
Holaaa, jangan lupa tinggalin jejak di kolom komen ya guys...
...*...
...**...
...***...
Dinda mendiamkan Ariel selama 3 hari setelah kejadian itu. Sampai pada saat ini, Dinda sebenarnya merindukan sosok Ariel namun ia menahan perasaannya tersebut karena alasan gengsi semata.
Sebab Ariel perlu di beri sanksi agar tak lagi berani mempermainkan perasaannya. Hari ini, tepatnya hari rabu. Dinda yang telah sampai di rumahnya sehabis melaksanakan aktifitasnya di kampus ingin segera beristirahat. Namun, saat hendak menuju ke kamarnya sang papa menegurnya dan memintanya nanti sore ajak Angel jalan-jalan. Sebab, memang setelah Angel punya anak, Angel tak lagi di perhatikan. Maka papa meminta Angel untuk di bawa refreshing. Tak perlu jauh-jauh cukup di sekitaran komplek ini saja sudah cukup.
Papa kini fokus dengan si bontot keturunan Angel dan bujang Anggora tetangga. 5 anak Angel itu kini subur makmur karena papa memelihara mereka dengan sangat baik bahkan rakus sekali kalo di beri makan.
Dinda sebenarnya malas, pertama ia tak begitu suka kucing seperti papanya. Kedua, ia ingin sekali hari ini tiduran saja tanpa melakukan kegiatan apapun sebab semenjak tak bertegur sapa dengan Ariel ia seperti kehilangan separuh nyawanya.
"Iya pa, nanti jam 4 ya" jawab Dinda yang lesu sekali kelihatannya lalu bergegas menuju lantai atas.
πΎπΎπΎ
Sore harinya, Dinda menepati ucapannya tadi saat di suruh sang papa untuk membawa Angel jalan-jalan.
Saat menuruni tangga Dinda sudah melihat sang papa yang kini sedang memasangi kalung tali di leher Angel.
Persiapannya sudah benar-benar matang.
Dinda yang memakai hoddie dan celana trening terlihat sangat segar dan cantik meski matanya tampak sayu. Dengan rambut yang di jedai dan wangi parfum vanilla yang mengiringi tiap langkahnya segera mengambil alih Angel dari gendongan sang papa dan meletakkannya ke lantai.
Dinda yang jarang sekali bertemu para tetangganya kini harus berjalan kaki bersama sang "majikan" di sekitaran rumahnya dan merasa asing jika berpapasan dengan tetangganya. Tak jarang ada yang menatap curiga pada Dinda atau bahkan jika melewati rumah di mana banyak pemuda yang sedang berkumpul di halaman rumah bermain gitar mereka bersiul-siul menggoda Dinda.
Sedangkan Dinda melongos saja. Seperti tak menganggap keberadaan mereka.
Hingga terdengar percakapan samar-samar di telinga Dinda.
"Itu kan pacarnya Ariel"
"Oh ini yang namanya Dinda"
"Tapi mereka bukannya udah putus ?"
"Ga tau, emang sih Ariel udah jarang kelihatan chatingan. Udah putus kali"
Dinda padahal masih kepo dengan kelanjutan obrolan mereka, tapi mau bagaimana lagi. Ah, sudahlah.
__ADS_1
Saat 15 menit berlalu, Dinda yang sudah lelah di tambah Angel kini seperti mengantuk ingin segera berbalik untuk pulang. Sebenarnya, lurus juga bisa tetapi agak jauh untuk sampai kerumah. Jadi Dinda memilih putar balik dan melewati sekelompok pemuda tadi.
Eng...ing...eng
Tanpa sadar, di antara pemuda yang sedang berkumpul dan bermain gitar itu ada Ariel nyempil. Ariel baru saja datang, jadi Dinda memang tidak tahu kalau ada Ariel di sana.
Karena Angel yang ngantuk berat akhirnya Dinda inisiatif menggendongnya saja agar cepat sampai rumah. Namun, di saat yang bersamaan dengan itu. Ariel nyamperin Dinda dan sebenarnya ia juga sangat rindu Dinda.
Rindu omelannya.
Rindu cubitannya.
Rindu lawakannya.
Semuanya.
Ariel sangat bahagia tanpa susah payah kini ia bisa bertemu Dinda dan bisa meluapkan kerinduannya secara langsung tanpa ia duga akan di sini bertemunya.
"Dinda" sapa Ariel ragu-ragu karena debar jantungnya kini tak bisa di ajak kompromi.
