(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
63. Misi Balas Budi Selesai


__ADS_3

Hari senin, di pagi yang rada mendung ini Dinda sudah memasukkan 2 kue pada kotaknya. Ia hari ini akan berangkat lebih pagi karena harus mampir ke rumah Ayu terlebih dahulu untuk nitipin kue buat Zapata.


Dalam hati Dinda, ia sangat khawatir karena takut Zapata tidak menyukai kue buatannya. Entah karena terlalu manis atau kurang.


Pokoknya Dinda khawatir. Meski semalam saat Dinda dan keluarganya berkumpul dan menikmati kue itu, mereka mengatakan bahwa kuenya sangat enak dan manisnya juga pas.


"Ma, Dinda pamit ya. Dinda buru-buru soalnya mau mampir ke rumah Ayu" ujarnya sambil mengulurkan tangan untuk berpamitan dengan sang mama.


"Kamu ga tunggu papa selesai mandi?" tanya Mama yang sudah bersalaman dengan Dinda.


"Aku takut telat ma, sampein aja ya kalo aku udah berangkat" ucap Dinda sebelum membawa tentengan yang begitu banyak menuju ke mobilnya.


Dinda sampai di rumah Ayu pukul 07:10 WIB, di dalam rumah, sepasang suami istri itu sedang menikmati sarapan bersama. Hingga akhirnya Dinda masuk dan ikut sarapan dengan mereka.


"Pak, titip kue ya buat Pak Zapata" ucap Dinda saat mereka sudah selesai sarapan.


"Kenapa ga kasih sendiri Din? Saya bisa kasih kamu alamat kantornya" ucap Aidil yang dalam hatinya ingin sekalian mengenalkan Dinda pada sang sahabat yang sampai sekarang belum kunjung move on dari mantannya yang terdahulu.


"Aduh, aku ga berani. Takut dianya ga mau nerima kalo aku sendiri yang ngasih" ujar Dinda menutupi rasa keberatannya.


"Ya udah deh. Terus mau nitip apalagi?" tanya Aidil.


"Mau nitip kalimat ya Pak. Gini, pokonya saya mau berterima kasih sama Pak Zapata karena sudah membantu saya bahkan tanpa saya minta. Dan kue ini sebagai bentuk ucapan terima kasih dari saya karena sudah merepotkan Bapak. Udah, gitu aja, Pak" pungkas Dinda yang tersenyum cerah karena setelah ini ia tak perlu lagi merasa tak enakan dengan si Zapata itu.


"Oke deh. Nanti akan saya sampaikan. Kalo gitu saya berangkat duluan ya" ujar Aidil lalu menyalami sang istri dan berlalu menuju pintu utama.

__ADS_1


"Yu, gue juga mau berangkat deh. Tuh kuenya di habisin, gue sampe sakit pinggang tau bikinnya" ucap Dinda dengan memperagakan pose sakit pinggang di hadapan Ayu.


"Iyaa, lo tenang aja. Masa gue buang. Secara, lo pasti bikinnya pakek cinta, biar si Zapata kena pelet cinta lo, kan?" ujar Ayu meledek Dinda.


"Halah, ga perlu pakek pelet juga dia udah terpesona hahaha" ujar Dinda dengan tawa menggelegar. Karena sebenarnya ia juga tidak pede dengan ucapannya barusan. Terbukti, wajahnya memerah setelah mengatakannya.


"Hahaha, bisa aja lu yaa". Toel Ayu pada pipi merah Dinda. "Terus ini merah-merah kenapa? Geli sendiri dia" ujar Ayu yang berhasil membuat Dinda cekikikan sampai ngos-ngosan.


"Udah ah, mau kerja gue bukan mau ngobrol sama lu". Lalu Dinda langsung meninggalkan Ayu yang masih geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya pagi ini.


Sesampainya di kantor, Dinda bekerja sambil memainkan ponselnya yang ia gantung di lehernya. Beberapa kali ia menatap ponselnya yang tak menerima pesan dari satu orang pun.


Semenjak ia putus dari Ariel, ponsel Dinda benar-benar sepi seperti kuburan. Inilah akibatnya kalau pacaran terlalu setia, setelah putus langsung benar-benar sepi seperti kuburan, omel Dinda dalam hatinya.


