
Sherly dan Rama telah sampai di panti asuhan. Disana mereka disambut hangat oleh pengurus panti yang bernama Bu Rahma. Kedatangan Rama dan Sherly memang tanpa pemberitahuan sebelumnya, namun untunglah Bu Rahma sedang tak ada kesibukan diluar panti sehingga mereka tetap bisa bertemu dengan Bu Rahma dan menyampaikan maksud kedatangan mereka ini.
"Selamat siang Bu, saya Rama dan ini Sherly. Kami berdua kesini bermaksud ingin memberikan sumbangan untuk anak-anak disini. Memang jumlahnya tidak seberapa tapi saya harap ini bisa membantu kelangsungan hidup anak-anak di panti ini, Bu" Rama memperkenal dirinya dan Sherly serta langsung memberikan uang yang telah mereka bawa. Bu Rahma pun tampak gembira menerima sumbangan dari pasangan sejoli tersebut.
"Terima kasih Nak Rama dan Nak Sherly. Panti ini memang beberapa bulan ini sudah kehilangan banyak donatur. Syukurlah kini anak-anak disini mendapat rezeki lagi dari kalian. Ibu sangat senang menerimanya. Tapi alangkah baiknya kalian masuk dulu yuk keruangan ibu, karena ada berkas yang perlu di tanda tangani setiap donatur yang berdonasi" ucap Bu Rahma sekaligus memimpin langkah mereka untuk menuju keruangan pribadinya dengan disusul seorang pelayan yang berdiri di belakang Sherly.
Sampai diruang kerja Bu Rahma, Rama dan Sherly pun membubuhkan tanda tangannya pada buku tebal yang memang disana terdapat banyak tanda tangan dari para donatur sebelum mereka. Rama dan Sherly juga di jamu dengan baik oleh pihak Panti. Mereka juga diizinkan untuk melihat-lihat sekeliling panti ataupun bermain dengan anak-anak.
Sherly dan Rama pun berkeliling di sekitaran panti yang terbilang cukup luas itu. Sherly melihat sebuah ruangan yang tertutup dan terdengar suara bayi yang menangis. Ia pun masuk kedalam dan melihat diruangan itu ada beberapa pengasuh yang kewalahan menghadapi bayi-bayi yang rewel. Sherly pun akhirnya tergerak untuk menggendong seorang bayi mungil yang menangis sampai wajah mungilnya merah padam.
Rama pun ikut masuk keruangan itu saat dirinya melihat sendal Sherly tergeletak di depan ruang bayi itu. Ia pun ikut menghibur bayi yang ada dalam gendongan Sherly.
Lalu tiba-tiba....
Proooooot bbruuut
Sherly terdiam mematung. Dalam sekejap hidungnya bisa mencium aroma tak sedap yang menguar dari balik popok bayi yang ia gendong.
Rama pun mendadak ingin muntah karena ia sangat tidak bisa mencium aroma yang berbau busuk. "Huek, huek".
"Maaf tante, perut aku lagi gak enak" ucap seorang pengasuh dengan suara yang dibuat seperti anak kecil. Pengasuh itu pun langsung mengambil sang bayi dari gendongan Sherly. Lalu ia baringkan di atas perlak untuk di bersihkan.
Sherly masih betah berada di dekat sang bayi yang sempat poop digendongannya itu. Sedangkan Rama sudah keluar entah kemana.
"Kamu poop-in tante ya? Berani ya? Hahaha. Awas ya kamu" Sherly malah asyik bercanda dengan si bayi gembul itu. Sedangkan sang bayi bernama Dena yang berusia 3 bulan itu hanya menjawab aoao dengan menatap ke arah Sherly. Seolah kini keduanya terlibat percakapan serius.
Setelah selesai dibersihkan, Sherly pun kembali menggendong bayi mungil itu. Dan berniat membawanya berjalan-jalan sembari mencari keberadaan Rama.
Saat lelah berjalan-jalan, Sherly pun duduk dibangku taman yang terdapat banyak fasilitas bermain anak-anak. Seperti jungkat-jungkit dan ayunan. Sekaligus ia ingin meluruskan kakinya yang lelah membawa beban tambahan 6 kiloan di tubuhnya.