Kenapa jadi dag dig dug gini sih. Ini kan masih Dinda pacar gue. Bukan monster. Duh, jantung tenanglah sedikit, pekik Ariel dalam hati.
"Eh, iya Riel" jawab Dinda yang berbalik badan dan kaget melihat Ariel.
Plis Riel, peluk aku peluk aku, omel Dinda dalam hati.
"Kita baikan ya, aku ga konsen kerja kalo kamu diemin aku gini. Semuanya serba kacau sejak ga ada kamu. Udah ga ada lagi yang aku bonceng tiap pagi. Aku rindu kamu" cecar Ariel yang tak tahu mau basa-basi gimana lagi. Sebab, kini lidahnya kelu bahkan ia harus menarik nafas dalam-dalam untuk mengungkapkan isi hatinya.
"Ada syaratnya" tutur Dinda yang berusaha cuek meski hatinya berhasil di luluh lantakkan oleh Ariel meski hanya dengan sepenggal kalimat.
"Apa?" sahut Ariel cepat.
"Jangan ulangi" jawab Dinda pelan karena luka di hatinya masih ada dan ia sangat tak mau mengingat atau membahasnya lagi. Karena semakin ingat, semakin benci.
"Aku janji, maafin aku ya. Aku terlalu bodoh menyia-nyiakan kamu" ungkap Ariel sambil genggam erat tangan halus nan lembut yang beberapa waktu ini tak bisa ia sentuh.
"Hmmm" sahut Dinda mengangguk dan kemudian tersenyum simpul. Makin membuat Ariel tak kuasa menahan hasrat ingin memeluk Dinda namun kondisinya mereka masih di depan rumah temennya Ariel. Mana maulah Ariel langsung main peluk anak orang. Yang ada nanti di jadiin bahan olok-olokan.Terus kasihan Dinda juga, pikirnya.
"Kamu lagi bawa Angel jalan-jalan?" tanya Ariel yang melirik ke arah Angel yang kini tertelentang di atas aspal jalan ketiduran. Begitu seksi, pikir kucing garong yang berseliweran.
"Ya ampun, tidur dong dia. Bisa-bisanya pose menggoda kaya gini lagi" pekik Dinda yang hendak membangunkan Angel.
"Jangan sayang, biar aku gendong aja" titah Ariel yang langsung berjongkok dan mengangkat Angel menggunakan lengannya.
__ADS_1
"Bro, gue pulang dulu ya. Itu motor gua ntar gua ambil" pamit Ariel ke teman-temannya sambil jerit biar mereka pada dengar.
Setelah itu mereka pun berjalan pulang sambil ngobrol santai sambil sesekali tertawa. Uhh kalo damai gini kan enak, pikir Ariel.
"Angel capek ketiduran
Karena semalam begadang
Angel sibuk cari uang
Jaga warung remang-remang"
Di tengah perjalanan Ariel tiba-tiba nyanyi dengan lagu yang ia ciptakan secara spontan dan langsung mendapat pelototan Dinda dan tawa ngakak kemudian.
"Kamu kalo ketahuan sama papa fitnah Angel cewe gak bener bisa di blacklist dari calon mantu" ejek Dinda sambil terngiang-ngiang lagu ciptaan Ariel tadi.
"Kamu diem aja, biar papa ga tau" pinta Ariel sambil merhatiin pipi Angel yang kian bulat seperti bola pingpong.
"Enak aja, wani piro?" tolak Dinda minta bayaran.
"Aku punya 1 juta nih, tapi kamu ada kembalian ga?" tanya Ariel lugu sok serius.
"Butuh kembalian berapa?" sahut Dinda serius yang menandakan ia kemakan sama tipuan Ariel.
"999 ribu aja, ada?" jawab Ariel polos sama alis yang di naik turunkan.
"Hahaha tapi kamu punya ga?" tanya Dinda ambigu.
"Punya apa?" jawab Ariel bingung.
"Punya otak?" pekik Dinda lalu langsung ambil langkah seribu meninggalkan Ariel dibelakang.
"Seribu mana cukup. Beli cilok cuma dapat plastiknya" teriak Dinda lagi sambil meleihat sebentar kebelakanh. Terlihat Ariel yang lari tunggang-langgang sambil gendong Angel.
Flashback end
...*...
...**...
...***...
Terimakasih buat yang udah support otor dengan like dan komennya. Novel ini akan terus up selama kalian kasih aku semangat ya guys ya... π
__ADS_1