
Sebelum Nanda pulang kerumah mertuanya, ia lebih dulu menyempatkan diri untuk pulang kerumahnya. Ia ingin memeriksa bahwa jangan-jangan Dinda justru sudah berada di rumah mereka.
Namun, yang ia dapati hanya kekosongan. Dinda tak kunjung pulang. Dimana kamu? tanya Nanda dalam hatinya.
Setelah mengambil beberapa celana pendek dan kaos polos, Nanda pun kembali kemobil dan berangkat menuju rumah mertuanya. Mungkin selama Dinda menghilang ia akan menginap dirumah mertuanya saja. Dengan berkumpul disana harapannya bisa saling menguatkan satu sama lain.
Bertepatan pula Jovan sampai dirumahnya, ia berniat mengembalikan mobil Nanda namun Nanda sudah berlalu pergi.
"Semoga kak Dinda cepat ketemu ya Bang, gue akan terus bantu semampu gue" ucap Jovan sambil kembali masuk ke dalam mobil Nanda untuk memarkirkan di rumahnya.
-
Di apartemen
"Feza jangan Feza, aku mohon... Nanda sudah menantikan-nantikan kehadirannya Za, tolong jangan lakukan ini" Dinda menangis meronta-ronta dalam ikatannya memohon agar Feza tidak menyuntikkan obat penggugur kandungan itu padanya.
"Peduli setan, lo sama Nanda ban9sat itu sudah bikin hidup gue menderita. Gue dikirim ke pelosok tanpa uang sepeserpun dari bokap gue. Dan asal lo tahu, gue mengalami pel3cehan disana. Dan kemana gue bisa cerita? Gue gak berani speak up bahkan dengan jabatan yang bokap gue punya, gue tertekan. Gue menderita. Anjin9 lo ya, disaat gue di buang kesana dan lo malah enak-enakan sama Nanda sampe hamil begini. Lo harus merasakan kepedihan yang gue rasa" Feza menahan tangis yang selama ini selalu ia simpan. Mungkin benar kata Rama, dia adalah gadis yang baik, namun karena tidak ada yang tahu beban yang dia pikul sendiri, membuatnya jadi seperti ini.
Banyak orang mungkin akan memberinya saran sebaiknya untuk mengungkapkan, namun tak sedikit orang yang tetap menghina korban-korban yang seperti Feza ini. Di ungkap sekalipun, tetap saja luka batin itu tidak sembuh begitu saja. Trauma juga butuh proses untuk kesembuhannya. Ditambah lagi malu yang ditanggung keluarga, jelas menjadi bahan pertimbangan untuk Feza. Bunuh diri pun sempat terbesit dalam benaknya, namun dendam membuatnya bertahan untuk tidak melakukan hal konyol itu. Apakah ini salah dendam? Sekalipun dendam menyelamatkannya dari niat bunuh diri?
"Za, istighfar... Maafin gue Za, gue gak tahu kalo bokap lo akan setegas itu sama lo. Please Za, jangan lakuin ini sama gue. Gue janji akan bantu lo untuk sembuh dari luka dan trauma lo itu. Gue mohon Za... ampuni gue" Dinda menangis terisak mendengar cerita Feza yang pasti hanya kepada Dinda ia utarakan. Dinda juga takut akan jarum suntik yang bertengger di tangan Feza yang siap untuk menusuk permukaan kulit Dinda. Terus-menerus ia tatap jarum suntik yang sudah terisi cairan obat penggugur kandungan itu. Berharap tak menembus kulitnya.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba Putra alias Rama datang. Melihat keadaan Dinda yang terikat di atas tempat tidur membuat Rama keheranan. Bukankah Feza menculik Dinda untuk menolongnya dari suami kejamnya itu? Lalu apa ini? Dinda justru terikat dan menangis meminta pertolongan padanya.
"Za, mau lo apain dia?" tanya Rama melihat Feza yang memegang jarum suntik ditangannya.
"Dia hamil. Mau gue gugurin kandungannya" jawab Feza dengan santai.
"Lo gila? Ini jelas melanggar aturan Za. Dia hamil ya wajar, ada suaminya. Sekalipun lo bilang kalo suaminya kejam, mungkin aja janin ini yang akan meluluhkan hati suaminya" sangkal Rama yang takut Feza akan terkena masalah jika tidak di hentikan niat buruknya itu.
"Apa?" ucap Dinda. "Jadi dia bilang suami gue kejam? Lo cinta dia tapi lo bilang dia kejam? Kalo dia pria yang kejam kenapa lo bisa cinta?" ucap Dinda menusuk pada Feza.
