(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
26. Kondangan


__ADS_3

Selamat membaca... Jangan lupa likenya, yanga banyak yaa👍


...*...


...**...


...***...


Senin cerah, Dinda yang kini sudah mematung memperhatikan dirinya di cermin kala ia melihat takjub dirinya sendiri yang kini memakai setelan kebaya modern. Setelan itu sangat jarang Dinda pakai sebab harus menunggu momen yang tepat dan pas saja baru Dinda memakainya.


Paling kencang juga 1 bulan sekali ia memakai kebaya jika kondisi saat itu sedang musim kawin hehe. Dimana tiap bulan selalu ada saja kerabat atau teman dekatnya yang melangsungkan pernikahan.


Dinda yang hari ini sengaja tidak masuk kuliah karena sahabatnya sejak Sekolah Menengah Pertama yang bernama Ayu akan melaksanakan ijab kabul hari ini di Masjid Muhajirin di Komplek Perumahan tempat Ayu tinggal. Karena hubungan mereka yang tetap dekat sampai saat inilah makanya Dinda rela mengambil jatah absennya untuk menghadiri momen spesial sang sahabat.


Dinda pun akan pergi nanti bersama Ariel. Sebab tak ada alasan untuknya tak mengajak Ariel.


Ariel dan dirinya kini bagai sepasang sendal yang tak bisa di pisahkan. Membuat banyak teman-temannya iri melihat keromantisan hubungan mereka.


Yang mana, tidak hanya Dinda saja yang bucin. Atau Ariel saja yang bucin, melainkan keduanya bucin. Alias Budak Cinta.


Seperti halnya hari ini, hari Senin. Biasanya Ariel akan berangkat ke kantor untuk bekerja namun demi sang pujaan hati, ia rela untuk tak masuk kerja demi bisa mendampingi Dinda hadir ke acara nikahan temannya. Mereka sepakat untuk memakai warna setelan yang senada.


Yaitu biru langit. Dinda dengan kebaya warna biru langit dan bawahannya kain berwarna coklat. Sedangkan Ariel menggunakan celana formal warna hitam dan batik warna biru langit.


Setelah Dinda selesai bersiap-siap. Ia segera turun untuk menemui Ariel yang sudah 30 menit menunggunya di bawah.


Ariel sangat sabar. Ini bukan kali pertama baginya untuk berlama-lama nungguin Dinda mandi atau dandan.


Sudah khatam sekali bagi Ariel memperhitungkan waktu yang biasa Dinda habiskan kalo bersiap-siap untuk bepergian santai atau pas mau kondangan. Meski Ariel bisa saja berdiam diri di rumahnya sampai nanti ada pesan dari Dinda yang mengatakan jika ia sudah siap.


Dan Ariel tak melakukan itu, dengan gaya maskulinnya ia akan segera turun dari mobilnya yang baru 3 detik ia naiki. Kemudian memasuki rumah Dinda lalu menunggui Dinda di ruang tamu.


Kalo mama papa Dinda sedang ada di rumah, maka merekalah yang akan menemani Ariel. Tapi untuk saat ini, mereka sedang ke luar kota karena ada perusahaan papa Dinda di Medan yang sedang bermasalah.

__ADS_1


"Sayang, aku udah siap" tutur Dinda saat ia telah sampai ke ruang tamu. Dan duduk di samping Ariel.


"Aku bosan liat kamu. Kenapa harus cantik tiap hari sih?" tanya Ariel dengan raut wajah antara bercanda atau serius.


"Aku juga bosan liat kamu, kenapa ga pergi aja sih?" balas Dinda sengit dengan ujung kata-katanya yang tak sesuai dengan yang Ariel harapkan.


"Aku muji kamu, tapi kamu malah ngusir aku" sahut Ariel yang mulai berpura-pura ngambek.


"Kamu tuh, muji kok tiap hari. Lelah hayati" sahut Dinda sambil pasang wajah melasnya yang makin membuat Ariel gemas untuk segera mencubit pipi tomatnya.


"Ya udah kalo di puji ga mau, tapi kalo di ajak ke pelaminan mau kan ?" ledek Ariel sambil menaik turunkan kedua alisnya. Lalu Ariel menarik tangan Dinda untuk segera menuju mobil.


