
1 minggu kemudian
Dinda yang hari itu selesai kuliah pukul 12 siang, mengajak Ayu bertemu karena ia sudah kangen dan semenjak Ayu menikah mereka memang belum pernah bertemu lagi. Dan hari ini mereka janjian untuk bertemu tapi Dinda harus jemput Ayu di kantor suaminya terlebih dahulu karena ternyata hari ini Ayu di ajak ke kantor oleh suaminya.
Kayanya Aidil laki-laki yang baik, meski dulu sikapnya acuh tak acuh. Tapi di lihat dari caranya memperlakukan Ayu sampe ajak Ayu ke kantor pasti karena Aidil udah mulai cinta sama Ayu, pikir Dinda.
Pukul 12:10 Dinda mulai melajukan mobilnya menuju ke kantor milik suami Ayu. Sesaat di perjalanan, ia kembali melow karena menatap jalanan yang sering kali ia lewati bersama Ariel. Dimana jalanan itu adalah jalan yang sering sekali mereka tempuh untuk sekedar menghabiskan waktu tanpa tujuan yang jelas dan pokonya kalo sudah di rasa jauh barulah mereka akan putar balik ke arah rumah mereka.
"Jangan ingat dia lagi, dia aja belum tentu ingat aku. Maaf ya, kita salah orang" ucap Dinda sambil mengusap dada tempat hatinya berada.
20 menit berlalu Dinda sudah bisa melihat bangunan tinggi menjulang yang di maksud Ayu adalah kantor suaminya. Dinda masuk menuju parkiran lalu segera merogoh tasnya untuk mencari ponselnya.
Sambil menempelkan ponsel ke telinganya, Dinda turun dari mobil dan menuju ke lobby kantor tersebut sekalian mau duduk-duduk santai di ruang ber-AC itu biar nyaman nungguin Ayu turun dari ruangan tempat suaminya bekerja.
"Gue udah di parkiran, tapi lu santai aja kalo masih mau berchit-chat ria sama suami lu... Gue gapapa... Iya, nih gue ke lobby mau duduk sana aja biar nyaman". Begitulah percakapan Dinda dengan Ayu di telepon.
Sesaat setelah Dinda terduduk di lobby, Dinda melihat seorang laki-laki tampan yang beberapa waktu terakhir sering bersliweran di televisi baru saja keluar dari lift dan kemudian menghilang entah kemana setelah ia berbelok ke kiri dari lift.
Laki-laki itu bernama Zapata Rismandanu. Dia seorang anggota DPR RI, memiliki tinggi 183 Cm, kulit putih bersih, memiliki wajah tampan, dengan usia yang baru memasuki 30 tahun tapi ia terlihat lebih muda dari usianya. Dari cara berpakaiannya pun sangat kasual dan tidak seperti bayangan saat kita membayangkan seorang pejabat yang tentunya pasti berjas dan berdasi.
"Itu si pejabat yang viral karena ketampanannya kan, Mba ?" tanya Dinda yang sangat tak sabaran bertanya. Padahal sesepejabat baru aja ilang dari pandangan, Dinda langsung gerak cepat bertanya pada Mba resepsionis yang berada tak jauh dari posisinya.
"Iya Mba, jadi lebih ganteng ternyata kalo di lihat secara langsung" ujar Mba resepsionis itu.
"Ada urusan apa disini ?" tanya Dinda lagi.
"Oh, dia temennya Pak Aidil, CEO disini Mba. Dulu waktu belom jadi pejabat malah dia lebih sering lagi main kesini. Ngumpul di ruangan Pak Aidil sama anggota gengnya yang lain" beber Mba resepsionis yang ternyata sudah sering lihat Pak Zapata itu di kantor ini.
__ADS_1
"Makan dulu, Mba" sambungnya lagi menawarkan makan siang untuk Dinda.
"Silahkan Mba, makan aja. Saya kesini cuma mau jemput temen" ucap Dinda akhirnya yang baru sadar jika saat itu memang jam makan siang.
"Siapa Mba temennya ? biar saya telepon pake telpon kantor ini" sahut Mba resepsionis yang bernama Ratna di tengah aktivitas makannya.
"Namanya Ayu, istrinya Pak CEO, Mbak" ujar Dinda dengan tersenyum.
