
3 bulan kemudian
Selama Dinda di kampus, ia tak begitu konsentrasi. Ia masih sakit hati dengan perbuatan Ariel yang selalu genit di sosial media.
Image Ariel yang Dinda ketahui sendiri maupun dari orang lain adalah baik, bahkan banyak teman-teman Dinda dan Ariel yang juga mengatakan kalau Dinda sangat beruntung bisa menjadi kekasih Ariel. Karena Ariel sangat amat jarang mendekati perempuan, ia terkenal sangat cuek terhadap perempuan.
Kini, hal itu tak lagi Dinda percaya. Sebab, kenyataan di dunia maya Ariel tak sebaik itu.
Ariel itu baik di dunia nyata saja, sebaliknya justru dia genit di dunia maya. Dan apa? Teman-temannya bilang Ariel cuek terhadap perempuan, oh tidak.
Ariel itu sangat perhatian kepada setiap kaum hawa. Dinda kaget waktu awal-awal saat pertama kali tahu.
Tapi karena pada dasarnya Dinda sangat mencintai Ariel maka ia memaafkan saja kelakuan Ariel itu. Namun semakin lama bersama, Dinda mulai tahu perangai "nakal" Ariel sedikit demi sedikit.
Intinya, tak sebaik yang orang bicarakan. Dan Dinda sering muak apabila mendengar orang memuji-muji Ariel.
Namun, Dinda tak angkat bicara. Hanya diam dan manggut-manggut saja.
Semakin sering Dinda dan Ariel bertengkar, kini Dinda sudah mulai terbiasa tanpa Ariel. Tak saling menghubungi sampai berbulan-bulan pun ia sanggup.
Seperti saat ini, mereka sudah 3 bulan tak saling bicara. Awal-awal setelah kepulangan Ariel itu, Dinda memang sering mendapat telepon atau chat dari Ariel.
Tapi itu hanya berlaku 1 minggu, sebab setelahnya Ariel tak pernah lagi mencoba menghubunginya. Mungkin Ariel lelah karena setiap usahanya selalu Dinda abaikan.
Ada rasa rindu di satu sisi hati, namun Dinda berusaha menguasai diri agar tak mudah terjerat dalam lubang hati yang selalu Ariel tawarkan. Dinda berusaha dengan sekuat tenaga untuk lupa dengan sosok Ariel.
Meski tidaklah mudah, namun setiap usaha pasti ada hasilnya.
Dinda yang baru saja selesai melaksanakan seminar proposalnya berjalan lunglai keluar dari ruangan. Beruntungnya, selama di dalam ruangan tadi ia tak begitu mendapat banyak kritikan. Hanya di minta untuk menambah beberapa teori dari para ahli saja.
Meski dalam suasana hati yang tak baik-baik saja, seminar proposal Dinda tetap berjalan sebagaimana mestinya. Dinda lalu menghubungi mamanya untuk memberi kabar bahwa seminarnya telah usai dan ia mungkin akan pulang sore karena akan mentraktir teman-temannya yang setia menungguinya saat seminar tadi.
ššš
Sepulang dari restoran tempat Dinda mentraktir teman-temannya, Dinda segera mandi dan membawa 1 buah novel untuk ia baca di teras depan rumahnya. Tempat sakral dimana ia dan Ariel sering menghabiskan malam minggu duduk di sana.
__ADS_1
Saat Dinda baru membaca beberapa alinea dalam novel, tiba-tiba terdengar langkah kaki yang menuju ke arahnya. Dan suara berat yang 3 bulan ini tak pernah lagi Dinda dengar.
"Aku kesini mau ngasih ini" ucapnya. Dinda pun maju perlahan dan mengambil 2 paper bag dari tangan Ariel.
