
Hari berlalu, kini Nanda dan Dinda tengah ngadem di dalam mobil menunggui Sherly yang hari ini menerima pengumuman kelulusan. Dinda dan Nanda memang sengaja mengantarkan adik mereka satu-satunya itu karena sehabis dari sekolah, mereka akan langsung merayakan kelulusan bersama dengan makan dan nonton di salah satu mall dekat rumah.
Sherly tidak menuntut untuk dirayakan secara mewah, ia cuma mau Nanda dan Dinda ada. Karena kalau hanya ditemani papa mama baginya sudah biasa.
"Udah, aku lulus dengan peringkat terbaik" ujar Sherly dengan tersenyum riang.
"Selamat ya dek" peluk Dinda. Lalu bergantian Nanda memeluknya.
Hari itu mereka benar-benar merayakan secara intimate. Sherly bahkan begitu riang karena hari ini semua kemauannya dituruti. Papa mama membelikannya beberapa setelan pakaian yang bisa dipergunakannya untuk dipakai kuliah.
"Gak usah ma, pakaian kak Dinda juga masih bagus-bagus. Aku bisa pakek itu aja" tolak Sherly.
"Jangan, itu kan modelnya udah jadul. Ini udah dipilihin juga sama abang, modelnya tetap sopan. Mau ya?" bujuk mama.
"Ya udah deh"
Akhirnya sore hari mereka baru pulang kerumah. Sampai dirumah lagi-lagi Sherly mendapat kebahagian. Karena Nanda dan Dinda memberikannya kado. Sudah sejak dua hari yang lalu kado itu mereka sembunyikan agar tidak ketahuan oleh Sherly.
Sherly langsung membuka kado tersebut. Yang ternyata isinya sebuah sling bag dengan warna nude dan juga sebuah sepatu sneakers warna putih dengan merk terkenal. Sherly makin bahagia karena hari ini semua orang betul-betul memanjakannya.
*****
Satu minggu kemudian
Hari ini, Nanda tengah duduk di ruang kerjanya. Permasalah waktu itu, berkat bantuan Aidil yang memberinya jasa kuasa hukum membuat posisinya tetap aman, begitu juga dengan pekerjaannya. Tak terelakkan, tentu saja Nanda juga sempat dipanggil beberapa kali oleh atasannya, namun karena tidak terbukti apa-apa malah Nanda mengungkap kasus Yono yang ternyata banyak ditemukan kejanggalan akhirnya Nanda bisa kembali bekerja dengan tenang.
POV Nanda
Akhirnya lega bisa kembali ke meja ini. Sudah berapa lama aku tidak duduk di ruanganku ini.
Aku edang asik mengamati ruang kerja yang 2 minggu ini tak pernah kumasuki. Ada beberapa berkas yang sudah lama tergeletak namun belum aku sentuh. Saat hendak memeriksanya, tiba-tiba ponsel di kantong celanaku berdering.
"Assalamu'alaikum Ma"
"Wa'alaikumsalam. Kamu kerumah sakit sekarang ya, Dinda mau lahiran. Ini dia udah bukaan 4" sambut mama dengan nada panik.
"Iya ma, aku langsung kesana".
__ADS_1
Dengan langkah tergesa-gesa, aku buru-buru menuju parkiran. Aku hanya sempat berucap izin sekilas pada pak Agus yang kebetulan berpapasan denganku.
Wajah panikku membuat Pak Agus tidak berani bertanya, hanya melongo melihat kepergianku. Setelah aku betul-betul pergi, barulah wajahnya bisa netral kembali.
Aku melajukan mobil dengan kencang. Aku ingin menemani istriku yang tengah berjuang antara hidup dan mati.
Sampai dirumah sakit, Dinda sudah berada diruang tindakan. Terdengar instruksi salah satu bidan yang mengatakan tarik nafas lalu buang.
Aku, selaku suami tentu saja diizinkan masuk ruangan. Saat masuk, pandanganku langsung tertuju pada Dinda yang terbaring lemah. Aku cukup gemetar melihat wajah Dinda memerah menahan sakit. Peluh keringat juga terlihat membasahi keningnya.
Aku menghampiri Dinda lalu mengusap keringatnya perlahan dan memberikan dukungannya pada Dinda. "Yank, bisa yank. Kamu pasti bisa" ucapku ditelinga Dinda.
Aku terus berbisik dzikir ditelinga Dinda. Melihat istriku kesakitan membuat aku terbayang-bayang saat dimana dulu aku dan bapak mengantarkan ibu yang hendak melahirkan Sherly. Ternyata begini paniknya menjadi bapak waktu itu.
Istri kesakitan tapi sebagai suami sama sekali tidak bisa membantu mengurangi rasa sakitnya. Jangankan mengurangi, untuk dibagi saja rasa sakit itu padaku pun tidak bisa.
Melihat Dinda hampir kehabisan nafas untuk melahirkan anak kami kedunia, Aku jadi berpikir dua kali jika ingin menambah anak lagi. Karena melihat Dinda seperti ini, tentu aku sangat kasihan.
"Ayo bu, terus. Ibu harus sesuai instruksi dari saya ya. Tarik nafas... Buang. Ngedennya lewat perut ya bu"
"Yank, aku gak kuat. Emmmhhh... hah"
Dinda kembali mengumpulkan sekuat tenaganya bahkan sampai meremas seprei di samping tubuhnya demi bisa melahirkan anak kami dengan selamat dan ia juga berusaha ngeden sesuai yang diperintahkan bu bidan yang sedari tadi berdiri tepat di ujung kaki Dinda. Memantau jalannya lahiran anak kami.