Dalam hati Dinda, "Iya mba, telepon aja. Udah berapa lama ini kok ga turun-turun. Lagi ngapain pengantin baru itu"
"Waduh, ga berani saya nelponnya, mba. Bisa di omelin Pak Aidil saya kalo ganggu acara sama istrinya" tutur Mba Ratna dengan senyum masam seolah sedang membayangkan bagaimana dirinya di omeli sang bos.
"(Hufttt) Ya udah deh, Mba. Saya duduk lagi" ucap Dinda berjalan lunglai menuju kursi tamu yang tadi ia duduki di depan meja resepsionis.
Dinda menghabiskan waktunya dengan berselancar sosial media sambil ayun-ayun kaki dan beberapa kali pindah kursi karena pantatnya mulai terasa pegal. Seharian ini mulai dari kampus sampai kantor Aidil cuma duduk-duduk aja.
"Dorr". Ayu datang dengan mengejutkan Dinda.
"Hm". Dinda sama sekali tidak kaget malah berekspresi biasa saja.
"Sawan lu ?" tanya Ayu yang melihat Dinda seperti orang kehilangan semangat hidup.
"Ho'oh, sakit hati, sakit jiwa, sakit kepala" tutur Dinda yang sebenarnya sakit-sakit yang dia sebutkan barusan sudah hampir sembuh tapi karena kelamaan nungguin Ayu mendadak jadi kambuh lagi.
"Gue tau obatnya, Be... Lan...?" ucap Ayu sengaja menggantungkan ucapannya biar Dinda yang melanjutkan.
"Ta... Ra. Iya, emang bener. Gue mau banget hidup di hutan belantara. Biar aja gue sendiri. Setidaknya itu jauh buat gue nyaman saat ini" celoteh Dinda yang seolah uneg-unegnya hampir keluar lagi setelah di pancing oleh Ayu.
__ADS_1
"Sue. Belanja maksud gue" tutur Ayu sambil mendorong kening Dinda dengan telunjuk lentiknya.
"By the way, hijab lo di gadai di mana ?" tanya Dinda yang melihat Ayu kini kembali tanpa hijab. Padahal waktu ijab kabulnya Dinda sempat mengira mungkin Ayu memang memutuskan berhijab setelah menikah. Ah ternyata...
"Masih di jemur, belom kering" sahut Ayu sekenanya.
"Ooh, bisa gitu ya. Gue maklum sih, namanya juga baru-baru masuk Islam" ejek Dinda yang di iringi tawa renyahnya dan towelan di kepalanya dari Ayu.
"Kemana nih kita ?" tanya Ayu kemudian.
"Cari berondong lah" sahut Dinda yang memang kewarasannya saat itu terbang entah kemana. Dengan begitu santainya ia lalu mengambil tasnya yang teronggok di kursi lalu memasukkan ponselnya dan menggenggam kunci mobil di tangannya. Sedangkan di depannya, sang sahabat menatapnya melongo hampir seperti orang idiot. Memperhatikan gerak-gerik Dinda dengan seksama tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Sadar karena ucapannya barusan tidak di respon, Dinda akhirnya melihat ke arah Ayu yang berdiam diri menatapnya.
"Berondong jagung maksud gue".
Lalu mereka berdua tertawa ngakak sambil berlalu dari lobby menuju mobil Dinda.
***
"Sssttt sssttt, Mba. Siapa itu, ku tengok dari tadi ketawa aja kerjaan mereka" tanya seorang wanita paruh baya dengan logat Medannya yang bekerja sebagai cleaning service di sana yang memang belum kenal dengan Ayu yang kini jadi istri bosnya itu.
"Itu tadi Bu Ayu, istrinya Pak Aidil. Yang pakek baju garis-garis itu temennya bu Ayu. Saya ga sempet nanya juga namanya siapa" tutur Mba Ratna.
"Berbanding terbalik banget ya suami istri itu. Pak Aidil šššš sedangkan istrinya ššššššš" celoteh ibu itu yang mendeskripsikan Aidil sama Ayu pake ekspresi. Memang lawak kali si ibu ini di kantornya.
Bukan hal yang sulit baginya jika hanya melawak pake ekspresi, Ibu itu di kantor sudah punya gelar "Ratu stand up comedy", karena pekerjaannya yang merupakan seorang cleaning service, sering nyapu dan ngepel, merupakan aktivitas yang di lakukan sambil berdiri dan ia sering kali bercanda dengan teman-temannya sambil nyapu-ngepel.
__ADS_1
Alhasil ibu cleaning service dan Ratna tertawa cekikikan.