
Hari minggu yang ditunggu-tunggu oleh Sherly kini hampir tiba. Tepatnya saat ini malam minggu, ia sedang bercengkrama dengan kedua orang tuanya. Sherly duduk bersama mereka diruang tengah sembari ikut menonton sinetron kesukaan mama.
Walau ia sibuk menonton televisi, namun ia tetap bisa multitasking sambil berbalas pesan dengan Rama. Entah sejak kapan mereka mulai saling berbalas pesan. Yang jelas tampaknya kini mereka sudah sangat akrab.
"Ma, besok pacar aku mau kesini lho" ungkap Sherly dengan tanpa malu-malu mengakui Rama adalah pacarnya.
"Serius? Bukannya kamu masih dilarang pacaran sama abang sama papa?" tanya mama.
"Yang ini beda ma, pasti diizinin" sahut Sherly.
"Kenapa? Karena rambutnya gak jamet lagi?" tebak mama.
"Selain karena gak jamet lagi, orangnya juga beda ma. Pacar aku sekarang dokter, ma" kata Sherly dengan bangga menyebut profesi Rama.
"Ya ampun, beneran? Dokter apa?" tanya mama histeris ingin tahu.
"Spesialis kandungan ma. Besok mama bisa lihat sendiri, dia mau kesini jemput aku. Boleh ya ma aku pergi sama dia?" tanya Sherly meminta izin.
"Kalo berani minta izinnya sama papa" ucap papa yang sedari tadi tidak diajak ngobrol.
"Hehe, papa denger ya? Pa, besok aku mau pergi sama Rama. Boleh ya pa? Bentar doang kok, kita mau ke panti asuhan" ujar Sherly dengan gamblang menyebut nama Rama tanpa embel-embel dokter atau apalah yang lebih sopan. Bahkan ia tak berani menyebut Rama sebagai pacarnya seperti yang telah ia sampaikan pada mamanya.
"Rama siapa?" tanya papa kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.
"Itu lho pa, pak dokter yang nyelamatin kakak" jawab Sherly.
"Suruh mampir dulu, papa mau kenalan. Katanya pacar kamu" titah papa yang mendengar obrolan Sherly dan mama.
Oppss! Gawat nih.
"Iya, aman bos" jawab Sherly tanpa menolak permintaan papanya.
Sherly pun lanjut berkirim pesan dengan Rama. Ia juga memperlihatkan foto Rama pada sang mama.
"Wah, ganteng ya dek pacar kamu" puji mama. Sherly menjadi terbang ke awan mendengar mamanya memuji lelaki idamannya.
"Iya dong ma, susah ni nyarinya. Bibit unggul" sambut Sherly dengan bercanda.
-
__ADS_1
Keesokan harinya dirumah Nanda, ia sudah mengajak sang istri serta Jovan untuk ikut Rama dan Sherly berkunjung ke panti asuhan. Namun ternyata Dinda mengalami kram perut sehingga ia tidak bisa berjalan dengan baik dan benar, membuat rencana Nanda gagal untuk merusak momen berdua antara Rama dan Sherly.
Untunglah masih ada Jovan yang bisa Nanda kirim untuk menggantikan dirinya melanjutkan misi. Ia datang kerumah Jovan, yang ia tahu Jovan memiliki rasa terhadap adiknya itu. Dengan hanya memanas-manasi Jovan, akhirnya Jovan pun menyanggupi perintah Nanda untuk menjauhkan Rama dari jangkauan Sherly.
Nanda pun mengirim pesan pada Rama "Ma, jam berapa lo mau ke panti sama Sherly?". Begitu pesan Nanda pada Rama.
-
Dirumah Sherly
Rama datang tepat pukul 9 pagi. Itu jelas karena permintaan Sherly yang semalam berkata bahwa papa dan mamanya ingin berkenalan. Alhasil, pagi-pagi sekali Rama sudah berada dirumahnya.
Rama berbincang dikelilingi oleh 3 orang yang tampak sangat penasaran akan kegiatannya sehari-hari sebagai dokter. Dan yang membuat Rama terkejut ketika mama Sherly bertanya "Kamu beneran pacar Sherly? Tante gak nyangka lho kamu mau sama anak kami" ujarnya.
Rama pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Namun, di sampingnya Sherly memberinya kode untuk meng-iya-kan saja. Akhirnya Rama pun mengikuti skenario yang telah Sherly ciptakan.
"Iya tante. Walau usia kami cukup jauh berbeda tapi kita berdua gak masalah kok" jawab Rama.
