
Pukul 18.00
Ting
Ariel: "Nanti malem kencan yoooukkk, kan mau ngerayain ultah kamu"
Dinda: "Ga usah, emang kamu ga cape ? Seharian udah kerja"
Ariel: "Kan ga tiap hari sayang"
Dinda: "Ya udah, nanti jemput aku kaya biasa ya๐"
Ariel: "Ah jauhhh๐"
Dinda: "Deket, nanti sampe pintu pagar rumah kamu, hadap kiri. Ada pagar putih, dobrak aja"
Ariel: "Dobrak๐๐. Oke oke siap"
Dinda mulai bersiap melaksanakan sholat maghribnya. Setelah itu ia pun turun ke bawah sebentar untuk mengatakan kepada kedua orang tuanya kalau malam ini ia mau makan di luar bersama Ariel.
Namun sebelumnya, Dinda malah mendapatkan kejutan tak terduga dari Mama dan Papanya. Ia mendapat 1 kue tart yang di hias dengan aksesoris yang membentuk seperti pohon pinus. Dan sebuah kotak perhiasan mewah yang tegeletak di samping kue.
"Makasih ya pa, ma. Kuenya bagus bangettt. Aku langsung potong aja ya" pinta Dinda.
"Iya sayang, biar cepet di santap" ucap Papa yang memang pecinta segala macam kue.
Sambil makan kue, Dinda pun bercerita tentang ia yang tadi siang sudah merayakan ultah bersama 2 teman dekatnya di kampus. Lalu pas pulang di lanjut dengan kejutan dari Ariel.
Dan sekarang, malah Ariel ngajakin keluar lagi. Entah apa yang di rencanakan oleh pria itu.
"Kalo kejutan lagi, arrgg udah terlalu banyak hari ini aku makan kejutan" beber Dinda pada orang tuanya.
"Kamu harusnya seneng, berarti banyak yang sayang kamu" cetus mamanya.
"Izin ya ma, pa" pungkas Dinda.
__ADS_1
"Iya, pulang jangan larut" tegas sang Papa yang menaruh rasa percaya penuh pada anak semata wayangnya.
Dinda berlari ke lantai atas setelah mendapat izin dari orang tuanya. Ia mulai mematut dirinya di depan cermin sambil mencocokkan beberapa pakaian casual yang kira-kira belom pernah di pake depan Ariel.
Karena ia selalu merasa pakaiannya itu-itu saja.
Padahal sudah seabrek pakaian tertumpuk di atas tempat tidurnya tapi masih belum juga selesai mencari 1 kemeja pun.
Ting
1 pesan masuk ke ponsel Dinda, yang seketika membuat Dinda kelabakan dan sembarang memakai pakaian yang berada paling dekat dengan posisi berdirinya.
Ariel: "Cintaaaa, aku udah dobrak pagar kamu nih. Kabur bentar boleh? ๐๐"
Dinda: "Kamu tungguin bentar yaa, aku belom apa-apa nih"
Ariel: "Ga usah pake apa-apa juga boleh๐"
Dinda: "Rukiyah dulu gih sana๐๐"
Dinda: "Haha, sorry sorry. Makanya kamu semprot parfum Axe dulu. Ntar aku turunnya ga lewat tangga, tapi langsung jatoh"
Ariel: "Berasa bidadari lu, neng?. Aku udah wangi, tadi udah semprot Baygon 8 kali"
Dinda: "Aku datang.........."
Ariel: "Ga perlu di kasih tau, geplak geplak sendal kamu udah kedengeran"
Dinda dan Ariel kini sudah sama-sama berdiri di teras. Dinda yang semangat sekali merangkul Ariel seketika langsung menyeretnya ke mobil.
"Ayo, jangan bengong aja" kata Dinda mendelik menatap Ariel.
"Kamu cantik banget tiap ketemu. Emang ga bosen jadi cewe cantik?". Gombalan receh Ariel mulai menyeruak ke permukaan.
Dinda yang memang merasa ini kali pertama kencan dengan tampilan agak feminim pun merasa malu. Tapi ia harus tunjukkan pada dunia bahwa ia cocok menggunakan pakaian apa saja.