"Put, ini gak benar. Suami gue sangat-sangat mencintai gue. Mungkin saja malam ini suami gue gak bisa tidur mencari-cari gue yang hilang kalian culik" umpat Dinda pada keduanya.
"Maksudnya? Ini ada apa sih? Sumpah gue gak ngerti. Za, tolong lo jelasin sama gue apa hubungan lo sama dia dan suaminya?" tanya Rama tegas menuntut Feza untuk menceritakan semuanya.
Rama dengan cepat juga menghentikan perbuatan Feza. Ia menjauhkan jarum yang sudah sempat tertancap di permukaan kulit Dinda. Akhirnya bersemburan kemana-mana tetasan obat itu. Rama merasa bersyukur mampu menghalangi perbuatan keji yang menurutnya tak pantas dilakukan oleh seorang dokter seperti Feza. Rama lalu berbalik menatap dan memeriksa keadaan Dinda yang kesakitan karena jarum suntik yang di perebutkan Rama sedikit mengoyak kulit mulusnya. Feza yang tak siap bertengkar dengan Rama memutuskan untuk melarikan diri dari sana.
Dan tak ada yang tahu, bahwa obat penggugur kandungan itu sudah masuk setengah kedalam tubuh Dinda.
Rama melepaskan ikatan yang menjerat tubuh Dinda. Kini Dinda bersikap biasa saja saat Rama memegang tubuhnya. Dinda juga tak mampu lagi protes atau mengelak saat Rama memintanya untuk menaikkan lengan dress rumahan yang ia pakai agar bisa mengobati luka tusukan jarum itu. Karena ia kini sudah tahu bahwa Rama adalah pria yang baik dan juga seorang dokter.
Dengan cermat Rama membersihkan luka itu dan mengobatinya dengan cadangan obat yang tersedia di apartemen Feza.
__ADS_1
"Putra, makasih ya" ucap Feza saat Putra sudah selesai mengobati lengannya.
"Sama-sama. Tapi nama gue bukan Putra, gue Rama" ucap Rama dengan tersenyum lembut. "Lo istirahat ya, gue masih perlu menyadarkan Feza dulu". Rama pun keluar dari kamar Dinda untuk berbicara dengan Feza. Ia ingin menyadarkan perbuatan Feza yang keterlaluan tadi. Tidak hanya itu, tapi juga ingin menyadarkannya untuk jangan lagi mencintai pria yang sudah beristri.
Di dalam kamar, Dinda dapat mendengar keributan antara Feza dan Rama. Rama terus menerus meneriakkan Feza untuk berhenti balas dendam karena balas dendam itu tak ada untungnya bagi Feza. Justru lebih baik Feza berdamai dengan keadaan dan menerima yang telah terjadi. Karena mau sekeras apapun ia berjuang, tetap saja yang telah terjadi tak bisa lagi di ubah.
Dalam hati Dinda, ingin sekali ia meminta Rama untuk berhenti menceramahi Feza, karena Rama tidak tahu hal pahit apa yang sudah Feza alami. Mungkin Feza melakukan ini agar yang terluka tidak hanya dirinya. Apalagi ia tak berani bercerita. Karena mememdam sendiri juga butuh tenaga.
Namun apalah daya, Dinda tak kuasa untuk melerai keduanya. Jangankan untuk melerai, untuk bangkit dari pembaringannya ini pun ia tak kuasa.
Ia juga saat ini sedang kalut memikirkan Nanda, suaminya. Apa yang sedang Nanda lakukan saat ini. Bisakah Nanda tidur nyenyak tanpa dirinya? Apakah Nanda malah tak tidur malam ini karena sibuk mencari dirinya?
"Ya Allah, maafkan aku yang tak mensyukuri pertemuan kami di setiap hari. Hingga kenyataan inilah yang menamparku dan membuatku tersadar. Maafkan kesalahanku ya Allah... Dan cepatlah pertemukan aku dengan suamiku. Aku merindukannya" Dinda menangis sambil menengadahkan tangan, berharap Tuhan akan iba mendengar do'anya dan mengabulkan segala permintaannya.
Dinda dan Nanda tak sadar. Bahwa semesta mendengar do'a keduanya di sepertiga malam ini. Semesta tersenyum mendengar do'a yang di panjatkan dengan tangis yang menderu didalam hati. Ia senang akan tangisan yang penuh harap itu di banding do'a yang dilantunkan cepat-cepat tapi tidak ada kesungguhan di dalamnya.
●●●
Hai, gimana kabar hari ini? Beban hidup makin berkurang atau bertambah? Jangan mengeluh ya🤗, walau kita tak saling kenal tapi kita punya kesamaan... Sama-sama butuh di kuatkan.
-
__ADS_1
Jangan lupa komen, vote, dan like yaa...
Terimakasih:)