"Bibi, aku berangkat yaa" teriak Dinda yang sudah di tarik Ariel.


"Jangan bawa Adek ke rawa-rawa bang" rutuk Dinda yang tetap mengekori Ariel dan seolah-olah hendak di ajak oleh Ariel ke tempat ga jelas.


"Kamu tenang aja, aku udah bosen main di rawa-rawa. Sekarang kita ke kolong jembatan aja. Biar beda sensasinya" balas Ariel sambil membuka pintu mobil untuk Dinda dan mendorong serta memegangi kepala Dinda agar tak kejedot bagian atap mobil saat masuk ke mobil.


Seketika Dinda melotot ke arah Ariel. Yang di pelototi justru tersenyum manis sambil mengacungkan 2 jari membentuk huruf v.


Kini mobil yang di kendarai Ariel telah membelah jalan raya dan 25 menit lagi bisa di pastikan mereka akan sampai di lokasi yang mereka tuju. Ariel yang memang jarang-jarang lihat Dinda seanggun ini pun suka mencuri-curi pandang ke arah Dinda.


"Apa lirik-lirik?" tanya Dinda dengan nada seolah-olah akan membunuh orang yang meliriknya.


"Busyettt, PMS bun?" tanya Ariel yang melihat keanehan di diri Dinda. Apalagi penyebabnya kalo bukan PMS. Dan lagi pula Ariel sedang tak punya salah terhadap Dinda saat ini.


"Kok tahu?" tanya Dinda balik yang merasa beruntung memiliki pasangan seperti Ariel yang benar-benar mengerti dirinya.


"Kamu kan judes kalo lagi ada 2 perkara. Pertama, kalo aku lagi ada salah. Kedua, kalo lagi PMS" terang Ariel sambil mengangkat jarinya sesuai dengan angka 1 dan 2.


Dinda tertawa di samping Ariel, ia gemas mendengar keterangan Ariel. Ia mengakui bahwa yang Ariel sebutkan itu mutlak kebenarannya.


"Sayang, tiap aku judes kok kamu ga pernah ngeluh?" tanya Dinda lagi ingin tahu.

__ADS_1


"Aku ikhlas sayang, toh seminggu aja kan kamu judes-judesin aku. Itung-itung latihan mental sebelum nikah" tutur Ariel dengan raut wajah serius.


"Kamu serius mau nikah sama aku?" tanya Dinda lagi dan lagi. Nanya mulu dari tadi. Biasalah cewek, maunya di sanjung-sanjung.


"Kalo aku main-main ngapain repot-repot macarin kamu. Sampe dapet pengalaman di tolak lagi" gerutu Ariel mengingat pengalaman pahitnya pertama kali di tolak cewek. Tetangganya pula.


Dinda terkikik geli. Ia pun jadi ingat kalo dulu ia sempat gegana, gelisah galau merana.


Dia yang nolak, dia pula yang gegana. Kan aneh.


Kalo jadi pihak yang di tolak mah wajar jadi gegana. Lah ini, dia yang nolak.


Dasar aneh, batin Dinda.


"Dulu aku nolak kamu, sekarang aku cinta mati sama kamu" pekik Dinda. Tiba-tiba saja yang tadinya batrenya 30% jadi 100%.


"Beruntung kan punya pacar kaya aku, udah ganteng, royal, tajir, sampe ga bisa berkata-kata lagi kamu" puji Ariel pada dirinya sendiri sambil nunjuk-nunjuk ke dirinya sendiri.


"Ada, satu lagi belom kamu sebutin" sahut Dinda yang siap menyerang mental Ariel.


"Apa?" tanya Ariel polos.


"Gila" sahut Dinda sambil tertawa dengan renyahnya.


"Putar balik nih kalo kamu masih ketawa". Ancam Ariel yang tentunya hanya bercanda.


"Putar aja, aku buat leher kamu yang ga bisa mutar" balas Dinda sengit yang membuat Ariel reflek mencubit pahanya sedikit.


...*...


...**...


...***...

__ADS_1


Sampai jumpa di bab selanjutnya...


Tapi komen dong guys sesekali, ah elah😭


__ADS_2