
Jangan lupa tap jempolnya yaaππ
...Happy readingπππ...
π
π
Sepulang dari mengantarkan adiknya, kini Nanda dan Dinda juga baru sampai dan tengah berganti pakaian. Nanda tampak sedang bahagia hari ini, karena ia bersenandung tak jelas dan menggoda-goda istrinya.
"Apa sih, kek orang gila aja" kesal Dinda yang pinggangnya selalu di tusuk-tusuk Nanda.
"Yank" goda Nanda lagi.
"Hm" sahut Dinda mulai capek dengan tingkah suaminya.
"Yank"
"Jangan mancing emosi deh Yank, mana hari lagi panas banget gini" kesal Dinda.
"Jangan marah-marah, nanti gak aku kasih jatahh" lanjut Nanda menggoda istrinya.
"Santuy, paling kamu sendiri nanti yang ngerengek-rengek minta jatahh" balas Dinda lalu dirinya pergi menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Nanda pun menyusul istrinya. Lalu mereka sholat berjama'ah di kamar. Setelah sholat Nanda masih terus saja membuat istrinya kesal.
"Yank, aku tau kamu tuh kalo kaya gini pasti karena ada sesuatu" ucap Dinda dengan memicingkan mata mencurigai suaminya.
"Apa? Hayoo tebak" jawab Nanda dengan menoel-noel pinggang istrinya sampai Dinda beringsut dan kabur dari hadapan suaminya.
"Eh mau lari kemana kamu? Aku kejar ni" Nanda pun mengejar istrinya yang kini sudah diruang tamu dan berlindung di balik kursi tamu.
"Hayoo, mau lari kemana?" Nanda hendak menerkam Dinda namun kalah cepat karena Dinda kini sudah lari lagi menuju kamar.
"Yank, kalo dapet kamu harus ngikutin kata-kata aku ya" kata Nanda sambil berjalan menuju kamar.
"Siap" jawab Dinda.
Nanda pun akhirnya main kejar-kejaran dengan istrinya. Setelah nafas Dinda mulai ngos-ngosan, larinya pun ikut melemah. Dan dengan mudah tertangkap oleh Nanda.
"Dapet! Kamu harus ikutin kata-kata aku" ujar Nanda sambil melingkarkan tangannya mengurung Dinda.
"Iya" jawab Dinda dengan keringat yang membasahi keningnya.
"Buka baju" titah Nanda.
"Buka baju" ulang Dinda.
__ADS_1
"Oke" ucap Nanda patuh dan langsung menanggalkan semua pakaiannya termasuk pakaian dalamnya.
"Oke" ulang Dinda. Namun tidak melakukan apa-apa.
"Lho, kok kamu gak buka?" tanya Nanda.
"Lho, kok kamu gak buka?" ulang Dinda dengan tetap slay.
"Yank" ancam Nanda dengan telunjuk yang kini telah siap untuk menusuk pinggang Dinda lagi.
Dinda pun tertawa. "Kan kamu sendiri yang bilang kalo ketangkep, hukumannya aku harus ikutin kata kamu kan? Ya udah, salah aku dimana?" Dinda pun semakin terkikik geli saat suaminya mulai terlihat bodoh.
"Berani ya kamu ngerjain aku" Nanda berjalan mendekatkan dirinya bahkan sampai menempelkan dadanya ke dadaa Dinda. Lalu di tekan-tekan perlahan.
"Kamu gak ngantuk apa? Gak mau tidur siang?" tanya Dinda untuk menyelamatkan diri.
"Gak mau. Aku gak mau kalah dari Rama" ucapnya sambil menjamah setiap inci tubuh Dinda dengan tangannya. Tak ketinggalan pastinya, bagian tubuh Dinda yang menurutnya terfavorit. Yakni da*da dan pan*tat.
"Ada-ada aja. Tapi kan kamu memang tak terkalahkan" Dinda menautkan bibirnya pada bibir Nanda. Dengan semangat Nanda membalas lumattan demi lumatann sampai nafas keduanya habis.
Tapi Nanda dengan cepat menyerangnya kembali. Menciumi ceruk leher Dinda dan terus menjelajah sampai ke bawah. Tak lupa, ia melepas paksa pakaian yang melekat di tubuh Dinda sampai polos.
Dinda menjambak rambut suaminya tanpa sadar karena kenikmatan yang begitu hebat dan mendorongnya lagi sampai lidah Nanda benar-benar masuk maksimal.
Telah puas dengan posisi berdiri, mereka pun pindah ke tempat tidur. Nanda tetap melanjutkan aktivitas lidahnya di sarang milik Dinda.
