
Yang diatas udah di like? kalo belom like dulu. Kebiasaan deh minta diingetin terusss😒
***
Hari berlalu, berita tertangkapnya Romi sudah Nanda kantongi. Ia pun mengajak rekannya yang lain untuk segera pulang. Mereka sudah aman untuk keluar dari hutan.
"Kek, kita pamit ya" ucap Nanda saat mereka sudah siap dengan segala perlengkapan yang dikemas dalam ranselnya.
"Maaf kek kalo kehadiran kami merepotkan kakek. Dan kalo kami ada salah, mohon dimaafin ya kek" ujar Zapata.
Kakek mengusap kedua belah matanya dengan ujung baju. "Jangan bicara seperti itu. Kakek bahagia ada kalian disini, kakek jadi punya teman. Sekarang kalian sudah mau pulang, baik-baik ya kalian dijalan. Semoga selamat sampai tujuan"
"Iya kek, ini juga ada hadiah dari kami semoga cukup untuk bantu memenuhi kebutuhan kakek. Kakek disini jaga diri jaga kesehatan ya kek" ucap Rama dengan mengulurkan sebuah amplop yang berisi uang, sumbangan dari mereka berempat sebagai imbalan atas kebaikan hati kakek karena sudah bersedia menampung mereka selama dihutan.
"Sudah kek, jangan nangis. Berat langkah kami pergi nanti" kata Bibin.
"Tidak ada lagi yang keluyuran pakek daster kalo kamu pergi" hiks hiks
"Bin, kakek mau lo tinggal" ucap Zapata meyakinkan Bibin.
"Ah gak mungkin. Gue mau balik pokonya" ungkap Bibin kesal namun dengan suara pelan.
"Tidak, pulanglah kalian. Pasti keluarga kalian juga sudah rindu" pungkas kakek.
"Terimakasih kek" ucap Nanda lalu menyalami tangan kakek disusul yang lain.
Mereka pun keluar dari hutan dengan berbekal petunjuk jalan dari kakek. Dan jalan ini, lebih dekat untuk keluar hutan dibanding jalan yang waktu itu mereka lewati saat masuk hutan.
"Sampe ke desa, cara kita pulang gimana?" tanya Bibin.
"Ma, lo masih simpan nomernya Mas Rahmat gak?" tanya Nanda.
"Ada-ada. Nanti kartu sim gue pindahin aja ke hp lo" ucap Rama.
"Oke"
****
Sampai di desa, mereka pun menuju warung Bu Heni untuk beristirahat sekaligus makan siang. Bu Heni sempat menyiratkan pandangan aneh saat melihat wajah mereka yang datang dengan peluh keringat.
"Bu, pesan es teh manis 4 sama nasi campurnya 4 juga ya" ujar Nanda yang sedang tidak ingin berbasa-basi.
__ADS_1
"Iya" sahut Bu Heni cepat.
Mereka pun mengisi energi diwarung Bu Heni sambil menunggu Mas Rahmat sampai ke desa. Beruntunglah saat dihubungi Nanda, Mas Rahmat sudah dalam posisi sedang dalam perjalanan ke desa M****u hendak mengantar beberapa orang penumpang.
Selain mengisi energi dengan makanan berat, mereka juga membeli cemilan jajan-jajanan karena sudah lama tidak pernah makan snack lagi semenjak tinggal di hutan.
Borobuddur, salah satu snack yang dimakan Zapata. Walau tidak familiar dengan merknya, tapi ia akui rasanya enak bahkan sampai ia tawarkan pada teman-temannya.
"Berapa nih?" tanya Nanda pengen beli juga.
"Seribu doang" jawab Zapata.
"Borong! Enak banget" ujar Rama.
Akhirnya beneran diborong oleh Nanda dan yang lain. Kehadiran mereka berempat, membuat warung Bu Heni ketiban rejeki. Semua jajanan di warungnya laku keras gara-gara keempat pemuda tersebut.
Sampai akhirnya mobil I*nnova Mas Rahmat berhenti tepat di depan warung Bu Heni. Ia turun karena memang ingin menyambut barang-barang calon penumpangnya itu untuk dimasukkan ke dalam bagasi.
Ada dua kardus berisi jajanan, satu ransel Nanda, dan satu tas Rama yang berisi obat-obatan. Semua itu telah dimasukkan Mas Rahmat ke dalam bagasinya.
Mereka pun mulai melakukan perjalanan pulang. Nanda menghubungi Dinda bahwa dirinya sudah dalam perjalanan pulang. Begitupun Rama, menghubungi sang istri untuk mengabarkan kepulangannya hari ini.
Mereka pun mengantarkan Zapata dan Bibin lebih dulu. Saat mulai masuk ke perkomplekan itu, banyak sekali wartawan dan polisi yang mengerumuni rumah Zapata. Ternyata polisi dan para wartawan tetap ingin meminta penjelasan darinya. Terkait alasan mengapa ia juga berada di desa yang sama dengan Romi kala itu.
Nanda pun mengkode Mas Rahmat untuk kembali melanjutkan perjalanan. Mereka pun berlalu dari sana dan hendak menuju blok yang lain menuju rumah Feza. Ternyata rumah Feza tak jauh berbeda dari rumah Zapata.
