(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Kombo RaNda (Rama-Nanda)


__ADS_3

"Gue memang pengecut. Puas lo? Dan lo, gak perlu repot-repot bujuk gue untuk turun dari sini. Karena tujuan gue memang mau turun. Tapi bukan kebelakang" ucap Feza disela-sela tangisnya.


"Za, Rama nangis di bawah. Dia bilang dia sayang sama lo. Za, kita berdua bisa bantu lo keluar dari masalah ini. Please Za, pengobatan lo baru aja dimulai. Jangan menyerah, gue juga punya ide buat menjerat pelaku itu tanpa kita harus melibatkan orang tua lo. Gue jamin, bokap lo gak akan tau" Nanda berupaya terus menerus mengajak Feza berbicara agar niatnya semakin terulur untuk meloncat dari tembok itu.


"Lo jangan sok peduli deh. Asal lo tau, gue ngerasa udah gak punya muka lagi buat ketemu lo. Hiks... Gue malu Nan sama lo. Gak cuma jahat, tapi gue juga kotor" Feza memukul-mukul dadanya. Nanda pun memiliki peluang besar untuk menurunkannya dari sana.


Dengan sigap, Nanda menarik pakaian Feza lalu Feza dengan cepat ia tangkap agar tak terjatuh menghantam ubin rooftop ini. Namun karena bobot tubuh Feza tak bisa begitu saja Nanda perkirakan, akhirnya mereka berdua terduduk ke lantai kasar itu. Feza mendorong kasar tubuh Nanda namun Nanda berhasil memeluknya agar tak kembali naik ke atas tembok itu.


"Jangan berontak Za. Sekali ini aja, lo nurut sama gue" Nanda pun akhirnya merasakan tubuh Feza yang tak bertenaga. Gadis itu tak lagi memberontak. Justru kini ia diam dan menumpahkan segala beban yang ia pendam selama ini di dada Nanda.


"Jangan nekat kaya gini lagi ya Za, saat ini masih untung ada gue. Coba kalo gue gak ada, kasian Rama pusing sendiri nanti. Gak tau deh dia sekarang masih nangis apa udah pingsan" canda Nanda agar Feza bisa kembali tenang dan tak lagi teringat pada kenangan buruk itu.


"Ck" Feza berdecak sebal dan melepas pelukannya. Ia langsung mengusap air matanya dan merapikan sedikit rambut yang sudah kusut karena terpaan angin kencang.


"Sekarang kita turun yuk" ajak Nanda. Namun saat mereka sama-sama mau berdiri, Rama pun datang dengan nafas tersengal.


"Za, lo jangan gila kaya gini. Huh, lo tuh udah janji sama gue mau menghadapi masalah ini dengan berani. Huh, gue hampir aja kena serangan jantung gara-gara liat lo mau lompat huh. Lo juga, sejak kapan lo disini? Bukannya tadi lo nyari dia di parkiran?" Rama dengan nafas Senin-Kamisnya datang-datang langsung mengomeli Feza dan Nanda. Sedangkan yang dimarahi Rama belum sempat berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Nanda pun akhirnya melemparkan pecahan semen seukuran kelereng ke arah Rama. "Lo bantu nih kita berdiri dulu. Gak liat apa kita disini lesehan begini". Rama pun mendekat. Namun, bukannya menolong Nanda atau Feza berdiri, justru Rama yang ikut duduk.


"Entar dulu ya, gue masih capek naik tangga darurat tadi huh. Kita turun 5 menit lagi, nafas gue ngos-ngosan nih. Huh ha, huh ha". Akhirnya mereka bertiga duduk melingkar sembari terdiam dengan pikiran masing-masing.


Feza yang menunduk karena ia betul-betul merasa malu pada Nanda, sedangkan Nanda memikirkan kembali tentang ide yang ada dikepalanya terkait penangkapan sang pelaku pelec3han terhadap Feza. Dan Rama, masih menetralkan detak jantung dan nafasnya. Tenaga kesehatan yang satu ini memang berprofesi sebagai dokter namun sendirinya jarang sekali memperhatikan kesehatan. Ia jarang berolahraga karena tak punya waktu lagi, huh alasan.


