
Dinda dan Ariel telah sampai di parkiran tempat biasa Ariel menurunkan Dinda akhir-akhir ini. Dinda segera merapikan sedikit pakaiannya yang di rasa sedikit compang-camping.
"Sayang, aku hari ini sampe sore. Kamu jemput aku kalo udah pulang ngantor aja ya". Cup... Dinda mencium kening Ariel secara spontan. Lalu ia segera bergegas turun.
"Oii, kebalik" pekik Ariel yang di sambut gelak tawa Dinda.
"Buburnya tinggal dikit, habisin sendiri aja ya" kata Dinda sebelum menutup pintu mobil.
"Iyaaa" ucap Ariel singkat.
"Daa sayang, hati-hati di jalan". Lalu Dinda berbalik untuk segera masuk ke dalam kelasnya.
Saat sampai di kelas, 2 orang teman dekat Dinda segera menyambutnya dengan ucapan selamat ulang tahun dan mereka masing-masing sudah memegang 1 kotak kado yang entah apa isinya.
"Apa nih?" tanya Dinda yang tersenyum lebar karena pagi-pagi sudah di sodorin kado.
"Bukanya di rumah aja. Btw, selamat ulang tahun ya" ucap Elsa yang memeluk Dinda erat.
"Mau di rayain kapan nih?" tanya teman Dinda satu lagi yang bernama Eka. Ia lalu ikut memeluk Dinda.
"Ntar siang aja, kita makan siang bareng. Tempatnya kalian deh yang nentuin, gue bagian keuangannya aja" ucap Dinda yang ceria sekali saat itu.
Oh, jadi semalam Ariel telponin aku tengah malam tuh ini ya alasannya. Oups, maaf ya Ariel sayang, aku ga tau.
"Emang beda ya kalo calon CEO yang ultah hahaha" ledek Eka yang senang sekali godain Dinda dengan kalimat "calon CEO". Karena mau sekaya apapun Dinda, ia tak pernah menujukkan materinya pada siapapun.
Di tambah sikap Dinda yang tidak sombong, tapi rada "susah didekati" aja maka banyak orang yang nyaman berteman dengannya. Terlebih kaum pria, banyak keponya kalau sama Dinda.
"Btw, gue lupa lho kalo hari ini gue ultah" tutur Dinda saat Dosennya sudah masuk ke kelas.
"Aneh banget lo, beda ama gue. Gue malah nerorin semua temen biar pada ngucapin wkwkwkwk" tukas Eka yang memang paling polos dan apa adanya. Di antara mereka bertiga, Eka ini bisa di bilang yang paling tidak beruntung. Kalau Dinda, semua orang tau bahwa dia anak orang terpandang. Elsa, kedua orangtuanya merupakan PNS. Berbeda sekali dengan Eka, ia hanya anak seorang pedagang kecil-kecilan yang kesehariannya berjualan di pasar dan hanya mendapat pendapatan sedikit tiap harinya.
Dinda paling sering bayarin makan Eka di kampus, karena ya senang aja. Bisa bermanfaat untuk teman sendiri. Tapi, lama kelamaan Eka merasa tidak enak, dan akhirnya sering menolak traktiran Dinda.
Tapi Dinda tidak pernah kehabisan akal demi bisa bayarin Eka. Karena Dinda selalu meminta tolong hal sepele saja kepada Eka, biar nanti bisa berkilah seolah-olah Eka sudah membantunya, maka Dinda bisa mentraktir Eka tanpa bisa Eka tolak.
__ADS_1
Contohnya: Ka, nanti temenin gue ke toilet ya.
Lalu: "Lo gue traktir ya" kata Dinda. "Ga usah Din, gue bawa uang lebih kok" tolak Eka. "Lo kan tadi udah nemenin gue ke toilet, jadi ga papa ya gue traktir lo" ucap Dinda beralasan biar Eka tak bisa menolaknya.
PS: Bertemanlah tanpa pandang materi, nanti kau akan tahu sendiri betapa nikmatnya berteman dengan orang yang mau menerima dan mengertimu.
Setelah siang itu, Dinda merayakan ultahnya secara dadakan bersama 2 teman dekatnya. Kini Dinda sedang menunggu Ariel yang katanya sebentar lagi akan sampai.
Tiin...
Ariel mengklakson Dinda yang duduk tak jauh dari tempat Ariel berhenti. Kemudian Dinda tersenyum cerah saat melihat kedatangan Ariel.