Di depan pagar banyak wartawan yang berkerumun. Tapi tidak ada polisi, mungkin papa Feza yang melarang polisi untuk mengerumuni rumahnya.
Rama turun, pintu pagar pun dibuka saat sang satpam dan beberapa ajudan papa Feza melihat kedatangan Rama. Rama pun segera diamankan dari serbuan wartawan. Ia masuk kedalam rumah yang justru sangat sunyi tidak seperti diluar.
***
Nanda melanjutkan perjalanan menuju rumah mertuanya. Ia berharap kondisi rumah mertuanya tidak seperti rumah Zapata dan rumah Feza. Sampai dibelokan rumah mertuanya, sudah tampak berjejer motor-motor dan mobil dengan stiker logo-logo televisi.
Ah, sama aja ternyata.
Nanda membayar biaya perjalanan pada Mas Rahmat sebelum turun dari mobil. Beberapa wartawan hendak menyerbu tapi terhalang beberapa anggota kepolisian yang lebih dulu mengamankan Nanda. Lalu Nanda segera diminta untuk masuk kedalam rumah.
Sampai di dalam rumah, ternyata anggota keluarganya tengah berkumpul menyambut kepulangannya. Ada paman dan Bibi Nanda yang turut hadir dirumah Dinda. Mereka datang sudah jauh-jauh hari dan menginap di rumah Dinda karena kabar yang beredar menyeret nama Nanda tentu membuat mereka ikut cemas.
Nanda terharu karena ternyata kepedulian paman dan bibinya tak berkurang sedikitpun. Meski jarak mereka terbentang jauh tapi bibi dan pamannya sampai rela datang ke Jakarta untuk memastikan semuanya.
__ADS_1
Setelah memeluk paman dan bibinya, ia memeluk papa mertuanya yang sangat baik dan begitu mendukung apapun yang Nanda kerjakan. Ia sangat bersyukur memiliki papa mertua sebaik ini. Lalu ia menyalami mama mertuanya yang cerewet dan tak pernah memperlakukannya buruk. Cerewetnya mama membuat Nanda jadi merasa diperhatikan.
Setelah itu Nanda memeluk Sherly adik kesayangannya. Sherly nangis dalam pelukannya, kesedihannya bukan semata-mata karena masalah yang saat ini mereka hadapi. Tepatnya kesedihan Sherly dikarenakan sudah lama ia tak merasakan peluk hangat sang abang. Tepatnya setelah Nanda menikah, mereka jadi jarang bersua dan jarang berkumpul bersama.
"Jangan nangis, kamu udah gede" ujar Nanda menghapus air mata dipipi adiknya.
Lalu ia beralih pada wanita yang berwajah tenang dan sedang menatapnya. Wanita yang kini tengah mengandung anaknya, berdiri dengan senyum tersimpul dengan tangan memegang perut.
Nanda dengan cepat memeluknya. Rindu sekali pada wanita ini. "Maafin aku yank. Maafin aku".
Hanya itu kata yang mampu ia ucapkan pada Dinda. Sedangkan Dinda mengusap-usap punggungnya dan menyesap aroma tubuh Nanda yang sudah menjadi candu baginya.
"Kenapa minta maaf sedangkan kamu gak salah" ucap Dinda mengurai pelukannya.
"Aku udah ninggalin kamu dan anak kita" toleh Nanda pada perut Dinda yang semakin kencang dan menendang-nendang dirinya kala memeluk Dinda.
"Apa dia semakin nakal?" tanya Nanda dengan tersenyum.
"Ya, persis seperti ayahnya" jawab Dinda.
Mereka pun akhirnya duduk berkumpul di ruang keluarga. Bibi dan paman juga sudah tenang dan mereka berniat akan pulang esok hari.
"Aku baru pulang, kenapa bibi sama paman malah buru-buru mau pergi?" tanya Nanda hendak protes. "Tundalah sebentar, kenapa tidak lusa saja?" bujuk Nanda.
"Iya, kenapa buru-buru sih. Nanda masih rindu, baru juga ketemu sebentar" ujar mama.
"Tapi toko tidak ada yang urus. Si Pardi cuma bersedia jaga sampai besok" jawab paman.
"Tutup satu hari tidak masalah 'kan? Lusa ya Bi pulangnya" bujuk Nanda lagi.
Bibi dan paman saling lihat-lihatan. "Ya sudah, kami akan pulang lusa" jawab paman.
Nanda dan Sherly lega mendengarnya. Paman dan bibi mereka satu ini memang tinggalnya di Bengkulu. Sangat jauh dari Jakarta, dan semenjak Nanda menikah mereka sudah tidak pernah bertemu lagi. Itu sebabnya Nanda sampai membujuk agar bibi dan paman tidak buru-buru pulang ke Bengkulu.
"Maaf ya mas, mbak, kami jadi merepotkan lagi" ujar Bibi sungkan pada mama dan papa.
"Ah tidak masalah. Kita sudah menjadi satu keluarga, mbak gak perlu sungkan. Saya malah senang ngerasa jadi punya teman" ungkap mama senang karena bibi mau menunda kepulangannya.
****
Hari ini Otor lagi baek, mau up 2 episode...
__ADS_1
Sukak kelen?
Btw, adakah yang pernah makan borobudur disini? 😅ðŸ˜