(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Tsahhhhh


__ADS_3

Yang masih bocil mohon jangan memaksakan diri untuk membaca part ini, karena mengandung unsur 21++. Kalau masih bebal tetap baca, aku gak tanggung jawab😋😒


...*...


...**...


...***...


Feza menutup mata tak percaya dengan apa yang ia lihat. Setelah tadi sempat melihat Rama buka pakaian, sekarang lihat Rama tengah menggosok-gosokkan alat vitalnya di hadapan Feza dengan posisi menyamping menghadap closet.


Feza sampai membuang muka demi agar dirinya tidak melihat pemandangan itu. Dan saat dirinya membuang muka ke samping kanan disitu ada kaca besar, Feza mulai menyadari sesuatu. Bahwa Rama pasti telah melihat dirinya berganti pakaian menggunakan lingerie karena ada kaca itu.


Bingung saat ini harus melakukan apa, akhirnya Feza menobatkan dirinya sebagai istri yang baik. Karena sebenarnya Rama juga sudah puas melihat kemolekan tubuh polosnya. Ia pun membuang selimut di atas tubuhnya dan beranjak menyusul Rama masuk ke dalam kamar mandi.


Feza memeluk Rama dari belakang lalu memutar tubuh Rama untuk menghadapnya. "Sekarang sudah ada aku, istri kamu. Jangan main sendirian lagi" ujar Feza.


Merasa dirinya mendapat izin dari Feza. Tak ingin membuang-buang waktu lagi, dengan cepat Rama mengangkat tubuh Feza yang begitu menggoda itu menuju tempat tidur. Ia juga mampu dengan cepat membuka lingerie yang tengah Feza kenakan. Rama memang sedang begitu ingin melakukannya saat ini.


"Kalo sakit bilang ya" kata Rama sebelum menghubungkan kabelnya pada colokan listrik milik Feza.


Saat kabel itu masuk perlahan-lahan, Feza melenguh tertahan. Tiba-tiba saja kenangan pahit saat menjadi korban peleecehan kembali terngiang-ngiang dalam ingatannya.


Air mata keluar dengan perlahan menuju ke telinga diiringi dengan nafas yang tersengal-sengal akibat hentakan Rama yang kini semakin lama semakin di percepat. Feza sampai tak menikmati sensasi yang sedang Rama ciptakan atas tubuhnya karena terbayang kisah kelam itu.


Rama yang baru menyadari bahwa kini Feza tengah menangis, ia pun menghentikan permainannya.


"Sakit ya? Maaf Za maaf. Kamu kenapa gak bilang?" Rama menghapus air mata Feza. Lalu saat dirinya hendak menanggalkan tubuh Feza.


Feza menarik tubuhnya. "Bukan sakit karena permainan kamu, aku sakit karena teringat kasus yang aku alami". Lalu Feza mendekap tubuh Rama. Ia merasa malu pada Rama. Tak nyaman dengan tatapan Rama yang begitu teduh padanya. Dan Feza kembali menangis lagi di dada Rama.


"Za, kamu tenang ya. Aku gak akan maksa kalo kamu memang belum siap" ucap Rama dengan mengusap-usap pundak polos Feza.


Feza melepas pelukannya. Ia menatap suaminya yang masih berada di atas tubuhnya. "Kapan siapnya kalo aku gak pernah usaha buat menyembuhkan diri aku sendiri".


Sesaat mereka saling tatap, lalu Feza mengangguk tanda bahwa dirinya kembali siap untuk melayani sang suami. Kemudian Rama kembali melanjutkan permainan yang sempat terhenti.


Keduanya melenguh menikmati permainan yang kini terasa jauh lebih baik. Feza tak tinggal diam, ia mengusap area-area sensitiff Rama dengan tangan nakalnya. Membuat Rama seketika memejamkan mata menikmati sensasinya.

__ADS_1


Feza juga dengan terampil menguncupkan beberapa kali colokan listriknya sehingga Rama merasakan kabelnya seperti di remass-remass dalam colokan listrik milik Feza.


Setelah Rama dan Feza mengerang dengan cukup panjang, semua mayonaise lezat milik Rama tertumpah ruah memenuhi colokan Feza. Rama yang kesadarannya sudah pulih, langsung dengan cepat meraih kotak tisu di atas nakas untuk mengelap area kewanitaann Feza yang penuh dengan mayonaisenya.


Feza yang masih lemah dan terpejam, merasakan ada yang mengusap-usap area sensitifnya pun terkejut. Ia duduk dan merapatkan kedua kakinya.


"Belum selesai, sini aku lap lagi" Rama memintanya membuka lebar-lebar kedua kakinya seperti tadi. Namun, Feza menolak.


"Udah gakpapa, cepetan sini. Aku sekalian mau cek ada lecetnya gak gara-gara hentakan aku tadi"


Akhirnya Feza pun menuruti perintah Rama. Ia mengizinkan Rama mengamati permukaan sampai ke seisi dalam area kewanitaannnya.


