
"Baiklah kalau itu mau kamu... Aku bakal jujur tentang semua yang aku rasain selama kita kenal" ucap Nanda lalu menepikan mobilnya ke sisi jalan.
"Aku selama ini ga bermaksud mau mempermainkan perasaan kamu. Aku cuma mau mengulur waktu biar aku makin mengenal kamu lebih dalam. Aku suka kamu dari lama. Aku yang saat itu ngumpul sama teman-teman aku di taman, terus lihat ada cewek yang kelihatannya lagi galau, dan aku ga berani sama sekali buat deketin kamu. Karena aku sama sekali belum berkeinginan pengen serius sama siapapun karena aku sendiri masih pengen liat Sherly sukses. Tapi pesona kamu bener-bener mempengaruhi alam bawah sadar aku" ucap Nanda dengan menatap dalam pada bola mata Dinda.
"Setelah kejadian itu, aku jadi sering ke taman demi bisa ketemu kamu. Tapi ternyata beberapa kali aku kesana, kita ga ketemu. Hingga akhirnya aku menyerah, dan memutuskan untuk fokus ke hal lain aja sehingga aku punya kesibukan biar ga curi-curi waktu buat ke taman lagi. Dan pada akhirnya gara-gara nemenin Sherly ke taman waktu itu, aku jadi ketemu kamu dan bisa kenalan sama kamu" terang Nanda yang tak bisa menyembunyikan rona kebahagiaan di wajahnya.
"Din, maukah kamu mendampingi aku mulai dari hari ini sampai tua nanti? Untuk pernikahan, aku belum bisa pastikan kapan. Tapi aku serius mau jalani hari sama kamu. Kita nikmatin masa-masa pacaran kita dulu, sampai nanti aku sudah memiliki uang buat meminta kamu ke orang tua kamu. Kamu sendiri tahu kan? Kehidupan aku sama Sherly gimana. Dan kamu anak orang kaya, aku ga mau membuat kamu menikah sama aku tapi standar kehidupan kamu jadi menurun" ucap Nanda mencoba memberi pengertian dengan menatap lembut pada Dinda.
"Kamu jangan diam aja. Gimana? Jawab dong" timpal Nanda sambil mengelus dadanya. Karena mau bagaimana pun ia tetap gelisah takut-takut Dinda akan menolak keseriusannya.
"Iya, aku mau. Tapi ada syaratnya" jawab Dinda dengan senang hati.
"Apa syaratnya?" tanya Nanda yang penasaran.
"Begini, aku mengerti kalo kamu sama Lita itu udah sahabatan lama. Tapi, mau bagaimana pun Lita itu adalah lawan jenis kamu. Dan aku ga mau kalau kamu terlalu dekat sama dia. Aku ga membatasi kalian kok, tapi aku cuma minta jangan ada kontak fisik. Aku cemburu kalo kamu peluk-peluk dia" ungkap Dinda berterus terang. Ia berusaha memahami dan menerima persahabatan yang terjalin di antara Lita dan Nanda yang sudah terjalin jauh sebelum kehadiran Dinda di hidup Nanda. Ia juga mencoba memahami perasaan Lita yang sangat menyayangi Nanda. Oleh karena itu, Dinda tidak akan berusaha menguasai Nanda sepenuhnya. Nanda tetap boleh sahabatan dengan Lita meski Dinda sendiri tahu kalau Lita tak menyukainya.
__ADS_1
Tapi kalau Dinda merebut Nanda 100 persen dari Lita, tentu hal itu membuat Lita makin tak menyukainya. Di sinilah letak kedewasaan Dinda di uji. Dan Dinda benar-benar menempatkan dirinya di sisi tengah. Tak kejam terhadap Lita dan tak egois terhadap Nanda.
"Oke, aku setuju. Lagian kan selama ini Lita mulu yang nyosor meluk aku duluan. Aku juga risih sebenarnya, tapi Lita di bilangin berkali-kali juga ga ngerti. Makanya aku diem aja" terang Nanda yang membuat Dinda semakin yakin kalau Nanda memang pria yang baik dan setia.
