(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Hari-H


__ADS_3

Malam harinya, suasana makin ramai. Semua tetangga ikut hadir kumpul-kumpul di kediaman orang tua Dinda itu. Yang laki-laki atau bapak-bapak, mereka duduk santai di halaman rumah dengan bermodalkan kursi plastik dan segelas kopi untuk masing-masing orang. Sedangkan yang ibu-ibunya atau perempuannya duduk selonjoran ngobrol ngalor-ngidul di dalam rumah.


Nanda yang melihat betapa ramainya orang dirumah itu pun akhirnya berbagabung bersama yang lain di halaman rumah. Sekedar menyapa atau bahkan bisa sampai nyambung bercerita.


Karena rumah Dinda dan Ariel berhadap-hadapan, jelas saja keluarga Ariel juga ikut hadir di rumah Dinda. Nanda yang kini sudah tahu yang mana yang namanya Ariel pun tiap kali sorot matanya bertemu dengan sorot mata elang milik Ariel pun langsung menunjukkan raut tak suka. Bahkan Dinda sampai geleng-geleng kepala menatap kelakuan suaminya dari jendela kamar tamu yang kini ia gunakan. Sedangkan Ariel, ia buru-buru memutus tatapan mereka. Lalu berpura-pura ikut perbincangan bersama yang lain.


Gak ada dewasa-dewasanya emang suami gue, Dinda membatin.


Sampai tengah malam barulah suasana mulai sepi. Satu persatu tetangga dan kerabat mulai pada pulang kerumah masing-masing.


Dinda tengah bergelung dalam selimut karena sejak jam 10 tadi ia sudah tertidur karena kelelahan. Semenjak jadi istri siaga Dinda juga jadi gampang tidur, mungkin karena kelelahan.


Nanda masuk dalam kamar tidur mereka, ia melihat istrinya tengah tertidur lelap sambil berbantalkan lengannya sendiri, akhirnya Nanda pun mengaturkan bantal untuk kepala Dinda. Lalu Nanda masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian berganti pakaian dan ikut tidur di samping istrinya.


"Selamat tidur pasangan hidupku" Cup. Nanda pun menyusul Dinda masuk ke alam mimpi.


-


Pagi harinya, sehabis sholat subuh Nanda membersihkan sampah di halaman rumah bekas semalam. Dengan berbekal sapu lidi di tangan kanannya, ia menyapu beberapa sampah batangan rokok dan juga jajanan anak kecil. Dinda yang kehilangan batang hidung suaminya itu pun mencari-carinya, setelah di rasa suaminya tidak hilang ia pun kembali masuk ke dalam rumah lalu merebahkan tubuhnya sebentar untuk mempersiapkan diri menjadi ratu sehari.


Di rumah Dinda, semua orang tengah sibuk kesana kemari. Seperti tak ada habisnya, selalu ada saja yang perlu di atur atau bahkan di rapikan.


Pihak Wedding Organizer (WO) pun juga sudah datang karena mereka akan lanjut mendekor pelaminan yang di buat seolah seperti di dalam aula. Mumpung acaranya di mulai pukul 10 pagi, jadi semua orang masih punya kesempatan untuk merampungkan semuanya.


Setelah Nanda sudah selesai bersih-bersih halaman, ia pun duduk di teras depan memperhatikan pihak WO yang gesit dan terampil menghias bunga pertangkai satu demi satu sehingga menjadi hiasan. Saat sedang asyiknya bersantai, ia di sapa oleh papanya Ariel yang baru saja pulang sholat subuh di masjid.


"Wah, mempelai pria udah gak sabar kayanya duduk di pelaminan" sapa Om Setyo.

__ADS_1


"Eh, Om... Nggak om, justru lagi istirahat habis nyapu-nyapu halaman" jawab Nanda.


"Rajin sekali kamu. Kapan-kapan main ya kerumah Om" ujarnya lagi sebelum balik kerumahnya.


"Iya Om, inshaa Allah" jawab Nanda ramah. Padahal dalam hatinya sangat-sangat menolak untuk menginjakkan kaki kerumah depan itu.


Walau Nanda sangat dongkol dengan Ariel, tapi terhadap Om Setyo ia sangat sopan. Bukan berusaha untuk cari muka. Tapi Nanda memang tak membeci orangtua Ariel dan istri Ariel. Melainkan bermasalah dengan Arielnya sendiri. Entah mengapa ia seperti itu, Dinda pun enggan untuk berkomentar. Takutnya kalau Dinda membujuknya untuk tak membenci Ariel nanti di sangka masih ada rasa. Jadi lebih baik Dinda diam saja. Biarkan Nanda berubah dengan sendirinya.