"Ga boleh, itu namanya jahat. Nanti aku yang selingkuh aku juga yang nyesal" ujar Dinda yang masih lugu dan susah di pengaruhi.


"Gak selingkuh juga. Kan cuma temenan aja bisa" kata Sigit memberi saran. Entah ini bisa di sebut saran yang baik atau sebaliknya.


"Ngga, ga mau. Aku maunya pacaran itu monogami. Satu laki-laki untuk satu perempuan, begitu juga sebaliknya. Aku ga bisa kalo pacaran sama si a, tapi sama si b, si c deket juga. Itu tetap selingkuh namanya meskipun ga jadian" ujar Dinda yang tak sepemikiran dengan Sigit.


"Sok tau, kaya pernah selingkuh aja" tutur Sigit yang tak bisa sehari saja tak berdebat dengan Dinda. Mungkin baginya berdebat dengan Dinda sama saja dengan mengisi energi, efeknya bekerja jadi lebih semangat.


"Yee, meskipun belum pernah dan ga akan pernah. Sedikit banyak juga aku tau yang namanya selingkuh itu apa" ketus Dinda mulai kesal.


"Ya apa?" pancing Sigit ingin tahu.

__ADS_1


"Selingkuh itu meskipun lo ga jadian sama dia tapi kalo lo menyembunyikan itu dari pasangan lo, itu namanya udah selingkuh. Nih ya, sekalipun lo ga pernah jalan sama dia, ga pernah tidur sama dia, cuma sebatas chatingan doang dan lo anggap sebatas temen doang. Tapi, lo sadar kalo lo takut pasangan lo tau". Dinda memberi jeda atas ucapannya. "ITU UDAH TERMASUK SE...LING...KUH".


"Wah wah wah, sudah mulai dewasa ternyata adik kita satu ini" ucap Sigit yang memberi tepukan tangan dan berbicara kepada semua penghuni ruangan baik kepada yang terlihat maupun yang tak terlihat.


"Kasih gue waktu satu bulan ga ketemu lo, pasti gue jadi pribadi lebih baik" ledek Dinda yang memang sudah jengkel dengan teman kantor rasa abang kandung satu ini. Meskipun tiada hari tanpa berdebat, tapi Dinda sayang Sigit. Sayang selayaknya adik kepada kakak. Bahkan Dinda juga berteman dengan istri Sigit yang bernama Caca yang seumuran dengan Dinda.


"Justru lo jadi lebih baik kalo sering-sering ketemu gue" ucap Sigit sambil melempar kertas yang sudah ia remas-remas.


"Ngga, lo bawa pengaruh buruk buat gua" elak Dinda yang tak mau Sigit menjadi besar kepala.


"Ya udah, lo (nunjuk Dinda) gue (nunjuk diri sendiri) end" pungkas Sigit dengan lawakannya yang itu-itu saja dari sejak pertama kali mereka akrab sampai sekarang tidak pernah upgrade.


"Hilih" gumam Dinda sambil memasang wajah sinis karena sudah sangat bosan mendengar kalimat itu.


Siang harinya, Dinda and the genks siapa lagi kalau bukan Sari, Sigit, dan Vinike. Mereka menuju kantin untuk makan siang, yang cewek-cewek memesan makanan sesuai selera mereka plus Sigit yang nitip minta di pesankan. Sebab mereka berbagi tugas, yang cewek pesan makan, sedangkan Sigit yang merupakan cowok sendiri mencari meja kosong tempat mereka duduk.


Dinda yang sudah lebih dulu ke meja di banding Sari dan Vinike, ia duduk tepat di samping Sigit. Sigit sibuk saling sapa dengan temannya yang lain yang duduk di meja sebelah, sedangkan Dinda sibuk mengotak-atik ponselnya yang sunyi sepi seperti kuburan.


●●●


Hello pembaca kesayangan akuuu, makasih yaa udah selalu nungguin up. Kalian luar biasaaa.


Jangan lupa kasih aku dukungan yaa kalian bisa like, komen, and subscribe ah salah, vote doong...


Aku terharu deh, meski up nya jarang-jarang tapi kalian masih inget aja sama jalan ceritanya... Aku padamu teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2