(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
67. Bertemu lagi


__ADS_3

2 hari kemudian...


Dinda sedang bekerja dengan serius di depan layar komputernya. Ia mengetik beberapa perubahan klausul perjanjian yang telah di sepakati para pihak pembuat perjanjian.


Dinda sama sekali tak sempat untuk mengecek ponselnya atau bahkan meladeni gerutuan Sigit dan temannya yang lain. Baginya urusan meladeni mereka adalah hal yang sia-sia.


Sebab ujung-ujungnya pasti perdebatan melawan Sigit. Tanpa Dinda sadari ponselnya sudah berdering 2 kali di dalam tas jinjingnya.


Tepat pukul 12 siang, Dinda akhirnya bisa bernafas lega karena pekerjaannya pun sudah selesai. Ia mengistirahatkan matanya sejenak dari depan layar komputer.


Berjalan menuju dapur kantor dan membuat segelas teh untuk menenangkan pikirannya. Sebab Dinda berbeda dengan sebagian orang yang menjadikan kopi sebagai salah satu minuman penghilang stres.


Di tambah lagi, meminum kopi dengan takaran seberapapun tetap berdampak bagi waktu tidur Dinda. Ia bisa begadang semalam suntuk kalau sudah meneguk segelas kopi. Efek buruknya jadi lesu seharian karena kurang tidur.


Setelah selesai membuat teh, Dinda mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Ia heran siapa yang meneleponnya sampai 2 kali.


Setelah layar ponsel itu terbuka dari kunciannya, Dinda baru tahu ternyata Bang Nanda yang meneleponnya. Tak perlu pikir lama, Dinda menelpon balik pria tersebut.


"Sorry Bang, tadi masih kerja" ucap Dinda saat orang di seberangnya itu berdehem saja ketika mengangkat telepon Dinda.


"Din, Abang mau ajak kamu makan siang bareng. Bisa ga? Sekalian mau balikin KTP kamu nih" kata Bang Nanda yang tak suka basa-basi.


"Iya Bang, bisa bisa. Mau makan siang dimana?" tanya Dinda senang.


"Di deket kantor kamu aja. Kamu tunggu ya, biar Abang yang jemput" titah Nanda yang tak ingin merepotkan Dinda terus.

__ADS_1


"Oke Bang" tut. Panggilan di akhiri begitu saja oleh si Pak polisi itu.


Dinda jadi mikir, nih orang ga pernah ngucap salam tiap nelpon atau angkat telepon apa jangan-jangan non muslim ya? Haduh, mesti jaga jarak nih. Aku kan nyarinya yang seiman.


Setelah 15 menit menunggu, akhirnya Bang Nanda nongol juga. Tapi tampilannya hari ini tidak menggunakan seragam polisi, melainkan pakaian biasa. Kaos polo hitam dan jeans yang senada dengan bajunya. Keren bangetttt.


"Yuk, masuk" sapanya yang membukakan pintu mobil untuk Dinda.


Dinda memang sudah nungguin depan kantor soalnya biar jangan sampe di lihat sama Sigit aja. Sebab kalo Sigit tahu bisa habis Dinda di ceng-cengin depan orang kantor.


Dinda merasa tersipu sebab sudah lama ga di perlakukan manis seperti ini.


Huft, jangan kaya jablay deh Dinda. Begitu aja udah senang. Ingat! Dulu Ariel manis-manis depan kamu tahunya ninggalin juga kan.


Akhirnya senyum di wajah Dinda mendadak sirna karena buru-buru ia sadar untuk membentengi diri agar tak mudah tersanjung hanya karena di perlakukan manis. Mana tahu Nanda memang selalu seperti ini kepada semua orang.


Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya mobil yang mereka kendarai sampai juga di sebuah restoran dengan menu andalan sei sapi yang begitu terkenal. Mereka turun dari mobil kemudian melangkah masuk dan memesan makanan.


Saat menunggu pesanan, Dinda tiba-tiba saja ingat dengan visi-misinya untuk mencari tahu apakah ia dan Bang Nanda seiman atau tidak.


"Bang, mana KTP aku?" tanya Dinda sebagai kalimat pembukanya.