Setelah 5 menit menunggu keadaan Rama kembali normal, mereka pun akhirnya turun dengan langkah santai tidak berlari seperti saat naik tadi. Saat mereka menaiki lift dan berpapasan dengan orang-orang, tatapan mereka seolah bertanya-tanya. Namun Nanda, Feza, dan Rama tidak menghiraukan mereka. Sehingga orang-orang itu jadi semakin enggan untuk bertanya.


Mereka pun sampai ke lantai 3 dimana ruang rawat Feza berada. Feza yang sudah menginap semalam dirumah sakit itu pun akan terus berada disana sampai psikolognya menyatakan bahwa Feza sudah tak perlu mendapatkan perawatan intensif alias sudah sembuh. Sedangkan Feza di sarankan oleh psikolognya tadi, diwajibkan untuk beberapa kali lagi konsultasi lalu baru nanti akan di observasi lagi untuk tahap selanjutnya, yaitu terapi.


Sesampainya diruangan Feza, tak ada yang berbeda dengan kondisi kamar di rumah sakit pada umumnya. Hanya saja tingkat keamanan kamarnya yang berbeda. Disini jendela kamarnya di pasangi teralis dan pintu kamarnya pun juga memiliki beberapa kunci pengaman, tidak hanya satu ctekan. Selain itu juga ada kamera pengintai di atas pintu namun terletak di bagian luar. Tentu saja agar setiap pasien tidak bisa kabur dari sana. Maklumlah, namanya juga rumah sakit jiwa bukan rumah sakit biasa.


Nanda yang sudah mematangkan idenya, sejak tadi ingin sekali untuk segera membahas perihal pencarian pelaku itu. Namun, karena takut Feza kembali bersedih, Nanda pun berbicara sambil berbisik pada Rama.


"Sstt" Fuh. Panggil Nanda pada Rama.


"Jangan tiup-tiup napa sih, geli" jawab Rama sembari mengaruk telinganya yang terasa geli-geli enak tadi.

__ADS_1


"Sorry bro" ujar Nanda dengan volume suara yang seperti biasanya karena tak mau membuat Feza penasaran dengan tingkah mereka berdua.


"Woi, gue mau ngomong" Kini Nanda kembali berbicara dengan berbisik pada Rama namun dengan jarak kurang lebih 30cm.


Rama pun peka. Ia ikut berbisik menimpali ucapan Nanda. "Paan?"


"Gue punya ide buat nangkep si pelaku tuh" tunjuknya ke arah Feza menggunakan mulut.


"Ya ya, apa idenya?" tanya Rama.


Keduanya asik saling berbisik sat-set-sat-set tanpa terdengar oleh Feza. Karena Feza sedang istirahat dan posisinya berbaring membelakangi Rama dan Nanda.


"Tapi jauh. Lo yakin?" tanya Rama.


"Iya. Kapan kita berangkat?" tanya Nanda.


"Tergantung tuh" jawab Rama sambil menunjuk Feza dengan mulutnya.

__ADS_1


"Karena gue ahli mikirin ide, dan lo ahli bujukin dia. Nah, ya udah" ucap Nanda sembari membuka 1 kancing bajunya seolah ia telah lega bisa menyelesaikan masalah untuk hari ini.


"Gue lagi gue lagi" rutuk Rama dengan lemah karena dirinya yang selalu dapat bagian bujuk membujuk. Padahal menurutnya, ia sendiri bukan lelaki yang pandai memahami wanita. Saat berhasil membujuk Feza untuk konsultasi, anggap saja dirinya saat itu sedang hoki. Lalu sekarang, harus bujuk Feza lagi? "Aku tak yakin" gumam Rama pelan.


__ADS_2