
Terimaksih atas dukungannya, jangan kendor ya buat kasih vote dan hadiahnya😊❣
***
Jakarta
Seluruh pesawat tempur milik TNI mulai diterbangkan. Beratus-ratus anggota Kepolisian juga sudah dalam perjalanan menuju Desa M****u setelah mendapati info kemungkinan keberadaan RMJ dari mantan asisten pribadinya.
*
Desa M****u
Romi bersiap menaiki helikopternya yang akan membawanya menuju pelabuhan di Batam. Setelah itu ia akan pergi melarikan diri ke Singapura. Ia yakin rekan sesama mafia di Jakarta akan melindungi dirinya dan tidak akan membocorkan kejahatannya yang lain.
Ia juga sudah menitipkan kepada seluruh anak buahnya untuk tetap mencari orang yang sudah merekam video penyiksaannya walau ia sudah tertangkap sekalipun. Dendamnya begitu kuat pada orang yang telah membuatnya dalam bahaya.
*
Di dalam mobil
Nanda menghentikan laju mobilnya. Ia ingin memastikan dan menyadarkan Bibin. Nanda mendudukkan posisi Bibin dengan tepat. Ia mencoba memberi pertolongan pertama pada Bibin namun Bibin masih tidak membuka kedua matanya.
"Bin, lo harus sadar. Kita sebentar lagi akan pulang. Bin, gue gak mau jadi sasaran Zapata. Lo harus sadar Bin, Zapata bakal nuduh gue yang nggak-nggak kalo liat lo masih kaya gini. Biiiinnnn!" Nanda mulai histeris kala Bibin mengeluarkan busa dari mulutnya.
Ia melepas baju yang dikenakan Bibin untuk memeriksa kondisi tubuhnya. Nanda takut, jika semalam Bibin mendapat kekerasan saat dirinya tertahan di gudang.
Setelah di cek, nihil. Tidak ada bekas kekerasan ditubuhnya. Lalu kenapa bisa begini? Apakah Bibin punya gejala asma?
Mobil Zapata berbalik kebelakang saat mobil Nanda tak kunjung menyusul mereka. Takut terjadi apa-apa, Zapata pun melaju dengan cepat.
Mobil Nanda terlihat diam ditempat. Zapata menghentikan mobilnya berhadap-hadapan dengan mobil yang dikendarai Nanda.
Ia dan Rama turun lalu Nanda yang melihat kehadiran Zapata dan Rama dengan segera memberi tahu. "Cepat sini! Bibin sekarat" ucapnya lantang.
__ADS_1
Zapata dan Rama pun berlari tergesa segera membuka pintu penumpang bagian depan. "Kenapa bisa sampai begini?" tanya Zapata tak kalah panik dari Nanda.
"Gue juga gak tahu sebabnya. Yang jelas dia sempat sesak nafas terus hilang kesadaran. Gue sempat bantu tekan dadanya tapi yang keluar malah busa. Gue juga udah cek tubuhnya, gak ada tanda apa-apa" ungkap Nanda.
"Bentar-bentar, gue cek dulu" ucap Rama. Zapata pun bergeser dari tempatnya berdiri dan membiarkan Rama melakukan tugasnya.
Rama memeriksa pembuluh darah di pergelangan tangan Bibin. Ia juga memeriksa mata dan rongga mulut Bibin.
"Diagnosa gue, ini tanda-tanda keracunan" ungkap Rama.
"Terus kita harus gimana?" tanya Zapata.
"Kita harus segera ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Karena kalau tidak segera di bawa kerumah sakit, takutnya Bibin gak tertolong" ujar Rama.
"Lebih baik kita cepat menuju rumah sakit di kabupaten. Kira-kira 1 setengah jam lagi kita sampai" usul Nanda.
Zapata dan Rama mengangguk setuju.
"Gue akan ikut mobil Nanda. Buat kasih pertolongan pertama" Rama pun kembali ke mobil Zapata guna mengambil tas yang berisi peralatan kesehatan yang memang selalu ia bawa kemana-mana. Lalu kembali lagi ke mobil Nanda.
Nafas buatan juga Rama berikan secara berkala pada Bibin. Namun, tetap tak ada tanda-tanda membaik dari Bibin.
Di depan, Nanda terus melajukan mobil secara cepat. Mereka tidak ada yang berbicara, semua fokus dengan tugas masing-masing.