Sherly pun lega akhirnya ia kini sudah dewasa dan telah memiliki pacar. Dokter lagi, siapa yang tidak bangga memiliki kekasih hati yang merupakan seorang dokter tampan.
Sembari membiarkan sang pacar (palsu) mendekatkan diri dengan sang mama, tiba-tiba Sherly menangkap nama abangnya di ponsel Rama. Ia pun segera mengambil ponsel Rama yang tergeletak di atas meja.
Sherly tertawa jahat dalam hatinya. Ia telah menipu sang abang karena ia tahu bahwa abangnya akan menjadi penghalang kisah cintanya bersama Rama.
1 menit kemudian balasan dari Nanda pun masuk. "Oh gitu, ya udah deh"
Sherly pun buru-buru menghapus chat dari Nanda itu, takut ketahuan Rama bahwa Sherly sudah berani mengotak-atik ponselnya.
Setelah 1 jam lebih berbincang dengan papa dan mama Sherly, akhirnya keduanya kini pamitan untuk segera berangkat. Tak lupa Sherly membawa uang yang diniatkan untuk disumbangkan ke panti asuhan.
"Pak dokter, makasih ya" ujar Sherly saat keduanya tengah di perjalanan menuju panti asuhan.
"Untuk?" tanya Rama tanpa melihat Sherly sekalipun.
"Karena udah mau jadi pacar aku" jawab Sherly malu-malu.
"Kapan?" tanya Rama.
"Tadi. Masa pak dokter lupa sih? Kan tadi pak dokter bilang sendiri ke mama. -Iya tante, walau usia kita cukup jauh, tapi kita berdua gak masalah kok- aku aja sampe ingat kalimatnya di kepala" ujar Sherly yang gemas dan langsung mencubit kecil perut Rama.
__ADS_1
"Heh, jangan cubit-cubit. Nanti kecelakaan bahaya" tegur Rama.
"Iya iya, jangan marah-marah gitu dong. Kan gantengnya jadi berkurang" Dibilang seperti itu, membuat Rama jadi tersenyum. Entah mengapa kini ia sering sekali luluh dengan kalimat-kalimat gombalan yang sering Sherly lontarkan. Padahal menurutnya, Sherly tak termasuk dalam kriteria idamannya.
"Ciee, senyum-senyum. Level gantengnya naik lagi. Udah, cukup-cukup. Ya ampun aku gak kuat" Sherly mendadak heboh sendiri. Rama pun akhirnya tertawa melihat kehebohan anak gadis yang sebentar lagi akan masuk kuliah itu.
"Kamu tuh kenapa sih? Aku marah salah, senyum juga salah" tanya Rama yang kini berbicara dengan melihat Sherly.
"Senyum boleh, tapi jangan lama-lama. Karena senyum kamu gak aman buat jantung aku. Gak SNI"
"Hahahah" keduanya pun tertawa.
"Sejak kapan senyum punya standar nasional" kata Rama.
"Sejak aku mengenal dirimu" jawab Sherly.
-
Dirumah Nanda
"Assalamu'alaikum Bang, kak Dinda" teriak Jovan dari arah depan. Ia baru saja selesai bersiap-siap untuk ikut Sherly ke panti asuhan.
"Wa'alaikumsalam Van" jawab Nanda sembari membukakan pintu untuknya.
"Mana kunci mobilnya, Bang?" pinta Jovan karena memang tadi Nanda sempat menawarkannya untuk menggunakan mobil milik Nanda saja.
"Maaf ya Van, gak jadi. Katanya besok sore nunggu pulang sekolah" ujar Nanda.
"Lho, kenapa gak jadi Bang? Yah, gue udah wangi nih bang" rengek Jovan karena gagal bisa melihat ayang Sherly hari ini.
"Mana gue tahu. Lo tanya sendiri aja sana sama Sherly" ucap Nanda setengah mengusir Jovan karena kalau dibiarkan bisa-bisa Jovan malah mengganggu dirinya dan Dinda.
"Bilang kek Bang daritadi. Jadi sia-sia 'kan gue mandi pagi" Jovan pun akhirnya kembali kerumahnya dengan langkah gontai karena gagal bertemu Sherly. Nanda pun kembali menemui istrinya yang tengah menenggelamkan wajah di bantal karena merasa perutnya sangat kram. Nanda dengan telaten mengolesi perut Dinda dengan minyak urut yang di racik sendiri persis seperti buatan neneknya dulu.
Perut Dinda pun kini sudah mulai enakan. Ia berjalan tak lagi membungkuk seperti tadi pagi.
●●●
Hai guise, selamat hari Rabu...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen, dan kasih hadiah ya gasyaa...