"Za, boleh nanya gak?" tanya Rama yang masih berada di ujung kaki Feza dengan kegiatannya.


"Nanya apa?" tanya Feza balik.


"Tadi, kok rasanya kayak di remas-remas. Kenapa bisa gitu ya?"


"Kamu nanya apa sih? Aku gak ngerti" elak Feza. Dirinya masih malu untuk membahas hal-hal yang berbau mesum meski dengan suaminya sendiri.


"Yang tadi, kan sebenarnya aku belum mau keluar lho Za. Tapi gara-gara sensasi di remas-remas itu eh jadi mau keluar" Rama dengan santainya bisa menceritakan perihal kegiatan intimmnya dengan Feza. Ia tak sadar kini wajah Feza sudah merona mendengar review servisannya dari sang suami.


"Udah-udah" Rama pun merapatkan kedua kaki Feza kembali. Lalu ia berbaring disisi Feza dan mulai memejamkan matanya.


"Ma, jangan tidur. Bersih-bersih dulu gih" titah Feza sebelum Rama benar-benar tertidur lelap.


"Bareng yuk" ajak Rama lalu ia meraih kedua tangan Feza yang terangkat ke atas minta di bangunkan.


Keduanya pun akhirnya harus mandi lagi. Setelah mandi Feza menelpon mamanya lagi untuk di antarkan mukena sebab dirinya dan suami belum melaksanakan sholat dzuhur.


Tak berapa lama, pintu pun di ketuk. Rama yang telah berpakaian pun berjalan membukakan pintu.


"Eh Din, cari Feza?" tanya Rama.


"Ah nggak, ini di minta sama tante buat kasih ke Feza. Udah ya, gue turun lagi" Dinda pun dengan cepat berlalu dari sana. Ia mengerti bahwa pengantin baru biasanya ingin selalu berdua terus. Seperti pengalamannya dulu.


Rama pun menutup pintu dan menyerahkan tote bag itu pada Feza. "Dinda yang anter?" tanya Feza karena ia merasa tadi mendengar suara Dinda.

__ADS_1


"Iya" jawab Rama sambil memperhatikan istrinya memakai mukena.


"Kok gak disuruh masuk? Kan kita punya ruang tamu disini" ucap Feza protes karena sahabatnya tak di tawarkan masuk oleh sang suami.


"Dindanya sendiri yang buru-buru pergi" jawab Rama lalu bersiap mengimami sholat berjamaah untuk kali pertamanya hanya berdua dengan Feza.


Setelah sholat keduanya juga minta diantarkan makan siang ke kamar. Sebab Feza tak memiliki pakaian yang layak untuk ia gunakan keluar kamar.


Saat ini saja, dirinya hanya menggunakan lingerie sebagai dalaman dan luarannya ia pakai kemeja milik Rama yang panjangnya sampai ke paha. Begini aja udah jauh lebih baik daripada cuma pakek lingerie, ucap Feza membatin.


Mereka pun makan siang di dalam kamar. Keduanya juga menonton tv untuk memberi suasana yang lebih ramai di kamar itu.


Setelah bosan menonton TV, keduanya kini benar-benar menikmati momen istirahat dengan tenang. Pasangan pengantin baru itu kini tengah tidur siang bersama. Saking serunya tadi menikmati waktu berdua, mereka juga tak ada yang ingat dengan ponsel masing-masing.


Sedangkan di bawah, Nanda tengah kesal pada Rama. Sebab Rama sempat menjanjikan akan memberikan satu kamar khusus juga untuk dirinya. Bahkan lengkap dengan dekorasi seperti kamar pengantin.


Tapi setelah Nanda bertanya pada pihak hotel, katanya tidak ada satu kamar pun yang di pesan Rama atas nama Nanda atau Dinda.


Ni orang bener-bener ya, gue udah dengerin dia curhat dari pagi ke pagi. Terus dia malah enak-enakan, sampe lupa janji. Gue kan juga mau. Emangnya cuma penganten baru doang yang bisa.


Nanda pun akhirnya mengajak Dinda buru-buru pulang. Tapi Dinda masih bujuk Sherly untuk di ajak pulang karena adiknya itu kalau sudah ketemu teman seru jadi susah diajak pulang. Karena kini ia sudah berteman dekat dengan Puput, adik tirinya Rama sampai-sampai Nanda ikut turun tangan membujuknya pulang.


"Kan nanti juga kita balik lagi kesini" bujuk Nanda pada Sherly.


"Iya, tapi setengah jam lagi ya pulangnya" tawar Sherly.


"Kalo gitu nanti malam gak usah ikut kesini lagi" tegas Nanda mengultimatum adiknya.


"Iya iya pulang sekarang".


Akhirnya mereka pun pulang dan Nanda bisa mengulang adegan malam pertamanya bersama Dinda di rumah.


...*...


...**...


...***...

__ADS_1


Gimana? Apakah masih ada bocil-bocil yang keras kepala tetap baca sampai akhir? Komen dibawah⤵


__ADS_2