
Keesokan harinya, kedua mempelai yang begadang semalaman kini bangun kesiangan. Mereka terpaksa mandi bareng, terkesan sangat romantis tapi kenyataannya sibuk masing-masing.
Nanda pagi ini sudah harus masuk kerja, ia sengaja tak mengambil cuti banyak-banyak karena ia baru saja pindah kantor 3 minggu yang lalu. Ia juga baru saja naik pangkat, jika keseringan tak masuk menurutnya sangat tidak etis di pandang oleh bawahannya.
Sehabis mereka mandi, Dinda tentu mengutamakan suaminya terlebih dahulu di banding dirinya sendiri. Dengan tetap memakai handuk sebatas paha, ia langsung bergegas menyiapkan perlengkapan sholat dan seragam suaminya beserta pakaian dalamnya.
Nanda pun dengan cepat memakai pakaian yang telah di siapkan istrinya. Pukul 7 pagi, mereka keluar dari kamar lalu menuju meja makan. Keduanya bergabung bersama papa, mama, dan Sherly. Mereka sarapan sambil berbincang santai.
Lalu Nanda pun pamit pada mertua, istri, dan adiknya itu. Dinda menghantarkan suaminya sampai kemobilnya. Setelah kepergian Nanda, Dinda kembali masuk menuju meja makan.
"Din, kamu kan sudah resign sekarang. Apa kamu sudah siap gantiin papa di perusahaan?" Papa yang sudah selesai sarapan lebih dulu, menatap penuh harap pada Dinda yang masih menikmati sarapannya.
"Pa, Dinda bicarain dulu sama Nanda ya. Kalo Nanda ngizinin, Dinda janji bakal secepatnya gantiin papa di perusahaan" ucap Dinda yang menurutnya bekerja di perusahaan milik papa sendiri pasti lebih santai dan ia tetap bisa menjalankan kewajibannya dengan baik.
"Iya, jangan sampe lupa lho" ucap Papa memperingatkan.
"Siap papa" jawab Dinda semangat.
"Ini pa, anak bungsu kita gak di tanyain? Habis lulus sekolah mau kuliah dimana, ambil jurusan apa?" ujar mama yang duduk berdampingan sama Sherly.
"Iya Sher, kamu mau lanjut kemana? Cita-cita kamu apa?" Papa ikut penasaran seperti mama.
Sherly yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia kini ikut mengeluarkan suaranya. "Ga punya cita-cita Pa" ucap Sherly malu-malu. Karena memang ia selama ini menjalani hidupnya dengan mengalir begitu saja. Tidak ada kepikiran sedikit pun untuk berkeinginan menjadi a, b, ataupun c.
"Lho, kok gitu sayang? Kamu sukanya apa?" Mama berusaha menggali informasi terkait hobi Sherly.
__ADS_1
"Main, nongkrong, itu aja Ma" jawab Sherly polos.
"Yeee, kalo itu mah semua orang suka" Dinda menimpali ucapan Sherly sambil tertawa.
Setelah di ledek oleh Dinda, Sherly dan Dinda malah terlibat percekcokan. Mama dan papa bahkan hanya mampu geleng-geleng kepala karena ulah keduanya yang membuat keadaan rumah jadi lebih rame. Mungkin kalau saat ini masih ada Nanda pasti akan lebih heboh lagi karena Nanda akan pusing membela yang mana.
Tak lama Sherly pun berangkat sekolah bersama papa karena tujuan mereka searah, sekolah Sherly tak jauh dari kantor papa. Dinda dirumah bersama mama dan para pekerja di rumahnya yang masih sibuk menata kembali perabotan rumah tangga yang sempat di pakai saat acara resepsi kemarin.
"Din, bosan nih... main yuk" ajak mama.
"Main kemana?" tanya Dinda yang mengolesi kuduknya dengan minyak urut.
"Kerumah depan aja. Ngobrol sama mamanya Ariel atau istrinya Ariel" ajak mama lagi.
"Duh, gak deh ma. Cape banget aku, kaki bengkak karena berdiri kelamaan. Terus leher pegel-pegel" tolak Dinda dengan jujur.
