(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Masih Mendambanya


__ADS_3

Wahai manusia-manusia kuat (kata Tulus), jangan lupa tap jempol sebelum kelupaan yaa. Dan tinggalkan jejak di kolom komentar biar ada yang bisa aku baca-baca😆


...*...


...*...


...*...


Setelah bimbang dengan nasibnya, kini disinilah Rama berada. Dimalam hari, duduk bersama Nanda di sebuah bangku yang terletak di tepi jalan. Hingar bingar suara kendaraan dan rentetan sahut-menyahut bunyi klakson sudah mewakili betapa kini berkecamuknya pikiran dan hati Rama.


"Tapi dia udah tau kalo lo bakal nikah sama Feza?" tanya Nanda.


"Nggak, dia cuma tahu gue udah lamaran" jawab Rama.


"Lo pernah baca gak? Kalo setiap pasangan yang mau nikah pasti bakal dapat banyak ujian"


"Pernah denger, gak pernah baca" jawab Rama sambil menengadahkan kepalanya menatap langit.


"Serah deh" hardik Nanda. "Nah itu, kini lo lagi ngalamin itu. Lo berada di fase sedang di tes sama Tuhan terus kalo lo gak lulus maka gak jadi nikah dan setan akan senang" sambung Nanda.


"Gue gak bisa bayangin kalo dia tahu siapa yang akan jadi istri gue. Dia pasti nuduh gue yang nggak-nggak di belakang dia selama ini" ujar Rama.


"Lo ngapain peduli itu sih? Fokus aja ngurusin pernikahan. Jalani apa yang sudah ada di depan mata aja, kesalahan yang lalu cukup jadi pelajaran" Nanda jadi sering naik darah akhir-akhir ini karena Rama yang begitu bebal untuk di beri saran. Padahal ia sendiri yang mendatangi Nanda minta masukan tapi justru tidak ada yang ia lakukan.


"Gue merasa bersalah sama Maudy, itu doang. Bukan mau balikan" ucap Rama.


"Terus kalo lo merasa bersalah solusinya apa? Jawaban dari pertanyaan itu kan yang lo mau sekarang?" geram Nanda lagi.


"Hm" jawab Rama sambil menganggukkan kepalanya.


"Nah ya udah, lo cukup menawarkan bantuan dan bantulah seperlunya. Kalo bantuan lo di tolak ya udah. YA UDAH!. Paham kan maksud gue? Jangan memaksakan kehendak lo lagi. Kalo ditolak ya udah. Yang penting lo udah berusaha menebus rasa bersalah lo. Makin dewasa kok makin bego. Awas aja kalo lo kepikiran buat nikahin dia alias poligami" Nanda menceramahi Rama berulang-ulang dan dengan kalimat yang sama. Dan itu masih juga tak dipahaminya. Bagaimana Nanda bisa menceramahi Rama dengan ilmu baru kalau ilmu yang itu-itu saja masih belum paham maksudnya.


"Jadi gue harus gimana?" tanya Rama lagi. Pertanyaan yang terdengar simple namun bisa membuat Nanda naik pitam.


"Noh, terjun di jembatan sambil sebut nama Maudy 3 kali" kata Nanda dengan kesalnya.


"Gue gak gila, gue ini nanya baik-baik. Bukannya kasih masukan malah nyuruh gue mati" cecar Rama menahan kesal.


"Heh Fir'aun. Dari zaman batu juga gue udah kasih lo masukan. Tapi kepala lo nih. Yang kepenuhan apa gimana. Gak nyambung-nyambung" cecar Nanda balik.

__ADS_1


"Pokonya lo harus tetap disini. Jangan biarin gue sendiri, bisa-bisa gue bunuh diri beneran" cegat Rama saat melihat Nanda hendak berdiri.


"Paan, orang gue mau nurunin celana" kata Nanda dan benar saja celana pendek selutut yang ia kenakan sudah terlalu naik karena kelamaan duduk. Dan ia berdiri untuk menurunkan lagi kaki celananya.


"Ternyata mau nikah gak semudah itu ya?" tanya Rama lagi. Memang semenjak ia galau, pembahasan mereka akan selalu berganti-ganti topik dengan dinamis. Dari bahas a ke b, lalu ke c dan akan balik lagi ke a kalau sudah pusing kebanyakan muter.


"Bro" tepuk Nanda pada bahu Rama. Lalu ia tersenyum simpul dan berkata "Nanti setelah menikah akan lebih parah lagi. Siapin mental aja mulai hari ini" kata Nanda dengan wajah yang langsung berubah masam. Sebagai lelaki yang sudah berpengalaman tentu memiliki pengetahuan lebih banyak tentang berumah tangga, maka dari itu sebelum terlambat, ia sudah memperingatkan Rama dari sekarang.