"Oom mana ya? Kamu nanti jangan poop lagi ya, nanti oomnya kabur lagi terus tante ditinggalin" mendengar Sherly berkata demikian, si bayi pun tertawa menatapnya.
"Lho, kamu seneng ya kalo oom ninggalin tante. Duh kejamnya. Nanti tente cium sampe merah pipi kamu" Sherly mengusap-usap hidung mancungnya pada pipi bayi gembul itu. Sedangkan bayi perempuan itu hanya tersenyum kesenangan.
"Huah" Rama datang dan duduk di samping Sherly. Ia terlihat lelah dan lega diwaktu bersamaan.
"Oom darimana?" tanya Sherly mewakili si bayi perempuan itu.
"Habis ngeluarin isi perut" jawab Rama sambil mengusap perutnya yang terasa kosong.
"Gimana mau jadi papa kalo nyium bau poop anaknya aja langsung kabur" tutur Sherly.
"Kan ada mamanya" jawab Rama.
"Huftt, kamu gedenya cari pacar jangan kaya oom ini yaa" Sherly pun mengahadapkan wajah sang bayi ke arah Rama. Rama pun akhirnya ikut mengajak bicara sang bayi itu. Dena mudah sekali akrab dengan orang yang baru ia temui. Bahkan Dena makin senang saat Rama berdiri. Ia berharap di gendong oleh Rama.
__ADS_1
"Pak dokter, dia pengen digendong" ujar Sherly.
"Ya udah sini" Rama pun mengambil Dena dari dekapan Sherly.
Sherly pun mengeluarkan ponselnya lalu mengambil gambar dirinya serta Rama dan Dena. "Kita kaya keluarga bahagia ya?" ucap Sherly sembari memperhatikan jepretan yang baru saja ia ambil.
Rama pura-pura tak mendengar ucapan Sherly. Karena ia malas jika merespon ucapan itu lalu berakhir dengan gombalan-gombalan nyeleneh dari Sherly membuatnya lemah sendiri.
Rama pun berjalan-jalan sembari menggendong Dena. Mereka menyusuri tempat-tempat yang terhalang dari sinar matahari. Lalu mereka disusul oleh Sherly yang datang membawa botol susu yang terisi penuh.
"Pak, siniin. Mimik dulu, dia pasti haus" ujar Sherly yang telah memposisikan dirinya duduk di sebuah bangku dan meminta Rama mengembalikan Dena padanya.
"Kamu mimik dulu ya sama tente. Nanti om gendong lagi emmuah" Rama pun menyerahkan Dena pada Sherly. Walau kini Dena di pangku Sherly sambil diberi susu, namun tampaknya bayi itu tak memperbolehkan Rama menjauh darinya. Karena sepanjang ia minum susu jari Rama tak pernah ia lepaskan walau sekejap.
"Sebentar lagi kita pulang yuk" ajak Rama sembari memain-mainkan pipi Dena.
Dengan jarak yang sedekat ini, jantung Sherly menjadi berdebar tak menentu. Dalam khayalannya waktu di kantin rumah sakit, dirinya hanya akan bermain bersama anak-anak panti lalu Rama akan melihat bahwa Sherly memiliki sisi positif bahwa dirinya sangat menyukai anak-anak. Namun ternyata kenyataan lebih indah dari yang ia bayangkan. Kini malah dirinya seperti sudah memiliki anak sendiri dan Rama lah suaminya. Duh, jadi pengen...
"Kamu denger gak sih aku ngomong apa? Malah senyum-senyum" tegur Rama. "Tante kesambet nih" sambungnya pada Dena.
"Aku lagi ngebayangin masa depan kita kalo punya anak begini" Sherly melirik Rama lalu Dena lalu kembali pada Rama.
"Mikirnya kejauhan. Sekolah aja belum lulus" sindir Rama.
"Apa?" tanya Rama lagi.
"Ya apa?" tanya Sherly lagi.
