(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
22. Runyam


__ADS_3

JANGAN LUPA LIKE BIAR AKU SEMANGAT BUAT UP EPISODE SELANJUTNYA YA GUYSS😍😍


...*...


...**...


...***...


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Yang namanya hubungan percintaan, ada laki-laki dan perempuan yang saling mengikat karena perasaan saling menyayangi dan saling setia. Kalau tidak ada sayang, hanya setia sama saja bohong. Tapi jika sayang namun tidak setia. Untuk apa bersama.


Yang namanya hubungan memang pasti ada pasang surutnya. Seperti lautan, ia tenang meski yang di alami tak setenang itu.


Seperti pendapat orang-orang terdekat Ariel dan Dinda, mereka selalu bilang bahwa Dinda dan Ariel selalu terlihat baik-baik saja karena mereka saling cocok satu sama lain dan seolah tak pernah ada kata berantem di antara mereka.


Tentu saja tak seperti kelihatannya.


Dinda dan Ariel pernah kok berantem hebat, terlebih setelah kini hubungan mereka sudah lewat 1 tahun.


Flashback On*


Dimana saat itu Dinda sedang suntuk dan membuka aplikasi instagram milik Ariel di handphonenya dan menemukan 1 chat yang membuat Dinda penasaran untuk membukanya. Pesan itu di kirim oleh perempuan yang Dinda yakini bernama Mutia karena memang tercantum begitu meski ada tambahan huruf konsonan setelahnya. Mungkin itu nama panjangnya lagi, pikir Dinda.


Sekilas Dinda lihat foto profilnya. Cantik.


Dinda bisa lihat tanggal dimana Ariel mengirim Direct Messages alias DM tersebut 2 hari yang lalu. Tepatnya malam itu Ariel bilang ke Dinda mau main futsal.


Dan tanpa curiga Dinda iya-iya saja. Toh cuma main futsal, pikirnya.


Ternyata, kini semua terkuak kalo malam itu Ariel jalan sama perempuan yang di DM ini, karena chat terakhir dari perempuan itu bilang "aku udah di parkiran".

__ADS_1


Bagai petir di siang bolong, hati Dinda saat itu tidak bisa menerima kalo kekasihnya yang ia percayai bisa flirting juga. Betapa kecewanya Dinda saat mereka yang dari 5 bulan terakhir sepakat untuk tidak mem-follow akun sosial media lawan jenis terkecuali keluarga dan teman yang mereka kenal. Selain dari itu tidak boleh.


Dinda sampai saat ini betul-betul serius menaati itu. Dan berharap hal yang sama dari Ariel.


Karena berdiam diri saja tidak menyelesaikan masalah, Dinda pun segera menelepon Ariel untuk meminta penjelasan. Tentu saja nanti bahasnya ga disini atau pun di rumah Ariel. Karena pasti ada saja gangguan teknisnya. Jadi ga asik.


"Halo, kamu dimana?" tanya Dinda to the point udah males basa-basi apalagi setelah tau kelakuan Ariel.


"Aku di rumah Abib sayang, kenapa?" jawab Ariel jujur. Karena tadi pun sudah kabari Dinda lewat chat. Dindanya aja yang lupa.


"Pulang jam berapa?" tanya Dinda lagi yang kini membuat Ariel jadi merasa aneh sendiri karena tak biasanya Dinda menanyakan hal ini dan terkesan menyuruh untuk segera pulang.


"Paling bentar lagi sayang. Kamu kenapa?" tanya Ariel ingin tahu.


"Aku di Kafe Cemara, mau ngomong penting sama kamu. Kesini aja" ucap Dinda dingin.


"Iya, aku kesana sayang. Tapi ini ada apa?" masih penasaran.


Dinda tanpa ba bi bu langsung ambil dompet, handphone, dan kunci mobilnya. Ia tak sabar ingin mengintrogasi Ariel. Sebab apa kurangnya selama ini. Bosan? Ariel pikir Dinda tidak pernah bosan terhadapnya? Yang namanya bosan itu pasti ada. Tapi kalo memang dewasa, tunjukkan. Kebosanan itu di hadapi. Bukan di jadikan alasan untuk mencari peluang menghadirkan orang ketiga.