"Capek banget ya bro?" balas Rama dengan memukul pundak Nanda.


"Lumayan bro, harus ekstra sabar. Gimana caranya pulang tepat waktu, duit lancar, perhatian gak berubah. Ketiga itu kuncinya banget sih kalo mau harmonis" ujar Nanda.


Ting


Dinda


Masih inget rumah gak Yank?


"Nih, langsung nongol contohnya" Nanda menunjukkan isi pesan Dinda pada Rama.


"Dulu zaman pacaran, nanyanya kamu kapan pulang? Gue jawab jam sekian, terus dia jawab nanti pulang hati-hati ya. Nah sekarang kita tes ya, gue jawab masih inget aja". Dan Nanda pun mengetikkan balasannya.


Nanda


"Kita tunggu balasannya" ujar Nanda dengan senyum menyeringai yang menandai dirinya akan segera mendapat omelan sang istri. Dan itu pula yang akan ia tunjukkan pada Rama. Bahwa betapa beratnya kehidupan setelah menikah, tapi tetap bahagia. Lebih tepatnya, wajib bahagia. Karena menikah pada prinsip Nanda harus sekali seumur hidup. Apapun yang terjadi, sudah terlanjur. Jika Tuhan kasih ujian sebesar dunia, maka improvisasi saja.


Rama dan Nanda masih asyik menikmati angin sejuk di tepi jalan. Tidak sehat memang, tapi apalah itu artinya jika dengan duduk santai begini membuat hati dan jiwanya terasa lebih baik.


Ting


Dinda


Kalo masih inget, kenapa belom pulang? Udah jam berapa ini.


"Kita bales kita bales" sahut Nanda yang seolah tengah taruhan dengan Rama untuk mendapatkan omelan Dinda.


Nanda


Belum jam 12 sayang, bentar lagi yaa

__ADS_1


"Bener-bener lo Nan. Istrinya malah di ajak kompromi" tegur Rama.


"Biar lo punya gambaran nanti. Kalo setelah nikah, kebebasan kita direnggut. Bukan nakutin, tapi memang begitu" ujar Nanda.


"Jahat lo, kan yang hilang kebebasan bukan cuma lo. Gue rasa, dia juga. Apa selama jadi istri lo Dinda sering kelayapan, girls trip sama temen-temennya?" cecar Rama. Kini gilirannya menceramahi Nanda.


"Ah iya, kok gue baru sadar ya" jawab Nanda yang tersentil hatinya mendengar ucapan Rama barusan.


"Makanya, bersyukur. Masih mending lo di bolehin keluar-keluar begini. Coba di kekang beneran. Boleh keluar buat kerja doang. Mikir" ucap Rama dengan gaya Cak Lontong.


Ting


Dinda


Gak pulang sekalian juga boleh😊


"Busyet, bini gue nyuruh jangan pulang sekalian. Udah ya Ma, gue pulang nih. Lo kalo galau konsultasinya lewat panggilan interaktif aja" ucap Nanda sambil menepuk-nepuk bagian pantatt celananya.


Nanda


"Otw sayang"


"Huft, males banget gue ditinggal gitu aja" kata Rama yang masih enggan berdiri dari tempat duduknya.


"Sana lo pulang juga. Tidur, istirahat, jangan lupa baca doa biar di kasihani Tuhan" ujar Nanda yang masih berdiri di dekatnya.


"Jangankan doa, pancasila sama undang-undang juga gue baca biar gak cuma dikasihani Tuhan tapi juga satu negara" hardik Rama menambahi ucapan Nanda tadi.


"Hahaha, amiiin. Sana-sana gue mau liat lo masuk ke mobil. Mau mastiin aja kalo lo juga pulang" usir Nanda.


"Kenapa gue jadi ikut-ikutan di suruh pulang sih?" elak Rama.


"Udah diem, ayo kita pulang bareng. Lo ga takut di gangguin sama hantu galau?" tanya Nanda yang mengigatkan lagi akan kejadian waktu di Desa M****u dulu.


"Ah sialan lo pakek bawa-bawa itu lagi" Rama pun akhirnya memutuskan ikut pulang iring-iringin mobil dengan Nanda. Padahal lelaki itu sebenarnya masih enggan untuk pulang.


...*...


...*...

__ADS_1


...***...


Bersambung... (Kalo banyak yang like😏)


__ADS_2