Dinda yang tak tahu mau ngapain pun akhirnya ikut kembali masuk kamar. Ia merebahkan tubuhnya sebentar sampai pegal-pegal di lehernya berkurang.
-
Tak terasa, dalam waktu singkat Dinda tertidur pulas dikamarnya. Nanda pulang pukul 3 sore, ia masuk kedalam kamar dan melihat istrinya tertidur lelap.
"Sayang" Nanda membangunkan Dinda.
"Sayang... Sayang" beberapa kali Nanda membangunkan Dinda sambil menepuk pelan kedua pipinya, akhirnya Dinda pun terbangun.
__ADS_1
"Hah?" Dinda bangun dengan terkejut. Ia pun mengerjapkan matanya beberapa kali barulah bisa tenang.
"Sayang, kamu udah pulang?" tanya Dinda dengan suara khas orang baru bangun tidur.
"Udah, aku bawain kamu bakmi soalnya tadi aku sebelum pulang mampir sama teman makan bakmi, enak Yank makanya sekalian aja beliin buat semuanya" ujar Nanda sambil mengganti pakaiannya.
Dinda pun mencari ponselnya yang sedari tadi tak ia buka-buka. Setelah ketemu, ia kaget sendiri, ternyata sudah tertidur lama.
"Astaghfirullah, belum sholat dzuhur" Dinda pun langsung bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Nanda yang melihat gerak-gerik istrinya hanya diam saja. Ia sudah tahu dari mama mertuanya kalau istrinya itu tidur dari tadi pagi gak bangun-bangun. Mendengar penuturan mertuanya itu, Nanda hanya tersenyum karena tahu alasan mengapa istrinya bisa begitu, karena semalam Dinda yang memang sudah lelah karena resepsi seharian, di tambah lagi Nanda yang mengajaknya bertarung beberapa ronde. Jadi semua ini terjadi sebab ulah Nanda yang tak ada capeknya.
Dinda yang sudah selesai sholat pun menyantap bakmi yang dibelikan suaminya sebagai makan siangnya. Mereka duduk santai berdua di teras depan. Dinda yang asyik menikmati bakmi sedangkan Nanda memainkan game online di ponselnya. Keduanya tak banyak bicara karena Nanda yang lelah baru pulang kerja dan Dinda yang kelaparan sampai terlambat makan siang.
-
Hari demi hari mereka lalui sebagai pasangan yang harmonis. Mereka kembali tinggal di rumah Nanda. Dinda yang telah mendapat izin dari suaminya untuk mengurus perusahaan pun kini telah bekerja selama 1 minggu meggantikan papanya. Ia akan pulang kerumah pukul 3 sore sesuai dengan jam pulang paling cepat suaminya. Lalu ia akan memasak untuk suaminya.
Nanda pun tak pernah kehilangan perhatian dari istrinya walau ia tahu istrinya sudah bekerja dengan keras untuk berbakti pada papanya dengan tanpa mengecewakan dirinya. Nanda bangga memiliki istri seperti Dinda, yang kini mulai satu persatu ia sadari bahwa watak Dinda hampir mirip dengan almarhum ibunya.
Walau Dinda jatuhnya lebih kaya dan lebih segalanya di banding Nanda, namun Dinda tetap menjadi istri yang penurut dan mudah di atur. Semua yang Nanda katakan pasti akan di patuhi oleh Dinda. Tak sulit menjalani hidup berumah tangga dengan Dinda, Nanda pun tak pernah habis kesabaran untuk menyemangati Dinda kalau ia sedang merasa tak cukup baik menjadi istrinya.
Keduanya pun termasuk jarang bertengkar, walau sesekali pasti ada. Namun keduanya juga sepakat untuk menyelasaikan masalah saat itu juga. Nanda juga sebisa mungkin selalu mengimami Dinda sholat, karena menurutnya dengan pangkat setinggi apapun tidak akan ada gunanya kalau sampai menelantarkan istrinya. Terlebih mereka juga sama-sama sibuk, dirumah kalau sudah sama-sama capek jadi jarang ngobrol. Alhamdulillah, masih ada sholat yang menyatukan mereka.
●●●
__ADS_1
Jangan lupa Vote, Like, dan Komen yaa...
Favoritin juga biar gak ketinggalan update terbarunya. Terimakasih:)