"Dikit lagi bu, rambutnya sudah kelihatan" ucap bu bidan menyemangati Dinda.
Dinda menarik nafas panjang dan mengumpulkan lagi segenap tenaganya untuk mendorong sang bayi yang terasa sudah berada di jalan lahir. Aku mengipasi Dinda yang kini keningnya sudah dialiri keringat sebesar biji jagung.
Tak lama kemudian terdengarlah suara nyaring yang memenuhi ruangan. "Eaaaak hk hk eaaaakkkk"
"Alhamdulillah. Selamat, bayinya sehat dan legkap ya pak, bu. Jenis kelaminnya laki-laki" ujar sang bidan yang menyambut langsung saat anak kami baru saja lahir.
Aku tak henti-henti berucap syukur. Aku juga menciumi kening Dinda, yang telah berhasil melahirkan anak kami dengan selamat. "Makasih sayang, berkat perjuangan kamu anak kita lahir dengan selamat. Kamu hebat!" ujarku dengan mata yang berair. Aku mudah sekali menangis sejak Dinda hamil dulu, apakah ini hanya sugesti aku juga tidak tahu.
Dinda hanya mampu mengangguk, tenaganya belum kembali pulih. Aku tahu ia pasti juga merasa lega kala telinganya mendengar jerit tangis anak kami, sekaligus juga lemah karena seluruh tenaganya habis saat proses melahirkan tadi.
Anak kami diserahkan pada Dinda, di posisikan tertelungkup di dada Dinda agar ia mendapatkan ASI yang sangat bergizi kala pertama kali keluar dan dengan warna yang kekuningan. Anak kami mengecap-ngecap, kala mulutnya menemukan sumber makanannya.
__ADS_1
Setelah diberi ASI, bayi yang tubuhnya berwarna kemerahan itu diserahkan padaku untuk di adzani. Aku tentu sudah siap, bahkan baju yang kupakai sudah terlepas. Aku menyambut bayi kami kedalam dekapanku dan menimangnya sebentar lalu mengadzaninya.
"Selamat datang kedunia nak. Mulai detik ini, namamu Umar Al-Farizi. Akan kami panggil Umar. Jadilah anak yang sholeh sesuai namamu" Cup, aku mengecup singkat di puncak kepala anakku.
Lalu aku menyerahkan lagi anak kami pada bundanya. Karena sepertinya anak kami ini sangat kelaparan, ditambah lagi tangisannya yang melengking membuat aku jadi khawatir.
Bayi kami disusui lagi sebentar oleh Dinda sebelum diserahkan ke bidan untuk dilakukan observasi. Nanti Dinda juga akan dipindahkan keruang inap begitu juga bayi kami, setelah di observasi akan diantarkan keruang inap bundanya.
Sampai diruang inap, ternyata mama sudah menyusun berbagai keperluan bayi di lemari ruang VVIP itu. Ternyata saat Dinda masih proses lahiran tadi, mama sempat mengurus administrasi terkait kamar yang akan dipesan. Dikamar itu juga sudah ada papa dan Sherly.
"Selamat datang ayah bundanya Umar" sambut Sherly kala brankar Dinda sampai diruang inap. Sherly tahu jika ponakannya laki-laki karena sempat menemani Dinda cek kandungan saat aku pergi ke desa waktu itu. Bahkan sampai minta bocoran nama calon bayi kami dengan berjanji pada Dinda untuk tidak akan membocorkannya pada papa dan mama. Akhirnya dengan mudah, istriku memberitahukannya. Dasar! Padahal dia memintaku untuk simpan rapat-rapat sampai Umar lahir, ternyata sendirinya yang gampang bocor.
"Shhhttt, Kak Dinda lagi istirahat. Capek banget tadi waktu lahiran, sampe habis tenaganya" ujarku pada semua orang diruangan itu.
"Umarnya mana?" tanya Sherly masih tidak sabaran.
"Lagi di observasi katanya" sahutku sambil bermain ponsel.
Aku hendak mengabari Rama kalau saat ini anak kami telah lahir kedunia. Tentu saja kabar bahagia itu tidak bisa aku sembunyikan, kepada Lita dan teman yang lain pun aku beritahukan.
POV Nanda end*
Berjuta ucapan selamat diterima oleh pasangan ayah bunda tersebut. Kiriman bunga berdatangan dihari itu juga.
Rama juga datang menjenguk sendirian tanpa sang istri, karena masih diperjalanan menuju rumah sakit. Zapata dan Bibin mengabari akan menjenguk, tapi belum tahu kapan. Karena keduanya sedang berada diluar kota.
"Umay, sini sama tante cerly" ujar Sherly yang begitu antusias kala Umay membuka matanya. Tapi hanya sebentar, karena bayi mungil itu lagi-lagi terlelap.
"Wajar, diusia segitu bayi memang kerjaannya tidur mulu. Tunggulah beberapa bulan lagi, tidur kalian yang terganggu" ujar Rama dengan terkekeh kearah Dinda dan Nanda.
****
Tamat
Terimakasih untuk seluruh dukungan kalian yang bertubi-tubi aku terima.
Maaf jika endingnya tak seberapa, aku hanya pemula dan perlu banyak belajar. Ide dikepala masih ada, tapi tak sempat tertuang.
__ADS_1
Jika masih diperkenankan untuk menulis, sampai jumpa di novel selanjutnya....
Terimakasih👧👧