Dengan cepat Dinda berpindah ke atas tubuh Nanda lalu membalas perbuatan suaminya. Nanda pun tersenyum sekilas lalu melenguh karena kini ia mengakui kehebatan istrinya di ranjangg.
Setelah membuat Nanda melayang, Dinda bangkit dan melumatt kembali bibir Nanda. Saat Nanda mulai beringsut, ia kembali merangsangg suaminya. Terus saja mempermainkan senjata Nanda sampai wajah Nanda memerah karena tak sabaran.
Lalu untuk yang terakhir kali, Dinda serius menenggelamkan senjata Nanda di sarang tersembunyi miliknya. Dengan nafas yang terengah-engah dan keringat yang membasahi tubuh. Akhirnya Nanda bisa melepaskan peluru kentalnya ke dalam sarang hangat nan legit milik sang istri.
Setelah denyut dari bagian bawahnya tak terasa lagi, Dinda pun menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh sang suami. Ia menutup seluruh tubuh dan wajahnya dengan selimut. Tak menyangka bahwa dirinya kini semakin liar.
Nanda memeluknya dari luar selimut dan berbisik, "Lagi".
"Aaa, aku cape yank" gemas Dinda karena Nanda memang tak kenal lelah kalau soal bercin*ta.
"Kalo cape, kamu diem aja. Biar aku yang bekerja" Nanda pun sudah siap ancang-ancang mau menjama*h tubuh Dinda lagi.
Kriiiing kriiiing kriiiing
Dering ponselnya berbunyi saat hendak menelusuri tubuh Dinda. "Ah, ganggu aja". Walau ngedumel tapi ia tetap beranjak dari tempat tidur dan mencari ponselnya.
"Hm" sahut Nanda saat menerima panggilan telepon itu.
"Emangnya lo aja yang bisa?"
__ADS_1
"Gue gak mau kalah"
"Nanti malam gue gak bisa dateng, mau lanjut ronde ke-10" ucap Nanda dengan jahilnya berkedip pada Dinda.
"Biar dapet kembar 3" jawab Nanda sembarangan. Begitu panggilan berakhir, dirinya kembali menghampiri sang istri dan mengecup puncak kepala Dinda.
"Mau dilanjut gak?" tanya Nanda karena permainan sempat terhenti takut istrinya kehilangan selera.
"Aku ngantuk Yank, bisa gak kita bersih-bersih dulu terus tidur siang. Demi apapun ini badan kaya habis di ganyang singa" gerutu Dinda karena saat ini dirinya memang tengah kelelahan dan mengantuk.
"Maksud kamu, aku singanya?" canda Nanda karena bahagia melihat istrinya marah-marah.
"Serah deh" Dinda pun bersih-bersih diri lalu diikuti sang suami. Sehabis bersih-bersih merekapun bersiap untuk tidur siang.
Biar kamu sering marah-marah, aku tetap cinta. Nanda pun tersenyum lalu... Cup, ia menciumi pipi sang istri sebelum dirinya ikut terlelap.
Di Hotel Marsutta
Rama dan Feza sudah terbangun dari tidurnya sejak setengah jam lalu. Kini mereka tengah berbincang tanpa beranjak dari tempat tidur dan Rama sempat menghubungi Nanda. Lalu tiba-tiba mereka mendengar pintu kamar ada yang mengetuk. Rama bangkit untuk membuka pintu.
"Lho ma, cari Feza?" ternyata itu adalah mamanya Feza.
"Nggak, ini mama baru nemu kopernya Feza. Makanya mama anterin ke sini. Gak bermaksud buat ganggu kalian kok" goda mertuanya itu.
"Hehe, gak gitu ma. Emh, mari masuk ma" tawar Rama pada sang mertua.
"Gak usah, di bawah keluarga kamu masih banyak yang belum mama sapa. Biar mama langsung ke bawah aja" tolaknya.
"Oh gitu. Tapi makasih ya ma udah mau repot-repot anterin kesini"
"Iya, udah sana masuk temenin istri kamu" Lalu mama Feza pun berlalu menuju lift yang akan membawanya kembali ke bawah.
Rama pun kembali masuk ke kamar dengan menarik sebuah koper. Terlihat Feza baru selesai mencuci muka.
"Siapa yang anter?" tanya Feza.
"Mama. Katanya baru nemu"
"Aaah, sini-sini aku mau cari pakaian ganti" ucap Feza meminta Rama membawakan koper padanya.
"Gak usah, pakek itu aja" cegah Rama agar istrinya tetap dengan lingerie merah menantang itu.
*
*
*
__ADS_1
Gak semangat nulis, pembacanya minim terus gak pernah ada yang komen lagiπ·