(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Aku Milikmu


__ADS_3

Setelah makan malam usai, Nanda membantu Dinda untuk memasukkan pakaiannya ke koper. Dinda tak membawa semua pakaiannya, hanya beberapa saja sebab ia akan kembali lagi hari minggu.


"Sayang, kamu seharian gak ada muji aku" ucap Nanda saat teringat bahwa tadi pagi ia melakukan perawatan wajah ekstra.


"Aku aja ga berani lihat kamu. Aku malu banget tadi Yank, soalnya ga pede sama dandanan" ujar Dinda jujur.


"Bukan pas akad aja, sekarang aku gimana?" tanya Nanda setengah memaksa, membuat Dinda menghentikan aktifitasnya lalu memperhatikan Nanda dengan seksama.


"Ganteng, kaya biasanya" ucap Dinda datar. Karena tidak ada satu perbedaan yang ia temui di wajah Nanda.


"Padahal aku perawatan lho Yank tadi pagi" ujar Nanda sambil memperhatikan wajahnya di cermin meja rias milik Dinda.


"Masa?" tanya Dinda tidak percaya.


"Iya, muka aku di otak-otik sama Sherly" ucap Nanda.


"Hahaha, aku kira kamu ke salon sayang"


"Gaklah, malu. Emangnya aku cowok apaan?" tukas Nanda.


"Ya udah ih, buruan bawa kopernya ke mobil. Terus pamitan" ucap Dinda karena sudah selesai memasukkan barang-barangnya.


Mereka berdua pun beriringan menuruni tangga. Dinda menuju ruang tengah, sedangkan Nanda yang daritadi mengangkat koper Dinda berjalan menuju mobilnya. Setelah memasukkan koper itu kedalam bagasi, Nanda kembali masuk menuju ruang tengah untuk berpamitan pada keluarga besar Dinda yang kini juga menjadi keluarga besarnya.


"Om, Tante, kita pamit dulu ya malam ini mau pulang kerumah aku. Tapi minggu kita balik kesini lagi" ujar Nanda yang langsung menyalami semua yang ada di ruang tengah. Dinda ikut menyalami semuanya. Tak lupa, kedua mertuanya yang kini jadi orang tuanya juga ia salami. Bahkan mereka sempat berpelukan singkat.


"Jangan lupa, hari minggu kesini ya" ucap Mama pada pengantin baru itu.


"Iya dong ma, masa lupa. Gimana bisa resepsi kalo pengantinnya ga ada" ucap Dinda sewot karena mana mungkin mereka berdua lupa dengan hari spesial mereka.

__ADS_1


Setelah itu keduanya pun menuju mobil dan orang tua mereka menghantarkan sampai teras. Dinda dan Nanda sudah bersiap pergi. Nanda mengklakson kedua orangtuanya itu lalu menjalankan mobil menuju rumah tempat tinggalnya yang kini juga akan menjadi rumah Dinda.


"Daaa Ma Pa, kita pergi dulu" ucap Dinda melalui jendela yang masih ia biarkan terbuka saat mobil sudah berjalan pelan meninggalkan halaman rumah itu.


Tak lama, perjalanan mereka pun sampai ke tempat tujuan. Nanda menurunkan koper milik Dinda lalu ia memberikan kunci rumahnya biar Dinda yang membukakan.


Setelah pintu terbuka Dinda menatap tercengang. Karena ternyata bentuk rumah yang di dalam sudah banyak yang berubah. Sedangkan diluar, hanya catnya saja yang di perbarui.


"Selamat datang di rumah kita" sapa Nanda hangat. Seolah ia menyambut kehadiran Dinda dari dalam rumah.


Mereka pun berpelukan. Dinda sangat bahagia karena Nanda benar-benar melakukan banyak hal demi membahagiakannya.


"Sayang, kenapa di ubah?" tanya Dinda saat pelukan mereka sudah terlepas.


"Menurut aku, kemaren ruang tengahnya kalo kebanyakan furniture jadi sempit. Nah aku beli aja furniture yang lebih simple dan multifungsi. Jadi keliatan lebih luas kan sekarang" terang Nanda yang juga mengubah posisi kursi ruang tengah agar terlihat lebih luas.


"Hmmm, oke juga kinerja kamu" puji Dinda lalu mendapat cubitan di hidungnya.


"Iya, aku udah ga sabar pengen liat. Soalnya kemaren di perbesar kan?" tanya Dinda tak sabar. Ia pun berjalan mendahului Nanda.


"Taraaaa" ucap Nanda dari belakang saat Dinda membuka pintu kamarnya.


Kamar mereka yang dulunya adalah kamar Nanda. Oleh Nanda, kamar itu di perluas. Lalu di tambahkan sebuah toilet dalam kamarnya. Toiletnya pun dibuat sedemikian rupa menyerupai bentuk toilet yang ada di hotel dengan type kamar yang paling mewah. Tentu saja Nanda mengeluarkan biaya yang besar untuk pembangunan ini. Namun, uang tak berarti apa-apa baginya di banding mendapatkan Dinda dan mertua rasa orangtua kandung. Di tambah lagi, keluarga besar yang jahilnya na'udzubillah. Meski begitu, Nanda sangat bahagia.


Dulu ia kehilangan orang tuanya, tapi kini ia menemukan keluarga besarnya.