Aneh sekali rasanya. Bertemu laki-laki yang bertahun-tahun bareng sama kita. Tapi karena berbulan-bulan tak bertemu di sebabkan 1 pihak yang tak setia, asing sekali rasanya. Mau marah rasanya sudah basi, tapi diam saja pun tak akan ada ujungnya. Mau sampai kapan kita menggantung seperti ini ? Mau buka hati untuk orang lain pun susah, karena takut kita belum selesai dengan sempurna.
Lalu laki-laki itu segera berbalik dan menjauh. Selalu begitu kah? Tiap ia meninggalkan Dinda selalu tanpa pamit. Tahu-tahu sakit.
Dinda pun tak mau ambil pusing, ia meletakkan 2 paper bag itu di kursi kosong sampingnya. Nanti saja melihat isinya, toh Dinda tak mau terlihat sangat excited setelah menerimanya.
Sayup-sayup suara adzan maghrib berkumandang, Dinda berdiri dari kursinya. Tak lupa, sebelum beranjak masuk ke rumah, ia menoleh pada paper bag pemberian Ariel lalu membawanya masuk.
Setelah sampai kamar, Dinda pun menunaikan kewajibannya terlebih dahulu kemudian turun ke bawah untuk makan malam bersama. Sampai pukul 22:00 Dinda masih tak menyentuh paper bag yang di berikan Ariel.
Hingga terdengar nada pesan di ponselnya...
Ting...
Ariel
Terus, paper bag yang satu lagi, itu oleh-oleh yang sempat aku beli buat kamu waktu itu.
Setelah membaca pesan itu, seketika air mata Dinda menetes. Rasanya mencelos begitu saja saat membaca "Itu oleh-oleh yang sempat aku beli buat kamu waktu itu".
Selama 3 bulan ini oleh-oleh itu masih Ariel simpan? Memangnya apa?
Dinda pun segera membuka paper bag satu-persatu. Di paper bag pertama, berisi 1 kotak buket bunga mawar ukuran sekitar 20Ć20 cm dan sebuah kertas ucapan. Di sana tertulis, "semoga sukses ya, I'm sorry".
Dinda yakin ini pasti hadiah seminarnya, sedangkan paper bag yang belum di buka itulah yang jadi oleh-olehnya. Dinda pun menarik paper bag itu.
Saat di buka berisi 1 kotak tas dengan brand terkenal dan ada 1 foto yang di buat menjadi ala-ala lukisan. Foto itu telah di bingkai dengan sangat indah dan dengan ukuran 30Ć30 cm. Foto tersebut adalah foto Dinda dan Ariel yang sedang berdiri di tepi bukit saat mereka iseng-iseng pergi karena sedang suntuk di rumah. Ariel memeluk Dinda dari belakang lalu Dinda mengambil foto dengan kamera yang ia posisikan ke arah mereka.
"Kenapa sakit ya?" ucap Dinda sambil menyentuh dadanya. Kalau saja waktu itu hubungan mereka baik-baik saja, pasti Dinda akan sangat bahagia menerima semua pemberian Ariel itu.
Kini, akan ia apakan foto itu? Di pajang tapi hubungannya udah semi-semi mau ending. Di buang, kok ada rasa ga tega.
__ADS_1
Akhirnya foto itu Dinda letakkan dalam laci meja belajarnya. Ia kangen dengan momen yang ada dalam foto itu.
Di ulang pun pasti rasanya udah beda. Sebab semua tak lagi sama.
Dinda pun membalas pesan Ariel tadi.
"Makasih"
Tak lama kemudian, Ariel membalas pesannya.
"Aku boleh minta 1 hal ga?"
Dinda
"Apa"
Ariel
"Besok, temenin aku di kantor"
Dinda
"Buat apa?"
Ariel
"Aku pengen habisin waktu sama kamu. Mungkin ini untuk terakhir kalinya"
Apasih? Kaya udah mau mati aja, pikir Dinda.
Lalu Dinda pun mengiyakan permintaan Ariel. Yang kesannya kaya permintaan terakhir sebelum maut menjemput.
Dinda
"Iya"
__ADS_1