan hati dan telinganya untuk mendengar penjelasan suaminya.


"Namanya Feza, anak dari seorang petinggi kepolisian. Aku ke dia nganggepnya cuma teman, tapi dia ke aku nganggepnya lebih. Aku sadar dulu perhatian aku ke dia berlebihan, bukan karena cinta tapi karena dia anak jenderal. Aku gak mungkin berani macam-macam sama dia. Hingga akhirnya aku pergi gitu aja karena memang tugas aku pindah ke kota ini. Aku gak nyangka ternyata dia nyari-nyari aku sampai akhirnya ketemu singkat beberapa hari yang lalu di kedai Pak Tua" Nanda menjeda ucapannya. "Kamu gak papa 'kan aku cerita kaya gini?" tanya Nanda.


"Gak papa, terusin aja" ucap Dinda sambil tersenyum.


"Feza dan aku pernah ketemu 4 tahun yang lalu. Ketemu cuma sekali padahal, tapi dia udah tahu nama aku, ngikutin sosial media aku, pokonya dia stalker handal. Dia mengakui sesuatu tadi pagi, dia bilang kalo dia jatuh cinta sama aku dari sejak pertama ketemu. Dan dia buru-buru menyelesaikan pendidikan spesialisnya buat modal ngejar aku. Di kira dia bisa ngajak aku nikah setelah kewajiban dia ngikutin 'mau' orang tuanya itu tercapai. Tapi, selain dia senang udah bisa ketemu aku dia juga kecewa. Katanya kecewa karena sudah terlambat 1 bulan. Karena aku kasih tahu dia aku sudah menikah. Senyumnya tiba-tiba hilang, matanya langsung merah. Aku jadi gak enak. Dia yang berusaha tegar terus tiba-tiba air matanya langsung ngucur gitu, dia mau meluk aku, ya aku refleks Yank meluk dia. Di kepala aku dia itu kamu. Tapi cara nangisnya yang beda akhirnya aku sadar dan buru-buru lepasin" Nanda menyelasaikan ceritanya. "Kamu sedih karena sudah salah mengira kalo aku selingkuh 'kan?" tanya Nanda yang melihat mata Dinda berkaca-kaca.


"Bukan, aku kasihan sama dia" ujar Dinda sambil mengelap air mata yang mengembun di pelupuk matanya.


"Kamu mau aku poligami?" tanya Nanda tercengang.


Plak


Dinda menepuk bibir Nanda yang sembarang bicara. "Mau kehilangan nyawa, silahkan" ucap Dinda lalu berbaring dan menutupi dirinya dengan selimut dari kaki sampai kepala.


"Hahahah, yeee orang becanda doang. Yank... Yank, maaf ya" bujuk Nanda sambil memeluk-meluk tubuh Dinda dari luar selimut.


Karena gerah, Dinda pun mengeluarkan kepalanya. "Oke, tapi ada syaratnya"


"Apa?" tanya Nanda penasaran.


"Syaratnya adalah...."


●●●

__ADS_1


To be continue ya guysss...


Jangan lupa like, komen, dan kasih vote untuk author. Terimakasih:)


__ADS_2