(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
DPR (Dibawah Pohon Rindang)


__ADS_3

Pukul 6 sore, Nanda dan Rama sudah sampai ke rumah sehabis main futsal. Mereka berdua berkeringat dan memilih duduk dulu di teras depan untuk mengeringkan keringat sebelum mandi.


"Darimana?" tanya Feza yang sudah wangi.


"Habis main futsal sama para pemuda sini" ucap Rama.


"Oh" lalu Feza kembali masuk kedalam.


"Habis Pak Prima, gue" ucap Nanda tak kalah cepat saat Rama juga baru akan menyebut kalimat yang sama. Rama pun menerima kekalahanannya. Dan mereka berdua tertawa diteras. 2 laki-laki itu pun masuk saat Pak Prima sudah selesai mandi.


-


Malam ini, mereka makan nasi goreng buatan Feza. Setelah makan malam, Feza masuk kamar dan para lelaki duduk di luar sambil melihat bintang di langit.


"Suntuk banget ya Allah" keluh Rama saat mereka berdiam-diaman di teras.


"Ngapain ya enaknya?" ucap Rama.


"Main gaplek aja" ucap Pak Prima sambil menunjukkan pecahan genting yang ia dapat dari tanah dekat tempatnya duduk.


Nanda dan Rama pun ikutan mencari pecahan genting. Setelah ketemu mereka membuat garis-garis di tanah untuk media mereka bermain.


Feza keluar saat mendengar aktivitas yang mengasikkan di luar. Ia tertawa karena melihat 3 orang laki-laki itu sedang latihan bermain gaplek di malam hari. Maklumlah, udah agak lupa cara mainnya. Apalagi Pak Prima.


"Ayo hompimpa" seru Rama. "Za, ikutan gak?" tawarnya pada Feza.


"Baiklah" jawab Feza dengan ekpresi seolah-olah terpaksa. Lalu Rama emosi berniat melempar gaplek ke arahnya. Feza pun tertawa karena sebenarnya ia sangat senang di ajak bermain bersama mereka.


"Hompimpa alaihum gambreng" seru Rama, Feza, dan Nanda.


"Saya yang pertama" seru Pak Prima kesenangan.


Lalu disusul Nanda, dan kemudian Feza serta Rama suit dan yang menang adalah Rama. Akhirnya Feza bermain paling akhir.


Pak Prima melempar Gaplek, lalu melompat dari kotak 1 ke kotak yang lain. Sedangkan Feza, Rama, dan Nanda menunggui Pak Prima gagal sambil duduk di pinggir beralaskan sendal. Sesekali mereka menggoda Pak Prima agar cepat bergantian dengan Nanda. Apalagi Feza yang dapat giliran main paling akhir. Tentu makin tak sabaran.

__ADS_1


Mereka bermain dengan sangat kompetitif walau itu hanya permainan biasa yang bahkan sampai abad sekarang pun belum pernah dibuat pertandingannya. Sampailah kurang lebih jam 10 malam, akhirnya Feza menang karena dia yang paling jago main. Lalu disusul Nanda juara kedua, Rama juara 3, dan Pak Prima anak bawangnya, hehehe.


"Gais, besok kita main ke masjid yok. Cari sinyal. Sekalian gue mau hubungin mas Rahmat buat bawain kita uno kek, atau monopoli, sama sepeda juga. Biar kita gak suntuk" ajak Rama.


"Wah ayo ayo. Saya juga udah berapa hari gak baca berita. Rasanya udah kayak ketinggalan info 2 tahun" sahut Pak Prima dengan bersemangat.


"Setuju. Gue mah ikut aja" jawab Nanda. "Lo, Za?" tanya Nanda.


"Gue juga, ikut aja". Akhirnya mereka pun masuk untuk beristirahat.


-


Keesokan harinya, setelah makan siang dan sholat dzuhur. Mereka berempat bersiap untuk berjalan kaki menuju masjid tempat mereka sebelumnya pernah numpang sholat.


"Bawa minum woy jangan lupa. Perjalanan kita jauh ni" kata Rama mengingatkan. Mereka pun membawa botol minum masing-masing. Mereka mulai berjalan meninggalkan rumah dinas dengan menggunakan sendal kompakan merk terkenal, yakni swellow. Sendal yang dipercaya hampir 90% orang Indonesia sebagai sendal ternyaman.


Mereka mulai menyusuri jalan aspal. Ditepinya banyak tumbuhan liar yang menjalar bahkan hampir menyentuh wajah. Rama memperhatikan buah-buahan yang seumur hidupnya belum pernah ia jumpai. Buah itu sebesar kelengkeng, jenis tanamannya tumbuh merambat. Rama pun memetiknya lalu berjalan cepat mengejar langkah teman-temannya. Setelah ia buka isinya persis seperti markisa. Karena merasa buah ini aman-aman saja jika dicoba, Rama pun akhirnya memakannya. Dan benar saja, rasanya enak. "Akh, nyesal gak ambil banyak" ucap Rama.


"Ngambil apa sih?" tanya Feza.