"Oh, bentar-bentar" Nanda pun merogoh dompet dari kantong jeansnya lalu mengeluarkan KTP Dinda dan mengembalikannya.


"Kenapa ya foto KTP tuh kayak jelek banget" kata Dinda sambil memperhatikan foto dirinya di KTP.

__ADS_1


"Ngga ah, Abang tetep ganteng" ucap Nanda dengan gaya tengilnya.


"Mana sini aku lihat" tantang Dinda sambil menengadahkan tangannya ke hadapan Nanda.


Nanda pun tak keberatan untuk memperlihatkan KTPnya pada Dinda. Meski sebenarnya tujuan Dinda bukan untuk ngecek foto melainkan ngecek yang lain.


Setelah KTP Nanda sudah berpindah ke tangan Dinda, dengan buru-buru ia melihat tulisan "Agama: Islam Status Perkawinan: Belum Kawin".


Alhamdulillah, ucap Dinda dalam hati dan senyum mengembang di bibirnya.


"Wah cakep ya" pujinya saat matanya sudah cukup puas menatap foto Nanda.


"Ya iyalah, ketampanan hakiki ga bisa di tipu-tipu" ujarnya sombong.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya makanan mereka datang juga. Sambil makan sesekali mereka menyambung percakapan sewaktu di mobil tadi hingga akhirnya makanan itu habis tak tersisa.


Setelah itu Nanda mengembalikan Dinda ke tempat semula dimana tadi ia jemput. Rencananya Nanda mau antar Dinda pulang nanti sore, tapi niat itu harus tertunda karena Dinda membawa kendaraannya hari ini. Dan selama ini memang Dinda selalu kemana-mana nyetir sendiri. Ga pernah ada yang antar jemput dia lagi.


Sejak kejadian makan siang itu, hubungan Dinda dan Nanda kian dekat. Mereka bahkan sering mengahabiskan waktu di rumah Nanda bersama Sherly, adik Nanda. Meski hubungannya masih gantung, tapi Dinda senang bisa masuk ke dalam kehidupan 2 orang itu. Sherly adik yang baik, ia termasuk murid pintar di sekolahnya. Hidup mereka sederhana, karena Bang Nanda harus menghemat untuk menyiapkan masa depan yang layak untuk Sherly. Memang selama ini Sherly mendapat beasiswa terus, tapi tetap saja Bang Nanda ingin mendidik adiknya itu agar tidak terlalu boros dalam hal apapun.


Dinda merasa terenyuh setiap kali melihat kasih sayang yang terjalin antara Bang Nanda dan Sherly. Mereka hidup berkecukupan di sebuah rumah sederhana, ada 1 ART yang Bang Nanda pekerjakan untuk mengurusi rumah dan segala kebutuhannya. Sebab Sherly sekolah dan Bang Nanda sibuk bekerja.


Sherly anak yang manis dan mudah akrab juga dengan Dinda, sehingga tak sulit bagi Dinda untuk mengakrabkan diri dengannya. Sherly bahkan tak segan-segan menceritakan bagaimana ketat abangnya itu menjaganya. Sampai-sampai Sherly merasa jengah dan capek untuk meyakinkannya bahwa Sherly mampu menjaga dirinya sendiri.


Dinda yang mendengar keluhan Sherly hanya mampu memberi pengertian pada anak remaja itu bahwa Abangnya sangat menyayanginya dan hanya ia satu-satunya keluarga yang abang miliki. Kalau sampai ia tak menjaga Sherly dengan baik, maka Bang Nanda pasti akan bersedih dan menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Mendengar hal itu Sherly pun akhirnya mengerti alasan mengapa abangnya sangat protektif. Dan Dinda pun akhirnya jadi lega bisa membuat Sherly mengerti.


Dalam hati Dinda, ia sangat bersyukur mengenal Sherly dan Bang Nanda. Rasanya Dinda tak pernah merasa seberguna ini, tapi bersama kakak beradik itu, Dinda menjadi lebih dewasa dan mudah mensyukuri semua hal yang terjadi dalam hidupnya.


__ADS_2