
Sambil nahan ketawa, Dinda menjawab pertanyaan Nanda.
"Gak tahu sayang, coba kamu cari dulu. Aku lagi mandi" jawab Dinda sambil di acungi jempol oleh Lita.
"Kalo gitu aku keluar dulu ya, aku udah beli sarapan. Kamu makan aja duluan" ujar Nanda lalu meletakkan kantong kresek itu di meja kecil samping kulkas lalu berlalu pergi untuk mencari Lita.
Sedangkan di dalam kamar mandi, 2 wanita itu rada takut kalau Nanda justru melapor pada pihak keamanan rumah sakit. Kan bisa gempar kalo sudah keburu melibatkan pihak rumah sakit. Apalagi kalau ternyata ini cuma prank buat ngerjain Nanda.
"Duh, gimana nih?" tanya Dinda takut kalau sesuatu yang mereka khawatirkan terjadi. Pasti Nanda bisa ngamuk.
"Udah, santai aja. Nanda tuh orangnya ga ngambil keputusan secepet itu. Dia pasti cuma keliling doang cari aku" kata Lita enteng.
Dinda dan Lita pun keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi karena mereka tidak mungkin berganti pakaian di kamar, bisa-bisa kepergok Nanda. Lita pun dengan santai berbaring kembali di ranjang pasien. Sedangkan Dinda memoleskan bedak tipis-tipis di wajahnya sambil memikirkan bagaimana nanti reaksi Nanda kalau sampai dia tahu bahwa Lita tadi sedang mandi bersamanya.
Karena Nanda tak kunjung kembali ke kamar Lita, akhirnya Dinda dan Lita sarapan bersama karena sarapan Lita memang sudah di antar tepat pukul 7. Tiba-tiba saja, saat mereka berdua sedang asik makan. Nanda membuka pintu begitu saja karena merasa usaha pencariannya tak berhasil.
Lalu wajah Nanda melongo mendapati Lita yang tengah makan bersama Dinda.
"Ta, lo kemana aja? Gue cari-cari lo keliling ga ketemu. Lo ngerjain gue? Kelewatan banget sih" Nanda menahan amarahnya karena ia benar-benar khawatir pada Lita, terlebih Lita di kota ini tidak hanya sebagai sahabatnya melainkan juga tanggung jawabnya. Nanda takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Lita. Tapi melihat kenyataan di depan matanya, membuat Nanda merasa di permainkan oleh Lita.
__ADS_1
Dinda bahkan sampai merasa takut dengan raut wajah Nanda yang memerah karena Nanda saat ini sedang marah.
"Bukan ide gue. Ini ide Dinda"
****, bisa-bisanya dia bilang ide gue sedangkan ini ide bersama.
Lita menjawab dengan tanpa rasa bersalah dan melemparkan kesalahan begitu saja pada Dinda. Dinda hanya mampu diam mematung dan menggerutu di dalam hati. Jangankan mengeluarkan 1 kalimat, 1 kata saja tak sanggup keluar dari mulutnya. Tapi melihat bagaimana sikap Lita saat ini, Dinda tak boleh diam saja.
"Kamu tahu 'kan kalo aku udah kehilangan 3 orang yang aku sayang. Aku bener-bener takut kalo ada apa-apa sama Lita. Becanda kamu kelewatan. Kamu ga tahu gimana jantung aku saat aku lihat tempat tidur ini kosong" Nanda menatap asing pada Dinda. Seolah Dinda bukan lagi orang yang ia kenal. Mata Dinda pun berkaca-kaca karena ia tak menyangka bahwa Nanda akan percaya dengan ucapan Lita tanpa bertanya kepadanya terlebih dahulu.
Dinda pun bangkit dan berjalan mendekat ke arah Nanda yang masih setia berdiri di dekat pintu.
"Dan aku ga tahu kalo kamu punya trauma" Dinda berusaha meraih tangan Nanda karena sedari tadi ia melihat Nanda dengan raut menakutkan. Ia berusaha melunakkan hati Nanda dan mencoba mencairkan suasana tegang pagi ini.