Setelah 1 jam mereka berjalan, kini di bawah pohon rindang mereka duduk untuk beristirahat. Meminum air yang menjadi bekal mereka untuk mencari sinyal.


"Cek ah, mana tau disini ternyata ada sinyal" ucap Rama sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong. Lalu ia gerak-gerakkan ke atas seolah ingin menangkap sinyal.


Ting


Terdengar notifikasi di ponsel Nanda. Padahal yang sibuk gerak-garakin ponsel adalah Rama tapi sinyal malah ketangkap di ponsel Nanda. Memang sih, posisi Nanda saat ini lebih tinggi dari mereka. Karena Nanda duduk di salah satu dahan pohon rindang itu. Nanda membuka foto yang di kirim Dinda. Agak lama memang loadingnya. Namun, akhirnya terbuka juga. Pesan itu dikirim Dinda sebenarnya tadi pagi.


Dinda➡Nanda



Habis potong rambut nih😎


Nanda➡Dinda

__ADS_1


PHP, aku kan kangen. Pengen liat mukanya😢


Pesan itu pun terkirim namun istrinya sedang offline. Padahal Nanda sedang ingin melepas rindu saat ini.


Tanpa Nanda sadari ternyata Rama sudah naik lebih tinggi ke dahan pohon yang berada di atasnya. Nanda merasakan ada sesuatu yang menetes, ia pun mengulurkan tangannya kedepan. Memastikan apakah saat ini sedang rintik atau tidak.


"Gak ada, kok ini ada air" gumam Nanda pelan.


Lalu ia melihat ke atasnya. Ternyata Rama sedang menangis. Rama sempat melihat ke arah Nanda dan memberi kode agar jangan membuat yang lain ikut melihat ke arahnya. Nanda pun kembali bersikap seperti tidak terjadi apa-apa dan memusatkan perhatiannya pada ponsel.


Rama menangis karena dirinya di putuskan oleh Maudy. Maudy berkata ia sudah tidak bisa melanjutkan hubungan mereka. Dan Maudy menerima perjodohan yang telah di aturkan oleh sang paman untuknya.


Rama➡Maudy


Semoga bahagia😊


Hanya itu yang mampu Rama ucapkan. Ia tak bertenaga lagi jika harus mengetik lebih panjang. Harusnya, semalam adalah acara lamaran mereka. Namun acara itu Rama undur karena harus pergi menemani Feza ke desa ini. Niatnya, acara lamaran ini akan dilangsungkan setelah Rama kembali ke kota. Namun ternyata semua tak sesuai rencana. Hubungannya kandas ditengah jalan karena Maudy tak bersedia menunggunya kembali.


"Apa susahnya menunggu sebentar? Gak sampe sebulan aku disini. Malah memilih pergi dan menerima perjodohan. Aku tahu ini bukan kemauan kamu, ini pasti desakan keluarga besar kamu yang khawatir kamu gak nikah-nikah. Kalo aku hanya berniat main-main, buat apa aku rela ambil hati papa kamu sejak kita baru kenal. Jadi cewek jangan egois. Aku selama ini gak pernah kecewain kamu. Tapi baru ditinggal sebentar dan aku minta lamaran di undur kamu sudah mikir aku gak serius. Ternyata 10 tahun bersama, kamu tetap gak paham dengan sikap aku. Kalo aku bilang mau nikah sama kamu, itu artinya ya memang mau nikah sama kamu. Terus kenapa kamu tinggalin aku?" Rama menjerit-jerit tak karuan di atas pohon. Sesak sekali jika rasanya hanya menangis pelan namun sedikitpun tidak meringankan beban di hati.


"Ma, istighfar ma" ucap Nanda sambil menarik kaki celana Rama dari bawah.


"Gue gak kesurupan" kesal Rama.


"Iya tau. Tapi Nanti lo jatoh" ujar Feza.


"Biarin aja Za. Hancur-hancur aja sekalian nih badan" ucap Rama mengusap air matanya kasar.


"Gue demi dia, dia demikian. Sakit hati gue" celoteh Rama masih membahas perihal Maudy.


"Udah-udah. Itu artinya gak jodoh" sahut Nanda masih setia mendongak ke atas melihat Rama.


"Gue udah habisin waktu lama sama dia. 10 taon, coba lo pikir. Ambil hati bokapnya biar di kasih restu sejak awal. Gue bantuin usaha bokapnya yang hampir bangkrut waktu itu sampe akhirnya bangkit lagi. Dimana kesalahan fatal gue selama ini. Dan gue cuma minta dia nunggu bentar doang dia malah gak bisa. Astaghfirullah" Rama menghembuskan nafas pelan. Ia benar-benar kecewa akan sikap Maudy yang tidak mempertimbangkan usahanya selama ini dalam memperjuangkan hubungan mereka.


●●●●

__ADS_1


Gengs, kalo menurut kalian karya aku layak buat di kasih vote. Silahkan kasih, aku gak akan maksa kalian. Tapi kalo likenya bisa kan? Pencet pakek hidung juga bisa, cobain deh. Itung-itung buat hibur babang Rama yang lagi galau diputusin pacar.


__ADS_2