
Dinda melihat dengan jelas adegan pelukan Nanda dan Lita yang kini sudah terlepas. Setelah menarik nafas dalam, Dinda pun mengetuk pintu sebelum membukanya.
Tok tok tok
"Masuk". Terdengar suara Nanda yang mempersilahkannya masuk.
"Assalamu'alaikum" sapa Dinda saat ia muncul dari balik pintu. Tak lupa, ia menampilkan senyumnya karena tak mungkin bertemu sang kekasih yang lama tak ia jumpai justru memperlihatkan wajah murung di hadapan Nanda. Marah pun mesti dengan etika, ya kan? Harus lihat-lihat tempat, ga mungkin depan umum atau bahkan depan Lita yang lagi sakit.
"Wa'alaikumsalam" jawab Nanda dan Lita berbarengan.
...Huft kompak bener...
Dinda pun masuk membawa buah-buahan yang sempat ia beli sebelum ke rumah sakit. Lalu ia menyerahkannya pada Nanda, selaku penghuni kamar ini.
Nanda pun menerima buah yang Dinda sodorkan padanya. Tanpa pikir panjang, Nanda juga langsung mencuci dan mengupasnya untuk di makan Lita dan dirinya.
Nanda memilih mengurusi buah-buahan itu ketimbang melihat Dinda yang menatapnya dengan tatapan yang sulit di baca. Sambil mengupas buah, ia juga berpikir kira-kira apa salah yang ia perbuat sehingga Dinda acuh padanya. Dinda memang tersenyum, namun senyum itu sangatlah horor bagi Nanda.
"Makasih udah jenguk" ucap Lita memecahkan kesunyian di antara mereka bertiga.
"Iya, semoga lo cepet sembuh" dan ga ngerepotin pacar gue lagi, sambung Dinda dalam hati.
Dinda masih dalam posisi berdiri karena sedari tadi tak ada yang menawarinya duduk. Sedangkan Nanda duduk nyaman di kursi samping Lita.
...Ini juga, ga peka banget. Jauh-jauh datang kesini, bukan cuma hati yang sakit, tapi kaki ikut pegel, gerutu Dinda sambil melihat Nanda yang tak sudah-sudah mengurusi buah-buahan itu....
Pasti sengaja, takut kamu kan sama aku??? Ngurusin buah udah kaya ngurus anak. Dari tadi ga selesai-selesai. Sini dong liat aku. Pegel lho aku.
"Eh ini, aku ga di suruh duduk dulu apa?". Di kode ga peka, sindir aja langsung.
Nanda langsung gelagapan.
"Silahkan duduk sayang". Nanda berdiri lalu menawarkan kursi yang menjadi tempat duduknya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih? Aku datang kok kaya gugup banget gitu?"
Hayo lo, mau jawab apa lo?
"Tau nih, tadi ga ada kamu Nanda masih biasa aja. Kok sekarang jadi tertekan gitu". Kali ini justru Lita yang menjawab.
Nanda pun bergeser mendekati Dinda. Ia mengusap lembut pundak Dinda lalu mengajaknya untuk ke kantin.
"Sayang, kita ke kantin yuk. Temenin aku makan, aku laper" ajaknya lalu berpamitan sebentar dengan Lita. Lita pun hanya mengangguk pasrah.
Nanda dan Dinda berjalan menuju kantin rumah sakit. Di tengah perjalanan mereka, Dinda meluapkan sedikit demi sedikit rasa kesalnya.
"Kamu sendirian aja nemenin Lita malam ini?" tanya Dinda dengan pertanyaan awalan yang cenderung ringan.
"Iya sayang" jawab Nanda mengangguk patuh.
"Sampe kapan?"
"Ha... harusnya sih cuman malam ini doang" jawab Nanda sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Lita yang minta sayang. Dia bilang kalo sama yang lain dia ga nyaman" Nanda bersikukuh memberi pengertian pada kekasihnya itu.
"Selain nemenin ngapain lagi?" tanya Dinda mulai menjurus ke apa yang tadi sudah ia lihat.
"Ya ga ngapa-ngapain sayang. Emangnya mau ngapain lagi, kan cuma jagain orang sakit" kata Nanda berusaha membela diri dan jangan sampai keluar jawaban yang memancing pertanyaan baru.
"Aku udah lihat kamu pelukan sama Lita"
Nyessss
Ambyar sudah pertahanan Nanda untuk menutupi sesuatu yang fatal itu. Ternyata Dinda sudah lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Aku... aku cuma ngehibur dia sayang. Demi Allah, ga lebih dari itu" ucap Nanda buru-buru genggam tangan Dinda supaya kekasihnya itu percaya.