Dengan kasar Nanda menepis tangan Dinda. "Dengar ya, aku ga suka kamu mainin kaya gini. Aku kira kamu udah cukup kenal sifat aku. Ternyata nggak! Lain kali di pikir dulu kalo mau ngerjain orang. Aku bahkan lebih sayang Lita di banding kamu". Karena terbawa emosi, Nanda mengucapkan 1 kalimat fatal yang ia sendiri tidak menyangka akan berucap demikian. Dan jelas, Dinda sangat kecewa mendengar ucapan Nanda barusan. Dinda percaya dengan ucapan Nanda karena Nanda sendirilah yang mengakuinya.
Dinda menampar pipinya sendiri beberapa kali. Seolah apa yang saat ini ia dengar ingin ia tampik. Namun bagaimana menampiknya jika kalimat itu adalah pengakuan Nanda sendiri. Nanda yang sadar dengan ucapan yang tak sesuai dengan isi hatinya berusaha menenangkan Dinda dari kekecawaannya. Bahkan Nanda menarik Dinda ke dalam pelukannya biar Dinda bisa menilai kebenarannya sendiri. Dinda yang seolah tak bertenaga hanya mampu mengikuti perintah Nanda yang menariknya kedalam pelukan. Dinda menangis sesenggukan di dada bidang itu. Dinda menyentuh dada itu, seolah tepat di jantung hati itu tidak pernah ada dirinya. Dinda kembali menangis lebih deras meski sedari tadi sudah ia tahan.
Dinda melepas pelukan itu, ia mendongakkan wajahnya menatap Nanda. Ia menahan sesenggukan tangisnya.
__ADS_1
"Ja... Jadi kamu lebih sayang Lita daripada aku?"
"Nggak, aku salah sebut. Aku kebawa emosi" jawab Nanda penuh penyesalan.
"Tapi aku percaya" ujar Dinda pelan. "Disini memang gak ada aku" tunjuknya pada dada kiri Nanda.
"Aku marah sama kamu makanya aku bisa ngomong gitu". Kini giliran Nanda yang harus melembutkan nada bicaranya. Karena ia tak tega melihat Dinda yang bersedih untuk kesekian kali karena ulahnya. "Maaf juga karena tadi aku ga minta penjelasan kamu dulu dan percaya gitu aja sama Lita" Nanda menatap dalam pada manik mata Dinda. Ia yakin saat ini Dinda pasti sudah mengerti dengan maksudnya. "Sekarang biar aku yang marahin Lita" sambungnya.
Nanda berjalan menuju Lita yang berbaring menghadap jendela karena ia menghindari perdebatan Nanda dan Dinda yang sebenarnya terjadi karena ulahnya.
"Ta, apa maksud lo melempar kesalahan ke Dinda doang?". Lita diam, ia tak menggubris sedikitpun pertanyaan Nanda. Nanda pun tak tinggal diam, ia menaikkan intonasinya. "Lo tau gue punya trauma, tapi lo salahin Dinda yang ga tau apa-apa. Dan barusan lo dengar sendiri gue sama Dinda hampir putus gara-gara lo. Makin lama sifat lo makin gak gue kenali. Apa jangan-jangan keadaan lo ini juga lo manfaatin buat bisa menjauhkan gue dari Dinda?" Nanda mendekat ke tempat tidur, berniat untuk meraih wajah Lita yang sedari tadi enggan menatapnya. Namun hal itu buru-buru Dinda cegah, karena ia tak mau melihat Nanda berbuat lebih jauh.
"Kamu anterin aku ke kantor aja, Lita butuh istirahat" ucap Dinda yang tak membiarkan Nanda menceramahi Lita, ia masih punya rasa kasihan terhadap Lita yang masih sakit.
"Kamu masih mau ngantor?" tanya Nanda sambil memperhatikan Dinda dari atas sampai bawah.
"Ga jadi deh, tampilan aku udah kacau banget" ujar Dinda sambil melangkah gontai menuju sofa.
Nanda menyusulnya sambil membawakan sisa sarapan Dinda yang sempat Dinda makan tadi. "Nih, makan lagi. Aku suapin ya...". Tak ada penolakan, Nanda menyuapi Dinda yang makan dengan lahap.
__ADS_1
Setelah hari ini, Nanda akan menjauhkan Dinda dan Lita sejauh mungkin. Karena keduanya memang tak pernah bisa disatukan.