
Dinda dan Ayu menyusuri parkiran mobil sambil bercanda-canda dan sesekali mata mereka jelalatan lihat kiri-kanan karena memang saat itu jam istirahat sudah hampir selesai, jadi mereka kerap kali berpapasan dengan para karyawan yang baru saja kembali dan memarkirkan kendaraan mereka dari pergi makan siang.
Banyak karyawan laki-laki yang mereka lewati dengan perawakan yang sangat menggugah selera.
Selera untuk mendekati. Hanya saja, dari ke semua lelaki yang berpapasan dengan mereka, semua cuek-cuek saja.
Padahal 2 perempuan yang mereka lewati ini memiliki paras di atas rata-rata, herannya mereka berdua tidak di lirik sama sekali.
"Sombong banget karyawan laki lu. Perasaan dari tadi ga ada tuh yang senyum sama gua" gerutu Dinda yang sedari tadi berharap ada 1 atau 2 orang yang menegurnya.
"Lagian lu ke sini bentukannya kaya anak SMA, mana maulah mereka ramah tamah sama lu. Deketin anak di bawah umur" celetuk Ayu yang membuat Dinda menarik rambutnya ke belakang.
"Terus kalo gua mau jemput lu di sini harus dandan dulu ? Biar kelihatan dewasa ?" tanya Dinda.
"Ga juga, tapi lu pake pakaian formal ala ala mau ngelamar kerja aja" sahut Ayu serius.
"Ini lu serius apa becanda ya ? Kok gue ga tahu ?" sengit Dinda yang menatap Ayu sambil tetap jalan menuju mobil.
"Hahaha, udah mulai ketipu nih gaya-gayanya" balas Ayu menatap balik Dinda.
"Arggg, noh nyetir" balas Dinda memberi kunci mobil seraya mendorong Ayu menuju pintu bagian kemudi.
"Eh lu, gue bini CEO berani-beraninya nyuruh gue jadi sopir" teriak Dinda namun hanya di balas senyum mengejek oleh Dinda.
Kemudian mereka masuk ke dalam mobil dengan Ayu yang terpaksa menyetir untuk Dinda hari itu.
__ADS_1
"Kita ke restoran jepang tempat biasa ya, gue kangen sushinya" perintah Dinda yang langsung di angguki Ayu.
Selama di perjalanan, mereka tak banyak bicara, Ayu fokus menyetir sedangkan Dinda mengetik pesan yang entah di tujukan ke siapa. Hingga tiba-tiba Dinda teringat sesuatu.
"Eh, tadi ada si DPR ganteng itu ya di kantor suami lo ?" tanya Dinda kepo.
"Siapa ? Zapata maksud lo ?" sahut Dinda sekenanya.
"Hm, gue tadi lihat dia keluar dari lift di lobby" tutur Dinda.
"Dia sahabat laki gue, mereka biasa ngobrol di kantor laki gue, kadang rame-rame kadang cuma berdua" beber Ayu sedikit tentang pak DPR itu.
"Seriusan dia DPR ? Gila banget yaa, masih muda tapi udah berani banget terjun ke politik. Apa ga takut di hujat ?" tutur Dinda yang tak mengerti cara pikir si Zapata itu.
"Dimana-mana orang ingin punya nama baik. Zapata malah menjelekkan namanya sendiri. Secara, politik itu kan "panas" ya. Sebaik apa pun pejabatnya pasti bakal jelek juga di mata rakyat. Lebih benernya lagi, mana ada sih pejabat yang bersih. Paling belom ketahuan aja" sambung Dinda lagi.
"Oooohhh" sahut Dinda singkat.
"By the way, lo gimana sama Ariel. Seminggu ini masih lo cuekin ?" tanya Ayu yang kepo terhadap hubungan Dinda dan Ariel.
"Masih, luka yang lama aja belom sembuh dia udah buat luka baru. Ga gampang gue maafin dia. Apalagi buat percaya" tutur Dinda seperti enggan bahas Ariel.