__ADS_1
"Beneran sayang, aku juga ga mau lama-lama jagain dia di sini. Aku tahu gimana perasaan kamu kalo aku lebih banyak ngabisin waktu sama orang lain di banding sama kamu". Nanda masih mencoba membujuk Dinda agar tak marah padanya. Nanda juga jujur dengan apa yang ia katakan. Ia bukanlah laki-laki yang tak punya perasaan. Namun, di satu sisi Lita adalah sahabatnya yang sejak lama sudah ia kenal dan juga perasaan Dinda tak mungkin ia tepiskan begitu saja.
Kenapa ini harus terjadi padaku, Tuhaaan... Teriak Nanda dalam hatinya.
Dinda yang percaya akan kata-kata Nanda pun akhirnya luluh. Karena sepanjang yang ia tahu, bahkan Nanda mulai menjaga jarak dengan Lita karena tak mau menyakitinya. Dan bagi Dinda, tak apalah untuk saat ini mengalah. Karena Lita memang lebih membutuhkan Nanda. Tapi tetap, Nanda perlu di peringatkan.
"Oke, anggap aja aku ga liat apa-apa" ucap Dinda enteng. Lalu ia berjalan cepat meninggalkan Nanda di belakang.
"Ck... salah lagi gue" umpat Nanda kesal karena Dinda meninggalkannya begitu saja.
Setelah Nanda menyusul Dinda sampai kantin, mereka pun duduk bersisian dan memesan makan. Dinda terus-terusan cuek terhadap Nanda. Apa saja yang Nanda tanyakan hanya iya-iya saja jawabnya.
Nanda pun tak habis pikir kalau ternyata marahnya Dinda itu seperti ini. Susah sekali di bujuk. Bahkan Nanda ikut kesal juga lama-lama. Tapi ia tak bisa bertindak apa-apa, karena yang terjadi hari ini memang salahnya. Sudah sepatutnya ia di hukum atas perbuatannya.
Dinda dan Nanda makan dengan tenang. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Nanda begitu menyesali perbuatannya. Padahal harusnya pertemuan mereka di warnai dengan saling melepas rindu, namun nyatanya justru Nanda menorehkan luka di hati Dinda. Nanda mengutuk dirinya sendiri karena bertindak sesuka hati.
Setelah keduanya selesai makan, Nanda pun membayar makanan mereka berdua. Lalu kembali menuju kamar Lita. Sampai di kamar Lita, Dinda langsung pamit karena tak tahu juga mau ngapain. Ngobrol sama Lita bisa menguras kesabarannya, sedangkan Nanda pun sedang tak enak di ajak bicara. Dan sebagai pria dewasa, tentu saja Nanda memilih untuk mengantarkan Dinda sampai ke mobilnya.
Mereka tetap saling diam. Nanda yang takut salah bicara, Dinda yang malas mengeluarkan sepatah katapun.
Sampailah keduanya di samping mobil Dinda. Nanda sebetulnya ingin sekali menahan kepulangan Dinda. Namun ia tak bisa menyampaikan niat di hatinya itu. Karena takut dengan sikap dingin Dinda.
"Kamu hati-hati dijalan ya". Malah kata-kata itu yang keluar dari mulutnya. Membuat Dinda makin yakin bahwa Nanda memang ingin berdua-duaan dengan Lita dan ingin mengusirnya sejak tadi.
"Kamu juga ya. Hati-hati berdua-duaan sama Lita" ketus Dinda dengan tajam.
"Yang, tolonglah. Kamu jangan salah paham sama aku. Aku ga ada rasa sama sekali ke Lita. Aku kenal dia udah lama, dan buktinya apa. Aku jadi pacar kamu kan? Bukan pacar Lita". Nanda mengusap kasar wajahnya karena ia merasa sedari tadi penjelasannya sudah cukup namun ternyata masih kurang.
"Emangnya aku salah ya ngomong hati-hati ke kamu?" jawab Dinda santai seolah di antara mereka tidak terjadi apa-apa.
Salah lagi... Nasib-nasib, ringis Nanda dalam hatinya. Mengapa hari ini ia begitu sial. Mata kurang tidur, sekarang harus nginap rumah sakit pula. Lita berhutang banyak nih sama gue.
"Sayang, kalo kira-kira masih ada yang pengen di lurusin. Ayo deh, duduk di taman. Kita ngomong baik-baik. Aku cape, beneran. Dan aku juga ga mau kamu diemin aku terus. Kamu mau pukul aku, pukul deh kalo itu bisa bikin hati kamu tenang" Nanda meremas rambutnya karena menahan kekesalannya yang tak mungkin ia tunjukkan pada Dinda.
__ADS_1
"Ngga, udah malem. Aku mau pulang aja" Dinda pun masuk ke dalam mobilnya dan mengklakson Nanda lalu pergi meninggalkan rumah sakit.