-


Pukul 09.00 pagi


Di dalam kamar Nanda, Dinda, dan beberapa orang lainnya dari pihak WO dan MUA (*M*ake Up Artist) kini mulai bersiap untuk acara spesial. Dinda tengah di dandani oleh seorang wanita perias penganten yang di rekomendasikan oleh Ayu sebelumnya. Sedangkan Nanda kini tengah main game di ponselnya sambil menunggu Dinda selesai berdandan. Karena persiapan Nanda jauh lebih cepat di banding Dinda, oleh sebab itu ia masih santai bermain game online di ponselnya.


Tak lama, rekan-rekan kepolisian juga sudah datang untuk melakukan prosesi pedangpora. Di depan, mereka menggelar gladi-resik dadakan yang hanya beberapa kali latihan mereka langsung bisa. Kini mereka hanya tinggal menunggu pasangan pengantin itu keluar.


Suara pembawa upacara pedangpora yang di tunjuk dari pihak kepolisian pun terdengar tanda acara sakral ini akan segera dimulai. Semua tamu ikut berdiri rapi di sisi meja yang telah disediakan. Semua diminta untuk mengatur nada dering ke mode silent agar tak menggangu upacara yang akan dilaksanakan.


-


Seusai upacara pedangpora, Dinda dan Nanda pun berfoto bersama rekan-rekan kepolisian. Dinda juga secara singkat diperkenalkan Nanda pada semua teman seprofesinya itu sambil bersalaman.


Sampai sore harinya, tamu makin lama makin banyak. Dinda sampai kewalahan tegak duduk melayani sesi foto bersama, apalagi pakaian adat yang sedang ia gunakan ini memiliki aksesoris kepala yang beratnya berkilo-kilo. Untung saja Dinda tak pingsan.


Nanda yang tahu istrinya kewalahan, meminta Dinda menyalami tamu sambil duduk saja. Ia juga khawatir takut Dinda jatuh pingsan karena istrinya itu hanya sempat makan sedikit tadi siang. Beruntungnya sampai acara usai di jam setengah 6 sore, Dinda masih baik-baik saja walau tadi ia sempat pucat dan membuat suaminya khawatir.


Kini keduanya tengah berada dalam kamar tamu yang disulap jadi kamar pengantin.

__ADS_1


"Wah, harusnya malam pertama kita tuh sekarang ya" ucap Nanda mengamati sekeliling kamar mereka yang telah di hias sedemikian rupa.


"Kamu sih gak sabaran" ujar Dinda sambil membuka kebayanya di bantu Nanda.


"Biarin, apa kita ulang aja adegannya" goda Nanda yang yakin akan mendapat penolakan istrinya akan ide gilanya itu.


"Ayo" ucap Dinda semangat. Bertolak belakang dengan dugaan Nanda sebelumnya.


"Ooohh, udah mulai candu ya sama pertarungan aku" Nanda memegang kedua pundak Dinda sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Bukan, tapi nolak ajakan suami kan dosa" bebernya memberi alasan. Padahal sejujurnya, ia memang menyukai sentuhan-sentuhan lembut suaminya. Hanya saja Dinda belum berani untuk mengajak Nanda lebih dulu.


"Bohong" sangkal Nanda.


"Ih, gak percaya ya udah" Dinda masuk ke kamar mandi meninggalkan Nanda begitu saja. Suaminya senang sekali menggodanya sampai malu sendiri.


Usai Dinda membersihkan diri keluar dari kamar mandi lalu giliran Nanda. Keduanya pun sholat maghrib berdua saja di dalam kamar. Karena semua orang di rumah itu juga pasti paham, bahwa kini keduanya tengah kelelahan seharian berdiri menyalami tamu yang tak berkesudahan.


Di meja makan, Sherly nampak lebih bersemangat menceritakan kejadian seru hari ini di banding pengantinnya. Sampai-sampai rasa lelah Nanda dan Dinda akhirnya menjadi tak terasa karena mendapat hiburan gratis dari Sherly.


Hal itu tentu sangat menguntungkan buat Nanda, ia jadi mendapat energi untuk mencoba pertarungan malam ini di atas tempat tidur yang masih rame dengan taburan kelopak bunga mawar. Untuk urusan buka kado, bisa di pindahkan ke kamar Sherly saja, biar anak itu punya kegiatan.


●●●


Hai, jangan lupa pencet tombol like, vote dan favorit yaa...


Buat yang sudah berbaik hati, aku ucapin terimakasih:)

__ADS_1


Ditunggu komentarnya😚


__ADS_2