"Apa lo ga mau ngobrol dari hati ke hati gitu sama dia ? Mungkin aja dia begitu karena lo ?" ucap Dinda memberi saran.
"Gue mau, tapi yang namanya ketemu gue udah pasti luluh sama dia. Gue tuh kaya ga bisa nolak pesona dia. Gue takut gue kemakan lagi sama bacotan dia yang ga tau sumbernya dari hati apa ngga. Gue takut baku hantam sama dia" tutur Dinda mengungkapkan kegelisahannya setelah kejadian itu.
__ADS_1
"Lo benci sama dia ?" tanya Ayu lagi.
"Iya, tapi sebenarnya udah sedikit lebih baik sih. Ga sebenci waktu gue baru aja mergokin chat dia sama cewe itu" beber Dinda tentang perasaannya.
"Wajar kok. Tapi saran gue, lebih baik lo kalo memang mau udahan aja sama Ariel. Putusnya dengan cara baik-baik. Biar jalan kalian kedepannya sama-sama enak. Ga ada sangkut paut sama masa lalu lagi. Ga ada kebencian yang terpendam lagi" tutur Ayu yang peduli dengan kisah percintaan Dinda dan Ariel.
"Kalo lo tanya perasaan gue sekarang gimana ? Gue juga bingung. Di satu sisi, gue seperti sadar sama kesalahan gue yang mana itu buat Ariel ga nyaman sama gue dan mencari pelarian sama cewe lain di luaran sana. Tapi, di satu sisi gue ngerasa kalo Ariel seolah ga mau di salahin atas kesalahannya dia. Justru dia kaya melempar kesalahannya ke gue" cecar Dinda yang mulai terbawa emosi saat membeberkan kelakuan Ariel yang sengaja tak di ceritakannya ke Ayu saat mereka ngobrol di telepon waktu itu.
"Tenang... tenang, lo kalo mau nangis lagi juga ga papa, jangan di tahan. Lepasin aja, gue merasa jadi temen yang berguna buat lo kalo kaya gini" tutur Ayu sambil mengelus pundak Dinda.
"Ga mau nangis, mau makan. Udah dari tadi gue bilang gue lapar" sungut Dinda yang menunjukkan ekspresi antara kesal sama Ariel dan dongkol sama Ayu. "Seneng lu ? malah ketawa-ketawa aja" ucap Dinda lagi.
"Muka lu merah banget, kiyowo (lucu). Kaya babi pink" ujar Ayu sambil kembali tertawa.
"Lu nyetir lama banget, perasaan dari tadi ga nyampe-nyampe" ketus Dinda yang merasa Ayu nyetir pelan banget.
"Hehe, semenjak 2 bulan sebelum gue nikah sama Aidil, Gue udah ga pernah nyetir lagi karena di kasih sopir pribadi sama papa mertua gue. Makanya gue rada-rada canggung di suruh nyetir lagi" tutur Ayu yang membuat Dinda seperti ingin meninjunya.
"Sumpah gue lapar. Turun lo" titah Dinda yang membuat Ayu terperangah melihat ke arahnya.
"Lo turun, kita tukar posisi. Bisa mati sia-sia gue kalo begini urusannya" sambung Dinda lagi.
Ayu tertawa tertahan, karena ia sempat mengira kalo Dinda akan menurunkannya di jalan. Lalu sepersekian detik kemudian ia pun segera menghentikan laju kendaraannya dan turun bertukar posisi sama Dinda.
"Niat hati, curhat di tempat elit. Sambil nongki-nongki cantik. Eh boro-boro, yang ada masuk ke tempat elitnya muka gue udah merah-merah kaya kepiting rebus. Ga kepikiran lagi mau foto-foto cans (cantik)" gerutu Dinda yang kini berganti menjadi sopir.
__ADS_1
"Ampun ampun, biar gue traktir deh" ucap Ayu sambil memeriksa tasnya karena takut ponsel dan dompetnya ketinggalan.