__ADS_1
Toh jika ia menunjukkan gelagat tidak Pe-De nanti malah jadi bahan olok-olokan Ariel. Sepanjang ia berchatingan ria dengan Ariel, saat itu ia sedang mengcurly bagian bawah rambutnya.
"Menjadi cantik, aku tida bosyan. Tapi mendengar gombalan kamu yang sama tiap harinya, aku sangat bosyaaan" ujar Dinda dengan gaya genitnya.
"Hahaha, iya deh. Nanti aku upgrade lagi biar kamu ga bosan" ledek Ariel.
"Ayo berangkat, eh tapi aku belom sempat minta izin sama papa kamu" sambung Ariel lagi.
"Nanti aja sayang, mereka juga udah tau aku malam ini mau pergi bareng kamu" ucap Dinda yang lebih dulu masuk ke mobil.
"Oh, kamu udah izin?" tanya Ariel lagi sambil nahan pintu mobil yang hendak Dinda tutup.
"Udah sayang. Ya ampun, ini mau berangkat subuh apa gimana?" rewel Dinda yang mulai bete karena Ariel sedari tadi berdiri aja ga masuk-masuk ke mobil.
"Yes, yang marah yang bayar ya? Oke" pekik Ariel lalu masuk ke dalam mobil. Dia yang nanya, dia pula yang jawab.
Dinda pun hanya tersenyum geli. Mengingat Ariel yang akhir tahun nanti akan berusia 25 tahun tapi masih pecicilan.
Meski di depan teman-temannya atau pas lagi di tempat umum, Ariel akan menunjukkan sisi cool dan kalemnya. Tapi beda lagi ceritanya, kalau mereka sedang berdua saja atau lagi di tempat arena bermain. No Jaim Jaim Club.
"Kita makan apa nih?" tanya Dinda selaku tukang traktir dadakan. Tapi gapapa juga sih, toh selama ini jarang banget ia ngeluarin duit buat Ariel. Dan sebagai bentuk menebus rasa bersalahnya, maka Dinda dengan senang hati jika malam ini ia bisa mentraktir Ariel, sang pujaan hatinya yang beberapa waktu memang agak nakal alias suka main serong. Tapi kini mulai berubah dan tak banyak ulah. Ternyata cinta bisa seluar biasa ini ya, kesalahan demi kesalahan yang di buat. Seolah-olah mudah banget termaafkan hanya karena "Cinta". Dan yap, hanya termaafkan, bukan terlupakan.
"Haah?" Pekik Dinda. "Sayang, aku salah ambil clutch. Aku ga bawa uang, gimana dong?" ucap Dinda memelas. Ia tak sengaja menyambar clutch yang memang sewarna dengan yang hendak ia pakai.
"Tapi ini ada, uangnya receh. Udah kucel banget. Aku hitung dulu ya" sambungnya.
"Ga papa sayang, nanti kita makan biar aku aja yang bayar" kata Ariel menenangkan.
"Ga, aku ga mau. Kan aku mau traktir kamu. Yang ultah kan aku" kekeuh Dinda yang tetap melanjutkan menghitung jumlah uang yang berhasil ia temukan dalam clutchnya.
"Iya, iya. Pokonya malam ini temanya "Apa Adanya Kamu Ajalah" kata Ariel menenangkan Dinda yang tersenyum getir sambil merapikan lipatan uang yang lusuh itu. "Aku ga papa sayang, beneran deh. Kamu jangan ga enakan gitu dong sama aku" pungkas Ariel sambil mengusap-usap puncak kepala Dinda.
"Sayang, ini cukup buat kita makan nasi padang" tukas Dinda yang sekarang sudah bisa tersenyum sumringah.
"Ayoo, wah udah lama banget aku ga makan nasi padang. Kayanya di depan ada deh warung nasi padang. Beli situ aja ya" pekik Ariel bahagia. Bukan pura-pura ya, memang beneran bahagia. Soalnya sekelas Ariel emang jarang banget makan nasi padang.
__ADS_1
Setelah membeli 4 bungkus nasi padang, mereka pun kembali kerumah Dinda.