Sesampainya Dinda di Kafe Cemara, ternyata dugaannya benar. Dindalah yang lebih dulu sampai.


Karena tujuan Dinda ke kafe ini untuk mendengar penjelasan Ariel, maka Dinda pun tak masalah jika harus menunggu. Paling 15 menit lagi Ariel akan datang, pikirnya.


1 jam Dinda menunggu, ia mulai kesal dan tak lagi berniat untuk memesan minuman lagi meski minuman yang ia pesan saat baru sampai tadi kini sudah hambar. Dinda yang kini berpikir jika Ariel tak bisa menemuinya, ingin beranjak dari sana untuk pergi kemana kek. Sampai nanti jika hatinya mulai lega baru ia hendak pulang ke rumah.


Namun, baru saja Dinda berdiri dari duduknya. Ariel datang menghampirinya dan langsung mengusap kepala Dinda kemudian duduk di samping Dinda.


"Sayang maaf ya, tadi aku mau ke sini tapi motor di pake Reihan jemput sepupunya. Soalnya kita mau kumpul di rumah Abib" ucap Ariel jujur. Dan Dinda tahu itu karena terlihat dari tatapan Ariel yang tulus dan tak mengada-ada.


"Kamu tahu, aku 1 jam nungguin kamu" tutur Dinda yang entah mengapa saat ini matanya mulai berembun. Padahal belom ada pembahasan mengenai DM.

__ADS_1


"Maaf sayang, aku ga tau kamu nungguin aku selama itu. Emang tadinya kamu di sini sama siapa?" tanya Ariel yang tidak tahu jika kini kondisi hati Dinda sedang tak baik-baik saja.


"Sendiri. Aku sengaja ke sini dan ajak kamu ketemu karena ada hal yang butuh banget untuk di lurusin. Sampe aku rela harus nungguin kamu 1 jam" jawab Dinda cepat bahkan hanya dengan 1 tarikan nafas. Sebab ia sedang berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang kini sudah tak lagi bisa di bendung.


"Sayang kamu kenapa? Kok nangis gini" tanya Ariel yang baru menyadari kalo Dinda sedang menangis.


Begitulah Dinda, semakin ditanya kenapa menangis justru semakin membuat deras air matanya. Butuh beberapa saat untuk menetralkan kesedihannya. Barulah Dinda bisa menyampaikan maksud dan tujuannya.


"Kamu tahu kenapa aku nangis? Karena aku benci kebohongan. Apalagi dari orang yang aku sangat percayai. Sampai disini apa kamu paham?" tanya Dinda yang ingin tahu apakah Ariel akan jujur dengan sendirinya tanpa perlu Dinda paksa.


"Aku ga ngerti maksud kamu sayang" jawab polos Ariel.


"Siapa Mutia?" tanya Dinda langsung ke intinya.


"Temennya Abib sayang" sahut Ariel sambil memutar-mutar handphonenya di meja.


"Kamu bohong kan? Bahkan baru 1 tahun aja aku pacaran sama kamu tapi aku tahu gerak-gerik kamu bohongin aku. Lepasin aku Riel kalo begini caranya" marah Dinda yang kini tak lagi bisa menahan luapan emosinya. Beruntung volume suaranya tidak terlalu besar. Jadi, tidak ada yang mendengarnya.


"Aku minta maaf sayang, aku khilaf. Aku sayang kamu. Aku juga udah ga pernah hubungin dia lagi. Aku berani sumpah. Aku chat dia cuma sekali"


Belum selesai Ariel bicara Dinda lalu memotongnya...


"Dan ketemuan"


Gleekkk. Dengan berat hati Ariel mengangguk dan menyesali perbuatannya. Jika di bandingkan bertemu dengan si Mutia itu dan kehilangan Dinda jelas Ariel tak rela. Karena ia hanya iseng saja dan kebetulan pula si cewek ini mau membalas DMnya. Selebihnya Ariel tak melibatkan perasaannya sama sekali. Karena hatinya tetap milik Dinda seorang.


...*...


...**...


...***...

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca novel ini, jangan lupa tinggalin jejak ya😍 Tekan tombol like dan komen sesuka hati kalian😍😍


__ADS_2