Ponsel Rama berdering. Menampilkan nama istrinya. Sebenarnya disituasi seperti sekarang ini, ia belum mau berbicara dengan istrinya. Takut kepanikannya terdeteksi oleh sang istri dan membuat Feza akan ikut-ikutan panik.
"Ma, angkat aja. Mana tau penting" ujar Nanda.
"Halo Za" sapa Rama di telepon.
"Mas, ada kabar buruk. Tapi jangan kasih tau Nanda dulu ya, kalo Yono meninggal. Tadi pagi ditemukan bersimbah darah di dalam selnya. Sampe sekarang belum diketahui penyebab kematiannya. Mas, kalo Nanda nanti dapet kabar Yono udah gak ada. Bilang aja itu bohong ya, bilang aja itu tipuan komplotan Romi biar kalian gak ngelanjutin ini semua. Karena kabar itu sudah pasti bukan dari Dinda langsung" kata Feza tenang.
"Iya" jawab Rama singkat. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Masalah di depan mata saja belum selesai sudah nambah masalah baru.
__ADS_1
"Mas, kamu baik-baik aja kan?" tanya Feza lembut. Tidak ada nada kekhawatiran disana. Feza memang wanita kuat, sangat pandai mengatur perasaannya setelah kejadian kelam yang membuatnya jadi lebih dewasa.
"Iya... Aku baik-baik aja. Pasti sebentar lagi aku pulang" jawab Rama. Membuat Feza tersenyum meski matanya tiba-tiba berembun. Ia segera mengusapnya.
"Iya aku percaya kamu akan pulang cepat. Aku dan anak kita akan menunggumu dirumah, eh di apartemen"
"Anak kita?" tanya Rama.
"Iya, pagi ini aku sengaja ngabisin stok testpack yang udah lama banget aku beli. Iseng ngecek, dan ternyata hasilnya positif"
Rama mengusap wajahnya. Harapan untuk segera memiliki momongan akhirnya kini terkabul. Ia mengucap syukur dalam hati dan melempar sejenak tatapannya pada Bibin. Busa yang sempat keluar sekali, kini keluar lagi untuk yang kedua kali. Rama cemas, ditambah lagi cairan infus terlihat cepat sekali berkurang.
"Za, aku dipanggil sama Zapata. Udah dulu ya, nanti aku telpon kamu. Salam buat calon anak kita ya" Rama pun menutup panggilan teleponnya.
Ia dengan cepat mengelap busa-busa yang keluar dari mulut Bibin. Kepala Bibin juga ia posisikan di pahanya agar lebih tinggi dari kaki.
Rama memeriksa bagian punggung Bibin. Terlihat permukaan kulitnya kebiruan disana. Itu artinya peredaran darah mulai bermasalah.
"Nanda, kita harus lebih cepat Nan. Kondisi Bibin semakin memburuk" lapor Rama.
Nanda hanya diam dan melajukan mobilnya dengan lebih cepat lagi. Sedangkan diatas mereka, pesawat tempur milik TNI memantau mobil Nanda dan Zapata yang melaju diatas rata-rata. Hal ini tentu membuat mereka curiga.
Mereka mengira itu adalah mobil yang membawa Romi menuju pelariannya. Sehingga mereka dengan sengaja seolah berpatroli di atas mobil Nanda dan Zapata sampai Zapata menyadari ada sesuatu yang berputar-putar di udara. Yang berhasil mencuri perhatiannya.
Zapata tahu itu adalah pesawat tempur milik TNI yang memang resmi milik negara. Tapi disaat seperti ini, ia tidak bisa percaya dengan mudah pada atribut ataupun apa-apa yang menyangkut penggerak negara. Karena menganggap semua pasti antek-anteknya Romi. Hal itu pulalah yang membuat Zapata melajukan mobilnya semakin cepat dan masuk ke hutan yang lebih rimbun. Keluar dari jalur yang seharusnya membawa mereka menuju rumah sakit.
"Lho? Kenapa Zapata belok kesini?" ucap Nanda.
"Ada apa Nan?" tanya Rama di belakang.
"Zapata belok masuk hutan. Sedangkan rumah sakit harusnya lurus"
****
__ADS_1
Vote dan boom like dulu baru otor lanjutin😏