"Makasih sayang. Aku jadi terharu. Kamu sebegitunya membahagiakan aku sedangkan aku masih ga tau cara bahagiain kamu" ucap Dinda yang menangis tersedu-sedu.


"Ssttt, kamu tahu cara bahagiain aku. Cuman kamunya aja yang gak nyadar" bujuk Nanda dengan lembut. Lalu menarik Dinda dalam pelukannya.

__ADS_1


"Kamu habis uang berapa Yank? Aku ganti ya uang kamu. Biar kesannya aku juga punya andil dalam rumah tangga kita" ucap Dinda yang kini sudah berhenti menangis.


"Ck, ada-ada aja. Aku bahagia sayang kalo bisa buat kamu sampe nangis bahagia kaya gini. Uang yang aku keluarin itu ga seberapa. Tetap lebih berharga kamu di banding semuanya". Nanda memperhatikan mata yang memerah dan basah itu. Tanpa menunggu lama, ia mendaratkan sebuah ciuman lembut di kening Dinda. Ia melihat Dinda yang menatapnya balik, Nanda pun mencium bibir Dinda. Ciuman lembut yang hanya menempelkan bibir keduanya tanpa masuk ke dalam mu1ut. Sebab keduanya memang sama-sama belum berpengalaman.


"Aku gak akan maksa buat kamu ngelayanin aku malam ini, sayang. Aku sanggup nunggu sampai kamu siap" ucap Nanda dengan lembut. Suami yang sangat pengertian.


"Aku siap kok. Karena mau sekarang atau nanti, kan sama aja" jawab Dinda dengan senyum manisnya.


Dan terjadilah sesuatu yang memang seharusnya terjadi. Karena setelah ciuman itu, Nanda membawa Dinda ketempat tidur dan melanjutkan aksinya disana. Nanda meminta izin melalui tatapan untuk membuka seluruh pakaian Dinda. Dinda mengangguk pelan dan Nanda langsung membuka kancing blouse istrinya.


Dapat Nanda lihat, benda kenyal yang masih terhalang oleh b*ra itu membuncah sedikit keluar. Tentu saja membuat celana chinos Nanda terasa kesempitan dibagian depan. Ia langsung menanggalkan pakaiannya. Kini keduanya sama-sama bu*gil. Nanda menge*cupi seluruh tengkuk leher Dinda sampai turun kebawah. Dinda mere*mas rambut Nanda kuat saat rudal milik Nanda berusaha menembus kebagian inti tubuhnya. Kedua kaki Dinda terbuka lebar dan telapak kakinya sampai menekuk dikasur. Hentakan demi hentakan yang Nanda ciptakan terus memancing dirinya mengikuti permainan sang suami. Lenguhan pun tak bisa lagi Dinda tahan, sampai akhirnya mereka sampai ke puncak permainan dan lenguhan itu berangsur-angsur menghilang dari mulut keduanya.


Tetesan keringat bercampur ditubuh mereka. Hanya senyum diwajah yang bisa menggambarkan betapa bahagianya sepasang pengantin baru itu.


Dalam hati, keduanya pun sangat berharap untuk segera mendapatkan momongan. Tak ada keinginan untuk menunda-nunda, mereka berdua memutuskan menikah dan bersamaan dengan itu keduanya juga telah siap untuk menjadi orang tua.


"Makasih sayang. Sudah menjadi yang pertama untukmu dan selamat, kamu yang pertama bagiku" ucap Nanda setelah tenaganya kembali pulih.


"Sama-sama sayang. Tapi kita harus mandi nih gegara belom sholat isya" ucap Dinda dengan nada lesu. Lalu ia turun dengan keadaan selimut yang melilit tubuhnya. Ia melangkah dengan cepat, namun baru 2 langkah tiba-tiba ia berhenti.


"Kenapa hm?" tanya Nanda yang sudah tahu alasan Dinda tiba-tiba berhenti.


"Aduh" Dinda mengeluh pelan namun masih kedengaran Nanda.


"Aku bantu" Nanda pun menggendong Dinda ala bridal style. Dinda yang berada dalam gendongannya, bisa merasakan bahwa dada Nanda sangat berkeringat. Nanda menunduk dan tersenyum pada Dinda. Lalu ia mendudukkan Dinda di dalam bathub. Tanpa berbicara, ia menarik selimut yang Dinda pakai, meminta Dinda untuk melepaskannya. Dengan malu-malu, Dinda mengikuti saja perintah suaminya itu. Lalu Nanda menggulung-gulung selimut itu agar tak terkena air. Lalu Nanda menyalakan keran.


"Makasih sayang" ucap Dinda yang senang mandapat perhatian dari suaminya ini. Apalagi membayangkan kejadian 10 menit yang lalu, membuat Dinda merinding disko tapi senang membayangkannya.


"Mau aku mandiin sekalian?" tanya Nanda yang memang pembawaannya sangat santai. Ia berkata demikian membuat Dinda berpikir yang aneh-aneh.

__ADS_1


"Ga usah, kamu keluar aja. Aku mau mandi sendiri" ucap Dinda yang kini ikut-ikutan santai seperti Nanda. Kenapa harus dag-dig-dug, kan suami sendiri. Kalo suami orang, baruuu.... wajib dag-dig-dug, karena takut di grebek warga.


__ADS_2