Dinda pun tersenyum mendengar penuturan Nanda, ternyata perasaannya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Nanda sangat berhati-hati sekali dalam mengutarakan perasaannya. Semua harus ia pikirkan matang-matang. Sosok seperti inilah yang sangat di butuhkan Dinda.
Nanda mendekat ke arah Dinda, ia sudah cemas takut Nanda akan melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Namun ternyata apa yang Dinda pikirkan itu salah. Nanda justru memeluk tubuhnya erat. Rasa sayang Nanda yang begitu besar, menyatu dengan degup jantung Dinda. Pelukan itu membuat perasaan mereka kian terikat dan memperkuat rasa saling membutuhkan di antara mereka.
Dinda nyaman sekali berada di pelukan Nanda, pelukan ini pun terasa berbeda dengan pelukan yang dulu selalu Ariel lakukan. Karena, pelukan Ariel selalu bersumber dari masalah. Sedangkan yang ini, bersumber dari kebahagiaan.
Mereka baru melepaskan pelukannya saat terdengar klakson mobil yang melintas. Nanda pun langsung melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dinda harus segera ia antarkan pulang.
Nanda pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia merasa bersalah karena membawa Dinda terlalu lama. Apa nanti yang orang tua Dinda pikirkan tentangnya kalau Dinda pulang sampai larut malam saat pergi dengannya.
"Kamu kenapa ngebut begini, sih?" tanya Dinda karena Nanda sudah berubah jadi seorang pembalap dadakan.
__ADS_1
"Kamu harus buru-buru pulang, ini udah jam 10" jawab Nanda sambil tetap memperhatikan jalanan.
Dinda pun mengusap lengan Nanda penuh kasih sayang, memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja tidak seperti yang ada dalam perkiraan Nanda.
"Kamu kan pernah bilang, kalo kamu selama ini ga pernah pulang malam lewat dari jam 10" ucap Nanda dengan raut wajah serius tapi tetap ga noleh kiri-kanan. Fokusnya hanya ke jalanan di depan.
"Iya, tapi aku jadi takut. Kita bukannya sampe ke rumah tapi malah rumah sakit" ucap Dinda berusaha menguasai diri Nanda agar segera sadar bahwa lebih baik pelan tapi selamat daripada membahayakan nyawa sendiri di jalan.
Nanda tak menjawab sepatah katapun. Namun ia langsung menurunkan tingkat kecepatan mobilnya. Dinda bersyukur, ternyata Nanda sangat mudah di nasehati.
Jadi pengen cium tapi ga berani hehe, ucap Dinda dalam hati. Karena ia ingin sekali memberi reward buat Nanda karena Nanda sudah menyenangkan hatinya malam ini.
Tak lama, mereka sudah sampai di halaman rumah Dinda. Nanda pun ikut turun karena ingin meminta maaf pada orang tua Dinda karena telah membawa Dinda kerumahnya cukup lama.
Setelah bertemu dengan mama Dinda dan menyampaikan permintaan maafnya, hati Nanda jadi lega. Karena mama Dinda memaafkannya dan sama sekali tidak marah padanya. Mama Dinda juga menyampaikan kalau papa Dinda sudah istirahat di kamar. Tanpa berlama-lama, akhirnya Nanda pun pamit untuk kembali kerumahnya.
__ADS_1
Setelah kepergian Nanda, Dinda menjadi rajin senyum. Ia berpikir untuk tak mau terlalu cepat menceritakan apa yang terjadi di antara dirinya dan Nanda malam ini kepada orang tuanya dan juga pada Ayu. Sebab Dinda ingin hal ini menjadi kejutan buat mereka sampai suatu saat nanti Dinda dan Nanda mau menikah barulah ia akan mengungkap semuanya.