"Gak jelas. Udah yuk pulang" Rama berdiri dari posisinya. Dena pun mendadak terisak karena jari Rama terlepas dari genggamannya.
"Tuh kan nangis gara-gara bapak" cecar Sherly yang tak tega melihat wajah Dena menjadi iba.
"Maaf maaf sayang, cup cup cup" Rama kembali duduk dan memberikan telunjuknya untuk Dena pegang. Mungkin bayi itu sudah terbiasa memegang jari pengasuhnya saat sedang menyusu, pikir Rama.
"Setengah jam lagi kita pulang" ucap Rama pelan di samping Sherly.
"Iya pak dokter" jawab Sherly.
-
Setelah puas bermain dengan Dena, Rama dan Sherly pun pamit pulang pada Bu Rahma. Mereka juga berjanji suatu saat jika ada waktu akan kembali mengunjungi panti. Bu Rahma pun menghantarkan mereka sampai di depan panti asuhan.
Saat di perjalanan pulang, lagi-lagi Sherly mengucapkan terima kasih pada Rama. "Pak dokter, makasih ya" kata Sherly.
"Untuk?" tanya Rama.
__ADS_1
"Kesempatan jalan berdua-nya" jawab Sherly.
"Sama-sama" jawab Rama.
"Aku seneng banget bisa main ke panti. Bapak seneng juga gak? Atau aku aja yang seneng?" tanya Sherly.
"Saya juga senang kok" sahut Rama.
"Berarti kalo pergi berdua sama aku, masih mau lagi?" tanya Sherly.
"Nggak" jawab Rama singkat.
"Kirain"
"Oh iya pak, aku habis lulus sekolah mau jadi dokter juga. Biar bisa kaya bapak" ujar Sherly dengan penuh semangat.
"Hm" namun respon Rama membuat semangatnya kembali redup.
"Masa hm doang" protesnya.
"Belajar yang rajin, nanti pasti bisa jadi dokter yang hebat. Jangan kaya saya, harus lebih hebat dari saya" ucap Rama memberi motivasi.
"Asal bapak selalu ada buat saya pasti saya bisa"
"Huh, lagi-lagi kamu gombalin saya. Bentar lagi sampe nih" ucap Rama tanpa ada niat apa-apa.
"Kenapa emang kalo udah mau sampe? Bapak gak suka ya kalo pisah dari aku? Uuuhhh, bapak suka gitu. Diam-diam suka, masa aku terus sih pak yang agresif. Sesekali bapak dong yang gombalin aku duluan" Sherly memukul manja bahu Rama. Seolah dirinya sedang gemas terhadap Rama.
"Saya justru berharap kita gak ketemu lagi. Repot saya kalo kemana-mana sama anak baru gede" rutuk Rama.
"Janji ga kangen aku?" tanya Sherly saat mobil Rama sudah masuk pekarangan rumahnya.
"Apa sih? Udah sana, masuk gih" usir Rama.
"Tenang aja pak, kalo pun kangen kan udah punya nomer aku" Sherly pun turun lalu sebelum masuk kerumahnya ia masih menyempatkan diri untuk dadah-dadah heboh pada Rama. Membuat Rama mencebik dan berputar untuk segera pergi dari sana.
Setelah Sherly turun dari mobilnya, Rama merasa perjalanannya kembali ke apartemen menjadi hening dan terasa sangat lama. Ia harus melewati 34 lampu merah dan menempuh 1 setengah jam perjalanan untuk sampai ke kawasan apartemen elit miliknya. Dan ia merasa bosan karena perjalanannya kali ini tidak diiringi dengan suara cempreng Sherly yang biasa mencabik gendang telinganya.
●●●●
Selamat malam sabtu, buat yang gak sabar malam mingguan bareng ayang huhuhu...
Otor juga gak sabar neh mo malam mingguan, tapi gak punya ayang.
Tapi kalo kalian rajin komen, vote, like dan kasih hadiah pasti aku gak jadi sedih. Malah jadi semangat buat lanjut nulis guise:)
__ADS_1