
Saat sampai dikantor, pagi itu juga Dinda meminta sekretarisnya untuk membatalkan pertemuannya dengan beberapa klien penting. Ia berniat untuk berkunjung kerumah Ayu saat jam makan siang nanti. Sudah lama mereka tak bertemu, terakhir kali pada saat resepsi Dinda dulu.
Dinda membuka beberapa berkas yang sudah tersusun rapi di atas mejanya. Ia menandatanganinya sambil berpikir tentang perempuan yang semalam mengirimi pesan kepada suaminya.
"Apa gue juga harus ke kantor suami buat mastiin itu perempuan beneran datang atau nggak?" gumam Dinda.
Daripada diam ditempat dan tak mendapat jawaban apa-apa, Dinda pun akhirnya pamit pulang cepat pada sekretarisnya. Ia lalu meninggalkan kantor dengan setumpuk berkas yang masih membutuhkan tanda tangannya. Dinda melajukan mobilnya menuju kantor suaminya.
Sampai disana, Dinda memarkirkan mobilnya di tempat yang ia rasa paling strategis. Tapi ada benarnya juga. Karena setiap mobil yang masuk otomatis akan lewat di depan mobil Dinda, lalu pengemudinya turun dan pasti akan menuju pintu masuk kantor yang sejajar dengan posisi mobil Dinda. Sehingga Dinda akan bisa melihat siapa saja yang masuk ke dalam kantor suaminya.
Dinda hanya sendiri di dalam mobil, lama menunggu membuatnya suntuk juga. Ia sampai membaringkan posisi senderan kursinya.
"Curigain suami sendiri tuh dosa gak sih? Ya allah, aku takut. Takut kalo yang aku pikirkan ternyata kejadian. Tapi, ... ga ngga, gak mungkin. Harus positive thinking" ucap Dinda menyemangati dirinya sendiri.
Sekian lama, semua masih sama. Tak ada tanda-tanda kehadiran perempuan cantik yang semalam fotonya ia lihat. Dinda mulai menyadari hal bodoh yang ia lakukan sepagi ini. Ia sampai berniat untuk pergi dari sana, namun sebelum itu ia ingin menghubungi Ayu untuk meminta saran bagaimana baiknya.
Tuuuut...Tuuut...Tuuuut...(Tidak dijawab)
Percobaan kedua, Tuuuut.... Tuuuut... Tuuut... (Masih tak dijawab)
Percobaan ketiga, Tuuuut....Tuuut....Tuuuut...(Tak kunjung dijawab)
Alhasil, Dinda memutuskan untuk mengirim pesan saja pada Ayu.
Yu, lo sibuk ya? Ada yang mau gue ceritain nih (terkirim)
__ADS_1
Sambil menunggu balasan pesan dari Ayu, Dinda kembali uring-uringan di dalam mobilnya. Ia menatap ke sekelilingnya, dalam hatinya ia berharap hari ini jangan cerah-cerah amat, karena semakin siang maka matahari akan semakin naik dan tepat berada di atas mobilnya.
10 menit menunggu, ponsel Dinda pun akhirnya berbunyi.
Kerumah aja lo kalo mau cerita. Gue lagi gak sibuk, tadi cuma lagi main sama Ijam, balas Ayu.
Dinda pun segera membalas. Iya, nanti gue kerumah lo. Tapi sekarang gue lagi mau minta saran.
Tak sampai 1 menit, pesan Dinda cepat dibalas.
Saran apaan? Kaya gue orang bener aja, balas Ayu
Kini Dinda berkutat di depan layar ponselnya. Ia menceritakan garis besar yang terjadi semalam dan meminta saran Ayu untuk bagaimana ia harus mengambil sikap. Apakah tindakannya dengan memantau suaminya seperti saat ini sudah tepat?
Yu, gue mau to the point. Sekarang gue lagi mantau suami gue gara-gara semalam ada cewe yang chat dia mau nyamperin ke kantornya. Perasaan gue gak enak, makanya gue sampe senekat ini. Sekarang gue udah nunggu 2 jam tapi gak ada tanda-tanda kehadiran tuh cewek. Menurut lo, gue tetap tungguin di sini sampe pulang atau gue balik aja?. Dinda dengan terbuka menyampaikan isi hatinya pada sahabatnya itu. Sahabat yang selalu setia mendengarkan setiap keluh-kesahnya dari dulu.
"Ngetiknya lama amat nih orang" gerutu Ayu. Karena dalam hati Dinda, ia akan mematuhi saran dan masukan dari Ayu, apapun itu. Nanti kalau Ayu bilang jangan pantau, maka ia pulang. Tapi kalau Ayu bilang terus pantau, maka ia akan pantau.