"Selamat sore sayang" sapa Dinda yang telah duduk manis di samping Ariel.
"Sore juga sayang" balas Ariel lalu melajukan mobilnya meninggalkan pelataran kampus.
"Kamu cape ga hari ini kerjanya?" tanya Dinda yang cukup aneh di dengar Ariel.
"Tumben nanya gitu, biasanya ga peduli" tukas Ariel.
"Aku kan udah dewasa" kilah Dinda sambil senyum-senyum ke arah Ariel. Seperti sedang mengharap sesuatu.
"Iya, sampe kedepan-depannya" jawab Dinda.
"Kok kamu aneh sih?" pancing Ariel.
"Kok kamu ga tau sih?". Dinda pura-pura bete.
"Ga tau apa?" tanya Ariel masih dengan muka datar dan santai.
"Ah udahlah, ga jadi". Dinda bete beneran.
"Dih, ngambek. Barusan bilangnya udah dewasa, kok sekarang jadi bocah lagi" ledek Ariel sambil mencubit pelan pipi Dinda karena gemas.
"Aku tuh ultah, masa gitu aja kamu ga tau. Emang ya kamu tuh ga pernah peduli tentang aku. Pedulinya cuma sama temen-temen kamu aja. Satu lagi, sama basket. Aku sebel sama kamu" omel Dinda yang tak tertahankan lagi.
__ADS_1
Ariel hanya tersenyum saja mendengar omelan gadis yang sudah beberapa tahun ini mengisi hari-harinya. Entah dengan kelucuannya, atau bahkan dengan omelannya.
"Sayang, mana yang lebih nyebelin? Rela begadang hanya demi ngucapin ultah tapi yang ultah molor nyenyak banget atau pura-pura lupa depan kamu?" tanya Ariel yang seketika tangannya tak berhenti mengusap-usap kepala Dinda.
"Hah? Jadi kamu inget? Serius? Ah kamu pasti bohong" pekik Dinda senang tapi lesu kemudian.
"Coba deh liat ke belakang". Usul Ariel biar Dinda percaya.
Dinda pun patuh, ia dengan cepat sekali memutar setengah badannya ke arah bangku penumpang bagian belakang. "Aaaaa hahahhaa". Dinda tertawa bahagia.
"Ini buat aku?" tanya Dinda dengan membawa 1 paper bag ke dekapannya. Sedangkan 3 buket bunga mawar yang berjejer di kiri kanan paper bag dengan berbagai bentuk ia cuekin.
"Ngga, aku pinjemin doang" sungut Ariel.
Namun setelah melihat ekspresi kecewa Dinda, ia langsung membetulkan kalimatnya.
"Buat kamu, sayang. Itu kamu liat dulu, suka ga? Kalo ga suka kita cari lagi aja"
Dinda mengeluarkan 1 kotak kecil berwarna hitam dalam paper bag itu. Ternyata isinya sebuah jam tangan dengan *bran*d ternama. Namun karena ukuran diameternya pas di tangan Dinda dan warnanya tidak mencolok, Dinda sangat menyukainya.
"Waaaw, kamu pandai milih juga ya" puji Dinda.
"Aku tau kamu sukanya sesuatu yang ga ngejreng, yang mahal tapi ga kelihatan mahal, terus yang minimalis kaya gini, ya udah aku pilih ini aja. Alhamdulillah kalo kamu suka" tutur Ariel yang ikut senang karena Dinda begitu ceria saat memasangkan jam itu langsung ke pergelangan tangannya.
"Makasih ya sayang, emmuuach". Dinda mengecup Ariel jarak jauh.
"Jangan flying kiss dong, nanti nyasar ke bapak-bapak di luar tuh" gerutu Ariel sambil nunjuk ke para pejalan kaki di trotoar.
"Gimana bisa sampe kesana, kaca mobil kamu aja ketutup rapat gini. *Ki*ssnya pasti masih beterbangan dalam mobil kamu" cecar Dinda.
"Ya udah tangkepin, mana coba?" tantang Ariel.
"Nih" sodor Dinda seperti menyodorkan tangkapan nyamuk.
"Ga ada, itu kosong" tolak Ariel.
__ADS_1
"Ya udah kalo ga ada, jangan di ada-adain" gumam Dinda.
"Rese banget siiii". Jewer Ariel pelan di telinga Dinda