Dinda kembali menatap sekelilingnya, ada beberapa polisi yang lalu lalang. Namun ia tak mengenal satupun dari mereka. Namun yang pasti sedari awal pemantauan, ia sudah tahu bahwa suaminya ada di dalam. Tentu saja karena Dinda sudah melihat mobil suaminya.
Tak berapa lama, ada seorang perempuan dengan ciri-ciri rambut hitam panjang, tinggi sekitar 160cm, berkulit putih, berkaca mata kekinian, memakai kemeja santai warna nude, jeans hitam, dan flat shoes biasa. Ia berjalan tepat depan mobil Dinda.
Membuat Dinda yang sedari tadi planga-plongo akhirnya terfokus pada perempuan itu. Dan yap... Seperti cicak yang tanggap menangkap nyamuk, begitulah pandangan Dinda saat ini. Seperti mendapat angin segar. Dinda segera mengantongi ponselnya, lalu turun dari mobil dan mengikuti langkah perempuan tadi.
Dinda mengikuti perempuan itu sampai pada ruangan yang di depannya bertuliskan jabatan suaminya. Wanita itu masuk lebih dulu, sedangkan Dinda yang sedari tadi berlagak sedikit mencurigakan membuat salah seorang Office Boy yang sedang membersihkan lantai terus mengawasinya. Dinda hanya mematung sebentar, lalu ia pun membuka sedikit pintu yang tidak pernah terkunci itu.
__ADS_1
Di dalam sana, ia melihat perempuan itu tengah bercengkrama dengan suaminya walau Dinda tak dapat mendengar perihal apa yang sedang di perbincangkan. Lalu keduanya saling diam, dan si perempuan itu seperti mencoba untuk terlihat tegar.
Dinda bisa melihat bahwa Nanda menatap penuh arti pada perempuan tersebut. Tatapan yang biasanya tertuju pada dirinya. Di tatap begitu oleh Nanda, membuat ketegaran perempuan itu sirna, ia terlihat mengusap air matanya dan langsung berdiri memeluk Nanda. Nanda pun dengan cepat mengerti bahasa tubuh perempuan itu. Keduanya berpelukan.
Dinda pun terbakar api cemburu. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Dan yang membuat hatinya lebih perih adalah Nanda yang membalas pelukan wanita itu dengan tak kalah erat. Ada apa dengan mereka?
Dinda menutup pintu itu dengan pelan. Ia berusaha kuat agar tangisannya tidak pecah. Dinda berjalan meninggalkan ruangan itu, tujuannya saat ini adalah rumah Ayu.
Sebelum melajukan mobilnya, Dinda teringat akan pesan yang tadi Ayu ketik. Dinda pun mengecek ponselnya.
Semakin lo mencari tahu, justru membuat lo semakin sakit. Mending pulang aja, Tuhan juga pasti bakal nunjukin semuanya kalo memang suami lo selingkuh. Lo yakinin hati lo aja, bahwa suami lo pasti setia. Cuma itu kekuatan kita, yakin!
"Telat Yu, gue udah keburu tahu dan sakit hati" gumam Dinda namun tak membalas pesan Ayu.
Dinda dengan kecepatan yang terbilang tinggi pun menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai kerumah Ayu. Namun walau begitu, ia tetap menghentikan laju kendaraannya demi membelikan cemilan dan makan siang untuk dirinya dan Ayu.
Sampai dirumah Ayu, Dinda pun langsung memarkirkan mobilnya sembarang. Ia lalu bergegas masuk kedalam rumah Ayu. Saat keduanya bertemu, Dinda langsung memeluk Ayu erat, ia menceritakan yang ia lihat tadi walau dengan tangis yang masih sesenggukan.
Beruntungnya rumah Ayu sedang sepi, jadi Dinda tak perlu malu untuk meluapkan emosinya termasuk tangis yang sesenggukan ini.
"Ini ujian Din, setiap pernikahan juga pasti ngalamin walau dengan versi yang berbeda. Lo harus kuat. Jangan menaruh kecurigaan berlebih pada suami lo, yang ada nanti justru kecurigaan lo itu yang membuat hilang keharmonisan rumah tangga kalian. Cukup lo kasih tau dia baik-baik, ini lho yang ga boleh di lakuin seorang suami, ini lho yang ga boleh di lakuin seorang istri. Cukup di ingatkan, tapi jangan terlalu menggurui. Dia suami, lho".
●●●
Jangan lupa vote, like, dan komen yaa...
__ADS_1
Terimakasih:)